
Sudah tiga hari lamanya Lilian harus bergelut di atas ranjang king size miliknya. Kondisi tubuh yang penuh dengan luka membuat Efina tidak mengijinkan Lilian pergi kemana pun selain tetap terus berada di dalam kamarnya.
Beberapa kali Lilian meyakinkan kepada Mama-nya bahwa kondisi tubuhnya baik-baik saja, namun suara Lilian di anggap sebagai hanya angin lalu saja oleh Efina.
Selama tiga hari aktifitas Lilian hanya sebatas tidur, makan, minun obat dan baca novel saja. Hal itu membuat Lilian merindukan sekolah dan teman-temannya.
Selain tidak mengijinkan Lilian kemana pun, Efina bahkan melarang teman-teman Lilian datang untuk menjenguk gadis itu. Efina merasa Lilian butuh istirahat yang banyak tanpa ada gangguan dari siapa pun termasuk teman-temannya.
Ruang gerak Lilian kembali di batasi. Bahkan Lilian ingin berjalan jalan di sekitaran halaman rumah saja Efina tidak mengijinkannya. Alasannya itu semua demi kesembuhan Lilian.
Beberapa kali Rein datang bersama Arion, Mario dan Farrel untuk menjenguk Lilian. Namun Efina hanya mengatakan Lilian masih dalam tahap pemulihan dan tidak bisa di temui dulu dalam waktu dekat.
Hal itu membuat ke empat lelaki itu harus menghela napas berat. Meski ke empatnya sangat ingin bertemu dengan Lilian namun Efina selalu saja punya cara untuk menolak ke empatnya untuk bertemu dengan Lilian.
Nasib sama juga pernah di alami oleh Gladis, Laura, dan Meira yang datang untuk menjenguk Lilian. Susah payah mereka mendapatkan alamat rumah Lilian dari Rein, namun saat sampai di rumah Lilian, ke empatnya langsung di tolak dengan alasan yang sama oleh Efina. Terpaksa ketiganya menunggu sampai kondisi Lilian membaik dan gadis itu kembali bersekolah.
Beda halnya dengan Arion dan ketiga temannya yang selalu berusaha untuk bertemu dengan Lilian. Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk bertemu dengan Lilian, namun pengamanan sekitar rumah gadis itu sangatlah ketat. Sehingga usaha mereka selalu sia-sia dan di ketahui oleh Efina.
Lilian sendiri juga merasa jenuh karena selalu berada di dalam kamar. Ingin sekali ia bertemu dengan teman-temannya, namun Efina dengan sangat keras melarangnya untuk tidak bertemu dengan siapa pun dulu. Lilian bahkan tidak di ijinkan untuk memegang ponselnya lantaran karena Efina merasa Lilian tidak akan cepat sembuh jika gadis itu selalu saja memainkan ponselnya. Untuk membuang rasa bosannya, setiap hari Lilian hanya membaca kembali novel yang sudah pernah ia baca.
Lilian akhirnya membuang novel yang ia baca saat ini ke sembarang arah. Rasa jenuh yang ia rasakan saat ini semakin besar. Terkurung di dalam kamar adalah hal yang paling buruk yang pernah Lilian rasakan.
"Bosan." Ucap Lilian lesu.
Kembali ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang miliknya. "Pengen berangkat sekolah ... Mama terlalu posesif. Jalan-jalan ke halaman rumah saja nggak boleh." Lilian mendumel sendiri.
"Kapan gue bebasnya!!" Pekik Lilian keras.
Lilian meremas kuat selimutnya kemudian menggulung tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Ia benar-benar merasa bosan, selama tiga hari tidak keluar kamar membuat Lilian merasa tertekan.
Tek ... Tek ... Tek ...
Terdengar suara ketukan kecil dari luar jendela kamarnya. Sejenak Lilian menghentikan kegiatan menggulung tubuhnya dan fokus mendengarkan suara ketukan dari luar jendela.
Tek ... Tek ... Tek ...
Suara ketukan itu kembali terdengar, namun kali ini sedikit lebih keras dari ketukan pertama.
"Apa iya gue halu?" Tanya Lilian pada dirinya sendiri.
Tek ... Tek ... Tek ...
