
Dengan tidak semangat Lilian membereskan barang-barang yang ia bawa selama acara kemah tahunan berlangsung. Susah payah dia membawa banyak barang dari Jakarta namun sampai di tempat kemah barang-barang itu tidak ada yang ia gunakan.
"Lo kenapa? Lesu amat." Tanya Gladis.
"Masih sakit lo?" Tanya Laura khawatir.
Ke empat Gladis itu saat ini sedang mengemasi barang-barang yang mereka bawa dari Jakarta ke dalam tas atau koper masing-masing. Kegiatan kemah tahunan sudah mereka laksanakan selama tiga hari dua malam. Kini saatnya semua murid pulang dan kembali melaksanakan aktifitas biasa.
Lilian menggeleng kepalanya pelan. "Capek-capek gue banyak barang dari Jakarta namun sampai sini kagak ada yang di pakek." Jawabnya lesu. Dengan tidak semangat ia menarik resleting tasnya.
"Ya ... Nggak apa-apa. Bukannya tambah bagus? Lo bisa gunain tuh barang buat nanti di Jakarta. Kita bakal adain acara kemah sendiri namun di halaman rumah aja." Tawar Meira.
"Nah ... Ide bagus tuh." Setuju Laura dengan semangat.
Lilian masih terlihat lesu. Gara-gara insiden yang muncul selama acara kemah, Lilian tidsk dapat menggunakan barangnya dan malah menggunakan barang-barang milik Arion. Termasuk baju yang Lilian pakai saat ini adalah baju milik Arion.
"Eh Lilian! Gue denger-denger pihak sekolah sengaja bawa kita kemah kesini! Kabarnya sih mau nangkep tuh para penjahat." Bisik Gladis.
Mata Lilian membulat. "Seriusan? Tau dari mana lo?" Tanyanya.
"Kabarnya udah menyebar ... Lo aja yang kagak tahu. Sejak lo semalam sampai, suasana di sini menjadi pecah." Kata Laura menbahi.
"Gile bener tuh sekolah. Murid kok di jadiin umpan. Masih waras atau kagak sih tuh orang-orang." Heran Lilian.
"Bener tuh. Oh iya ... Ladang tanaman itu beneran luas ya?" Tanya Meira penasaran.
"Luuuuaaaas banget. Masih ingat dengan hutan yang di bagian selatan tidak?" Tanya Lilian.
Ketiga temannya mengangguk dengan kompak.
"Ladangnya dua kali lipat lebih besar dari tempat kita melaksanakan kegiatan reboisasi." Jawab Lilian.
"Gilee!" Pekik Gladis. "Bagaimana bisa orang-orang nggak ada yang nyadar? Tuh ladang besar amat. Sampai gue dengar ada gudangnya juga?" Tanyanya.
Lilian mengangguk cepat. "Gudangnya besar! Tapi di dalamnya banyak mesin buat ngolah tuh dua tanaman." Jawabnya.
"Astaga ... Lo kok berani banget ke sana sendiri? Kalau gue jadi lo ... Udah sejak awal gue melarikan diri. Datang kawanan serigala aja gue udah mau pipis di celana, apalagi harus menjelajah hutan bagian dalem. Nyali gue ciut oeee." Sahut Laura.
"Iya bener ... Tapi ngomong-ngomong, Kak Arion nggak marah gitu ama lo?" Tanya Meira penasaran.
"Ya ... Tentu aja marah. Gue baru sadar aja langsung pengen di makan idup-idup deh gue." Jawab Lilian ngeri jika harus mengingat raut wajah marah Arion.
"Kagak tau aja lo dia panik bener sama kondisi lo semalam. Tampilan lo kacau banget, udah gitu Kak Rein dan yang lain ikut panik. Awalnya gue lega karena lo bisa pulang dengan selamat, hanya saja tampilan lo kacau amat." Cerita Gladis heboh
"Bener ... Bener banget deh tuh. Pas kalian dan team penyelidik balik dari hutan, sumpah gue seneng banget. Cuman saat lihat tampilan lo yang kacau banget gue jadi ikutan panik. Anak-anak lain juga pada heboh." Kata Laura.
