Lilian

Lilian
Rumah Laura



Lilian mengendarai motornya dengan laju pelan sembari menengok ke arah kiri dan kanan jalan mencari alamat yang sebelumya telah Laura bagikan dalam grup chat. Sesekali Lilian menghela napas pelan karena sejak tadi mencari ia belum juga menemukan alamatnya.


"Google benar-benar nggak bisa di andelin atau gue yang terlalu payah untuk memahami lokasi yang di tunjukan ya." Gumam Lilian pelan.


Tidak lama setelahnya, Lilian akhirnya menemukan dimana rumah Laura berada. Laura tinggal di jalan Mawar Blok B nomor 4 sebelah kiri jalan jika dari selatan. Halaman rumah Laura dipenuhi oleh banyak tanaman hias yang terawat. Rumah Laura memiliki dua lantai dengan model modern yang sangat kental. Pagar rumah Laura bahkan di selaraskan dengan model rumahnya.


Lilian menghentikan motornya kemudian berjalan mendekati pagar rumah Laura. "Permisi Pak, apa benar ini alamat yang saya cari?" Tanyanya sambil menyodorkan polselnya pada seseorang yang berada di dalam pagar.


Satpam tersebut menerima ponsel Lilian dan memeriksa alamat yang tertera di dalamnya. "Benar Non ... Cari siapa ya?" Tanya Satpam itu ramah.


"Saya temannya Laura ... Hari ini kami janjian untuk belajar kelompok bereng di sini." Jawab Lilian.


"Ohh temannya Non Laura toh ... Aduhhh maafkan Bapak ya Non ... Saya terlalu protektif. Bapak sama Nyonya sedang tidak di rumah jadi saya tidak bisa sembarangan membuka pintu." Jelasnya sambil membuka pagar untuk Lilian.


"Tidak apa-apa kok Pak." Jawab Lilian ramah.


"Sebelumnya Non Laura sudah bilang kalau akan ada teman-temannya yang datang belajar bareng ... Cuman saya lupa." Jelas Satpam tersebut dengan nada ragu.


Lilian tersenyum palan. "Tidak apa-apa kok Pak ... Wajar saja Bapak curiga, jaman sekarang kejahatan ada di mana-mana. Ini juga memang tugas Bapak." Kata Lilian sambil tersenyum manis.


"Terima kasih Non ... Mari masuk." Satpam tersebut akhirnya mempersilahkan Lilian memasuki pagar tersebut.


Lilian kembali berjalan menuju motornya kemudian ia memasuki kawasan rumah Laura. Lilian memarkirkan motornya di samping beberapa motor yang sepertinya milik dari kedua temannya yang lain.


Kaki Lilian kemudian berjalan menuju pintu utama rumah Laura dan memencet bel yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tidak lama suara pintu terdengar di buka dati dalam.


Kreeeekkkk


"Akhirnya lo datang juga ... Kita dari tadi sudah khawatir nungguin lo. Takut lo nggak bisa nemuin alamat rumah gue." Laura membuka pintu rumahnya dengan sangat lebar kemudian mempersilahkan Lilian untuk masuk.


"Sebenarnya gue memang sulit nyari alamat rumah lo. Itu karena gue baru pindah ke Jakarta dan hanya mengandalkan google doang buat bantu nyari rumah lo." Jawab Lilian kemudian berjalan mengikuti langkah Laura dengan membawa sekantong besar cemilan dari Arion.


"Lahhhh ... google kadang ngasih petunjuknya salah. Jadi untuk seorang yang baru pindah kayak lo sebaiknya jangan terlalu percaya dengan petunjuk yang di kasih! Bukan membawa kita ke tempat yang di tuju, google malah kadang membawa kita berada semakin jauh dari lokasi yang kita cari." Kata Laura sambil berjalan menuju taman belakang rumahnya dimana kedua temannya berada.


Laura mengajak teman-temannya untuk belajar bersama di sebuah taman kecil di dekat kolam renang. Di sana ada sebuah gajebo yang digunakan keluarga Laura untuk bersantai. Lokasi disana sangat sejuk dan nyaman sehingga Laura memutuskan untuk mengajak taman-temannya untuk belajar di sana.


"Ehh Lilian lo akhirnya datang juga ... Kita kira lo udah kesasar." Celetuk Gladis tiba-tiba dengan cengringan khasnya.


"Lo kayaknya seneng amat kalau seandainya gue beneran kesasar." Lilian mengerucutkan mulutnya kesal setelah mendengar ucapan Gladis.


"Eeeiiitttsss ... Jangan baperan! Habisnya lo lama amat. Gimana kita nggak mikir lo lagi kesasar." Ucap Gladis.


