
Lilian masih mencerna situasi yang saat ini ia alami. Selama ini Rama selalu bersikap baik kepadanya, namun mengapa kali ini lelaki itu malah bersikap kasar kepadanya. Terlebih lagi Lilian tidak pernah memiliki masalah kepadanya. Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala Lilian.
Pandangan Lilian tertuju ke arah Anin yang saat ini membantu Rama untuk bangkit berdiri. Ada banyak sekali memar di wajah lelaki itu akibat pukulan yang Arion layangkan.
"Apa hebatnya dia di bandingkan dengan Anin?" Tanya Rama dengan nada sinisnya.
Rahang Arion mengeras mendengar pertanyaan itu. "Dia adalah Lilian!! Selamanya gue akan tetap memilih Lilian!!" Jawabnya dengan nada dingin.
"Apa?!! Apa hebatnya dia!! Sehingga lo tetap memilihnya?!! Bukankah gue lebih segalanya di banding dengan dia?!!" Kelakar Anin sambil menunjuk ke arah Lilian.
Arion tersenyum sinis mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Anin. "Hanya orang bodoh yang akan memilih lo di bandingkan dengan Lilian!" Ucapnya tegas.
Meski lututnya terasa sakit namun senyum terbit di wajah cantik Lilian saat mendengar ucapan Arion. Lilian tidak menyangka jika Arion masih tetap mempertahankan janjinya di masa lalu sampai sekarang. Meski lelaki itu tidak mengingat atau mungkin tidak mengerti sama sekali dengan masa lampaunya namun lelaki itu masih tetap memilih Lilian sebagai pasangannya.
"Apa dia adalah gadis yang baik?!" Tanya Rama sambil melirik sekilas ke arah Lilian, "Jika dia gadis yang baik, maka dia tidak akan tersenyum melihat gadis lain menderita!" Lanjutnya menyindir ke arah Lilian.
Baru saja Arion ingin menjawab ucapan Rama, Namun Lilia terlebih dahulu membuat lelaki itu bungkam dengan kata-katanya.
"Apakah gue harus ikut menangis meratapi kegalalannya mendapatkan hati pacar orang lain?! Atau gue harus merelakan pacar gue sendiri demi kebahagiaan dia?!" Tanya Lilian dengan raut wajah seriusnya.
"Hello Rama ... Bangun dari dunia lo!! Jangan berpikir naif, gue emang bukan orang baik! Namun bukankah temen lo itu seharusnya berterima kasih kepada gue?" Tunjuk Lilian kepada dirinya sendiri. "Kalau bukan karena gue ... Maka dia akan menjadi wanita perebut milik orang lain!!" Pekik Lilian.
"JAGA UCAPAN LO!!" Teriak Rama marah dan menunjukk ke arah Lilian.
"TURUNKAN TANGAN LO!! ATAU GUE PATAHIN TANGAN LO SEKALIAN!!" Wajah Arion jauh lebih menakutkan saat dia sedang marah.
Melvin tiba-tiba bertepuk tangan di sela ketengan yang terjadi di antara Arion dan Rama.
Prok ... Prok ... Prok ...
"Gue nggak nyangka kalau hari ini bakalan ada kejadian seru. Gue akui kalau cewek lo cantik ... Tapi bukankah keluarga kecilnya bakalan kalah dengan keluarga Anderson?" Tanya Rama memperingati.
"Lalu kenapa memangnya dengan keluarga Anderson? Kami semua ada bersamanya." Ucap Rein dengan senyum sinisnya.
"Benarkah?" Tanya Melvin lagi, "Kalau begitu mari kita lihat bagaimana ke depannya." Lanjutnya.
Melvin mengangkat tinggi tangan kanannya kemudian muncul puluhan murid lelaki dari SMA Tunas Harapan. Mereka membawa berbagai senjata di tangan masing-masing seperti balok kayu, pemukul baseball, tongkat dan benda lainya yang di gunakan untuk tawuran.
Arion langsung menggenggam erat tangan Lilian. "Pergilah! Gue akan menahan mereka semua!" Pintanya pada Lilian.
Liliam sendiri sebenarnya tidak ingin meninggalkan Arion dan yang lainnya. Namun kondisi saat ini sangatlah mendesak, kehadiaran Lilian di sana akan membuat Arion menjadi tidak fokus. Untuk itu Lilian memutuskan mengikuti arahan dari Arion untuk meninggalkan tempat itu.