Memang benar, saat Lilian tertidur, para team penyelidik langsung bergerak menuju arah tunjuk Lilian. Gedung yang terbakar hebat membuat team penyelidik lebih mudah menemukan tempat yang Lilian maksud.
Terlebih lagi team kedua yang bergerak bersama Rein dan Mario sudah lebih dulu sampai di tempat gedung yang terbakar dan menangkap semua para pekerja yang ada di sana. Saat ini para penyelidik hanya akan mencari tau siapa-siapa saja yang terlibat dalam kasus pembuatan obat terlarang tersebut.
Setelah mengamankan pelaku dan tempat itu, sebagian anggota team penyelidik mengantarkan Arion dan yang lainnya kembali ke tempat kemah untuk beristirahat. Sedangkan sisanya bertugas untuk menjaga tempat itu.
"Belum lagi si Mak Lampir yang hilang sejak kalian berangkat. Kondisi di sini semakin tak terkendali. Meskipun anggota Osis udah berusaha nenangin para murid namun tetap saja semua merasa takut dan meminta agar segera kembali ke Jakarta." Jelas Meira.
"Karma dah tuh! Kesal sendiri gue sama tuh orang." Ujar Lilian.
Gladis, Laura dan Meira menatap Lilian dengan tatapan bingung. "Karma kenapa? Bukannya lo yang ninggalin dia?" Tanya Gladis ragu.
"Mana ada gue yang ninggalin?! Mereka berempat tuh yang ninggalin gue! Ada sungai kecil yang akan kalian lewati saat menuju pos dua kan?" Tanya Lilian.
Ketiganya kompak mengangguk.
"Nah, mereka ninggalin gue di situ! Awalnya si Mak Lampir nyuruh gue buat ngambilin kertas penting yang katanya hanyut di bawa oleh arus sungai. Karena dia adalah ketua kelompok kami, ya udah gue mau. Tapi balik-balik mereka udah nggak ada. Cuman bodohnya si Mak Lampir malah ninggalin gue dengan peta yang tadi dia buang. Entah sadar atau nggak, yang jelas kertas penting yang dia bilang itu ternyata peta keseluruhan hutan." Jelas Lilian dengan kekehan.
"Hahahaha ..." Tawa Gladis pecah. "Seriusan gitu ceritanya?" Tanyanya.
Lilian mengacungkan dua jari tangan kanannya. "Serius ... Ekspresi gue saat itu entah mau senang atau sedih. Cuman kalau ingat kebodohannya, siapa juga yang akan ketawa." Ujar Lilian.
"Berarti si Mak Lampir bohong dong! Masa dia cerita kalau lo yang ninggalin." Sahut Laura.
"Kesel gue dengarnya. Mana baru sadar langsung di tanyain gitu sama Kak Mario. Masa iya gue ninggalin mereka berempat? Sinyal di rute kita masih kuat. Masa nggak ada satupun dari mereka yang punya inisiatif hubungi panitia pelaksana." Lilian mendumen kesal.
"Denger ... Denger mereka kecebur gitu saat menghindar dari kejaran anjing hutan! Ponsel ke empatnya jadi basah semua." Kata Meira.
"Syukurin tuh ... Udah gue kasi baik-baik selama ini tapi malah bertingkah. Kesel juga kalau ingat di tinggal, hanya saja karena ada peta gue jadi nggak kesal-kesal amat." Kata Lilian sambil tertawa pelan.
"Karma memang." Sahut Gladis.
"Tadi Kak Arion gue lihat kok buru-buru amat jalan ke tenda si Mak Lampir." Ucap Laura baru sadar. Setelah menyelesaikan sarapan pagi, ketiga teman Lilian langsung pergi menjenguk sekaligus membereskan barang bawaan mereka. Di jalan, ketiganya berpapasan dengan Arion, Rein, Mario, dan Farrel yang berjalan dengan terburu-buru.
"Oh iya, gue juga baru ingat!" Ucap Meira.
"Jangan-jangan?" Tanya ke empatnya dengan mata membulat.
Spontan ke empat gadis itu terbangun dari tempat duduknya dan pergi berniat pergi menuju tenda Sheril.
"Awwwww!!" Pekik Lilian keras. Ia tidak sadar kalau sekujur tubuhnya sakit semua.
