Lilian

Lilian
Keluarga Lengkap



Setelah bel pulang berbunyi, Lilian berpamitan pulang lebih awal kepada ketiga temannya. Awalnya Gladis mengusulkan kepada teman-temannya untuk mengunjungi sebuah cafe yang baru dibuka beberapa hari lalu yang terletak didekat sekolah mereka. Namun karena Lilian memiliki acara bersama keluarganya, akhirnya mereka memutuskan untuk menunda sampai ke empatnya memiliki waktu luang.


Pagi tadi, Lilian sudah berjanji kepada Efina jikalau sepulang sekolah ia harus pergi bersama kedua orang tuannya untuk menghadiri acara penting. Meski Lilian tidak tahu acara penting apa yang akan ia hadiri namun ia tidak punya niat sama sekali untuk bertanya.


Setelah menempuh perjalanan sedikit lama, Lilian akhirnya sampai rumah dan langsung dibukakan pintu gerbang oleh Mang Asep, penjaga keamanan dirumahnya Lilian.


Lilian berjalan memasuki rumahnya setelah memarkirkan motornya digarasi. Sampai di dalam, Lilian langsung di sambut oleh Efina yang sejak tadi menunggu kepulangannya.


"Sayang akhirnya kamu pulang." Kata Efina sambil mengusap pelan lengan Lilian.


Lilian menatap lekat wajah Efina yang terlihat khawatir menatapnya. "Ada apa Mah? Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Lilian penasaran.


Efina menggeleng pelan namun sorot matanya tersirat kekhawatiran. "Nggak ada apa-apa kok sayang ... Sebaiknya kamu segera naik ke atas untuk membersihkan diri. Mama udah milihin kamu sebuah dress dan nanti akan diantar oleh Bi Marni." Ucapnya dengan nada lembut.


Lilian hanya menggangguk pelan kemudian berpamitan kepada Efina untuk membersihkan diri.


_________________


Lilian menatap tampilannya pada sebuah kaca besar yang berada di dalam kamarnya. Setelah Lilian keluar dari kamar mandi, Bi Marni datang mengetok pintu kamarnya untuk membawakannya sebuah dress yang sudah Efina siapkan untuknya.


Dress itu berwarna atasan peach polos dan belengan panjang. Sedangkan bagian bawahnya berenda dengan campuran warna peach dan silver yang panjangnya hanya selutut. Lilian sangat menyukai kombinasi dari dua warna dress yang Efina pilihkan itu, warnanya tidak mencolok namun membuat rona wajah Lilian terlihat cerah.


Rambut Lilian dibiarkan tergerai namun atasannya sedikit dikepang dan di ikat ke belakang. Lilian memilih riasan polos dengan menambah blash on berwarna peach dikedua pipi putihnya. Ia juga memilih warna lipstik yang tidak terlalu cerah.


Setelah memutar beberapa kali untuk memastikan tampilannya, Lilian akhirnya mengambil tas kecil miliknya dan berjalan keluar untuk menemui kedua orang tuanya.


Terlihat diruang keluarga Rahadian dan Efina sudah siap dan tengah menunggu kedatangan Lilian. Keduanya duduk berhadapan dengan raut wajah khawatir dan tidak saling berbicara.


"Mah ... Pah ..." Panggi Lilian ragu.


Rahadian dan Efina kompak menoleh kearah Lilian dan melempar senyum kecil kepadanya.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Lilian yang heran melihat raut wajah yang sama kepada kedua orang tuanya.


Efina kembali tersenyum untuk menghilangkan rasa khawatirnya. "Kita berdua baik-baik saja kok ... Oh ya kamu cantik banget." Kata Efina sambil menyubit kedua pipi Lilian.


Lilian meringis kecil merasakan sakit di pipinya karena sebelumya Arion juga mencubit ditempat yang sama.


"Apa Mama terlalu kencang menyubit mu?" Tanya Efina sambil mengelus lembut pipi Lilian.


Lilian menggeleng pelan. "Nggak kok Mah ... Hanya saja tadi ada yang nyubit pipi Lilian disekolah." Katanya ragu.


"Siapa?" Tanya Rahadian dengan tatapan ingin tahunya.


"Teman kok Pah ... Dia hanya gemes sama pipinya Lilian jadi dicubit deh." Kata Lilian dengan cengringannya.


