Lilian

Lilian
Pertemuan dengan Elisa



Efina menatap heran kearah kedua Penjaga toko miliknya. Kedua gadis itu sama-sama menundukkan kepala dan kedua tangannya sama-sama mengeluarkan keringat dingin.


"Kalian berdua kenapa?" Tanya Efina dengan kening mengerut.


Kedua gadis itu masih menundukkan kepala dan tidak ada satupun yang berani menatap kearah Efina.


"Kalian mau jawab atau tidak?" Geram Efina.


"Ma ...Maaf Bu ... Tadi kami tidak mengenal anaknya Ibu." Jawab Rina dengan kepala menunduk. Ia adalah Penjaga toko yang pertama Lilian tanyain.


Efina semakin bingung setelah mendengar jawaban dari salah satu penjaga toko-nya.


"Itu loh Mah ... Citto nakal, terus mbaknya ngingatin Lilian buat nggak sembarangan membawa kucing ke dalam toko." Jawab Lilian yang sejak tadi berdiri di dekat Efina.


Efina membuang napas kasar mendengar ucapan Lilian. "Apa kalian tidak tanya dulu dia siapa? Jika dia bukan anak saya maka kalian akan mengusirnya keluar dari dalam toko?!!" Marahnya.


"Maaf, Bu. Ini salah saya ... Karena melihat kucing Non Lilian yang aktif jadi saya pikir kucing itu akan membuat masalah dalam toko." Jawab Dini. Dia adalah penjaga toko yang menegur Lilian.


"Kamu pikir Citto adalah kucing liar gitu?! Memangnya kenapa kalau dia terlalu aktif? Apa dia mengganggu mu atau dia memakan semua kue yang ada di etalase?!!" Tanya Efina dengan raut wajah marahnya.


"Mah ... Sudahlah! Mbaknya mungkin nggak tau." Ucap Lilian mencoba menenangkan.


"Nggak bisa gitu dong! Anak Mama sendiri di gituin di toko Milik sendiri! Udah gitu, Citto di anggap kucing liar! Apa kalian nggak lihat bulu halus yang di miliki oleh Citto? Kucing seperti itu kalian anggap liar?!!" Kelakar Efina yang tidak terima dengan kelakuan dua pekerjanya.


"Mah ... Udahlah! Semua orang pada melihat ke arah kita." Gumam Lilian pelan.


Efina mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Benar saja, semua penjaga lain dan pengunjung toko sedang memandang ke arah mereka.


"Lain kali saya nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi!! Hal ini juga berlaku bagi pengunjung yang membawa hewan peliharaannya! Sebagai pemilik toko, saya harap kalian dapat bersikap baik dengan para pelanggan. Jadikan kesalahan kalian hari ini sebagai pelajaran untuk kedepannya! Jika tidak bisa ... Maka silahkan angkat kaki dari toko saya!!" Ucap Efina dengan tegas.


Rina dan Yati langsung menganggukkan kepala paham. Mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan mereka. Gaji yang Efina berikan untuk para pekerja di toko-nya itu jauh lebih besar dari pekerja di toko lainnya.


"Baik, Bu." Ucap Rina dan Dini samaan.


"Maafkan saya, Non Lilian." Ucap Dini dengan menundukkan kepala.


"Saya juga minta maaf, Non." Pinta Rina.


Lilian hanya mengganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Setelah meminta maaf, Rina dan Dini kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Lilian sendiri sedang celingak-celinguk mencari keberadaan Citto yang sudah menghilang dari tempatnya.


"Mah ... Citto kemana?" Tanya Lilian sambil berjalan ke tempat terakhir Citto berada.


Efina ikut berjalan mengikuti Lilian dari belakang. Terakhir kali Efina juga masih melihat Citto sedang mengetuk kaca etalase karena melihat kue yang berjejer si dalamnya.


"Bukannya tadi dia masih di sini!" Heran Efina dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Lilian berjalan mengikuti deretan kue yang berjejer di etalase. Mungkin saja Citto tadi melewati jalan itu. Namun saat Lilian mencampai ujung etalase itu, Citto masih tidak di temukan.


"Kemana dia pergi?" Gumam Lilian sendiri.


Tidak jauh dari tempat Lilian berdiri, ada seorang penjaga toko yang baru saja selesai melayani pelanggan. Lilian menutuskan untuk menanyakan Citto di sana.


Sebelum bertanya, Lilian membaca name tag dari penjaga tersebut. "Yati." Batinnya.