Lilian menghela napas pelan kemudian memyimpan kantong cemilannya di dekat Meira. "Tadi gue memang bingung nyari alamat rumahnya Laura, makanya tadi lama. Tadi juga gue mampir dulu ke mini market buat nyari cemilan ini." Tunjuknya pada kantong yang sudah ia simpan.


"Wiiihhhhh baik bener lo ... Nggak sia-sia gue temanan sama lo." Ujar Gladis cengengesan.


"Lo jahat banget parah ..." Lilian memberikan nada peringatan kepada Gladis.


Laura dan Meira hanya tertawa melihat interaksi antara keduanya. Sifat Gladis memeng seperti itu, suka bercanda kepada orang yang di anggap dekat dengannya. Gladis akan bersikap acuh tak acuh kepada orang yang tidak di kenalnya. Namun jika ia sudah merasa dekat dengan seseorang sifat bobroknya akan terlihat semua seperti sekarang.


"Candaaaa ... Sebelumnya terima kasih sayang. Gue sayang sama lo dan sekarang bertambah sayang karena lo udah perhatian ama gue." Ucap Gladis dengan wajah yang di buat polos sambil menaik turunkan alisnya.


"Anjiirrr ... Jijik banget gue lihat sumpah! Lagian bukan cuman lo yang gue bawain, mereka juga gue bawain. " Tunjuk Lilian kepada Laura dan Meira yamg masih tertawa kecil.


"Iya ... Iya." Jawab Gladis pasrah.


"Udah ahh sebaiknya kita kerjakan tugas seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya. Kalau cepat selesai semakin bagus, kita akan punya banyak waktu untuk jalan-jalan." Ucap Laura memperingati.


Lilian dan kedua temannya menyetujui ucapan dari Laura. Mereka akhirnya mengambil posisi duduk yang membuat mereka nyaman kemudian ke empatnya mulai mengerjakan tugas masing-masing.


Waktu terus saja berjalan, namun dari ke empat gadis tersebut belum ada yang mengeluarkan sepetah kata pun. Keadaan sekitar sangatlah tenang dan sepih, hanya ada suara dari ke empatnya yang sedang memakan cemilannya.


Lilian akhirnya menegakkan tubuhnya setelah ia selesai mengerjakan tugas bagiannya. Matanya menatap ke arah ketiga temannya yang masih fokus mengerjakan tugas masing-masing.


Tidak ingin mengganggu ketiga temannya, Lilian akhirnya hanya berdiam diri saja sambil memainkan ponselnya. Lilian membuka salah satu aplikasi yang berada di ponselnya untuk mengecek episode terbaru dari acara hiburan yang sejak lama ia ikuti.


"Siaaaal ... Kenapa video gue bisa ada di sini!! Yang lihat serta koment banyak banget lagi! Sial ... Sial ... Sial ... Malu banget gue sumpah!" Lilian memaki ponselnya dengan banyak sekali umpatan-umpatan tidak jelasnya.


Ketiga teman Lilian yang sejak tadi fokus mengerjakan tugasnya kini beralih menatapnya dengan tatapan bingung.


"Lo kenapa sih? Bukannya ngerjain tugas malah maki tuh ponsel! Memangnya tuh ponsel salah apa?" Tanya Laura bingung.


Lilian menatap ketiga temannya bergatian, tampak ada sorot ragu dalam pancaran matanya, ia menghela napas pelan kemudian menyerahkan ponselnya kepada Laura yang berada dekat dengannya.


"Nih .. Liha!" Ucapnya lesu.


Ketiga teman Lilian langsung melihat ke arah ponsel Lilian yang menayangkan video kejadian anatara Lilian dan Arion di mini market tadi.


"Astagaaaaa ... Ini lo dan Kak Arion kan?" Tanya Gladis heboh.


"Lo tadi sempat ketemu Kak Arion di mini market?" Tanya Laura.


"Apa yang kalian rebutkan sehingg banyak sekali orang yang menonton?" Tanya Meira.


Lilian menghela napas pelan mendengar pertanyaan dari ketiga temannya. ia sangat ingin menghindari pertanyaan seperti yang sekarang teman-temannya tanyakan, namun entah mengapa ia selalu berada di posisi yang selalu membuat teman-temannya melemparkan banyak pertanyaan.


Dengan berat hati Lilian menceritakan kejadian sebelum ia sampai dirumah Laura tadi. Lilian dapat melihat ada banyak sekali ekspresi yang teman-temannya ingin tunjukkan namun sebisakl mungkin mereka tahan di karenakan tidak ingin mengganggu cerita dari Lilian. Setelah Lilian mengakhiri ceritanya, ketiga teman Lilian akhirnya berteriak heboh.