"Ohh ..." Ucap Rahadian sambil mrngangguk pelan.


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Lilian sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.


Lilian semakin yakin jikalau kedua orang tuanya sedang menyembunyikan sesuatu kepadanya. Terlihat dari raut wajah khawatir campur ragu pada keduanya. Namun untuk menghormati keduanya, Lilian hanya diam dan menunggu mereka sendiri yang memberitahunya.


"Oh ... Ayo." Kata Efina akhirnya.


Ketiganya kemudian berangkat menggunakan mobil milik Rahadian. Biasanya Rahadian ataupun Efina selalu menggunakan supir untuk mengantar mereka kemanapun. Namun untuk kali ini, Rahadian memilih mengendarai sendiri mobilnya dengan Efina yang duduk disampingnya dan Lilian duduk dikursi belakang.


Selama perjalanan ketiganya hanya diam dan hanya terdengar suara mesin dari mobil saja. Lilian semakin merasa curiga, tidak biasanya kedua orang tuanya hanya diam. Meski Rahadian tidak terlalu banyak bicara namun ia selalu menayakan banyak hal kepada Lilian tentang kegiatan apa saja yang dilakukan oleh gadis itu.


Efina juga sepertinya tidak berniat membicarakan hal apapun kepada suaminya ataupun kepada Lilian. Sehingga membuat Lilian merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk mengangkat suara pertama kali.


"Mah ... Pah ... Kakak nggak ikut?" Tanya Lillian memecah kehingan antara ketiganya.


Efina berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan Lilian. "Kakak mu sedang sibuk dikampus ... Jadi bel bisa menghadiri acara ini. Mungkin lain waktu." Ucapnya tanpa menoleh keara belakang tempat Lilian berada.


Lilian hanya mengangguk pelan. "Oh ... Mmmm Papa hari ini pulang cepat ... Nggak seperti biasanya, apakah acara ini sangat penting?" Tanya Lilian lagi.


Rahadian menghela napas pelan. "Ya ... Acara ini sangat penting." Katanya kemudian menghentikan mobilnya setelah mencari tempat yang pas.


Rahadian menatap Efina lama kemudian menatap Lilian dengan raut yang menurut Lilian sangat aneh.


"Sayang ... Jika nanti ditempat yang akan kita datangi terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, kamu boleh meninggalkan tempat itu." Kata Rahadian dengan raut wajah yang Lilian tidak mengerti sama sekali.


"Memangnya ada apa disana? Apakah ada hal yang tidak enak akan terjadi?" Tanya Lilian semakin penasaran.


"Tidak ... Papa bilang hanya jika ... Kamu tidak perlu merasa khawatir." Kata Efina memcoba menenangkan.


Lilian menghela napas kasar. "Mah ... Pah ... Ini ada apasih? Sikap Mama dan Papa sejak tadi sangat aneh. Lilian sebenarnya nggak apa-apa namun dengan Papa dan Mama yang bersikap seperti ini membuat Lilian nggak nyaman." Kata Lilian yang akhirnya jujur dengan yang dia rasakan.


"Kita akan menghadiri acara makan malam ... Untuk kejelasan selanjutnya, kamu akan tahu sendiri disana nanti. Tapi jika seandainya ada sesuatu yang menurut mu tidak nyaman selama disana, maka menjauhlah dan biarkan Mama dan Papa yang mengurusnya." Kata Efina dengan raut wajaj yang serius.


Meski tidak mengerti namun Lilian tetap mengangguk dan mereka pun melanjutkan perjalanannya. Selama perjalanan Lilian hanya menerka-nerka apa yang akan terjadi ditempat uang akan mereka datangi sehingga membuat raut wajah kedua orang tuanya terlihat sangat khawatir.


Lilian menatap takjub pada sebuah bangunan besar nan megah yang berada didepannya saat ini. Lilian pikir mereka akan makan malam disebuah restaurant atau hotel. Tidak ia sangka jika tempat yang mereka kunjungi adalah sebuah mension yang sangat mewah. Jarak pagar dari bangunannya saja harus menggunakan kendaraan jika tidak maka siapa pun akan merasa kelelahan jika hanya berjalan kaki saja.