Setelah memastikan Lilian sudah berada jauh, Arion langsung maju untuk membantu teman-temannya yang sejak tadi terlibat tawuran dengan anak-anak dari SMA Tunas Harapan.
Kali ini target Arion adalah Melvin, selama ini lelaki itu sangatlah bermulut besar. Itu sebabnya Arion memilih Melvin sebagai lawannya.
Baru saja Arion ingin mencari keberadaan Melvin, sebuah balok besar hampir saja mengenai kepalanya. Kalau bukan insting Arion tidak cepat, maka balok itu akan dengan mulus mengenai kepala Arion.
"Hebat juga lo!" Teriak Melvin dengan senyum sinis.
Arion tidak mau lagi berbasa-basi lebih lama dengan Melvin. Ia melangkah maju dan menghindar dari beberapa serangan yang Melvin arahkan kepadanya. Setelah melihat celah dari serangan Melvin, Arion langsung menyerang lelaki itu dengan membabi buta.
***Bugh ...
Bugh ...
Bugh*** ...
Arion memukul wajah, perut dan terakhir menendang punggung Melvin dengan keras sehingga lelaki itu jatuh tersungkur di atas lantai lapangan. Arion kemudian tidak membiarkan lelaki itu bangkit. Setelah mengunci pergerakan Melvin, Arion kembali memukululi wajah lelaki itu.
"Pukulan ini untuk mulut lo yang selalu bermulut besar." Ucap Arion.
Bugh ...
"Pukulan ini untuk anak-anak dari sekolah gue yang selalu lo ganggu." Ucap Arion lagi.
Bugh ...
"Pukulan ini untuk Lilian yang selalu lo ganggu!" Teriak Arion.
***Bugh ...
Bugh ...
Bugh*** ...
Kondisi di lapangan tempat pertandingan semakin kacau. Beruntung saja para Guru telah mengamankan murid-murid yang datang untuk memberikan dukungan keluar dan melarang mereka untuk kembali memasuki lapangan.
Tawuran itu tetap terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya para Guru memutuskan untuk menghubingi pihak yang berwajib untuk membantu mengamankan situasi yang sudah kacau.
Sama-sama tidak ada yang mau mengalah antara dua kubu. Hingga akhirnya suara sirine mobil polisi membuat kedua kubu itu memencar dengan sendirinya. Begitu pula dengan Arion dan teman-temannya.
Namun sebelum benar-benar pergi, Arion memastikan Lilian sudah tidak berada di sana lagi. Setelah memastikan Lilian sudah tidak ada, Arion langsung memutusakan pergi meninggalkan lapangan bersama dengan teman-temannya.
________________
Lilian dengan berat hati meninggalkan lapangan, tempat di mana Arion dan yang lainnya berada. Sesekali Lilian menengok ke belakang untuk melihat kondisi di sana, namun rasa khawatir Lilian semakin bertambah tat kala melihat kekacauan yang terjadi di tengah-tengah lapangan sana.
Ingin sekali Lilian kembali ke tengah lapangan, Namun peringatan Arion membuatnya harus pergi meninggalkan lapangan itu.
Baru saja Lilian keluar dari lapangan, empat orang gadis tiba-tiba muncul dan menghadang Langkah Lilian. Mereka adalah Anin, Sheril, Naomi dan Karin.
Sama seperti Lilian, saat tawuran di tengah lapangan berlangsung, ke empat gadis itu juga memilih meninggalkan lapangan agar tidak terkena dampak dari tawuran tersebut.
"Mau kemana lo?" Tanya Anin dengan bersedekap dada.
"Lo takut?" Tanya Anin dengan senyum sinis. "Gue dengar lo adalah gadis yang kuat! Tapi ..." Ucapnya menggantung. "Percuma kuat kalau lo nggak punya pegangan apapun di keluarga lo!!" Lanjutnya.
"Kemarin-kemarin lo memang beruntung! Dengan bantuan Arion dan Rein ... Lo telah menghancurkan keluarga gue! Beruntung ... Keluarga Anin mau mengulurkan tangan untuk membantu keluar gue dalam ambang kehancuran." Ucap Sheril sinis.
