Lilian

Lilian
Tanaman Terlarang



Lilian tidak dapat menutup mulutnya melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Setelah menyebrang sungai dengan cara mengendap-edap. Lilian segera melangkahkan kakinya menuju gedung yang sebelumnya ia lihat dari jauh.


Sebelum ia sampai di gedung, empat orang pekerja dengan seragam yang sama berjalan dari arah depan Lilian. Akhirnya Lilian harus memilih mundur dan mencari jalan lain untuk memasuki gedung.


Langkah kaki Lilian membawanya ke arah utara gedung tersebut. Saat sibuk mencari jalan lain, Lilian secara tidak sengaja menemukan tanaman opium dan tanaman koka yang sudah siap panen.


Dua tanaman itu tumbuh sepanjang mata Lilian memandang. Entah sejak kapan tanaman itu tumbuh dan sudah berapa kali tanaman itu di panen. Namun yang pasti dua tanaman itu adalah tanamanan yang di larang oleh negara ataupun negara luar budidayakan.


"Perkiraan gue salah! Pohon di wilayah timur sudah di pangkas habis dan di jadiin lahan untuk di tanami dua tanaman terlarang." Lilian bahkan sampai susah menelan ludahnya sendiri karena merasa terkejut.


"Nggak bisa! Gue nggak bisa biarin hal ini!" Ucap Lilian.


Lilian berjalan mendekati dua tanaman itu dan mengambil gambar menggunakkan kameranya. Lilian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari kedua lelaki yang terakhir kali ia kirimi pesan.


"Gue butuh bantuan kalian! Cepat datang ke hutan sebelah timur dan bawa team penyelidik sebanyak mungkin. Banyak tanaman opium dan koka tumbuh dengan subur di sini"


Lilian mengirim pesan itu kepada Arion dan Rein. Ia memilih bersembunyi di tengah tanaman itu selagi menunggu orang-orang data menggrebek tempat itu.


"Gue hatap pesannya tersampaikan kepada dua orang itu." Batin Lilian.


Selagi menunggu, Lilian memotret dua tanaman itu sebanyak mungkin. Tanaman opium mirip seperti bunga rambat seperti bunga asoka. Banyak orang yang tidak bisa membesakan kedua tanaman itu jika hanya membandingkan kedua bunganya. Tanaman opium memiliki daun yang mirip tanaman jambu air dan memiliki batang yang mirip dengan bunga garbera.


Sedangkan tanaman koka mirip dengan tanaman kopi. Buah yang di hasilkan oleh tanaman koka mirip dengan kopi, keduanya sama-sama di panen jika buahnya sudah berwarna kemerahan. Hanya saja daun dari tanaman koka banyak di gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab sebagai pembuatan obat terlarang.


Tanaman opium pada jaman kuno di percaya sebagai obat penumbuh rasa kabahagiaan bagi orang yang mengkonsumsinya. Sedangkan tanaman koka banyak di gunakan sebagai obat penghilang rasa sakit. Jika kedua tanaman itu di buat dengan dosis yang tidak sesuai, maka akan sangat berbahaya bagi si pemakai.


Lilian tampak tidak tenang setelah lama menunggu di tempat persembunyiannya. Kembali kakinya melangkah dengan cara mengendap-endap menuju gedung yang sejak awal ia ingin masuki.


Beberapa kali Lilian harus bersembunyi di balik tong besar agar tidak di lihat oleh penjaga gedung. Sistim penjagaan di sekitar gedung bahkan sangat ketat, sedikit saja Lilian salah melangkah maka nyawannya akan menjadi taruhan.


Lilian juga menemukan beberapa serigala yang terikat di sekitar pos penjaga. Serigala-serigala itu nampak sedang beristirahat setelah berkeliling menjaga tempat itu agar tetap aman.


Lilian menutup mulutnya dengan rapat-rapat saat dua orang penjaga berjalan di sekitar Lilian bersembunyi.


"Gimana perkembangan orang-orang yang datang berkemah di hutan sebelah barat?" Tanya seorang Pria berbadan besar.


"Besok mereka sudah akan meninggalkan tempat. Tadi kami sempat mengecek pergerakan mereka, namun mereka hanya melakukan aktifitas kemah seperti orang-orang yang sebelumnya." Sahut seorang Pria lainnya berkepala plontos.