"Mbak ... Lihat kucing warna putih lewat sini, tidak?" Tanya Lilian.


"Oh ... Kucing itu milik Adek, ya? Tadi saya lihat kucing itu di bawa oleh seseorang ke arah sana." Yati menunjuk sisi lain dari toko kue.


Perasaan Lilian jadi tidak tenang. Memikarkan Citto di bawa oleh seseorang membuatnya berpikiran yang tidak-tidak


Tanpa mengatakan apapun, Lilian langsung meninggalkan penjaga toko itu sendiri dan berjalan cepat ke arah yang di tunjuk.


Di sana Lilian melihat punggung seorang lelaki yang sedang menggendong Citto di depannya. Tidak ingin membuang waktu, Lilian langsung berjalan mendekat ke arahnya dan memanggil nama Citto.


"Citto!!" Panggil Lilian dengan suara keras.


Lelaki itu berbalik dan kedua matanya langsung menatap ke arah Lilian yang tampak terkejut melihatnya.


"Lo!" Tunjuk Lilian ke arah Arion yang sudah tersenyum manis kepadanya.


"Jadi, Lo yang bawa Citto tanpa seijin gue?" Tanya Lilian kesal.


Benar, Orang yang membawa Citto adalah Arion. Sebenarnya Arion tidak sengaja melihatnya saat berjalan mencari salah satu kue yang di minta oleh Mama-nya. Awalnya ia ingin mengabaikan keberadaan kucing itu, namun saat ia melihat lebih jelas lagi ke arah kucing itu, bibirnyan langsung tertarik ke atas karena mengenal kucing itu adalah Citto milik Lilian.


"Seorang Bapak tidak perlu meminta ijin ke Ibunya untuk membawa anaknya." Kata Arion sambil mengelus bulu halus Citto.


Meong ...


Citto mengeong seakan menyetujui ucapan dari Arion.


"Ibu ... Bapak apaan?! Enak aja ... Citto adalah kucing gue!" Kesal Lilian dengan mata melotot.


"Eitssss ... Jangan lupa kalau kita sama-sama menemukan Citto." Ucap Arion mengingatkan.


"Tapikan gue yang mengasuh dan memberikannya kasih sayang." Ucap Lilian tidak terima.


"Tentu saja lo yang harus merawatnya! Lo kan Ibunya ... Sebagai Bapak, gue bertanggung jawab untuk menafkahi dan memberikan kasih sayang. Contohnya seperti sekarang ini ... Tadi dia kesasar dan tidak mendapat pengawasan dari Ibunya. Untuk itu ... Biarkan Bapaknya yang harus menjaganya." Kata Arion dengan wajah songongnya.


Lilian melongo tidak percaya dengan ucapan Arion. Lelaki itu selalu bisa membuatnya merasa kesal. Jika bersama dengannya, Arion bagaikan orang lain. Biasanya lelaki itu terlihat dingin dan cuek namun jika bersama dengan dengannya, lelaki itu akan berubah menyebalkan.


"Eh datar! Lo paling pinter buat gue kesel! Lilian berjalan maju dan berniat memukul lengan Arion. Namun tangannya terhenti lantaran melihat seseorang dari belakang punggung lelaki itu.


"Napa lo? Tumben nggak jadi mukul?" Tanya Arion mengompori.


Tatapan mata Lilian masih tertuju kearah punggung Arion. Di sana ada seorang wanita paruh baya yang sedang tersenyum hangat ke arahnya. Wanita idu adalah Elisa, Mama-nya Arion yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara keduanya dengan diem.


Elisa begitu menyukai interaksi keduanya yang begitu menggemaskan. Apalagi Lilian mampu membuat Arion terlihat jauh lebih hidup di bandingkan dengan hari-hari sebelumnya.


"Apa Tante mengganggu?" Tanya Elisa sambil tersenyum lembut ke arah Lilian.


Lilian menggelengkan kepalanya dan kembali menatap ke arah Arion. "Kenapa nggak kasih tau kalau di belakang ada Mama-nya lo?". Tatapan mata Lilian seakan mengatakan hal itu kepada Arion.


Sedangkan Arion sendiri malah mengedikkan bahu cuek. Ia sendiri sampai lupa jika di belakangnya masih ada Elisa yang sejak tadi sibuk memilih kue. Arion bahkan sampai menghela napas pelan lantaran harus membayangkan dirinya akan menjadi bahan olokkan Mama dan Papa-nya di rumah nanti.