Lilian terkekeh kecil mendengar ucapan dari Sheril. "Oh ... Sekarang lo menjadi anjing dan dia menjadi majikan mu?" Tanyanya dengan nada tajam.
"Tutup mulut mu!!" Marah Sheril sambil menunjuk Lilian.
"Lo yang seharusnya tutup mulut!!" Ucap Gladis tiba-tiba.
Gladis, Meira dan Laura langsung berdiri tepat di samping Lilian. Sejak tadi ketiga gadis itu mencari keberadaan Lilian, siapa sangka mereka akan bertemu dengan Lilian secara tidak sengaja setelah berhasil keluar dari lapangan untuk menghindari tawuran.
"Ohh ... Antek-anteknya datang." Ucap Naomi dengan sinis.
"Nggak apa-apa! Gue suka bermain dengan banyak orang! Periksa dari keluarga mana saja mereka berasal." Ucap Anin sombong.
Lilian terkekeh geli mendengarnya. "Lagi ... Lagi karena kekuasaan." Sindirnya.
"Kenapa? Jika yang lain tidak bisa menyentuh lo ... Maka berbeda halnya dengan gue. Arion akan berpikir puluhan kali jika ingin memutuskan hubungan dengan keluarga gue." Anin mendekatkan wajahnya agar lebih dekat dengan Lilian. "Lawan gue kalau bisa." Bisiknya namun masih tetap bisa di dengar oleh yang lain.
"Kalau lo pikir gue takut ..." Ucap Lilian menggantung. "Jangan mimpi!" Ia menekan kata-kata terakhirnya.
"Banyak omong, lo!!" Anin maju berniat menjambak rambut Lilian.
Lilian menepis tangan Anin dengan kasar sehingga gadis itu kembali jatuh di atas tanah untuk yang kesekaian kalinya. Kemudian Sheril ikut maju untuk menyerang Lilian, namun pergerakan Gladis cukup cepat untuk menahan pergerakan Sheril.
Naomi maju ingin membatu Sheril menjambak rabut Gladis, namun Laura dengan cepat menahan gadis itu untuk mendekati Gladis.
"Satu lawan satu." Tantang Laura.
Naomi langsung maju menyerang Laura. Hal itu juga terjadi kepada Karin yang saat ini saling menjambak rambut satu sama lain.
Pertengkaran ke empat gadis itu pun terjadi begitu saja. Anin sejak tadi berusaha menggapai rambut panjang milik Lilian, namun sayangnya sejak tadi usaha Anin selalu gagal.
Bukan hanya menghindar, Lilian bahkan menampar Anin beberapa kali untuk menyadarkan gadis itu. Semakin lama Anin merasa terpojok, belum lagi rasa sakit yang ia terima karena tamparan keras yang selalu Lilian berikan.
"Stop!!" Rama sekuat tenaga melerai pertengakaran ke empat gadis itu.
Tatapan nyalang kembali Rama arahkan kepada Lilian setelah melihat kedua pipi Anin yang memerah. "Lo yang melakukan ini?!!" Tanyanya dengan suara keras.
Semakin kesini Lilian semakin mengerti hubungan antara Rama dengan Anin. Terlihat jelas dari raut wajah marahnya jika Rama sangatlah menyukai gadis yang bernama Anin itu.
Itu sebabnya Rama menahan tangan Lilian tadi. Lelaki itu berniat membiarkan Anin menghabiskan waktu bersama Arion tanpa di ganggu oleh Lilian. Namun masalahnya Arion langsung menepis tubuh Anin yang memeluknya sehingga ia terjatuh dengan keras di atas lapangan.
Melihat Anin terjatuh membuat Rama berkeinginan membalas Arion karena telah memberikan rasa sakit kepada Anin dengan cara mendorong tubuh Lilian. Benar saja, Arion langsung datang memukulinya setelah melihat lutut Lilian yang berdarah.
"Ohh ... Gue baru mengerti sekarang." Ucap Lilian sambil manggut-manggut. "Lo ternyata bucin kepadanya." Lanjutnya.
"Tidak heran sih ... Oh sebentar ..." Ucap Lilian setelah mengingat sesuatu. "Jangan-jangan selama ini lo berusaha dekatin gue itu bertujuan agar gue menjauh dari Kak Arion dan lo bisa membalas rasa sakit hati lo kepadanya karena telah mencampakkan kekasih hati lo ini!" Tebak Lilian.
