
Sudah satu jam lamanya Arion dan yang lain memasuki hutan bagian timur. Sepanjang jalan Arion hanya berharap agar Lilian tidak terluka sampai ia menemukan keberadaan dari gadis itu.
Arion bahkan tidak henti-hentinya menghubungi Lilian melalui ponselnya, namun gadis itu tidak dapat di hubungi lantaran sinyal di tempatnya yang kurang bagus. Ada rasa penyesalan dari dalam diri Arion karena tidak terlalu keras melarang Lilian pergi. Ia hanya merasa Lilian butuh kebebasan dan tidak ingin memberikan gadis itu tekanan yang akan membuat Lilian merasa tidak nyaman bersama dengannya.
Tidak Arion sangka jika Lilian memiliki rasa penasaran yang besar dan memilih untuk menyelidikinya sendiri. Jika Arion tahu dari awal bahwa Lilian pergi menyelidiki sesuatu, maka ia akan dengan senang hati menemani gadis itu pergi.
Namun Lilian malah memilih pergi sendiri dan membuat dirinya sendiri berada dalam masalah. Sepanjang perjalanan, Arion harus menghembuskan napas berat jika mengingat pertemuan terakhirnya bersama dengan Lilian.
"Tenanglah! Kita akan segera menemukannya." Ujar Mario dari belakang punggung Arion.
Setelah mendapat pesan masuk dari Lilian yang mengabarkan tentang keadaanya, Arion dan Rein langsung berlari menuju tempat team penyelidik berada. Hingga akhirnya Arion dan ketiga temannya pergi mencari keberadaan Lilian bersama dengan team penyelidik dan para Guru yang bertanggung jawab.
"Hmmmm." Gumam Arion pelan.
Setelah lama berjalan sesuai dengan arahan yang Lilian berikan sebelumnya, kembali terdengar notif dari ponsel Arion dan Rein. Kedua lelaki itu segera membuka pesan dari Lilian.
"Gue butuh bantuan kalian! Cepat datang ke hutan sebelah timur dan bawa team penyelidik sebanyak mungkin. Banyak tanaman opium dan koka tumbuh dengan subur di sini" (Lilian)
Mata keduannya membulat sempuran setelah membaca pesan singkat yang Lilian kirimkan. Bagaimana bisa Lilian yang notabene seoarang gadis harus memasuki hutan lebih dalam. Terebih lagi masalah yang Lilian selidiki adalah dua tanaman yang sangat dilarang untuk di budidayakan di Indonesia.
Setelah memberitahu semua orang tentang pesan teks yang Lilian kirimkan, semua orang memepercepat langkah masing-masing agar mereka cepat sampai di tempat yang Lilian sebutkan.
Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi ledakan yang membuat semua orang harus menghentikan langkahnya. Suara ledakan itu sangat besar, bahkan tanah yang Arion dan yang lainnya pijak harus bergetar karena kuatnya ledakan itu.
"Lilian!" Spontan Arion memanggil nama gadis itu setelah ia mendengar suara ledakan. Jantungnya berdegup kencang karena khawatir akan kondisi Lilian saat ini.
"Percepat pencarian! Bagi anggota menjadi dua team. Kita akan mencari keberadaan gadis itu dengan cara memencar!! Terdengar arahan dari ketua team penyelidik.
Anggota team itu sebelumnya datang lantaran harus menyelidiki kasus tentang penyerangan oleh kawanan serigala terhadap murid-murid Florenzo School. Dalam penyelidikan, ada dua team langsung yang di turunkan, satu team di kirim oleh pihak sekolah dan satu team adalah bantuan dari Ganendra Grup atas permintaan dari Arion langsung.
Kedua team itu kembali di bagi menjadi dua, masing-masing team akan mengambil jalan yang berbeda sesuai jalur yang terlihat dalam peta. Arion dan Farrel ikut dengan team yang di kirim oleh keluarganya sedangkan Rein dan Mario ikut dengan team yang di kirim oleh pihak sekolah.
Kedua team akhirnya kembali mempercepat langkah menuju sumber suara setelah mereka mengambil jalur yang berbeda.
