Lilian

Lilian
Bareng Dia



Sejak tadi Lilian bergerak gelisah ditempat duduknya, sesekali ia juga mencuri pandang kearah Arion yang sedang fokus menyetir. Sudah satu jam lamanya mobil Arion bergerak membelah jalanan namun beluma ada sedikitpun percakapan antara Arion dan Lilian.


Kembali terdengar helaan napas dari mulut Lilian, gadis itu merasa bosan dan bingung harus melakukan hal apa untuk membunuh rasa bosannya. Hingga akhirnya Lilian memutuskan untuk menyandarkan kepalanya ke pinggir kursi yang ia duduki.


"Kenapa?" Tanya Arion memulai percakapan.


Lilian melirik kearah Arion yang masih fokus dengan jalanan di depannya. "Nggak kenapa-kenpa, hanya sedikit bosan." Jujurnya.


"Mmm ..." Gumam Arion sambil menganggukkan kepalanya.


Lilian mencebik kesal melihat respon Arion yang acuh. "Ini kita mau kemana sih? Dari tadi jalan kok nggak sampai-sampai." Ketusnya sambil membuang muka keluar jendela.


"Mau ke pedesaan." Jawab Arion yang masih fokus dengan jalanan.


"Ini kita hanya berdua aja? Yang lain pada kemana?" Tanya Lilian heran kemudian mengubah posisinya menyamping menghadap Arion.


"Dah berangkat duluan." Jawab Arion tanpa menatap kearah Lilian.


"Lah ... Nggak kompak amat. Masa iya berangkatnya sendiri-sendiri. Seharusnya lebih banyak orang semakin bagus, biar nggak bosan kek gini." Kesal Lilian.


"Mereka berangkat duluan gara-gara seseorang yang katanya nggak mau ikut." Seindir Arion.


Lilian kembali mencebikkan bibirnya kesal. "Gue lupa. masa nunggu bentar aja nggak bisa."


"Waktu mereka terlalu berharga." Ujar Arion datar.


Lilian memukul lengan kiri Arion dengan keras karena merasa kesal dengan lelaki itu.


"Lo mau kita mati bareng?" Tanya Arion tanpa menatap kearah Lilian.


"Mati aja sendiri!!" Ketus Lilian.


"Ya udah. Duduk diem." Ucap Arion.


Lilian kembali mengubah posisi duduknya menjadi membelakangi Arion. Ia lebih memilih menatap pohon sepanjang jalan ketimbang harus menatap Arion yang terlihat songong di matanya.


"Di belakang ada banyak snack, kalau mau ambil aj." Ucap Arion tiba-tiba yang membuat mata Lilian berbinar.


"Napa nggak bilang sejak tadi?" Tanya Lilian yang kembali mengubah posisi duduknya menghadap Arion lagi.


"Nggak ada yang nanya." Jawab Arion santai.


Lilian mendesis kesal. "Jadi cowok itu harus pekaan dikit. Bisa menempatkan diri saat ceweknya sedang diem atau ngambek." Jelas Lilian.


"Memangnya lo cewek gue?" Tanya Arion sedikit melirik kearah Lilian.


"Calon." Jawab Lilian dengan mantap.


Arion tidak lagi menjawab ucapan dari Lilian. Sudut bibirnya sedikit tertarik keatas namun Arion masih bisa menyembunyikan hal itu dengan sangat mudah dari Lilian.


Tidak mendapat jawaban dari Arion, Lilian memutuskan untuk membalik badannya dengan hati-hati untuk mencari snack yang Arion maksud. Ada sebuah tas plastik yang berukuran besar di kursi belakang mobil Arion. Lilian sedikit memajukan badannya kedepan agar ia bisa meraih plastik tersebut.


Lilian kembali duduk menghadap ke depan setelah plastik besar tadi sudah berada di depan pangkuanya. Senyum lebar Lilian muncul melihat ada banyak sekali snack yang ia sukai.


"Nih ada tisu, jangan kotori mobil gue." Ucap Arion sambil memberikan kotak tisu kepada Lilian.


"Bawel!" Ketus Lilian dan meraih dengan kasar kotak tisu yang di berikan oleh Arion.


Lilian kembali menyimpan tas plastik ke belakang kursi mobil Arion setelah memilih snack yang ia sukai. Dengan perasaan senang Lilian memasukan satu persatu kripik singkong di mulutnya.