Ketiga teman Lilian juga ikut berbalik dan menemukan Lilian yang kembali terduduk dengan raut wajah kesakitan.
"Sorry ... Sorry ... Lilian kita lupa kalau lo lagi sakit." Ucap Meira nggak enak.
Ketiga teman Lilian juga ikut tertawa melihat Lilian yang tertawa.
___________________
Terlihat banyak sekali murid-murid dari Florenzo School yang berkumpul di dekat tenda milik Sheril lantaran ingin mendengar lansung cerita tentang Lilian yang sudah meninggalkan mereka saat jelajah.
Tampilan saat Arion menggendong Lilian dari belakang punggungnya membuat orang-orang semakin percaya dengan cerita yang Sheril katakan.
Dari ceritanya, Sheril mengatakan jika Lilian membawa lari peta yang seharusnya di pegang oleh ketua kelompok. Ia mengatakan jika Lilian ingin menjadi ketua kelompok dan menyalahkan Sheril karena telah di tunjuk menjadi ketua kelompok.
Sedangkan cerita selanjutnya adalah kejadian yang benar-benar terjadi kepada Sheril dan teman-temannya. Saat setelah ke empatnya meninggalkan Lilian, Sheril baru menyadari jika peta yang seharusnya ia pegang telah ia buang untuk memancing Lilian untuk meninggalkan kelompok.
Saat Sheril dan yang lain menemukan jalan dua arah, mereka akan menggunakan insting untuk memilih arah mana yang akan ke empatnya pilih. Namun setiap jalan yang mereka pilih bukannya mengarahkan mereka ke tempat kemah, keempatnya malah memutar jalan yang sama selama berkali-kali. Mereka baru menyadari jika jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sama ketika Dian mengeluarkan pendapatnya.
Keempatnya langsung sepakat untuk menggambar beberapa pohon menggunakan batu agar mereka yakin jikalau mereka selalu saja berjalan memutar di tempat yang sama.
Perasaan mereka kacau setelah mengetahui bahwa keempatnya sudah keluar dari jalur dan saag ini tengah kesasar. Saat Sheril dan teman-temannya ingin mencari bantuan, seekor anjing hutan datang dan mengejar keempatnya.
Jika seandainya Sheril dan ketiga temannya hanya berdiri diam dan menakuti anjing itu dengan kayu atau apa saja di dekat mereka, maka anjing itu tidak akan mendekat, namun beda halnya saat mereka langsung berlari. Otomatis anjing itu juga akan ikut berlari mengejar.
Sheril dan ketiga temannya bahkan harus menyeburkan diri pada sebuah sungai yang tidak sengaja mereka temui untuk menghindari kejaran anjing itu.
Cara mereka berhasil, anjing itu pergi setelah ia tidak menemukan keberadaan Sheril dan yang lainnya. Setelah keluar dari air sungai, tampilan keempatnya sangat berantakan, Sheril bahkan tidak lagi mempertahankan penampilannya. Ia hanya ingin segera mendapat bantuan dari teman-temannya dan segera pulang meninggalkan hutan.
Setelah lama menunggu bantuan, Sheril dan ketiga temannya di temukan pada jam dua dini hari. Keempatnya sudah sangat lemas dan kekurangan banyak air.
"Kita semua udah pada lemes! Lilian nggak ada sama sekali meresa bersalah dan berusaha mencari keberadaan kami." Bohong Sheril ke semua orang.
"Gimana ceritanya, Lilian bisa mendapatkan peta itu?" Tanya seorang murid perempuan lainnya.
Sheril tampak diam sebentar untuk memikirkan alasan untuk ia katakan. "Dia ... Dia ... Kan jago berantem, tenaga kami mana cukup buat nahan dia. Serigala aja mampu dia kalahin apalagi kita yang lemah ini." Ujarnya sedih.
"Cerita lo cocok buat di jadiin sinetron." Celetuk Farrel tiba-tiba.
Semua pandangan yang awalnya mengarah kepada Sheril kini beralih kepada keempat Geng Andromeda yang entah sejak kapan sudah ada di tengah-tengah mereka.
"Ma ... Maksud lo apa?" Tanya Sheril gugup.
"Lo masih tanya, apa maksud kita?" Tanya Mario dengan raut wajah sinisnya.
