
Arion terus saja berjalan menelusuri koridor menuju kelas Lilian. Langkahnya terhenti saat kedua pasang matanya melihat sebuah papan nama yang bergantung didepan sebuah ruangan dan bertuliskan kelas X Mia 1. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Arion langsung mendorong pintu ruangan tersebut dan membuat heboh seisi kelas dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Arion mengabaikan suara orang-orang yang berada disekitarnya termasuk guru yabg sekarang tengah mengajar dikelas. Matanya hanya mencari sosok seorang gadis yang sejak tadi sangat ingin dia temui.
"Arion apa yang sedang kamu lakukan disini?!" Tanya Bu Rita yang sekarang sedang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dikelas Lilian.
Bukannya menjawab, Arion malah berjalan menuju meja Lilian berada dan mengabaikan orang-orang yang mulai membicarakan tentangnya yang tiba-tiba masuk tanpa permisi dan mengganggu adik kelasnya belajar.
"Arion!! Jaga sopan santun mu! Saya masih berada disini! Kamu anggap apa saya yang berdiri disini?" suara Bu Rita semakin meninggi.
Lagi-lagi Arion tidak mempeedulikan seruan dari Bu Rita dan malah menarik tangan Likian untuk ikut berdiri bersamanya. "Ikut gue." Ucapnya datar.
"Arion! Jangan pikir dengan status keluarga mu ... Kamu bisa seenaknya melakukan hal-hal seperti sekarang ini. Kamu sedang berada di lingkungan sekolah dan itu artinya kamu harus mengikuti aturan yang berlaku disekolah ini." Marah Bu Rita.
Bukan Arion namanya kalau memperdulikan sekitarnya. Tanpa pikir panjang ia menarik tangan Lilian dan membawa gadis itu keluar dari kelasnya dan meninggalkan orang-orang yang masih sangat penasaran dengan keduanya.
"Arion!" Panggil Bu Rita.
"ARION!!" Panggil Bu Rita lagi dengan wajah memerah.
Bu Rita memijit keningnya pusing dengan kelakuan dari Arion, entah apa yang membuat laki-laki itu tiba-tiba masuk ke kelasnya dan menarik paksa salah satu murid perempuan dari kelasnya.
"Semuanya kembali ke meja kalian masing-masing!!" Teriak Bu Rita melihat semua muridnya yang sedang rebutan untuk melihat ke arah Arion dan Lilian pergi.
Dengan lesu semua murid kelas X Mia 1 kembali ke kursi mereka masing-masing dan hanya menyimpan kekesalannya masing-masing dalam hati.
Sedangkan ditempat lain, Lilian sebisa mungkin melepas tangan Arion dari genggaman tangannya. Entah apa yang di pikirkan oleh lelaki itu sehingga membuatnya harus membawanya pergi saat jam pelajaran sedang berlangsung.
"Lepasing tangan gue! Lo nggak lihat gue lagi belajar? Lepasin ... lepasin!" Pekik Lilian sambil memukul mukul tangan Arion yang masih tidsk ingin melepaskan tangannya.
"Nggak usah bawel ... Ikut aja." Kata Arion enteng dan masih menarik tangan Lilian.
"Nggak bisa! Gue lagi belajar ... Lepasin tangan gue sakit ..." Ringis Lilian merasa tangannya panas karena terus saja ditarik oleh Arion.
Arion menghentikan langkahnya kemudian mengangkat tubuh Lilian dengan tiba-tiba. Hal itu sukses membuat Lilian kaget dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Akhh ..." Pekik Lilian kaget karena Arion berjalan dengan mengangkat tubuhnya. "Lepasin gue! Lo mau bawa gue kemana? Setelah tadi pagi lo ngata-ngatain dan ninggalin gue seenaknya, kenapa sekarang malah lo yang datang samperin gue dan nyulik gue!!" Teriak Lilian yang masih berusaha lepas dari dekapan Arion.
"Sekali lagi lo teriak gue cium lo di depan banyak orang." Ancam Arion dengan wajah seriusnya.
Lilian otomatis langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Sungguh memalukan apabila Arion benar-benar menciumnya didepan banyak orang. Lilian hanya bisa memendam kekesalannya dan memaki-maki Arion sepuasnya dalam hati. Sungguh Lilian benar-benar tidak mengerti dengan kelakuan aneh dari Arion, sifatnya selalu saja berubah-ubah tanpa tahu apa penyebabnya.
Terdengar suara teriakan dari para Siswi perempuan yang melihat Arion yang menggendong Lilian, sebagian bahkan ada yang langsung mengabaikan momen mereka berdua. Lilian begitu kesal campur malu, yang bisa ia lakukan sekarang adalah menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Arion. Lelaki itu sendiri hanya diam tanpa ekprsesi, ia tidak memperdulikan apapun disekitarnya dan hanya berjalan lurus saja.