"Baguslah ... Kehadiran mereka buat gue nggak nyaman! Belum lagi, gue denger dua belas serigala kita mati di bunuh oleh mereka." Kata Pria yang berbadan besar.


"Bener. Padahal sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang masih duduk di bangku SMA." Jawab Pria berkepala plontos.


"Lo serius, Herdi?" Tanya orang berbadan besar.


"Akhirnya lo nyebutin nama juga." Batin Lilian sambil merekam obrolan keduanya menggunakan ponsel.


"Serius ... Anggota mereka banyak. Wajar ajasih kalau semuanya mati." Sahut Herdi.


Orang berbadan besar hanya menganggukan kepala tanda mengerti.


"Eh Johan!" Panggil Herdi lagi.


"Apaan?" Sahu Johan.


"Orang-orang yang sedang berkemah di wilayah barat ... Adalah orang-orang yang berduit." Ucap Herdi pelan.


"Beneran?" Tanya johan tidak percaya.


"Beneran! Makanya kasus serigala itu sengaja kita alihkan kepada anggota penebang pohon. Di antara mereke ada beberapa pewaris seperti Ganendra dan Arisena." Bisik Herdi sepelan mungkin.


"Gue harap mereka cepetan balik! Nggak mau ghe berurusan dengan mereka." Kata Johan takut.


"Ehhh kalian berdua!" Panggil seseorang dari pos penjaga, "Ngapain nangkring di situ? Bantuin yang lain di dalam! Orang pada kerja, lo berdua malah asik ngobrol!! Katanya dengan nada berteriak.


Kedua orang yang asik mengobrol tadi pun pergi.


Lilian sendiri mengecek kondisi di sekitarnya kemudian berjalan mengendap-endp mendekati pintu masuk gedung. Ia sengaja melempar batu dari arah lain untuk mengecoh seorang penjaga pintu. Setelah orang itu pergi, Lilian secepat mungkin memasuki gedung.


Lilian menatap takjub dengan pemandangan yang ada di dalam gedung. Banyak sekali tanaman opium dan koka yang sudah di panen dan siap untuk mereka olah.


Lilian semakin berjalan lebih dalam lagi untuk memeriksa kondisi di dalam gedung. Beruntungnya, kamera yang Lilian gunakan untuk mengambil gambar tidak memumculkan suara atau cahaya sehingga ia bebas memotret pemandangan yang ia lihat.


Di dalam gedung itu, ada beberapa mesin yang mengolah tanaman opium dan koka menjadi bentuk pil yang berukuran kecil. Ada beberapa orang yang bertugas mengolah tanaman dan ada beberapa orang yang bertugas mengemas barang yang sudah jadi.


Setelah melihat semua isi dan proses di dalam gedung, Lilian akhirnya memutuskan untuk kembali keluar. Namun sayangnya saat ia ingin berbalik, ia tidak sengaja menabrak beberapa dus yang mejadi tempat persembunyiannya.


"Gawat ... Bodoh! Bodoh! Napa harus menabrak sih." Batin Lilian.


"Hei lo siapa!!" Teriak seseorang setelah melihat Lilian.


Tanpa mau mejawab, Lilian langsung berlari melarikan diri menuju pintu keluar gedung secepatnya. Namun sayangnya, seseorang yang berhasil ia kelabui tadi malah menghadangnya.


"Lo siapa? Dan bagaimana caranya lo bisa masuk?" Tanya orang itu dengan suara tinggi.


Lilian langsung memanjangkan tongkat yang terakhir kali Arion berikan. Setelah tongkat itu memanjang, Lilian berusaha memukul orang itu menggunakan tongkatnya.


Meski berhasil menahan serangan tongkat Lilian, penjaga pintu itu harus terkena sengatan listrik dari tongkat yang ia pegang. Setelah melihat penjaga itu terjatuh, Lilian langsung berlari keluar gedung secepatnya.


"Ada penyusum masuk! Tangkap dia!!" Teriak seseorang dari dalam gedung.


Lilian berlari tanpa menoleh ke arah belakang. Kembali Lilian menggunakan tongkat yang di berikan oleh Arion untuk memukul penjaga yang sejak tadi berjaga di pos penjagaan.


