Lilian

Lilian
Keras Kepala Lilian



Matahari sudah semakin meninggi, itu artinya Rama dan anggota Osis lainnya tengah sibuk mempersiapkan kegiatan kemah yang akan di laksanakan secara mendadak. Kegiatan kemah itu sebenarnya sudah dari semalam di hentikan. Insiden penyerangan oleh kawanan serigala tadi malam membuat semua Guru sepakat untuk menarik semua murid-muridnya kembali ke Jakarta untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan lagi.


Namun keputusan itu kembali di perbaharui lantaran Pipimpinan dari Florenzo Shcool sudah menangkap bebapa pelaku yang terlibat dalam penyerangan tadi malam.


Setelah mendapat laporan dari pihak Guru yang berada di tempat kejadian, Pimpinan Florenzo School secara khusus menugaskan banyak team penyelidik untuk menyelidiki kasus yang di anggap sangat tidak wajar itu.


Sebelum pihak sekolah memutusakan daerah itu akan di adakan kegiatan kemah tahunan, semua hal yang bersangkutan dengan kegiatan itu telah di konfirmasi aman oleh pemerintah daerah setempat.


Sehingga pihak sekolah menaruh curiga terhadap penyerangan oleh sekelompok hewan tadi malam. Setelah di selidiki lebih dalam kasus itu, team penyelidik mendapatkan beberapa bukti jikalau penyerangan itu di lakukan secara sengaja oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab.


Kawanan serigala yang menyerang Guru dan semua murid dari Florenzo School semalam adalah serigala yang sudah terlatih. Itu sebabnya serigala-serigala itu tidak merasa takut atau langsung kabur setelah beberapa cara telah di lakukan untuk mengusirnya pergi.


Kawanan serigala itu di lepas secara sengaja dan di arahkan ke tempat acara kemah itu berlangsung. Tujuan di lepasnya kawanan serigala itu adalah untuk mengusir Guru dan semua murid Florenzo School dari hutan.


Hal itu telah di rencanakan oleh beberapa penebang liar yang merasa telah di rugikan oleh pihak sekolah karena kedatangan mereka membuat hutan itu menjadi hutan lindung. Bukan hanya pohon dari hutan sana yang di larang di tebang, namun semua hewan yang berada di dalam hutan itu secara resmi juga di lindungi dan tidak bisa lagi di buru secara liar.


Selain itu, para penebang liar telah memberi kawanan serigala obat untuk menigkatkan intuisi mereka sebagai pemburu. Saat murid-murid berusaha melawan, maka sifat berburu dari kawanan serigala meningkat dua kali lipat dari sebelumnya.


Tertangkapnya para penebang liar itu tidak luput dari bantuan yang Arion berikan. Selama melawan para kawanan serigala, Arion telah mempelajari sifat-sifat serigala yang membuatnya merasa aneh dan curiga. Hingga akhirnya Arion memutuskan untuk menghubungi salah satu orang terbaik Papanya untuk menyelidiki kasus itu.


Arion juga telah melaporkan beberapa keanehan yang dia temukan selama melawan kawanan serigala itu kepada para Guru. Arion memaparkan jika serigala liar yang terbiasa hidup di hutan akan merasa takut dengan adanya api atau suara bising yang di hasilkan oleh manusia. Serigala liar akan menjauhi hal-hal itu dan memilih pergi ke tempat terdalam hutan untuk bersembunyi. Sedangkan tempat yang mereka dirikan tenda adalah bagian hutan yang berada dekat dengan pemukiman warga, akan sangat tidak mungkin jika serigala liar muncul dengan jumlah yang banyak seperti itu.


Serigala yang semalam mereka lawan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut walaupun Pak Fadli telah mengintruksikan beberapa cara untuk mengusir serigala pergi menjauh.


Dari pengetahuan Arion terhadap serigala itu, para Guru akhirnya melaporkan kejanggalan yang terjadi ke pihak sekolah. Sehingga para pelaku penyerangan semalam cepat tertangkan. Terlebih lagi penyelidikan itu di bantu langsung oleh Ganendra Grup, salah satu perusahaan raksasa dan memiliki royalitas tinggi. Menangkap para pelaku dengan cepat bukanlah hal sulit bagi mereka.