Luas halaman mension itupun membuat Lilian harus menahan napas karena luasnya hampir seperti satu Kompleks perumahan. Jangankan bangunannya, pagar yang Lilian tadi lewati sepertinya diukir khusus dari pengrajin terkenal, entah berapa biaya yang dikeluarkan hanya untuk membuat pagar saja.


Didepan bangunan mewah yang Lilian lihat saat ini, berdiri dua buah pilar besar dan tinggi. Ada sebuah corak naga yang terukir dari kedua pilar tersebut. Tangan Lilian bahkan tidak tahan untuk tidak menyentuh pilar tersebut.


"Emas beneran?" Gumam Lilian pelan sambil terus memperhatikan kedua pilar tersebut. Pilar tersebut memiliki ukiran naga dan diukir menggunakan emas asli dibagian naganya.


Belum berhenti dari kekagumannya, puluhan orang yang memakai baju Maid berbaris rapi didepan pintu utama bangunan mewah tersebut dan mereka membungkuk secara bersamaan.


"Selamat datang Tuan, Nyonya serta Nona Muda." Ucap para Pelayan itu kompak.


Efina memegang erat tangan Lilian dan membawa putrinya memasuki bangunan mewah itu bersama Rahadian. Lilian kembali terpesona dengan bangunan didalan mension tersebut, hampir semua barang yang ditata adalah barang yang bernilai jual tinggi. Jika para pelayan sedikit saja melakukan kesalahan dalam merawat barang-barang itu maka tamatlah mereka.


"Bagaimana bisa afa bangunan yang seperi istana?" Batin Lilian.


Lilian sejak tadi hanya memperhatikan isi dari mension tersebut tanpa melihat jalan. Untung saja Efina memegang erat tangannya sehingga membuat Lilian hanya mengikuti langkah Mamanya meski matanya sedang melihat kearah lain.


Seorang lelaki berjas rapi berjalan mendekati Rahadian dan keluarganya kemudian membungkuk hormat. "Selamat datang Tuan, Nyonya dan Nona Muda ... Tuan besar beserta keluarga telah menunggu kedatang kalian dimeja makan." Lapor Pelayan tersebut.


"Antarkan kami." Kata Rahadian singkat.


"Silahkan." Pelayan itu mempersilahkan Rahadian, Efina dan Lilian untuk berjalan mengikutinya menuju temoat yang dimaksud.


Lilian masih sibuk melihat kiri dan kanan bangunan itu tanpa memperhatikan jalan didepannya. Sontak Lilian menabrak punggung Efina karena tidak menyadari kedua orang tuanya sudah berhenti berjalan dan menunduk memberi hormat kepada orang yang berada didepannya.


Lilian tentu saja langsung mengikuti hal yang kedua orang tuanya lakukan. "Kami datang berkunjung Papa." Ucap kedua orang tua Lilian.


Lilian membulatkan mata tidak percaya mendengar sebutan "papa" dari kedua orang tua Lilian. Hal itu yang berarti orang yang berdiri didepan Lilian saat ini adalah Kakeknya namun ia masih bingung, orang itu dari pihak Papa atau Mamanya.


"Kalian akhirnya ingat dimana jalan pulang?" Tanya lelaki yang dipanggill Papa oleh kedua orang tua Lilian.


"Pah ... Biarkan kita makan malam dulu baru membahas hal ini." Kata salah satu wanita yang Lilian perkirakanumurnya tidak jauh beda dari Mamanya.


Lelaki yang usianya mungkin memasuki umur tujuh puluhan ke atas itu memiliki muka tegas serta rahang yang kokoh. Meski umurnya sudah tidak muda lagi namun ketampanan-nya masih tercetak jelas diwajahnya.


Lilian memperhatikan wajah orang-orang yang berada di depannya satu persatu. Selain lelaki yang di panggil Papa oleh kedua orang tua Lilian, disana ada tiga sosok wanita yang masih tetlihat sangat cantik. Wanita pertama memiliki senyum ramah dan anghun, jika Lilian tebak adalah Istri dari Kakeknya jika kedua orang tua Lilian memanggilnya Papa. Wanita kedua memiliki senyum manis dan tatapan yang sangat menenangkan, umurnya mungkin berbeda beberapa tahun dari Mamanya. Dan wanita terakhir adalah wanita yang umurnya mungkin sama dengan Mamanya, ia memiliki wajah cantik serta raut wajah ceria.