"Masih ingat sama Tante kan?" Tanya Elisa kemudian berjalan mendekati Lilian.


Arion sendiri tidak mau berbalik, Jika ia berbalik sekarang maka ia akan menerima olokan dari Mama-nya sekarang.


Elina langsung mengelus pelan lengan Lilian. "Baguslah ... Nggak perlu canggung sama Tante. Kan, udah jadi menantu." Elisa menekan kata terakhirnya.


Lilian menggigit pelan bibir bawahnya dan mencubit pinggang Arion yang pura-pura bermain dengan Citto.


"Sakit!" Cicit Arion dan kedua matanya tidak sengaja menatap ke arah Elisa yang sudah tersenyum penuh arti kepadanya.


"Nggak gitu kok! Tante hanya salah paham. Lilian bisa jelasin." Kata Lilian mencoba meluruskan.


"Nggak perlu di jelaskan. Tante juga seneng kok kalau kamu yang menjadi menantu Tante. Apalagi kalian berdua udah punya anak." Sindir Elisa. Sebisa mungkin ia menahan tawa agar tidak lepas di depan Lilian. Kejadian hari ini akan ia ceritakan kepada Suaminya. Jika anak satu-satunya akan menjadi orang lain di hadapan seorang gadis yang memiliki darah Arisena di tubuhnya.


"Lilian!" Panggil Efina yang baru saja datang.


Lilian mundur beberapa langkah untuk mensejejerkan posisinya. Ke empat orang itu sekarang berdiri saling berhadapan satu sama lain.


"Citto udah di temukan?" Tanya Efina. Matanya tertuju kearah Arion yang sedang membekap erat tubuh Citto dalam pelukannya.


"Nyonya Rahadian." Panggil Elisa dengan senyum ramah.


Efina mengalihkan pandangannya ke arah Elisa. Bibirnya tertarik ke atas untuk membalas senyum dari perempuan itu.


"Masih ingat saya?" Tanya Elisa.


Efina mengangguk mantap. "Siapa yang tidak mengenal Nyonya Ganendra?" Tanyanya balik.


Elisa terkekeh pelan. "Nyonya bisa aja."


"Sebaiknya kita cari tempat duduk ... Biar ngobrolnya juga nyaman." Usul Efina.


Elisa mengangguk setuju. Ke empatnya kemudian berjalan menuju tempat duduk yang berada dekat dengan jendela toko. Di sana di sediakan tempat duduk santai dan di tengahnya ada sebuah meja panjang.


Efina juga tidak lupa memerintahkan salah satu pekerjanya untuk menghidangkan teh dan beberapa kue ke mejanya.


"Setelah sekian lama akhirnya kita bisa bertemu lagi. Terakhir kali kita bertemu waktu acara pembukaan perusahaan baru di Paris, kalau saya nggak salah ingat." Kata Elisa.


Efina mengangguk. "Benar ... Terakhir kali kita bertemu di sana." Jawabnya, "Oh iya ... Saya baru pertama kali lihat Nyonya datang kesini secara langsung. Biasanya akan ada seseorang yang datang untuk memesan beberapa kue." Lanjutnya.


Elisa tersenyum. "Benar ... Namun hari ini berbeda. Ntar malam kami akan mengadakan acara khusus di kediaman kami. Untuk itu, saya sendirilah yang harus memilih kue untuk makanan penutupnya." Jawabnya.


Efina mengangguk pelan. "Oh begitu."


"Oh iya ... Ini Lilian Putri bungsunya, Nyonya?" Tanya Elisa sambil menatap kearah Lilian.


"Benar." Jawab Efina.


"Pertama kali saya bertemu dengannya waktu pertemuan di sekolah. Untuk kejadian itu ... Saya minta maaf kepada Nyonya karena kelakuan Ponaanya saya Audry." Pinta Elisa tulus.


"Nggak apa-apa. Lagian masalahnya sudah selesai dan Lilian juga tidak terluka." Jawab Efina.


Elisa tersenyum lebar. "Oh iya ... Kapan-kapan bisakah Nyonya Rahadian dan sekeluarga makan malam di kediaman kami?" Tanyanya harap.


Efina menatap kearah Lilian yang sedang memainkan bulu Citto bersama dengan Arion di sampingnya. "Boleh." Putusnya.


Efina sudah dapat menebak kemana arah pembicaraan Elisa. Tentu saja Elisa akan mengundang keluarganya untuk makan malam di kediamannya untuk membahas masalah hubungan Lilian dan Arion.


