
Matahari sejak dari tadi sudah terbenam namun Lilian masih saja di perjalanan pulang menuju rumahnya. Setelah menghabiskan waktu bersama teman-temannya, kini saatnya ia kembali ke rumah dan mengistirahatkan diri dari lelahnya beraktifitas selama seharian penuh.
Deretan mobil yang sangat panjang di depan Lilian membuat gadis itu menghela napas beberapa kali. Ponsel Lilian bahkan tidak berhenti berdering dan menampilkan nama "Mama" di layar ponselnya.
Setelah melihat situasi sekitarnya, Lilian akhirnya menggesek tombol hijau dilayar ponselnya dan menempelkan benda pipih tersebut di telingannya.
"Hallo Mah ..." Kata Lilian setelah panggilan keduanya terhubung.
"Sayang ini sudah malam loh ... Tapi kenapa kamu belum pulang? apakah tugasnya masih banyak? Jika belum selesai lanjut besok saja. Mama suruh supir buat jemput ya..." Terdengar nada khawatir yang sangat kentara dari Efina.
"Ini Lilian lagi di jalan mah ... Cuman lagi macet aja, makanya Lilian telat pulang." Ucapnya mencoba menenangkan Mamanya.
"Kamu ada di mana? Mama suruh supir jemput aja ya? Perasaan mama sejak tadi nggak tenang." Kata Efina khawatir.
"Lilian udah deket kok mah ... Tinggal lewatin satu lampu merah aja. Di depan kayaknya ada kecelakaan atau apa mungkin yang membuat jalanan macet. Lilian janji bakalan jaga diri, jadi mama nggak usah khawatir lagi ... Lilian sebentar lagi nyampe kok." Jelas Lilian sambil melihat kondisi di sekitarnya lagi.
"Mama Lilian tutup teleponnya ya ... Ini Lilian udah mau jalan." Ucap Lilian.
"Ya sudah ... Kamu hati-hati ya! dan ingat jangan ngebut-ngebutan! Mama tunggu di rumah." Ucap Efina disebrang sana.
"Ya Mama." Setelahnya Lilian menutup telepon dari Efina kemudian memasukan ponselnya ke dalam tas ransel-nya.
Setelah melihat jalanan mulai renggang, Lilian akhirnya kembali memacu motornya dengan sangat pelan untuk menghindari tabrakan dengan pengguna mobil atau motor lainnya. Melihat jarak antara motornya dan pengguna jalan lain sangat berdempetan sehingga Lilian memutuskan untuk memacu motornya dengan sangat pelan.
Lilian mengerutkan kening bingung melihat kondisi jalanan yang berada di depannya. Terlihat banyak sekali balok, batu dan benda-benda lain berserahkan di badan jalan. Entah apa yang sudah terjadi namun bisa Lilian simpulkan bahwa hal itulah yang menyebabkan jalanan macet di hari minggu begini.
"Sepertinya tadi ditempat ini ada sekelompok orang yang melakukan aksi unjuk rasa. Terlihat ada banyak sekali benda-benda berserahkan di badan jalan. Namun sepertinya aksi mereka mengganggu pengguna jalan lain sehingga mengakibatkan pihak yang berwajib harus turun tangan langsung untuk mendisiplinkan mereka." Gumam Lilian pelan sambil melihat jalanan yang sekarang tengah ia lewati.
Meski keadaan jalan sangat kacau, namun Lilian memutuskan untuk tetap melaju dengan motornya, mengingat Mamanya sudah sejak tadi menunggu kepulangannya. Lilian tidak ingin Mamanya tambah khawatir jika ia tidak segera pulang.
Sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumahnya, Lilian merasa aneh. Biasanya jalan yang sekarang ia lewati sangatlah ramai oleh pengguna motor maupun mobil. Namun sekarang Lilian tidak melihat satu pun kendaraan lain selain kendaraannya yang melewati jalur itu.
Meski Lilian adalah tipe gadis yang tidak mudah di tindas atau tidak mudah takut, namun jika berada di posisi seperti yang sekarang ia alami saat ini siapapun akan merasa khawatir. Jalanan itu benar-benar sepi tanpa ada satu orang pun yang lewat.
"Apa cuman perasan gue aja ya ... Memang gue nggak terlalu sering keluar lewat jalan ini namun jalanan ini sangat sepi." Gumam Lilian pelan namun ia tidak memberhentikan laju motornya.