"Suapin." Ujar Arion tiba-tiba.


Spontan Lilian mengerjapkan mata berkali-kali mendengar ucapan Arion. "Tadi gue salah denger nggak ya." Batin Lilian.


"Napa lo diam aja? Suapin gue!" Kembali Arion meminta Lilian untuk menyuapi-nya.


"Benar, gue nggak salah denger. Mimpi apa nih orang semalam. Nggak ada angin dan hujan tumben amat dia minta gue suapin." Batin Liloan yang masih menatap Arion dengan raut tidak percaya.


"Kuping lo sekarang udah nggak bisa berfungsi dengan baik, ya?" Tanya Arion tajam karena merasa kesal kepada Lilian yang hanya diam saja.


"Ekehmm." Dehem Lilian untuk mencairkan suasana.


Tangan Lilian dengan ragu menyerahkan sebungkus snack yang berisi keripik singkong kepada Arion.


"Lo nggak lihat gue lagi ngapain?" Tanya Arion semakin kesal.


Lilian kembali menarik tangannya dengan cepat dan dengan ragu ia mengambil kripik singkong dari bungkusannya kemudian mengarahkannya kepada mulut Arion.


Dengan santai Arion membuka mulutnya dan memakan kripik singkong dari tangan Lilian. "Lagi." Ucapnya setelah menghabiskan kripik singkong di mulutnya.


"Ha?" Tanya Lilian masih tidak percaya.


"Lagi!!" Ketus Arion.


"Iya ... Iya ... Nggak sabaran banget sih. Lagian tumbenan amat lo minta suapin, biasanya juga nggak terbiasa dekat dengan lawan jenis." Gerutu Lilian namun tangannya masih saja menyuapi Arion.


"Gue laper! Masa iya gue hanya mandangin lo yang lagi makan. Nggak tahu diri banget, udah numpang mobil orang, ngabisin makanan orang lagi." Kata Arion dengan melirik sedikit kearah Lilian.


Lilian kembali memukul lengan Arion dengan keras. "Emangnya gue minta tadi lo jemput? Tau gini mending gue minta Kak Rein buat jemput aja. Nggak bawel dan nggak pelit kayak lo!!" Teriak Lilian karena kesal.


"Kuping gue ..." Kata Arion sambil menutup kuping menggunakan sebelah tangannya.


"Itu hukuman buat orang yang kagak ada ikhlas-nya kayak lo!! Ntar pulangnya gue bareng Kak Rein aja, kagak mau lagi gue bareng lo!" Kesal Lilian kemudian menyimpan kembali snack yang ia pilih tadi.


"Lo cepat amat ngambek-nya." Ucap Arion sambil melirik kearah Lilian.


"Jangan bicara dengan gue!!" Ketus Lilian dan membuang muka ke luar jendela.


Arion menghela napas pelan kemudian menepikan mobilnya sebentar.


"Napa berhenti? Udah sampai?" Tanya Lilian masih dengan raut wajah kesalnya.


"Lihat gue." Ucap Arion.


"Nggak mau!" Ketus Lilian.


"Lihat gue!" Nada suara Arion mulai meninggi.


Lilian dengan kesal menatap wajah tampan milik Arion. "Apa?!" Kesalnya dengan wajah manyun.


"Lo imut kalau lagi marah." Ucap Arion sambil tersenyum hangat. "Pipi lo juga memerah kalau sedang marah." Lanjutnya dengan mengusap pelan pipi Lilian.


Blushh ...


Pipi Lilian semakin merona merah mendengar pujian dari Arion. Dengan malu-malu, Lilian menutup wajah menggunakan kedua tangannya.


"Jangan lihat gue." Ujar Lilian menahan malu.


"Napa? Gue suka saat lo sedang marah, terlihat imut dan menggemaskan." Puji Arion.


Jantung Lilian semakin lama semakim tidak bisa di ajak kompromi. Dag ... Dig ... Dug ... Lilian merasa jantungnya sebentar lagi akan meledak karena ulah Arion.


Arion meraih kedua tangan Lilian dan menatap wajah Lilian yang memerah malu. "Lihat gue." Ucapnya.


Dengan ragu Lilian menatap kearah mata Arion. Lilian tidak bisa bernapas dengan normal melihat senyuman manis yang terbit dari bibir manis Arion. Sungguh tampan dan mampu menghipnotis Lilian dalam waktu singkat.