"Gue ... Gue memang nggak paham." Ucap Sheril.
"Nggak usah cari muka deh lo. Muka lo sejak awal udah tebel. Lagian lo punya beraoa muka? Nggak tau malu amat!" Ketus Farrel tajam.
"Kalian ini kenapa sih? Gue tau, kalian dekat dengan Lilian. Hanya saja kalian tidak perlu membelanya saat dia dengan jelas bersalah." Cerca Sheril dengan raut wajah tidak terimanya.
"Apanya yang jelas? Jelas terlihat kalau lo itu cewek yang nggak tau malu?" Tanya Rein marah.
"Gue udah banyak ngasih lo kesempatan buat menyadari keselahan lo. Namun lo nggak pernah berubah, pulang dari sini lo bakal rasain bagaimana rasa sakit yang orang-orang alami saat lo bully mereka." Kata Arion tajam.
"Ma ... Maksud lo?" Tanya Sheril dengan mata membulat.
"Gue rasa Ganendra Grup tidak lagi membutuhkan kalian." Ucap Arion tegas.
"Tapi mengapa? Kenapa gue yang di hukum?" Tanya Sherik tidak terima.
Rein tersenyum sinis mendengar pertanyaan Sheril. Ia melangkah maju dan memegang dagu Sheril dengan keras. "Sampai sini lo masih tidak menyadari kesahalan lo? Bagus ... Bagus ... Lo yang ninggalin Lilian sendirian di hutan dan lo malah memutar balikan fakta?" Tanyanya dengan raut wajah tegas dan mengempaskan wajah Sheril.
"Ma ... Maksud lo?" Tanya Sheril yang semakin gugup. Akan berbahaya baginya jika Arion meminta orang tuanya untuk berhenti berkerja sama dengan keluarganya. Terlebih lagi Rein yang terlihat marah kepadanya, dengan tidak sengaja ia telah menyinggung keluarga Arisena. "Gawat ... Gawat." Batinnya.
Farrel mendorong dua murid perempuan yang sebelumnya berangkat bersama dengan Lilian.
"Jelaskan yang sebenarnya?!" Kata Arion dengan raut wajah serius.
Kedua gadis itu menunduk takut, mereka tidak ada pilihan lain selain menjelaskan kejadian yang sebelumnya. "Sebenarnya ... Sheril lah yang meinggalkan, Lilian." Cicitnya pelan.
"Katakan dengan jelas!!" Perintah Mario.
"Wa ...Waktu itu si Sheril sengaja buang peta ke arus sungai agar Lilian pergi mengambil peta itu. Setelah Lilian pergi, Sheril mrngancam kami agar meninggalkan Lilian sendirian, jika kami menolak maka Sherik akan menghancurkan usaha keluarga kami." Jelas Dian ragu.
"Sheril tidak menyangka jika kertas yang ia buang untuk memancing Lilian pergi adalah peta petunjuk arah. Sheril baru menyadarinya ketika kami sudah berjalan jauh dari tempat terakhir kali kami meninggalkan Lilian. Itu sebabnya kami kesasar." Jelas Santi dengan kepala menunduk.
"Kalian berdua udah di bayar sama Lilian kan?! Marah Sheril. Ia masih tidak menerima jika ia akan di salahkan.
Arion tersenyum sinis menanggapi pertanyaan dari Sheril. "Tunggu dan terima aja hukuman yang gue siapin."
"Arion ... Arion gue mohon jangan putuskan kerja sama lo dengan perusahan kami." Pinta Sheril.
"Terlambat." Ucap Arion datar kemudian berbalik dan pergi meninggalkan semua orang.
"Rein ... Gue mohon bantuin gue." Harap Sheril.
Rein terkekeh kecil mendengar permintaa Sheril. "Gue malah mau menghancurkan lo dengan sehancur-hancurnya. Jika hukuman dari Arion belum cukup memuaskan gue, maka terimalah hadiah dari keluarga Arisena." Ucapnya kemudian pergi mengikuti Arion.
Farrel dan Mario hanya melempar senyum kasihan pada Sheril lalu pergi mengikuti kedua temannya yang sudah berjalan jauh.
"Akhhhhhh!" Teriak Sheril tidak terima.
________________________