
PLAKKK ...
Lilian memukul punggung Arion sedikit keras. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Lilian terus saja mendumel karena kelakuan Arion. Lelaki itu terus seja menggoda Lilian dengan cara mengendarai motornya dengan laju yang lumayan cepat dan sesekali sengaja menarik rem agar tubuh Lilian semakin merapat ke arah punggungnya.
Hal itu sukses membuat Lilian menjadi kesal dan akhirnya mendumel sepanjang perjalanan. Bukannya risih, Arion malah tersenyum senang karena telah membuat kekasihnya itu kesal.
PLAKK ...
Sekali lagi Lilian melayangkan tangan cantiknya ke arah punggung Arion.
"Sakit sayang ..." Ujar Arion dan memijat pelan punggungnya yang sakit akibat pukulan Lilian.
"Biarin!" Kelakar Lilian.
Gadis itu tanpa aba-aba langsung menuruni motor sport milik Arion.
"Awas aja lain kali kek gitu lagi!" Ketus Lilian dengan raut wajah mengancam.
"Tetap cantik." Ucap Arion dengan senyum cerah ke arah Lilian.
Lilian mengerutkan kening melihat kelakuan aneh dari Arion. Pasalnya lelaki itu selalu terlihat dingin, perubahan kecil seperti ini tentu saja membuat Lilian heran.
"Nih orang keknya harus dibawa ke dokter ... Keknya gara-gara kejadian kemarin otaknya sedikit kegeser." Ujar Lilian.
"Normal kok, Sayang." Kali ini Arion menaik turunkan alisnya sambil tersenyum manis.
Lilian tentu saja gugup melihat senyum dari Arion. Tanpa sadar Lilian membalikan badan dan segera ingin pergi dari hadapan Arion. Namun langkah kaki Lilian harus terhenti lantaran tangan Arion terlebih dahulu menarik tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Arion dengan nada lembut.
"Ma ... Mau ke kelas." Ujar Lilian sedikit gugup.
Arion kembali melempar senyum manisnya. "Dengan helm yang masih di kepala?"
Kedua tangan Lilian reflek memegang kepala dan betul saja, helm Arion masih bertengger cantik di sana.
"Sial ... Napa harus lupa sih." Batin Lilian.
Tidak ingin di goda terus oleh Arion, Lilian langsung melepas helm di kepalanya dan memberikannya kepada Arion.
Tanpa mau melihat wajah Arion, Lilian langsung membalikan badannya dan langsung berlari meninggalkan Arion sendiri.
Sedangkan Arion langsung tertawa melihat kelakuan Lilian. "Jangan lupa sarapan ya, Sayang!" Teriaknya.
Lilian terus saja berlari tanpa menghiraukan teriakan dari Arion.
______________________
"Dasar es batu! Bikin kesel aja ... Kan malu ntar kalo ketemu!" Dumel Lilian sendiri.
Baru saja Lilian ingin memasuki kelasnya, Denis muncul di depan pintu kelas dan menarik tangannya untuk memasuki kelas.
Ternyata semua murid kelas X Mia 1 sejak tadi menunggu kedatangan Lilian. Melihat gadis itu berjalan mendekati kelas sambil berbicara sendiri membuat Denis tidak sabaran untuk menarik tangan gadis itu untuk memasuki kelas.
"Eh Denis kampret ... Apa-apaan lo narik tangan gue?!" Ketus Lilian dan menghempaskan tangannya.
"Eh Kutu! Kagak tau aja lo kalau kita lagi nungguin lo sejak tadi! Lumutan tau nggak!" Balas Denis tak kalah ketusnya.
"Ngapain lo nungguin gue! Kek kagak ada kerjaan!" Ucap Lilian sambil bersedekap dada.
"Memang kagak ada! Lo datang baru ada!" Ketus Denis nggak sabaran.
"Udah-udah ... Kelamaan lo Denis!" Kesal Laura dan beralih menatap Lilian. "Sahabat gue yang cantiknya kek gue, sekolah kita bakal ngadain festival ... Nah lo kan yang ngatur tentang donaturnya ... Mana bisa kita kerja kalo lo belum ngasih laporan sayaaaang." Ucap Laura sambil memainkan rambut Lilian.
Lilian baru tersadar jika teman-temannya sedang menunggu dirinya untuk membahas mengenai acara festival. "Oh iya ..." Lilian menepuk jidatnya. "Lupa, gue." Jawabnya polos.