"Gue sengaja jemput lo." Kata Arion dengan senyuman manisnya. "Semua snack ini juga sengaja gue belikan buat lo." Ucap Arion dengan lembut.


Lilian tidak dapat lagi menahan senyumnya. Perasaannya sedang berbunga-bunga di buat oleh Arion.


"Lo masih marah sama gue?" Tanya Arion.


Spontan Lilian menggelengkan kepalanya. "Nggak." Ucapnya.


Arion langsung mengacak rambut Lilian dengan pelan kemudian mulai menjalankan mobilnya kembali. Sedangkan Lilian sendiri masih melayang dengan perasaan berbunganya. Meski tidak ada lagi percakapan antara keduanya namun Lilian masih saja tersenyum kecil mengingat perlakuan manis yang Arion lakukan kepadanya.


_________________


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, Arion akhirnya memberhentikan mobilnya pada sebuah tempat yang terlihat seperti hutan. Sepanjang perjalanan, Lilian hanya melihat sawah dan gunung disebelah kiri dan kanan jalan.


Tempat yang Arion pilih adalah sebuah desa terpencil yang bernama Desa Nuri. Alasan Arion memilih tempat itu untuk mengambil gambar adalah karena Desa itu masih asri dan belum terjamah oleh banyak orang.


Udara Di desa itu sangat sejuk, tidak banyak rumah penduduk yang dapat mereka temui sepanjang jalan, hal itu di karenkan lokasi Desa itu sangat terpencil sehingga hanya sedikit orang yang masih bertahan untuk tinggal.


Di Desa itu hanya di huni oleh orang-orang yang yang masih memepertahankan profesi sebagai Petani. Hasil yang di peroleh dari Desa Nuri setiap tahun tidaklah sedikit, Desa itu mengirimkan banyak bahan pokok serta sayuran segar dengan kualitas terbaik ke Kota untuk di jual.


Tidak sedikit pula orang-orang di Kota yang menjadi distributor tetap bahan pokok di desa tersebut. Meski jarak Desa Nuri dengan Kota sangat jauh namun penduduk disana begiru nyaman tinggal di desat tersebut.


Kembali kepada Lilian dan Arion yang sudah menghentikan mobilnya. Lilian mengerutkan kening bingung melihat pemandangan yang ada di depannya. Di sana terlihat sebuah pemandangan hutan yang sepi. Lilian membalikkan badannya dan menemukan pemandangan sawah yang hijau.


Kembali Lilian menatap kearah Arion yang sedang menyiapkan kameranya untuk mengambil gambar. "Lo serius mau ngambil gambar disini?" Tanya Lilian heran.


"Bukan disini." Jawab Arion masih sibuk dengan kameranya.


"Laaah ... Terus dimana?" Tanya Lilian panik.


"Disana?" Tunjuk Arion ke dalam hutan didepannya.


"Seriusan?" Tanya Lilian dengan raut wajah terkejut.


"Kenapa? Lo takut?" Tanya Arion.


Lilian menggeleng pelan. "Nggak takut sih ... Hanya saja gue terkejut aja lo milih tempat beginian untuk mengambil gambar." Ujar Lilian sambil memandang jauh ke arah hutan di depannya.


"Serius lo nggak takut?" Tanya Arion memastika.


Lilian mengangguk mantap. "Serius ... Gue bahkan pernah masuk ke dalem hutan yang jauh lebih serem dari hutan ini." Tunjuk Lilian.


"Kapan dan dimana?" Tanya Arion penasaran.


"Dulu dan tempatnya sangat jauh." Jawab Lilian jujur.


"Ngapain dan sama siapa perginya?" Tanya Arion lagi.


"Lupa mau ngapain, soalnya ada banyak hutan yang gue kunjungi bareng Seint." Jawab Lilian keceplosan.


"Seint? Siapa?" Tanya Arion dan berjalan mendekati Lilian.


"Mampusssss gue keceplosan ... Lagian nih mulut ember banget. Nggak bisa apa diem aja." Runtuk Lilian dalam hati.


"Jawab gue." Tuntut Arion dengan raut wajah serius.


"Ba ... Bareng lo. Iya bareng lo ... Gue selalu mimpi pergi ke hutan bareng lo." Jawab Lilian asal.