Tidak lama setelahnya, bunyi ledakan kedua kembali terdengar. Namun kali ini ledakan itu di arahkan di atas langit, meski hari belum gelap namun semua orang yang berada di hutan bagian timur dapat melihat jelas tanda yang Lilian berikan.
"Sebelah sana!" Tunjuk Farrel ke arah suara ledakan.
Arion bersama dengan team-nya berlari cepat menuju sumber suara. Mereka bahkan tidak ingin membuang waktu barang sedikit pun untuk menemukan Lilian. Seekor anjing pelacak yang di bawa oleh anggota team penyelidik menggonggong dengan keras ke arah suatu tempat.
"Sebelah sana!" Tunjuk salah satu team penyelidik.
Suara ledakan kembali terdengar, perasaan Arion semakin kacau. Pikiran buruk mulai menari-nari di atas kepalanya. Senyum terakhir dari wajah Lilian membuat Arion semakin merasa bersalah.
Suara gonggongan anjing pelacak semakin keras, sebelumnya Arion telah memberikan kepada team penyelidik jaket yang Lilian pakai terakhir kali. Dengan jaket itu, anjing pelacak dapat mencium aroma dari Lilian meski gadis itu berada di tempat yang jauh. Anjing itu akan dapat mengetahui di mana posisi Lilian hanya dengan mencium aroma tubuh Lilian pada jaketnya.
Semakin lama anjing pelacak itu berlari semakin kencang, Arion dan yang lainya bahkan sulit untuk mengejar laju dari anjing tersebut. Hingga anjing itu mengendus di sekitaran semak berduri dan menggonggong dengan keras ke arah team penyelidik yang berlari ngos-ngosan mengejarnya.
Tanpa memperdulikan semak yang berduri, Arion langsung menghempaskan semak itu. Matanya membulat sempurna melihat tampilan Lilian yang kacau dan sedang terduduk dengan lemas.
"Lilian!" Arion langsung memeluk tubuh gadis itu.
"Sakit." Cicit Lilian lemah.
Arion melepaskan pelukannya dan menatap kearah wajah Lilian yang terlihat pucat pasi. Bibirnya bahkan terlihat mengering karena kekurangan cairan.
"Berikan dia ini." Salah satu team penyelidik memberikan sebotol air kepada Arion.
Arion langsung menerimanya dan dengan hati-hati membantu Lilian untuk meminum airnya.
"Sebelah sana ada banyak sekali penjahat!" Tunjuk Lilian kearah tempat ia berlari tadi.
"Bisakah lo agar tidak banyak bicara dulu?! Lihat sendiri bagaimana kondisi lo saat ini!!" Marah Arion. Bagaimana tidak, sejak tadi ia begitu menghawatirkan kondisi gadis itu, namun Lilian masih sempatnya memberitahukan tempat para penjahat itu berada.
"Satu orang tetaplah di sini. Sisanya akan mengikuti saya untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut." Titah ketua team kepada para anggotanya.
"Siap, Pak." Jawab semua serentak.
Ketua team langsung beralih menatap kearah Arion. "Saya akan bersama dengan yang lain akan pergi untuk menyelidiki kasus ini. Salah satu anggota kami akan tetap berada di sini untuk menjaga Tuan. Harap Tuan dan yang lainya untuk tetap menjaga diri sampai kami kembali." Tuturnya.
"Baiklah!" Jawab Arion singkat.
Team penyelidik akhirnya pergi bersama dengan anjing pelacak dan menyisahkan Arion, Lilian, Farrel dan satu anggota team penyelidik lainnya. Arion dengan hati-hati mengangkat tubuh Lilian ke tempat yang jauh lebih baik.
Terdengar suara ringisan keluar dari mulut Lilian. Sekubur tubuhnya terasa sakit karena terkena semak berduri
"Bisa ngerasain sakit juga?" Tanya Arion dengan nada dingin.
Lilian tidak berani menjawab dan menatap langsung mata Arion.
"Pergi sendirian ke dalam hutan dan berlagak seperti gadis kuat! Buat apa?!" Marah Arion.