Semakin lama perasaan Lilian semakin tidak enak melihat tidak ada lagi pengguna jalan itu selain dirinya. Lilian merasa ada yang aneh dengan jalanan itu namun sampai sejauh inu Lilian belum melihat keanehan itu.
Hingga perasaan Lilian itu terbukti adanya, di depan jalan yang akan Lilian lewati sekarang, terlihat sekumpulan lelaki yang memakai jaket kulit warna hitam dengan banyak motor yang berjejer sangat rapi.
Semua mata menatap ke arah Lilian yang mengendarai motornya dengan sangat pelan dan ingin melewati sekumpulan orang tersebut.
"Sepertinya geng motor." Gumam Lilian pelan.
Lilian mencoba mengabaikan orang-orang itu dan berniat melewati mereka dengan tenang. Namun ada beberapa lelaki yang Lilian perkirakan umurnya tidak jauh beda darinya tiba-tiba berdiri berjejer dan menghalangi laju motor Lilian.
Seorang lelaki yang Lilian perkirakan adalah ketua dari sekumpulan orang-orang itu menunjuk ke arah Lilian berada. "Lo tahu jalanan yang sedang lo ingin lewati ini?" Tanya orang tersebut.
Lilian mengangkat sebelah alisnya bingung. "Tahu ... Jalan ini adalah jalan pulang ke rumah ku." Jawab Lilian polos.
Orang tersebut hanya tersenyum sinis dan menatap ke arah Lilian tajam. "Nggak usah sok polos!! Jalan ini udah gue blokir, gue bahkan udah pasang tanda agar tidak ada satu orang pun yang bisa lewati jalan ini." Katanya dengan nada beratnya.
"Oh ya? Gue nggak tahu dan tadi nggak lihat ... Karena gue udah terlanjur masuk maka bisakah kalian membuarkan ku untuk lewat?" Tanya Lilian polos sambil sesekali melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
Sekelompok orang itu menertawan ucapan Lilian barusan. Hal itu membuat Lilian kembali mengerutkan kening bingung. "Apa yang kalian tertawakan?" Tanya Lilian masih belum mengerti dengan kondisi yang sekarang ia alami.
"Lo nggak tahu kalau lo sekarang berhadapan dengan siapa-siapa saja?" Tanya salah satu orang yang berdiri dibelakang.
Lilian dengan polos menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia benar-benar tidak tahu. "Nggak."
Sekolompok lelaki itu kembali menertawakan ucapan Lilian. Sebagian dari mereka bahkan sampai megeluarkan air mata karena menertawakan ucapan Lilian
Suasana kembali hening, orang-orang yang sejak tadi tertawa kini menatap ke arah Lilian dengan tatapan yang sangat tajam.
"Lo bilang apa tadi?" Tanya lelaki yang Lilian anggap sebagai ketua kelompok itu.
"Kalian tertawa padahal tidak ada hal yang lucu. Bukankan hal itu seperti yang dilakukan oleh orang gi ..." Ucapan Lilian terhenti saat ketua kelompok itu berteriak dengan lantang ke arahnya.
"LANCANG!! Gue yakin lo adalah orang yang dikirim oleh mereka untuk melihat kondisi kami sekarang!" Napas orang itu mulai tidak teratur, mukanya bahkan memerah karena menahan marah.
"Lo ini ngomong apa sih? Gue nggak ngerti ... Lebih baik kalian menyingkir dan berikan gue jalan. Hari semakin gelap dan gue nggak mau buat Mama tambah khawatir." Kata Lilian mulai meninggikan suaranya.
Lilian mulai kembali menyalakan mesin motornya dan berniat untuk pergi namun niatnya kembali terhenti saat beberapa orang maju dan ingin menangkapnya.
"Lo berani meninggikan suara lo di hadapan Melvin. Biasanya gue tidak memberikan ampun pada siapa pun yang lancang meskipun dia adalah seorang wanita." Nada suaranya sangat berat dan tatapan matanya menajam ke arah Lilian.
"Ohhh jadi nama lo Melvin?" Ucap Lilian sambil mengangggukkan kepalanya. "Kita nggak punya masalah satu sama lain ... Jadi Melvin biarkan gue pergi." Lanjutnya dengan muka polos.
Melvin kembali tersenyum sinis ke arah Lilian. "Trik lo terlalu murahan dan sayangnya gue nggak peduli ... Lo terlalu lancang dan terlalu berani datang kesini. Maka dari itu terima nasin lo." Setelah mengucapkan itu, Melvin menyuruh beberapa temannya untuk menangani Lilian.