"Jangan bohong." Ucap Arion dengan raut wajah datar.


"Sumpah bareng lo ... Mana berani gue ke hutan tanpa lo meski dalam mimpi. Datar-datar gitu lo pasti lindungin gue meski dalam mimpi." Jawab Lilian sepenuhnya tidak sepenuhnya berbohong.


Memang benar, di masa lalunya Lilian selalu memasuki hutan bersama dengan Seint atau Arion masa lalu. Jadi Lilian tidak sepenuhnya berbohong dengan jawabannya.


"Gue bisa nggak manggil lo dengan nama Seint saja?" Harap Lilian.


Arion menatap tajam kearah Lilian, ingin sekali lelaki itu mencari kebohongan di mata Lilian namun pancaran mata gadis itu selalu meyakinkan Arion jika gadis itu sesang tidak berbohong.


"Kenapa? Berikan gue alasan." Kata Arion sambil mengamati raut wajah Lilian.


"Karena gue suka dengan nama itu ... Nama Arion juga bagus hanya saja banyak orang yang manggil lo dengan nama itu ... Gue pengen lo ijinin gue buat manggil lo dengan nama tengah. Rasanya lebih spesial." Jawab Lilian dengan senyum cerahnya.


Arion tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar alasan dari Lilian. Terlihat kejujuran dari raut wajah Lilian sehingga Arion juga tidak tega untuk menolaknya.


"Baiklah." Setuju Arion.


Karena merasa senang, Lilian langsung menubruk tubuh Arion dan memeluknya dengan sangat erat.


"Makasih ya Seint." Kata Lilian senang.


Arion merasa terkejut lantaran Lilian memeluknya dengan tiba-tiba. Entah mengapa Arion selalu saja merasakan perasaan yang berbeda tiap kali ia bersama gadis itu. Ada semacam perasaan rindu dan juga nyaman yang selalu datang bersamaan. Untuk itu Arion selalu saja mencari cara agar bisa bersama dengan Lilian, meski ia tidak dapat mengekspresikan perasaan yang ia rasakan, namun dengan selalu dekat dengan Lilian membuat perasaan Arion merasa tenang.


"Lo masih betah meluk gue?" Tanya Arion yang menyadarkan Lilian.


Lilian memjamkan mata karena merasa malu telah memeluk Arion dengan tiba-tiba. "Bodoh banget gue." Batin Lilian kemudian melepas pelukannya dari Arion.


"Sorry, gue nggak sengaja." Ucap Lilian malu.


"Sudahlah ... Sebaiknya kita cepat masuk." Ajak Arion kemudian menarik tangan Lilian untuk berjalan bersamanya.


Arion dan Lilian mulai memasuki hutan itu, pemandangan yang dapat Lilian lihat tidak jauh beda dengan hutan yang sebelumnya ia lihat. Didalam hutan terdengar suara burung atau suara gesekan dari ranting pohon yang tumbuh disekitar jalan yang Arion dan Lilian lewati.


Sesekali mereka berhenti sekedar mengambil gambar yang keduanya rasa cukup bagus untuk di ambil. Misalnya seperti seekor burung yang sedang bertengger di salah satu dahan pohon atau mereka sekedar mengambil gambar bunga liar yang tumbuh di dalam hutan.


"Oh iya ... Bukannya yang lain juga ikut? Lalu dimana mereka sekarang?" Tanya Lilian yang baru nyadar.


"Vila." Jawab Arion singkat sambil memotret burung lain.


"Lah ... Kok Vila? Lalu ngapain kita disini jika mereka masih disana?" Tanya Lilian heran.


"Mereka cari tempat lain. Kalau selesai kita juga akan kesana untuk istirahat." Jawab Arion santai.


Lilian menghela napas pelan. "Kenapa gue rasa ada yang aneh, ya?" Tanya Lilian.


"Aneh apaan?" Tanya Arion.


"Lo sengaja bawa gue kesini, ya? Atau jangan-jangan lo sengaja ingin berduaan aja bareng gue?" Tunjuk Lilian kearah Arion.


Arion menjetikkan jarinya pelan ke kening Lilian. "Pede amat lo. Gue ajak lo kesini biar lo belajar yang baik buat nyari tempat bagus." Sanggah Arion.


Lilian menatap kesal ke arah Arion sambil mengusap keningnya. "Alasan." Gumam Lilian.


___________________