"Kalau lo nemuin hal yang menjanggal, setidaknya mintalah bantuin ke gue!! Bukan dengan cara lo ngebahayain diri lo sendiri kek gini!! Kalau lo kenapa-napa siapa yang mau tanggung jawab?! Lo sendiri? Lalu bagaimana dengan kebebasan yang lo harapin selama ini?! Mau kembali terkurung?!!" Arion tidak dapat lagi menahan amarahnya. Terlrbih lagi setelah melihat kondisi gadis itu yang sangat kacau.
Lilian hanya dapat menundukkan kepalanya tanpa mau melihat ke arah Arion. Ia merasa wajar Arion memarahinya karena ia telah melakukan kesalahan.
"Santai, Bro. Lihat kondisinya. Lo simpen dulu amarah lo untuk saat ini." Ucap Farrel mencoba memedam amarah Arion.
"Selama ini gue terlalu baik dengan ngebebasin lo melakukan hal-hal yang lo inginkan! Setelah ini lo jangan berharap bisa lolos dari gue." Marah Arion lagi.
Meski dalam kondisi marah, Arion tetap membasuh luka-luka yang Lilian dapatkan selama melarikan diri. Beruntungnya, luka yang di sebabkan oleh Audry pada tangan Lilian tidak terbuka. Hanya ada luka goresan yang tidak terlalu dalam namun cukup banyak dari seluruh tubuh Lilian.
Tidak ada lagi yang mau mengeluarkan suara. Lilian yang masih sibuk menunduk, Arion yang sibuk membersihkan luka Lilian, Farrel yang hanya berdirim diam di dekat Arion dan anggota penyelidik yang menjaga keamanan ketiga orang itu.
"Kak Arion." Panggil Lilian dengan nada lemah.
Lilian sendiri harus meneguk ludah dengan susah payah. Ia tahu jika Arion sudah begitu, artinya lelaki itu sedang marah. "Gue ngantuk." Cicitnya.
Tanpa menjawab, Arion langsung menarik pelan kepala Lilian dan membawanya dalam pelukan. Tidak lama terdengar napas teratur dari Lilian. Arion menatap lama wajah gadis itu yang tertidur lelap. Terlihat jelas raut wajah lelah di sana.
Meski marah, Arion masih sangat peduli dengan kondisi gadis itu. Ia akan membiarkan Lilian terlelap sampai team penyelidik selesai mengurus kasus tentang dua tanaman terlarang itu.
________________________
Lilian menggeliat dari balik selimutnya. Gadis itu ingin sekali mencari posisi nyaman dari tidurnya namun seketika ia harus memekik karena sekaitan.
"Awwww!!" Jerit Lilian kesakitan.
Spontan orang-orang yang sudah menunggu Lilian sejak semalam dari luar tenda langsung memasuki tenda karena mendengar jeritan kesakitan dari Lilian.
"Apa yang sakit? Di mana?" Tanya Arion panik.
"Tangan lo? Kaki? Atau yang mana?" Tanya Rein yang juga ikut panik.
"Tanya satu-satu dulu napa?" Cerca Mario dari balik punggung Arion dan Rein.
Lilian mengerjapkan mata beberapa kali karena bingung dengan situasi yang ia alami saat ini. "Seingat gue ... Terakhir kali gue masih di hutan bersama dengan Kak Arion dan Kak Farrel. Tapi kok gue bisa ada di sini." Keningnya bahkan mengerut.
"Lo baik-baik aja kan?" Tanya Farrel yang ikut penasaran karena melihat Lilian yang diam saja sejak tadi.
"Tubuh gue sakit semua." Jawab Lilian dengan suara serak.
"Yang mana aja?" Tanya Arion dan Rein cepat.
"Berikan gue minum dulu ... Haus." Pinta Lilian. Tenggorokkannya terasa kering.
Mario langsung dengan sigap memberikan sebotol air mineral kepada Arion yang di depan. Lelaki itu juga membantu Lilian untuk terduduk dan membantu gadis itu untuk meminum minumannya.
"Ada lagi?" Tanya Rein.
"Lapar." Cicitnya pelan.
Farrel langsung memberikan makanan kepada Lilian. Gadis itu dengan tenang memakan sarapannya, meski semua badannya terasa sakit namun rasa laparnya jauh lebih mendominasi.
Lilian akhirnya dapat tersenyum lega setelah menghabiskan makanannya. Selama di hutan, Lilian begitu merasa kelaparan namun tidak ada yang bisa ia makan kecuali jambu biji yang tumbuh dengan liar.