Arion bukan tidak percaya dengan team yang di kerahkan oleh pihak sekolah. Namun semakin banyak orang yang menyelidiki maka akan cepat pula kasus itu terungkap, pikirnya. Arion tidak ingin orang-orang yang telah melukai Lilian berkeliaran bebas sedangkan gadis itu sendiri masih dalam kondisi menutup mata.


Hingga akhirnya kegiatan kemah tahunan Florenzo School kembali di lanjutkan namun kali ini dengan pengamanan ketat dari sebelumnya.


Terlihat sekali anggota Osis tengah di sibukkan oleh persiapan yang secara mendadak itu. Karena semalam adanya penyerangan, maka pihak sekolah membuat keputusan tidak jadi melanjutkan kegiatan. Semua persiapan pun tidak di lakukan. Namun setelah masalah penyerangan selesai, pihak sekolah kembali mengungumumkan kegiatan akan di lanjutkan. Itu sebabnya anggota Osis harus menggerakkan tenaga ektra dalam mempersiapkan kegiatan itu secara mendadak.


Kegiatan selanjutnya yang sudah di jadwalkan adalah jelajah. Murid dari Florenzo School akan di pisah laki-laki dan perempuan. Kegiatan jelajah memiliki dua rute. Murid laki-laki akan menjelajahi rute yang memiliki tantangan yang lumayan berat sedangkan murid perempuan akan melewati rute yang mudah.


Dalam acara jelajah akan di bagikan kelompok yang terdiri dari lima orang murid di setiap kelompoknya. Selama perjalanan, setiap kelompok wajib mengumpulkan bendera warna hijau yang sebelumnya sudah di pasang sepanjang jalan. Ada empat pos yang tersebar selama perjalanan mereka, di setiap pos memiliki pertanyaan yang wajib mereka jawab pada pos terakhir.


Titik awal star adalah tempat mereka mendirikan kemah. Murid laki-laki akan mengambil rute dati utara dan akan kembali dari timur. Sedangkan murid perempuan akan mengambil rute dari selatan dan juga kembali dari timur.


Setelah semua persiapan selesai di lakukan oleh anggota Osis, semua murid kembali di kumpulkan di tempat yang semalam. Tidak terkecuali dengan Lilian yang sudah siap dengan semua persiapannya. Ia membawa sebuah ransel ukuran sedang di punggunya dan yang berisi air, makan dan perlengkapan lain yang ia butuhkan selama kegiatan jelajah.


Arion yang sejak awal mengira gadis itu sedang beristirahat di dalam tenda terkejut melihatnya berada di antara barisan para murid lainnya. Setelah kejadian semalam yang menimpa gadis itu tentu saja Arion tidak akan mengijinkan gadis itu pergi.


"Kembali ke tenda." Tanpa menunggu persetujuan dari Lilian, Arion langsung menarik tangan gadis itu kembali menuju tendanya.


"Lepas!" Lilian menepis tangan Arion dengan kasar.


Arion membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Lilian berada. Gadis itu terlihat menghindari tatapan Arion dan memilih membuang muka ke arah lain.


"Gue bilang kembali." Tegas Arion dengan aura dingin mulai mempengaruhi sekitarnya.


Orang-orang yang ingin berjalan melewati keduanya memilih mencari jalan lain. Bagaiman tidak, Arion sedang dalam emosi tingkat tinggi dan sebentar lagi siap meledak. Tidak ingin terkena dampaknya, lebih baik mereka menghindari dua orang itu.


"Nggak!" Jawab Lilian.


"Kesehatan lo belum bener-bener pulih." Kata Arion. Sebisa mungkin ia harus sabar melawan Lilian.


"Gue bilang nggak, ya enggak! Lagian gue lagi marahan dengan lo! Jangan ajak gue mengobrol!" Kata Lilian sambil bersedekap dada. Gadis itu masih tidak ingin memandang ke arah Arion.


"Gue lagi tidak membuat kesepakatan dengan lo!! Balik sekarang!" Arion menegaskan kata terakhirnya.