"What!! Jadi Makanan yang sejak tadi gue makan di beliin sama Kak Arion?" Tanya Gladis heboh, suaranya bahkan terdengar sampai ke dalam rumah Laura.


"Di hadapan banyak orang kalian melakukan adegan sweet ... Sumpah gue iri!" Ucap Laura yang tidak kalah hebohnya dengan Gladis.


"Karena lo akhirnya gue bisa makan makanan yang di belikan oleh Kak Arion ... Kapan lagi bisa kek gini coba!! Gue harus nyimpen bungkusannya untuk dijadikan kenang-kenangan." Kata Meira.


Mendengar ucapan Meira, kedua teman Lilian ikut heboh merebut bungkusan cemilan itu satu sama lain. Lilian semakin pusing melihat ketiga temannya yang berprilaku tidak waras.


"Apasih yang kalian lakukan? Bukannya memberikan solusi kepada gue malah merebut sampah kek gitu!!" Kesal Lilian akhirnya.


Ketiga temannya menghentikan aksinya kemudian kembali fokus kepada Lilian. "Solusi apa yang lo mau? Bukannya lo nggak bisa di bully dengan mudah? Orang hanya akan mempermalukan diri sendiri jika ingin membully lo." Ujar Meira.


"Video itu pasti udah kesebar luas ... Satu sekolah juga pasti udah lihat videonya. Bukankah berarti orang-orang yang menyukai Kak Arion akan mencari lo dan membuat perhitungan." Jelas Laura saat melihat raut wajah bingung dari Lilian.


"Sebelumnya mereka juga udah pada lihat sendiri dengan kemampuan lo ... Jika ingin membuat perhitungan kepada lo, tentu saja mereka harus mempertimbangkannya baik-baik." Lanjut Gladis


Lilian mengacak rambutnya pelan karena frustasi mendengar tanggapan dari ketiga temannya. "Bukan itu maksud gue!" Kesalnya.


"Lahhhh terus maksud lo apa?" Tanya Gladis.


"Gue malu! Bagaimana caranya agar gue bisa menghindari tatapan orang-orang terhadap gue? Ini semua gara-gara si papan datar!!" Kesal Lilian.


Laura menggaruk pelan belakang telingannya. "Lilian gue sebenarnya bingung sama kelakuan lo ... Satu sisi lo nunjukin bahwa lo sebenarnya suka sama Kak Arion namun satu sisinya lagi lo selalu nunjukin ketidak sukaan lo terhadapnya."


"Benar yang di katakan oleh Laura. Sebelumnya gue minta maaf ya kalau seandainya lo tersinggung, cuman gue benar-benar heran sama lo ... Kadang lo bersikap baik kepada Kak Arion namun pada waktu tertentu lo juga bersikap seperti orang yang tidak suka kepadanya." Ucap Gladis.


"Gue memang suka ama dia, cuman nggak semua yang ada padanya gue sukai. Dia juga sering bikin gue kesel ... Sesuka-sukanya gue padanya masa iya gue cuman diam aja saat dia bikin gue kesel. Tampang datar, muka songong dan senyum sinisnya buat gue pengen banget mukul kepalanya sekencang mungkin. Kok ada kulkas berjalan modelannya kayak gitu." Lilian meluapkan semua isi hatinya.


Ketiga temannya tersenyum kecil melihat banyak sekali ekspresi yang Lilian tunjukkan saat menggabarkan sosok orang yang katanya ia suka tapi sering bikin kesal.


"Udahh ahhh sebaiknya lo semua segera selesaikan tugas masing-masing! Gue mau melepas semua beban yang ada di kepala gue sekarang!" Kata Lilian.


"Terus lo nggak ngerjain?" Tanya ketiga temannya samaan.


"Gue udah selesai dari tadi ... Jadi cepat selesain tugas kalian masing-masing." Ujar Lilian cuek.


Ketiga teman Lilian hanya mengangguk pasrah. Walau Lilian baru pindah sekolah, namun ketiga temannya sudah mengetahui tentang kecerdasan yang Lilian miliki. Sejak awal Lilian sangat aktif di semua mata pelajaran, bahkan orang yang terkenal pintar seangkatan di kelas mereka tidak bisa di bandingkan dengan kemampuan yang Lilian miliki. Gadis itu mempunyai sisi kesempurnaan dalam hidupnya, namun hal itu tidak membuat ketiga taman Lilian bergantung padanya.


Ketiganya akan berusaha sendiri dan akan bertanya kepada Lilian masalah yang tidak mereka pahami seperti saat ini. Mereka hanya fokus dengan tugas masing-masing dan akan berbicara jika ada sesuatu yang perlu mereka ingin tanyakan.


__________