"Mau apa kalian?" Tanya Lilian yang melihat ada beberapa orang yang maju untuk menangkapnya.
Orang-orang itu sama sekali tidak berhenti dan tidak memperdulikan pertanyaan dari Lilian, sehingga membuanya menggeram marah. Lilian akhirnya turun dari motornya dan menangkap salah satu tangan lelaki yang mencoba memegang tangannya.
Lilian memintir tangan orang itu ke belakang dan mendorongnya hingga ia jatuh tersungkur. Lilian kembali menahan serangan demi serangan yang tertuju padanya. Gerakan serta kecepatan kaki Lilian mampu menumbangkan beberapa orang yang berusaha menangkapnya.
Melvin menggeram kesal tidak menyangka gadis kecil yang berada di hadapannya mampu menumbangkan lima orang sekaligus dengan sangat cepat. Ia kemudian menyuruh beberapa temannya yang lain untuk menyerang Lilian secara bersamaan, namun lagi-lagi Lilian bisa mengalahkan orang-orang itu.
Lilian mengambil napas banyak-banyak setelah berhasil menumbangkan lebih dari sepuluh orang sendirian. Meski Lilian memiliki ilmu bela diri namun tenaga Lilian tidak cukup menahan semua serangan yang diarahkan secara terus-terusan kepadanya.
Melihat Lilian yang mulai kelelahan, Melvin kembali menyuruh beberapa temannya untuk kembali menyerang Lilian secara bersamaan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki oleh Lilian, ia berusaha untuk tetap tenang dan kembali menumbangkan lawannya.
Melihat teman-temannya jatuh satu persatu ke tanah, Melvin akhirnya maju dan melawan Lilian sendiri. Melvin akui jika Lilian mempunyai ilmu bela diri yang tinggi, sejak tadi Melvin menyerang Lilian namun tidak ada satupun serangannya yang mengenai Lilian.
Hingga akhirnya Lilian mulai kelelahan dan memberi kesempatan kepada Melvin untuk menahan pergerakannya. Melvin memintir tangan Lilian ke belakang punggung gadis itu dengan keras sehingga dada Melvin bertubrukan dengan punggung Lilian.
Sejenak Melvin terbius dengan aroma yang menguar dari tubuh Lilian, begitu harum dan sangat menenangkan. Melvin merapatkan jaraknya dengan Lilian agar ia bisa kembali mencium aroma dari gadis itu.
Sedangkan Lilian sendiri berusaha terlepas dari kungkungan Melvin. "Lapaskan gue dasar cabul!!" Teriak Lilian yang merasa napas Melvil berada sangat dekat dengan lehernya.
Melvin sendiri kembali merapatkan tubuhnya dengan Lilian dan mencium aroma yang menguar dari tubuh Lilian. "Lo pakai parfum apa? Aromanya sangat lembut." Tanyanya pelan.
"Dasar cabul!! Lepasin gue!!" Teriak Lilian lagi.
"Nggak akan gue ..." Ucapan Melvin terhenti saat ia merasakan bahu sebelah kanannya dipukul sangat keras oleh seseorang.
Spontan Melvin melepaskan Lilian dan ia sendiri jatuh ke atas aspal. Sedangkan orang yang memukul Melvin tadi menarik tangan Lilian agar gadis itu tidsk jatuh mencium aspal yang sama dengan Melvil.
"Arion?" Panggil Lilian pelan.
Orang yang datang dan memukul bahu Melvin adalah Arion. Lelaki itu menatap Lilian dengan sangat tajam dan dingin, terlihat jelas rahang Arion mengeras menahan amarahnya.
"Apa yang lo lakuin di sini? Tidakkah lo tahu jika daerah ini sangat berbahaya?" Tanya Arion dengan nada marahnya.
Lilian menggeleng pelan. "Gue nggak tahu ... Yang gue tahu ini jalan pulang." Ujar Lilian pelan.
Arion melepas tangannya yang tadi menahan Lilian agar tidak terjatuh kemudian ia kembali memukul Melvin yang sejak tadi sedang kesakitan karena belum siap menerima serangan dari Arion. Arion berhenti memukul Melvin setelah ia mendengar suara sirine mobil polisi dari jauh.
Dengan cepat Arion menarik tangan Lilian menuju motor Lilian berada kemudian Arion menjalankan motor itu dengan laju yang sangat cepat meninggalkan semua orang yang tadi menahan Lilian pulang.
____________________