"Alaaaahh ... Banyakan pacaran aja, lo! Ampe tugas penting aja lupa." Dumel Bimo.
"Eh diem deh lo, Bimo! Kagak bakal ke inti kalo lo pada nyerocos terus! Nih anak kalo mau tanya langsung ke inti ... Ntar keluar tanduk dia." Tunjuk Laura ke arah Lilian.
"Lo juga sama!" Ketus Lilian.
"Dah deh semua ..." Denis kembali bersuara. " Terus gimana jadinya?" Lanjutnya.
"Masalah makanan beres. Mama gue dah setuju buat jadi donatur ... Tugas kita tinggal buat aja tuh kue-kue di toko Mama. Masalah kain juga udah beres, kata Kak Mario sore ini kita bisa langsung ke gudang kain miliknya untuk milih-milih." Jelas Lilian.
Serentak teman-teman Lilian langsung bersorak kegirangan mendengar laporan dari Lilian.
"Artinya kita bakal ke tokoh kue Mama lo untuk buat kue langsung?" Tanya Meira yang sejak tadi hanya diam.
"Bener ... Semua bahan-bahan yang kita perlukan udah di sediain. Tinggal kita buat kue sesuai resep aja. Untuk masalah kain ... Siapa aja yang mau ikut gue ke gudang?" Tanya Lilian.
Banyak teman sekelas dengan Lilian yang mau mengajukan diri untuk mengikutinya ke gudang.
"Gini aja ... Gue saranin yang ikut ke gudang adalah anak-anak yang ngerti kain dan yang lainnya." Usul Denis.
"Nah ... Boleh juga tuh." Setuju Laura sambil manggut-manggut. "Ada baiknya kita bagi tugas ... Sebagian ke gudang dan sebagiannya mengerjakan hal lain." Lanjutnya.
"Boleh juga tuh." Setuju Meira. "Lalu siapa aja yang ke gudang?" Tanyanya.
"Lo kan bisa ngejahit ... Tentunya bisa nentuin kain yang kita semua butuhkan. Gimana kalau lo aja yang milih anak-anak untuk ikut ke gudang?" Tanya Bimo ke arah Meira.
Semua murid X Mia 1 langsung menyetujui ucapan dari Meira.
"Baiklah ... Masalah kain dah kelar. Saatnya kita memikirkan hal lain lagi." Ujar Lilian dan menatap teman-temannya satu persatu.
Gladis yang sejak tadi hanya diam dan menyimak, akhirnya maju selangkah untuk mengutarakan pendapatnya. "Tema kita kan ala-ala jama kuno gituuu ... Tentunya butuh alat make up dong. Nah ... Hal ini dah gue siapkan. Semua alat make up dan teman-temannya dah ada, tinggal milih siapa aja yang pinter make up." Ucapnya dengan raut senang.
Denis langsung menepuk tangan mendengar ucapan dari Gladis.
"Apaan sih, lo?!" Ketus Gladis. Ia heran melihat Denis yang menepuk tangannya.
"Nggaak ... Gue kaget aja. Saat kita nggak kepikiran kesana ... Lo malah dah siapin semuanya. Salut gue ... Sumpah." Ujar Denis sambil menepuk tangannya kembali.
Gladis sebisa mungkin agar tidak tersenyum di hadapan Denis. Bisa saja setelah tersenyum Denis malah meledeknya. Denis dan Gladis biasanya tidak pernah akur, akan terasa berbeda jika keduanya saling memuji seperti saat ini.
"Oke ... Kain dan make up dah kelar. Lalu sisanya apa?" Tanya Laura lagi.
Tiba-tiba bel tanda masuk telah berdering. Itu tandanya mereka semua harus membubarkan diri dan duduk di kursi masing-masing karena jam pelajaran akan segera di mulai.
"Kita lanjut lagi nanti pembahasannya." Ujar Denis.
Semua murid kelas X Mia 1 akhirnya membubarkan diri dan berjalan ke kursi mereka masing-masing.
______________________
Untuk kesekian kalinya Meira menghembuskan napas kesal lantaran melihat kelakuan aneh dari Lilian. Bagaimana tidak, sejak bel istirahat berbunyi Lilian terlihat aneh.
Sejak keluar dari dalam kelas, Lilian terus berjalan bersembunyi di belakang punggung Lilian dan sesekali menengok ke arah kiri dan kanannya.
"Lo kenapa sih?! Kesal gue lama-lama!" Ketus Meira dan menghentikan langkahnya.