Untuk yang ketiga kalinya Lilian mendengar suara ketukan dari arah jendela kamarnya. Mata Lilian sedikit menyipit kearah jendela yang masih di tutupi oleh gorden.
"Ini sudah yang ketiga kali. Nggak mungkin gue halu. Tapi ... Siapa yang ngetok jendela? Kamar gue kan di lantai dua ... Masa iya hantu di siang bolong." Heran Lilian.
Tek ... Tek ... Tek ...
Kali ini suaranya semakin keras.
"Eh buset ..." Lilian terbangun dari pembaringannya dan melempar selimut yang menggung tubuhnya dengan asal.
Perlahan kakinya berjalan menuju jendela kamarnya. Setelah sampai, Lilian dengan hati-hati menyekat gorden itu dan melihat siapa yang telah mengetuk jendela kamarnya.
Mata Lilian membulat saat melihat Arion, Rein, Mario, dan Farrel yang sudah berdiri dengan anteng di luar jendela kamarnya. Dengan cepat, Lilian langsung membuka jendela kamarnya untuk menemui keempat lelaki itu.
"Lama banget sih lo bukanya! Kagak lihat apa CCTV di rumah lo banyak banget! Kalau di lihat sama Tante Efina kan gawat. Di usir lagi kita!" Cerocos Rein setelah Lilian membuka jendela.
"Sorry ... Sorry ... Gue kagak tau. Lagian mana gue tau kalian ada di sini. Dan ... Kalian semua naik pake apa?" Tanya Lilian dengan kening mengerut.
Farrel langsung menunjukkan tali yang biasa mereka gunakan untuk memanjat tebing.
"Kami pakek tali. Tapi sebelumnya biarkan kami masuk dulu! Kalau Mama lo lihat ... Bisa gawat." Usul Mario.
Lilian langsung mempersilahkan keempat-nya masuk kemudian ia berlari menuju pintu kamarnya. Agar keempat lelaki itu ketahuan, Lilian memutuskan untuk mengunci pintu kamarnya. Jika seandainya Efina datang maka keempat lelaki itu punya waktu untuk kabur.
"Kenapa kalian semua bisa ada di sini?" Tanya Lilian bingung.
Keempat lelaki itu langsung mengambil tempat duduk masing-masing. Di dalam kamar Lilian ada beberapa sofa single dan sofa panjang yang di gunakan Lilian untuk beristirahat selain ranjangnya.
"Kita datang jenguk." Jawab Arion datar.
"Mama lo selalu ngusir kita pergi ... Katanya lo butuh istirahat yang cukup buat istirahat. Tapi kita juga khawatir dengan keadaan lo. Udah tiga hari lo nggak ke sekolah ... Tentu aja kita khawatir." Jelas Rein.
Lilian menghela napas berat. "Mama bahkan nggak ngijinin gue keluar dari kamar! Sumpek gue sendirian di sini ... Belum lagi ponsel gue pakek acara di sita segala lagi." Ungkap Lilian dengan raut murungnya.
"Emang luka lo serius banget, ya? Sampai tiga hari harus ijin nggak masuk." Tanya Arion khawatir.
Lilian menggeleng pelan. "Gue baik-baik aja ... Mama aja yang terlalu posesif. Katanya harus nunggu luka-lukanya mengering dulu baru bisa sekolah. Padahal lukanya udah sembuh dari hari pertama nggak masuk ... Lukanya juga hanya luka goresan, nggak ada yang terlalu serius." Jawabnya.
"Lalu kenapa lo masih nggak di ijinin buat ke sekolah?" Tanya Mario binggung.
"Itu dia. Mama nggak bakal ngijinin gue keluar dulu sebelum ia merasa gue udah baikan." Jawab Lilian lesu.
"Lalu kapan lo bisa keluar?" Tanya Arion.
Lilian menghela napas pelan dan mengedikkan bahunnya. "Entahlah ... Tapi nanti gue bakalan minta ke Papa agar mau bantu ngebujukin Mama." Jawabnya.
Keempat lelaki itu hanya mengangguk pelan atas jawaban dari Lilian.
"Sorry ya ... Kita nggak bawa buah atau bunga. Lo tau sendiri kita kesini dengan cara ngumpet-ngumpet." Kata Mario.