Lilian langsung memandang Arion dengan tatapan sengitnya. "Gue bilang nggak! Gue mau ikut acara jelajah!" Ia langsung berbalik dan berniat kembali berbaris dengan teman-temannya.


Arion kembali menarik tangan Lilian dengan kuat sehingga gadis itu harus tertarik ke belakang. Beruntungnya Arion langsung mendekap tubuh gadis itu, kalau tidak maka Lilian akan jatuh tersungkur.


"Balik!" Kembali Arion megaskan ucapannya.


"Tidak mau!" Lilian meronta di dalam pelukan Arion.


"Kondisi lo belum pulih! Bagaimana kalau terjadi apa-apa selama di hutan nanti!!" Arion berteriak marah di depan wajah Lilian langsung.


Lilian meneguk ludah takut melihat raut wajah dingin dan tatapan tajam dari Arion. "Seram amat ... Tapi gue nggak boleh kalah garang darinya." Batin Lilian.


Arion menutup matanya untuk meredam emosi yang kapan saja akan meledak. "Jangan besar kepala ... Karena lo udah berhasil ngalahin serigala semalam, bukan berarti lo harus berlaga seperti seorang jagoan yang selesai berkelahi langsung sembuh." Tangannya meremas bahu Lilian sedikit kuat.


Mendengar ucapan Arion membuat Lilian tersulut emosi. "Emang siapa yang bilang kalau gue jagoan?! Gue hanya mau ikut acara jelajah, lalu di mana salahnya?!" Marah Lilian.


"Salahnya karena kondisi lo belum cukup mampu untuk ikut bergabung di acara jelajah!!" Marah Arion. Wajahnya bahkan sudah memerah.


"Yang tau kondisi gue adalah gue sendiri!! Gue mau ikut jelajah! Nggak akan ada orang yang bisa nahan gue pergi!!" Lilian menyeka tangan Arion di kedua pundaknya dan mendorong dada Arion sedikit kasar.


Dengan perasaan kesal Lilian berjalan dengan menghentakkan kaki. Namun lagi-lagi Arion menahannya dengan cara memeluknya dati belakang.


"Jangan buat gue semakin khawatir." Ucap Arion lembut.


Lilian dapat merasakan hembusan napas Arion yang menerpa wajahnya dari belakang. Dada Arion terlihat naik turun karena harus menahan amarahnya terhadap Lilian.


"Lo suka BTS kan? Gue bakal bawain semua albumnya satu jam dari sekarang asalkan lo nggak ikut acara jelajah." Tawar Arion.


Meski Lilian menyukai tawaran Arion namun Lilian masih saja ingin mengikuti acara jelajah itu. "Tapi gue pengen ikut." Ucapnya dengan nada pelan dan berbalik memeluk Arion.


"Dari dulu Mama nggak pernah ngijinin gue buat ikut dalam acara kemah. Gue juga pengen ikut acara jelajah secara langsung. Bukan hanya rasain bahagiannya lewat video yang selalu gue tonton." Kata Lilian dengan nada rendah. Wajahnya semakin ia tenggelamkan pada dada bidang Arion.


"Kondisi lo ..." Arion masih belum bisa menyetujui keinginan Lilian.


"Gue baik-baik aja! Semalam gue nggak terluka, hanya kelelahan doang." Jelas Lilian.


Arion melepas pelukan Lilian dan menatap lama ke arah wajah gadis itu. Lilian masih terlihat cantik meski tanpa riasan seperti saat ini. Namun bukan saatnya Arion mengagumi kecantikan gadis itu, kondisi Lilian saat ini adalah yang paling penting untuk Arion.


"Tetap nggak bisa, Lilian! Kalau lo kenapa-napa ... Gue mau jawab apa ke Tante Efina?" Kata Rein dengan napas ngos-ngosan. Sebenarnya tadi Rein masih berada di dalam tenda, namun Farrel datang dengan buru-buru memberitahukannya jika Lilian akan ikut bergabung dengan murid lain dalam kegiatan jelajah. Hingga akhirnya ia berlari kencang menuju tempat Lilian berada.