Nasib penjaga itu harus berakhir sama dengan penjaga pintu tadi. Penjaga itu terduduk dengan lemas setelah Lilian memukulkan tongkat yang memiliki sengatan listrik itu.


Serigala yang berbaring sekitar pos penjaga melolong keras setelah melihat Lilian melewatinya. Serigala itu ingin menyerang Lilian namun tali yang ada pada lehernya membuat ia tidak bisa bergerak lebih jauh dari tempatnya berdiri.


Sehingga Lilian lolos dari kejaran serigala. Ia berlari cepat menuju sungai yang tadi ia lewati. Namun sirine tanda ada penyusup berbunyi dengan keras dan membuat Lilian semakin sulit melewati tempat itu.


Puluhan orang sudah berada dekat di belakang Lilian. Serigala yang tadinya berhasil Lilian lewati kini ikut mengejarnya. Baru saja Lilian ingin berlari menuju sungai, seekor serigal sudah melompat dan menghadangnya dari depan.


Serigala itu kembali melompat untuk menyerang, namun Lilian berhasil menghindar ke samping dan menyerang serigala itu menggunakan alat kejut listrik yang diberikan oleh Mario. Seketika serigala itu langsung berbaring di atas tanah dan tidak bergerak lagi.


Memanfaatkan kesempatan itu, Lilian akhirnya kembali menghindari para pengejar dari arah belakangnya. Dengan napas ngos-ngosan, Lilian mengarahkan peledak yang di berikan oleh Papanya kearah orang yang mengejarnya.


BAAAAMMMMM ....


Suara ledakan berasal dari arah gedung. Saat Lilian menembakkan peledak itu, para pengejar berhasil menghindar namun peledak itu berhasil mengenai tong besar yang berisi minyak.


Sehingga terlihat kobaran api yang begitu besar dari arah samping gedung. Sebagian pengejar berhenti dan kembali berlari ke belakang untuk memadamkan api namun sebagian lagi kembali mengejar Lilian.


Peledak yang di berikan oleh Rahadian memiliki tiga kali ledakan. Lilian sudah menggunakan sekali dan masih tersisa dua. Sambil berlari melewati sungai, Lilian menembakkan peledak itu ke atas langit.


BAAAMMMMM ....


Suara ledakan kembali terdengar. Namun kali ini berasal dari atas langit. Peluh sudah membasahi wajah cantik Lilian dan napasnya mulai ngos-ngosan. Namun Lilian masih tidak ingin menyerah, meski lelah gadis itu tetap berusaha berlari menelusuri sungai yang tadi ia lewati.


Di tanggannya masih tersisa peledak terakhir, namun Lilian akan menggunakan peledak itu dengan sebaik mungkin. Lilian berhenti berlari kemudian membalikkan badannya dengan cepat. Ia mengarahkan peledak itu ke arah orang-orang yang tengah mengejarnya sehingga membuat para pengejar menjadi kalang kabut.


Melihat orang-orang yang mengejarnya berlari menjauh, Lilian akhirnya mengurungkan niat untuk menembakkan peledak itu. Setelah melirik sebentar ke arah gedung yang sudah di lalap api, Lilian akhirnya kembali berbalik dan berlari.


Para pengejar mulai mengejar Lilian kembali. Mereka merasa jikalau bahan peledak yang ada di tangan Lilian telah habis. Gadis itu hanya menggunakan bekas peledak untuk menakuti mereka saja.


Lilian mulai berlari memasuki hutan lagi, meski lelah Lilian tetap memaksakan kakinya untuk berlari jauh. Hingga ia tidak sengaja tersandung akar pohon dan jatuh berguling ke atas tanah. Tampilan Lilian saat ini sungguh menyedihkan, namun Lilian masih tetap harus berdiri agar ia tidak tertangkap.


Meski Lilian berusaha bersembunyi di semak-semak, namun penciuman serigala yang tersisa sangat kuat. Keberadaan Lilian berhasil terus di temukan sehingga ia memutuskan menggunakan peledak terakhir untuk membunuh serigala yang mengejarnya.