"Nggak apa-apa kok. Justru gue berterima kasih karena kalian semua udah datang ngejengukin gue ... Sumpah gue sangat bosan sendirian di dalam kamar." Ujar Lilian dengan wajah di tekuk.
"Lo yang sabar aja ... Makanya lain kali jangan keras kepala! Udah tau bahaya, lo malah datangin tuh tempat." Ucap Rein mengingatkan kesalahan Lilian lagi.
"Iya ... Iya ... Gue emang salah." Dumel Lilian, "Oh iya ... Kenapa bisa lo semua ada di sini? Masa iya nggak ketahuan sama Pak Penjaga?" Tanya Lilian dengan alis mengerut.
"Kita bisa ke sini atas bantuan dari Kak Keira. Baik banget Kakak Sepupu gue yang satu itu. Nggak kayak lo ya keras kepala! Udah gitu sedikit bar-bar lagi." Sindir Rein.
"Gini ... Gini gue cantik." Ucap Lilian tidak terima.
"Kak Keira lebih cantik!" Sanggah Rein cepat.
"Mungkin karena dia ngerasa kasihan ama kita-kita yang udah beberapa kali datang dan di tolak! Tadinya kita udah berniat mau pulang ... Namun Kak Keira datang dan memberikan kami bantuan. Kita-kita juga di bantuin ama Bi Marni dan Bapak Penjaga. Kami hanya perlu bersembunyi dari CCTV rumah lo. Dari sana Mama lo bisa ngontrol siapa aja yang keluar dan masuk rumah lo." Jawab Farrel.
Lilian menganggukkan kepalanya pelan. "Oh ... Gitu." Ucapnya.
Hampir setiap hari keempat lelaki itu mendatangi rumah Lilian. Meski di tolak oleh Efina, keempatnya tetap datang untuk menjenguk. Siapa tahu Efina akan merasa luluh karena mereka selalu saja datang meski di tolak.
Dalam sehari keempatnya datang sebanyak tiga atau empat kali. Namun tetap saja mereka tidak mendapat ijin dari Efina. Hingga akhirnya Keira merasa perlu membantu keempat lelaki itu untuk menemui Lilian. Bukan hanya Keira, Bi Marni dan Pak Karto juga ikut membantu keempat lelaki itu untuk bertemu dengan Lilian. Hingga akhirnya di sinilah mereka sekarang. Bisa duduk berhadapan dengan Lilian dan bisa menanyakan kondisinya secara langsung.
"Ya sudah ... Karena kami udah tau kondisi lo. Maka lebih baik kami segera balik sebelum Tante Efina tau." Kata Rein.
Rein, Mario dan Farrel sudah bangun dari tempat duduknya dan menyisahkan Arion yang masih duduk anteng.
"Napa lo nggak ikut berdiri?" Tanya Mario saat melihat Arion yang tidak bergerak dari tempat duduknya.
"Kalian duluan! Ada beberapa hal yang perlu gue bicarain ama Lilian." Kata Arion datar.
"Ya udah. Cepetan ya ... Nanti Tante Efina keburu tau kalau lo ada di sini." Ucap Rein.
Arion hanya mengangguk singkat.
"Kita tungguin di bawah, ya." Ujar Farrel.
Rein, Mario, dan Farrel akhirnya memutuskan pergi duluan dengan cara mereka naik tadi. Kemudian Lilian menatap canggung kearah Arion yang juga menatapnya dengan raut wajah datar.
"Gimana kabar, lo?" Tanya Arion dengan raut wajah dingin.
"Ekhmmm ..." Lilian mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa dingin. "Baik-baik aja kok." Jawabnya.
"Setelah ini masih mau melakukan hal-hal yang berbahaya?" Tanya Arion lagi.
Lilian segera menggelengkan kepalanya cepat. "Udah kapok kok! Lain kali gue bakalan ngasih tau kalian aja ... Biar Mama nggak ngurung gue kek gini lagi." Jawabnya.
Arion menghela napas pelan dan berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah Lilian dan memeluk gadis itu dengan tiba-tiba.
Lilian mengerjapkan matannya beberapa kali. Ia menyangka jika Arion akan melakukan sesuatu yang aneh, namun nyatanya lelaki itu malah memeluknya.
"Gue kangen." Bisik Arion tepat di telinga Lilian.