"Tau nih anak! Tumben tumbenan dia kek gini ... Jalan ya jalan aja ... Napa harus kek orang ngumpet gitu." Ucap Laura yang juga kesal dengan kelakuan Lilian.
"Hussss ... Gue lagi sembunyi." Ucap Lilian pelan.
"Sembunyi dari siapa? Dan kenapa lo harus sembunyi?" Tanya Gladis dengan kening mengerut.
"Kak Arion." Jawab Lilian masih dengan nada pelan.
Ketiga teman Lilian semakin heran dengan ucapan gadis itu.
"Napa sembunyi? Perasaan lo tadi pagi di antar oleh Kak Arion." Selidik Gladis yang mulai kepo dengan kelakuan sahabatnya itu.
Lilian menggaruk kepalanya pelan. "Adalah pokoknya ... Kalian kagak usah kepo ... Jalan aja dulu. Tapi jangan sampai gue ketahuan." Ia mendorong pelan tubuh Meira untuk berjalan maju. Sedangkan dirinya memilih berjalan di belakang punggung Meira.
"Aisshhh ... Kok gue kesel ya? Tapi ya sudahlah ... Perut gue lebih penting sekarang." Ujar Gladis dan berjalan dengan cepat menuju kantin.
Sampai di kantin, ke empat gadis itu memilih meja yang berada di tengah-tengah ruangan. Jika biasanya Lilian lahap dengan makanannya, Kali ini berbeda. Lilian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melihat sekitar dari pada makanan yang sudah terhidang di depannya.
Baru saja Lilian ingin memasukan bakso kecil ke mulutnya, seseorang datang dan langsung mengambil tempat tepat di samping Lilian.
"Makan yang banyak sayang." Ucap Arion dengan nada lembut. Tidak lupa denga senyum manis yang menghiasi wajah tampannya.
Lilian menjatuhkan sendok dari tangannya dan menelan ludah susah saat melihat senyum manis dari Arion.
Bukan hanya Lilian, Gladis, Laura dan Meira juga ikut terbengong melihat senyum Arion. Jika biasanya lelaki itu terlihat datar dan dingin. Tetapi kali ini Arion terlihat berbeda dengan senyum di wajahnya itu.
"Jangan sampai terhipnotis! Tuh anak otaknya lagi kegeser ... Sejak pagi senyum-senyum sendiri. Kagak capet tuh bibir?!" Tanya Farrel dengan nada sindiran.
Perhatian Lilian, Gladis, Laura, dan Meira teralihkan kerah ketiga lelaki yang juga telah mengambil tempat masing-masing. Mereka menarik salah satu meja dan menggabungkannya dengan meja Lilian dan ketiga temannya.
"Tau ... Tadi pagi lu apain tuh anak?" Tanya Rein ke arah Lilian.
Lilian mengerjapkan mata berkali-kali mendengar ucapan Rein. Kedua pipinya tiba-tiba memerah mengingat kejadian tadi pagi.
"Pipinya memerah." Tunjuk Mario.
Tentu saja Lilian langsung menyembunyikan pipi dengan kedua tangannya.
"Mana ada?!" Ketus Lilian dan membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Pasti tadi pagi ada sesuatu ... Sejak tadi Lilian terus saja mengawasi sekitar. Seperti orang yang sedang bersembunyi." Ucap Gladis dan memandang Lilian heran.
"Benarkah? Kamu bersembunyi dari ku?" Tanya Arion dan masih setia memandangi wajah Lilian.
Lilian semakin gugup hingga menelan ludah pun susah. "Tidak ... Bukan seperti itu. Oh iya ... Kak Mario ntar sore, Gue dan beberapa anak lainnya akan ke gudang." Sebisa mungkin Lilian mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Oh iya? Kalau gitu ntar gue juga ikut nemenin deh." Jawab Mario.
"Mau ngapain?" Tanya Arion dengan perubahan raut di wajahnya. Jika sejak tadi ia terlihat tersenyum manis namun dengan sekejap lelaki itu mengubah raut wajahnya kembali datar.
"Ohh ... Lilian butuh kain buat acara festival sekolah. Mama nyuruh dia milih sendiri kain yang di butuhkan." Jawab Mario sambik memakan makanannya.
"Oh ..." Arion hanya manggut-manggut.
Obrolan pun terus berlanjur hingga tidak ada satupun yang menyandari jika Lilian telah berhasil mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
___________________________