"Tapi Kak Rein gue juga mau ikut!" Rengek Lilian. "Kesempatan ini akan jarang gue dapatkan! Kalau nggak sekarang, lalu kapan lagi gue bisa ikut kegiatan kek gini?" Ucapnya meyakinkan.


"Kondisi lo belum cukup sehat." Kata Arion.


Lilian membuang napas kasar dengan asal. "Gue sehat!" Ujarnya. Lilian mulai melompat kecil di tempat. Tujuannya agar Rein dan Arion percaya jika ia sudah kembali pulih.


"Cara itu nggak bakal buktiin apapun, Lilian! Kondisi lo udah nggak stabil saat bareng Audry lalu kembali di tambah dengan penyerangan oleh serigala! Bukan tidak mungkin jika kondisi lo akan kembali memburuk." Jelas Mario.


Ia mencoba membuat Lilian mengerti jika Arion dan Rein melarangnya pergi karena mengkhawatirkannya.


"Gue kan perginya nggak sendiri. Akan ada empat orang lainnya yang bakal ikut dengan gue. Lagian rute untuk murid perempuan nggak ada rintangannya. Kami hanya perlu berjalan lurus sampai ke garis finish." Kata Lilian. Ia tidak ingin membuang kesempatan emas yang sudah ada di depan mata. Selama ini Efina selalu membatasi ruang gerak Lilian sehingga membuat gadis itu memiliki sifat memberontak.


"Kalau lo kenapa-napa di sana nanti siapa yang mau tanggung jawab?" Tanya Gladis yang juga sudah ada di dekat Lilian. Kedua teman Lilian juga sudah hadir di sana, mereka semua membantu Arion untuk membujuk Lilian agar tidak mengikuti kegiatan jelajah.


"Gue sendiri yang bakal tanggung jawab!" Ucap Lilian dengan yakin. "Please ... Ijinin gue pergi ya?" Pintanya dengan wajah memelas.


Lilian menatap harap kepada semua orang yang berada di dekatnya. Namun Lilian sendiri yakin dengan kondisinya saat ini. Jika Lilian merasa tidak yakin dengan kondisi kesehatan tubuhnya, maka dari awal Lilian tidak akan memaksa dirinya sendiri untuk ikut.


"Ya?" Pinta Lilian sambil menatap Arion dan Rein bergantian.


Arion memang sangat keras, namun melihat tatapan harap dari Lilian membuat hatinya tergerak untuk mengabulkan permintaan gadis itu. Ingin sekali Arion menjawab tidak, namun melihat sifat Lilian yang keras kepala maka akan percuma saja Arion melarangnya pergi.


Setelah berpikir cukup lama, Arion akhirnya terpaksa mengabulkan permintaan Lilian. "Baiklah." Jawabnya pasrah.


Lilian langsung melompat senang mendengar jawaban dari Arion. Tatapan Lilian kembali mengarah ke arah Rein yang nampak tidak setuju dengan keputusan yang Arion berikan.


"Gue janji bakal jaga diri." Pinta Lilian dengan tatapan harap andalannya. "Oh iya, gue juga bawa sesuatu." Ucapnya. Ia baru mengingat jika di dalam tasnya ia membawa sesuatu.


"Gue akan nyalain ini jika seandainya gue sedang dalam kesulitan." Lilian menunjukkan sesuatu yang berbentuk seperti kembang api kepada Rein.


"Kata Papa, jika gue lagi minta bantuan ... Maka cukup nyalain ini aja. Fungsinya mirip dengan kembang api, sama-sama memiliki suara ledakan yang lumayan. Jika seandainya gue bunyiin ini, itu artinya gue lagi butuh bantuan." Jelas Lilian.


"Lo yakin?" Tanya Rein ragu


Lilian mengangguk mantap. "Yakin banget! Kalau nanti tiba-tiba ada suara ledakan di udara maka gue lagi butuh bantuan kalian." Jelas Lilian lagi.


Rein akhirnya hanya bisa pasrah pada keinginan Lilian. "Baiklah." Ucapnya lesu.


Lilian akhirnya kembali melompat dengan girang. Keinginannya untuk mengikuti jelajah akhirnya bisa terkabulkan juga.


___________________