"Kenyang?" Tanya Arion.
Lilian mengangguk semangat dengan senyum merekah di bibirnya.
"Selama berada di hutan bagian timur, nggak kelaparan lo?" Tanya Rein dengan nada sindiran.
"Lapar." Jawab Lilian ragu.
"Kalau lapar kenapa harus beraniin diri ke sana? Mau jadi Tarzan cewek? Mau jadi Ratu para hewan liar? Atau mau bertamasya lagi di dalam hutan sana?!" Tanya Arion dengan wajah memerah.
Lilian menggigit bibir bawahnya dan menatap takut ke arah ke empat laki-laki di hadapannya. "Ini empat orang sengaja ngasih gue makan dulu biar mereka puas marahin gue. Ampunnn apes amat hidup gue." Batin Lilian.
"Sakit." Keluh Lilian.
"Owww ... Masih ngerasa sakit lo. Masuk sendiri ke dalam hutan berani! Lawan serigala berani! Lawan penjahat-penjahat berani! Bahkan bakar gudang tuh penjahat berani lo?! Dan sekarang baru lo ngerasa sakit?" Marah Rein. Sejak semalam ia sangat mengkhawatirkan gadis itu. Terlebih lagi melihat kondisi Lilian yang kacau dan sedang di gendong oleh Arion di belakang punggungnya.
Lilian semakin menundukkan kepalanya, niat hati ingin mengelabui ke empat lelaki di depannya dengan luka yang ia dapatkan. Tidak tahunya caranya itu membuka peluang lebih besar lagi bagi ke empat lelaki itu untuk memarahinya.
"Lagian lo berani amat ke sana sendirian. Kek kagak ada yang lo takutin gitu." Tambah Farrel.
"Kalau lo kenapa-napa gimana? Gue mau jawab apa nanti ama Tante Efina?" Tanya Rein. Lelaki itu akan terlihat menyeramkan jika sedang marah seperti saat ini.
Lilian masih saja memilih diam. Percuma ia mau mebela diri, toh memang kenyataanya dia sendiri yang bersalah.
"Napa lo diem aja? Bisu sekarang?" Ucap Arion tajam.
Lilian mengerucutkan bibirnya. "Terus gue mau bilang apa?! Kalaupun gue jelasin tetap aja gue di anggap salah!" Ucap Lilian lesu.
"Memang sejak kapan lo bener? Seorang cewek masuk ke hutan yang dalam sendirian di anggap bener? Belum lagi para penjahat itu!" Katus Rein. Kekesalannya sejak semalam ia luapkan sekarang pada Lilian.
"Mana gue tau kalau masalah yang gue selidiki ternyata kasus besar! Gue hanya ikutin insting saja! Gue kira yang gue selidiki itu masih tentang penebang liar, begitu sampai ternyata masalahnya besar." Jelas Lilian.
"Tetap aja lo salah! Pergi sendirian itu bukan hal yang bener! Belum lagi lo harus ninggalin temen-temen lo!" Ujar Mario dari belakang tenda.
Lilian membulatkan mata sempurna. "Enak aja! Mana ada gue yang ninggalin?! Yang ada mereka tuh yang ninggalin gue!" Kesalnya.
"Sheril bilang lo yang ninggalin mereka dan bawa lari petanya!" Marah Arion, rahangnya bahkan mengeras.
Emosi Lilian terpancing, mereka memarahi Lilian karena pergi menuju hutan bagian timur itu adalah hal yang wajar. Lilian akui dia salah, namun beda ceritanya kalau Lilian harus di tuduh telah meninggalkan Sheril dan yang lainnya.
"Gue yang mereka tinggal! si Mak Lampir itu sengaja buang peta ke air sungai yang ngalir dan nyuruh gue untuk ngambilin! Balik-balik mereka udah pada pergi!" Kesal Lilian.
"Dan mulai dari situ lo punya rencana pergi ke arah hutan bagian timur?" Tebak Rein dengan penasaran.
"I ... Ia." Jawab Lilian ragu.
Arion langsung keluar dari tenda dan di ikuti oleh ketiga temannya.
"Laahhhh pergi?" Tanya Lilian heran.
________________________