"Upsss salah." Ucap Lilian sambil menutup mulutnya. "Bukan mencampakkan ... Tapi memang Kak Arion tidak tertarik dengannya." Lanjutnya dengan senyum sinis.
"Diem lo!! Atau ..." Ucapan Rama menggantung.
"Atau apa? Mau nyakitin gue?" Tanya Lilian tanpa rasa takut sedikit pun. "Bodoh! Lo seharusnya mengejar cintanya ... Bukan malah membantunya untuk mendapatkan pacar orang lain! Lo pikir dia bakal membalas rasa cinta lo? Atau lo terpaku dengan salah satu kalimat yang mengatakan cinta tak harus memiliki atau melihat dia bahagia gue pun ikut bahagia?" Tebak Lilian di akhir kalimatnya.
"Itu semua omong kosong!! Cepat bangun dari tidur lo ... Dan cepat sadar." Gumam Lilian.
"Lo nggak punya hak dalam menilai hubungan gue dengan Anin. Gue udah ngerasa bahagia dengan status pertemanan yang kami jalani." Rama masih mengontrol emosinya.
Lilian kembali tertawa mendengar ucapan dari Rama. "Bahagia? Dengan memaksa hubungannya dengan pacar orang lain, begitu maksud lo?" Tanyanya.
"Lo." Tunjuk Rama dengan wajah memerah.
"Lo lihat aja ... Apa yang bisa gue lakuin terhadap lo nanti!! Dengan kondisi gue yang sekarang ini aja jauh lebih cukup membuat lo menderita untuk waktu yang cukup lama!!" Pekik Anin dari balik punggung Rama.
"Kalau gitu gue tunggu!" Ucap Lilian.
"Lo seharusnya nggak mengatakan hal itu." Kata Rama dengan melempar tatapan kasihan kepada Lilian dan ketiga temannya.
"Jangan salahkan Anin jika nanti lo akan menderita." Peringat Rama.
"Gue tidak sabar menanti penderitaan gue yang akan datang." Tantang Lilian.
Suara sirine dari mobil polisi membuat Rama langsung menarik tangan Anin agar segera menjauhi tempat itu. "Mulai besok kehiduapan lo akan berubah." Peringat Rama kemudian pergi bersama Anin dan ketiga temannya.
Gladis juga langsung menarik tangan Lilian untuk menjauhi tempat itu. Semakin lama mereka di sana, maka polisi akan menangkap mereka.
Lilian sesekali menengok ke belakang berharap jika Arion dan yang lainnya agar segera pergi meninggalkan tempat itu. Masalah yang Lilian alami hari ini begitu besar, ia memperkirakan jika kejadian hari ini akan melibatkan kedua orang tuanya.
Bukan takut dengan ancaman Anin atau peringatan dari Rama. Namun identitas aslinya masih di sembunyikan oleh kedua orang tuanya. Jika masalah ini akan semakin membesar dan melibatkan orang tua, maka tentu saja Lilian harus menghadirkan kedua orang tuanya sebagai penanggung jawab.
Lilian hanya khawatir jika urusan Papanya belum selesai namun identitas aslinya sudah terbongkar. Melihat raut wajah yang penuh percaya diri dari Anin membuat Lilian dapat menebak situasi apa yang akan terjadi untuk ke depannya. Benar kata Rama, mulai besok sepertinya hari-hari yang Lilian jalani akan sangat berbeda.
Sesekali Lilian menghela napas pelan sambil menengok ke arah belakang. Masalahnya dengan Anin biarkan berjalan seadaanya saja namun untuk saat ini Lilian lebih mengkhawatirkan kondisi Arion, Rein, Mario dan Farrel yang masih berada di tengah lapangan.
Kembali ke tempat Arion dan yang lainnya bukanlah hal yang benar untuk Lilian lakukan sekarang. Meski khawatir namun Lilian yakin jika ke empat lelaki itu dapat lolos dari kejaran para polisi.
Lilian, Gladis, Meira dan Laura langsung pergi meninggalkan tempat itu menggunakan mobil milik Laura. Mereka sebelumya telah janjian akan berangkat menggunakan satu mobil saja, siapa sangka jika rencana mereka itu membawa hal baik di saat kondisi darurat seperti sekarang ini.
__________________