Walaupun Lilian dan Arion memiliki hubungan yang cukup dekat, namun Efina tidak ingin memaksa Putrinya itu untuk memilih pilihannya. Biarkan Lilian sendiri yang akan memilih pasangan hidupnya.


Terlebih lagi Lilian masih sangat muda. Ada banyak sekali mimpi yang ingin gadis itu wujudkan dalam hidupnya. Masa depannya masih sangat panjang dan proses hidup akan banyak ia lewati.


Bukan hanya keluarga Ganendra yang menginginkan Putrinya itu. Ada banyak sekali keluarga lain yang menginginkan Lilian meski gadis itu belum mempublikasikan identitas aslinya.


Suatu saat nanti Lilian akan di jadikan bahan rebutan politik serta di jadikan pion untuk mendongkrak sebuah perusahaan. Sebelum hal itu terjadi, maka Efina perlu memikirkan cara lain untuk menghindari Putrinya dari situasi buruk itu.


Ganendra Grup bukan pilihan buruk bagi Efina, selain suaminya yang memiliki saham yang cukup besar di sana. Namun popularitas yang di miliki keluarga itu akan melindungi Lilian dari perebutan kekuasaan. Itu lah alasan Efina menyetujui ajakan makan malam dari Elisa.


Sedangkan Elisa sendiri mengajak Efina makan malam di kediamannya agar ia dapat mengenal Lilian lebih dalam lagi. Elisa merasa jika Lilian adalah pasangan yang cocok untuk bersanding dengan Putra tunggalnya itu.


Awalnya Elisa memang menginginkan Lilian menjadi pasangan Putranya lantaran gadis itu memiliki asal usul yang yang tidak biasa. Namun setelah melihat lukisan Lilian yang berada di dalam kamar Putranya, membuat Elisa merasa jika Putranya menginginkan gadis itu.


Dalam lukisan itu, Lilian memakai gaun yang mirip dengan gaun kerajaan Eropa jaman dahulu. Arion juga melukiskan sebuah kerajaan di belakang punggung gadis itu.


Sebelum berangkat sekolah, Arion selalu menyempatkan diri untuk menatap ke arah lukisan itu. Dari sorot matanya, Elisa dapat melihat ada tatapan kerinduan di sana. Itulah alasan mengapa Elisa ingin mengenal Lilian jauh lebih dekat lagi.


Setelah sekian lama terdiam, Efina dan Elisa langsung tersadar dari lamunan masing-masing setelah Arion dan Lilian memanggil nama keduanya.


"Mama baik-baik saja?" Tanya Arion heran kepada Efina.


"Mah ..." Panggil Lilian dan mengusap pelan tangan Edina


Elisa dan Efina sama-sama tersenyum kikuk lantaran baru sadar dari lamunannya.


"Maaf Nyonya Ganendra ... Saya jadi ngelamun." Ucap Efina.


"Nggak apa-apa ... Saya juga ikut ngelamun tadi." Ucap Elisa dengan kekehan kecil.


"Oh iya ... Maaf Nyonya Ganendra. Sepertinya saya tidak bisa lebih lama lagi untuk menemani ... Ada rapat penting yang harus saya hadiri sore ini." Kata Efina.


"Oh nggak apa-apa. Saya juga udah selesai nyari kue-nya. Tinggal tunggu selesai di bungkus aja." Jawab Elisa.


"Oh ... Ya udah. Saya ikut rapat dulu kalau begitu." Kata Efina. Pandangannya kemudian beralih ke arah Lilian yang sejak tadi menatapnya bingung. "Kamu pulang sekarang aja ya ... Ntar kemaleman nyampe rumah."


Lilian hanya mengangguk patuh. "Ya udah ... Saya pamit pulang dulu, Mah, Tante ..." Ucapnya sambil tersenyum kecil.


"Gue anter." Ujar Arion tiba-tiba.


"Arion!" Panggil Elisa memperingati jika ia tadi datang bersamanya.


Arion menghela napas pelan. "Baiklah." Pasrahnya.


"Saya permisi dulu." Pamit Efina. Kemudian kembali menaiki lantai dua tokonya.


"Saya pulang dulu, Tante." Setelah mencium punggung tangan Elisa, Lilian berjalan menuju tempat Arion duduki untuk mengambil Citto.


"Ambil jalan lain ... Tadi gue lihat ada Melvin di sekitar jalan menuju rumah lo." Bisik Arion.


Lilian hanya mengangguk pelan. Setelahnya ia pergi dengan membawa Citto.


_____________