Tubuh Lilian menegang setelah Arion mengucapkan kata itu. Ia tidak menyangka jika Arion mengatakan hak semacam itu jika melihat karakternya yang dingin. Bibir Lilian tertarik keatas setelah mendengarkan pernyataan dari Arion.
"Lo nggak kangen gue?" Tanya Arion masih memeluk tubuh Lilian.
"Ka ... Kangen kok." Ucap Lilian gugup.
"Berjanjilah agar lain kali, lo nggak akan ngelakuin hal-hal yang berbahaya lagi." Pinta Arion.
"Gue janji." Jawab Lilian.
Arion melepaskan pelukannya pada Lilian kemudian menatap lama kearah mata gadis itu. Jarak wajah keduanya sangat dekat membuat jantung Lilian berdegup dengan sangat kencang. Lilian bahkan harus menahan napasnya lantaran karena jarak wajah keduanya yang sangat dekat.
Setelah saling bertatapan sedikit lama, Arion mulai mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arah wajah Lilian. Spontan Lilian langsung menutup kedua matanya dan memegang erat tangan Arion.
Sejenak Arion tersenyum kecil melihat reaksi dari Lilian. Kemudian ia mencium kening Lilian dengan lembut.
"Lo kira gue mau ngapain?" Tanya Arion dengan kekehan kecil.
Lilian masih menutup mata dan menggigit bibir bawahnya. Ia tidak berani membuka matanya hanya untuk melihat Arion yang berada di depannya. Lilian benar-benar merasa malu jika Arion tahu apa yang ia pikirkan tadi.
"Lo minta gue cium bibir, lo?" Bisik Arion ke telinga Lilian.
Spontan Lilian membuka kedua matanya dan mendorong dada bidang Arion dengan meras. "Si ... Siapa yang bilang gue minta di cium?" Gugupnya.
"Ohhh ... Nggak rupanya. Tapi ... Kenapa lo tadi merem?" Tanya Arion menggoda Lilian.
"Itu karena gue refleks aja ... Selama ini gue nggak pernah berada dekat dengan orang lain sedekat itu." Sanggah Lilian.
"Ohhh ... Gitu! Gue kira lo minta di cium. Apalagi tadi gue lihat ... Lo sempatin buat menggigit bibir bawah." Goda Arion.
"Nggak ada! Sana pergi lo! Ntar Mama datang!" Usir Lilian. Pipinya mulai memerah karena malu.
"Padahal galak, tapi kok nih pipi malah memerah ya? Mirip tomat tapi lucu." Goda Arion sambil mengelus pelan pipi Lilian.
"Sana pergi!" Usir Lilian dan mendorong dada Arion pelan.
"Lo ngusir gue atau mau nahan gue lebih lama lagi?" Lagi-lagi Arion menggodanya.
Sebelum Lilian menjawab, suara ketukan pintu dari luar kamar Lilian membuat keduanya refleks menatap kearah pintu.
"Lilian sayang! Kenapa pintunya di kunci?" Tanya Efina dari luar pintu.
Refleks keduanya berdiri dari duduknya dengan raut wajah terkejut.
"Cepet ... Cepet ... Lo pergi dari sini." Kata Lilian sambil menarik tangan Arion menuju jendela.
"Lilian! Kamu ada di dalam kan?" Tanya Efina dari luar pintu kamar Lilian.
"Ayo cepat turun." Pinta Lilian.
Arion menghela napas pelan. "Cepat sembuh agar lo bisa masuk sekolah secepatnya." Ucapnya sambil mengusap pelan kepala Lilian.
Setelah memastikan Arion sudah turun, Lilian kembali masuk dan menutup jendela kamarnya. Langkah kakinya segera berlari menuju pintu kamarnya untuk membuka kunci.
"Sayang ... Tumben pintunya di kunci dan kamu lagi ngapain dari tadi?" Tanya Efina sambil menengok ke kiri dan kanan kamar Lilian.
"Itu Mah ... Biar Citto nggak masuk. Lilian tadi pengen istirahat sebentar. Saar Mama ngetok pintu, Lilian lagi di kamar mandi." Ucap Lilian sedikit gugup.
Efina hanya mengangguk pelan dan mempercayai alasan yang Lilian berikan.
_____________________