Lilian pun berhenti lagi berlari kemudian mengarahkan peledak terakhir ke arah empat serigala yang siap menerjangnya. Lilian berdiri tegak dan tangannya ia luruskan ke arah depan. Setelah merasa yakin, Lilian menembakkan peledak terakhir kearah serigala-serigala itu.


BAAAAAMMMM ....


Kembali terdengar suara ledakan dari dalam hutan. Empat serigala itu terkapar tidak lagi bergerak, Lilian memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menjauhi para pengejar.


Matahari sudah terbenam sejak tadi namun Lilian masih berlari menjauhi para pengejar yang masih mengejarnya. Karena terlalu lelah, Lilian akhirnya memutuskan untuk bersembunyi pada semak-semak berduri.


Lilian sudah tidak lagi peduli dengan duri yang mulai menusuk kulitnya. Bebas dari para pengejar adalah hal yang penting bagi Lilian. Para pengejar itu mulai mencari ke tempat Lilian bersembunyi namun beruntungnya mereka tidak menemukan Lilian.


baru saja Lilian ingin bernapas dengan lega, namun suara semak kembali terdengar oleh indra pendengarannya. Entah dari mana asalnya, seekor anjing pelacak datang dan menerjang semak tempat Lilian bersembunyi.


"Gue ketahuan." Pasrah Lilian akhirnya.


____________________


Arion yang sejak saat itu baru sampai di garis *finis*h meminum air yang masih tersisa setengah di botolnya dengan beberapa kali teguk. Tidak lama, ketiga temannya juga datang dan menghampiri tempat yang ia duduki. Arion, Rein, Farrel, dan Mario memiliki kelompok yang berbeda-beda sehingga ke empatnya datang di waktu yang berbeda-beda.


"Baru nyampai lo?" Tanya Mario kemudian mengambil tempat duduk di dekat Arion.


"Hmmm." Gumam Arion sebagai jawaban.


"Anjirr ... Rute yang kita lewatin bener-bener memacu adrenaline masa ia kita harus manjat tebing dulu baru bisa nyampe." Keluh Farrel mengingat medan yang ia lewati sebelumnya.


"Gue harap rute murid perempuan nggak sulit-sulit aman." Harap Rein.


"Kalian tenang aja ... Rute yang mereka lewati aman kok." Ucap Mario menenangkan keduanya.


"Lilian juga bilangnya gitu." Kata Arion.


"Tuh kan ... Dia aja sempat-sempatin balas pesan kalian." Tambah Farrel lagi.


"Tapi perasaan gue kok nggak enak, ya?" Tanya Rein mulai merasa khawatir.


"Jika dia nggak muncul satu jam dari sekarang, gue akan memasuki rute murid perempuan dan mencarinya." Kata Arion tanpa ekspresi.


"Gue seruju." Jawab Rein.


Keempat lelaki itu akhirnya memutuskan menunggu kelompok murid perempuan sampai. Tidak lama menunggu, kelompok murid perempuan sudah mulai terlihat. Namun setiap kali kelompok lainnya sampai, Arion masih saja tidak dapat menemukan kelompok Lilian.


"Sabar ... Mungkin bentar lagi." Ucap Mario mencoba menenangkan.


Arion sesekali melihat jam di ponselnya sekalian menunggu pesan balasan dari Lilian. Tidak lama setelahnya, ponsel Arion dan Rein sama-sama berbunyi tanda ada notif pesan masuk.


Keduanya sama-sama membuka pesan itu dan menyebutkan nama gadis itu samaan. "Lilian!!"


Arion dan Rein sama-sama menatap satu sama lain dengan raut wajah panik. Dengan gerakkan cepat keduanya langsung berlari kearah team penyelidik yang sejak semalam masih berada di tempat itu.


"Hei! Lo berdua mau kemana?" Tanya Farrel sedikit berteriak.


"Mungkinkah ada kabar dari Lilian? Keduanya terlihat sangat panik. Jika mereka menunjukkan ekspresi seperti itu maka Lilian sedang dalam masalah." Tebak Mario.


"Ya udah. Apalagi yang kita tunggu. Ayo kejar mereka!" Ajak Farrel.


Keduanya pun berlari mengikuti kemana Arion dan Rein tadinya pergi.


______________________