Ada beberapa lelaki lagi yang Lilian lihat dan wajahnya hampir mirip dengan wajah Efina. "Mungkinkah itu kakaknya Mama? Keluarga ini adalah keluarga mama?" Batin Lilian.


Mata Lilian menangkap wajah yang juga mirip dengan Efina. "Ada satu lagi yang mirip ... Apakah mereka juga Kakaknya Mama? Yang berarti Paman ku?" Batin Lilian lagi.


Masih ada beberapa orang lagi dibelakangnya, sepertinya mereka baru datang setelah mengetahui Rahadian dan keluarganya sudah sampai. Disana ada dua lelaki muda, yang pertama terlihat sangat muda, Lilian perkirakan ia masih berada di sekolah menengah pertama. Dan yang terakhir adalah orang yang begitu Lilian kenal.


"Lo." Pekik Lilian dan lelaki itu samaan. Mereka bahkan menunjuk satu sama lain.


Semua orang termasuk kedua orang tua Lilian, menatap keduanya bergantian. "Kalian saling kenal?" Tanya Rahadian.


Lilian mengangguk pelan. "Dia adalah Kakak kelas ku." Jawab Lilian.


"Kalian satu sekolah?" Tanya orang yang sudah Lilian tebak adalah Kakeknya.


Lilian kembali mengangguk. "Iya." Jawabnya singkat.


"Cucu ku bahkan satu sekolah dengan Rein namun aku tidak mengetahuinya sama sekali!! Sungguh lucu." Ucapnya dengan senyum sinis.


"Papa ... Mereka baru sampai. Sebaiknya kita makan malam dulu." Kata seorang wanita yang Lilian perkirakan adalah Neneknya.


Semua orang mengangguk setuju, Rahadian dan keluarganya menduduki kursi yang sudah disiapkan. Makan malam yang penuh ketegangan menurut Lilian, tidak ada pembicaran sedikitpun selama makan malam berlangsung. Hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar, sesekali orang yang mungkin adalah Nenek dari Lilian menawarkan beberapa lauk kepada Lilian beserta kedua orang tuannya.


___________


Setelah makan malam selesai, semua orang berjalan menuju ruang keluarga yang sangat besar. Ruangan itu di desain dengan sangat indah dan nyaman. Terasa seperti ada kehangatan keluarga tergambar disana. Namun untuk saat ini ruangan itu seperti ruangan ujian, tampak sepi dan menegangkan.


Hingga sebuah suara bariton memecah kehingan yang sejak tadi melanda ruangan tersebut. "Ditempat mana saja kau mrnyembunyikan Cucu ku?" Tanyanya dengan nada tajam.


"Papa aku tidak pernah menyembunyikan keberadaan Putri-Putri kami ... Hanya saja kami sering berpindah tempat menyesuaikan pekerjaan Mas Rahadian." Jawab Efina dengan gugup.


Lelaki itu tersenyum sinis. "Putri-Putri? Setahu ku, Keluarga Arisena hanya memiliki satu keturunan perempuan ... Dan sekarang ia sedang berada di depan ku." Ucapnya sambil menatap tajam kearah Rahadian.


"Kami memiliki dua Putri Papa! Dua bukan satu!" Ucap Efina yang dadanya mulai sesak.


"Aku hanya memiliki satu Cucu perempuan dan sekarang berada didepan ku!! Terlihat jelas di warna bola matanya yang di miliki oleh keturan Arisena!! Putri yang lain? Dia hanyalah anak yang kalian pungut!" Kata Kakeknya sangat menusuk.


"Papa!!" Kali ini Rahadian yang terpancing.


Dada Lilian sangat sesak mengetahui kebenaran ini, selain mengetahui fakta jika Efina Mamanya memiliki keluarga yang masih lengkap ternyata Fakta lain juga ikut terungkap. Keira, orang yang sangat menyayangi Lilian dengan sepenuh hati ternyata bukan Kakak kandung dari Lilian. Dada Lilian benar-benar merasa sakit, bukan karena merasa dibohongi namun fakta itu membuatnya merasa sakit. Lilian berpikir bagaimana jika Keira tahu jika dia bukan anak kandung dari kedua orang tuanya, namun jika sejak awal Kakaknya sudah tahu bagimana tentang perasaannya selama ini.


_________________