Arion membawa Lilian menuju tempat parkiran motornya berada. Ia baru menurunkan Lilian setelah keduanya sampai disamping motor milik Arion. "Lo udah gila ya!! Nggak lihat ada banyak sekali orang yang memeprhatikan kita? Setelah kejadian ini pasti akan banyak sekali gosip yang membicarakan tentang kita berdua." Kesal Lilian.
Arion tidak memperdulikan ucapan dari Lilian dan malah memilih menarik tangan Lilian untuk menaiki motornya. "Naik!" Titahnya setelah ia menaiki motornya sendiri.
"Nggak mau!" Kata Lilian tegas dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arion.
"Mau naik sendiri atau gue yang naikin lo?" Tanya Arion yang terdengar ambigu oleh pendengaran Lilian.
"Lo ... Lo kalau ngomong yang jelas dikit napa ... Kalau orang lain yang dengar mereka bisa salah paham dengan ucapan lo." Ucap Lilian gugup.
"Mau naik atau tidak?" Tuntut Ario dengan wajah seriusnya.
"Aisshhh ..." Desah Lilian kesal namun ia masih saja mengikuti perintah Arion.
Arion memegang tangan Lilian dengan sangat erat agar gadis itu tidak jatuh saat menaiki motornya. Setelah Lilian berhasil menaiki motornya, Arion melepas jas-nya dan memberikannya pada Lilian.
"Gunakan buat nutupin paha lo." Ujar Arion santai sambil menyodorkan jas-nya kepada Lilian.
Lilian memukul punggung Arion dengan sedikit keras. "Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan ya!!" Ketusnya lalu menutupi pahanya dengan jas yang baru saja Arion berikan.
Arion hanya tersenyum kecil menanggapi tingkah Lilian yang ia anggap lucu. "Pegangan!" Ucapnya lagi.
"Kita mau kemana? Ini masih jam sekolah." Kata Lilian mengabaikan perintah Arion yang sebelumnya.
Arion tidak lagi mendengarkan Lilian, ia mulai menghidupkan mesin motornya hingga suara berisik motor terdengar memenuhi seisi parkiran. "Jangan salahkan gue kalau deandainya lo jatuh." Setelah mengatakan itu Arion langsung menarik gas motornya dengan kencang.
Lilian refleks langsung maju dan memeluk tubuh Arion dengan sangat erat. "Lo kalau mau mati ya mati aja sendiri!" Pekik Lilian keras.
Arion mulai menjalankan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan keluar dari gerbang Florenzo School dengan mulus. Meski teriakan dari Guru BK dan Satpam penjaga sangat keras namun Arion masih saja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Ehh datar! Kalau lo mau dihukum ya dihukum aja sendiri! Kenapa jadi gue yang lo bawa-bawa?" Kesal Lilian sambil memukul-mukul punggung Arion.
"Duduk diam dan jangan bawel." Kata Arion sedikit berteriak agar Lilian mendengarkannya.
Lilian hanya mendengus kesal dan memilih untuk diam dengan kelakuan Arion. Percuma saja Lilian memarahi dan memakinya, hal itu akan menghabiskan tenaga Lilian lebih banyak lagi. Lebih baik Lilian hanya diam dan menunggu sampai motor Arion berhenti.
Arion sendiri tersenyum senang tanpa Lilian ketahui, sejak keluar dari gerbang sekolah mulutnya tidak capek-capeknya untuk tertarik ke atas sehingga muncul seulas senyuman manis di wajah tampannya. Arion baru menyadari jika hal-hal kecil seperti ini mampu membuatnya merasa senang.
Arion baru menghentikan motornya setelah ia sampai di salah satu restaurant jepang yang sangat besar. Ada banyak sekali mobil mewah yang terpakir sekitar restaurant tersebut.
Lilian mengedarkan pandangan sekitarnya bingung mengapa Arion membawanya ketempat itu.
"Turun" Kata Arion setelah lama menunggu Lilian yang tak kunjung turun dari motornya.
"Kita mau ngapain kesini?" Tanya Lilian bingung namun langkah kakinya tetap saja mengikuti langkah kaki Arion yang melangkah memasuki rastaurant tersebut.
"Menurut lo kita mau ngapain kesini?" Tanya Arion masih dengan tampang datarnya.
"Ya mana gue tahu ..." Kesal Lilian.
Arion menarik tangan Lilian kesebuah meja dekat kolam ikan, disana suasananya sangat sejuk dan nyaman karena sekitaran kolam ditanami berbagai macam tanaman yang memiliki bunga yang cantik. Suasana di dalam restaurant juga sangat nyaman, meski ada banyak sekali pengunjung yang datang namun tempat tersebut tidak bising.
Tempat itu ditata sama seperti halnya rastaurant makanan Jepang pada umumnya. Memiliki interior serta barang-barang khas Jepang, termasuk dengan tempat duduk serta meja yang sekarang Arion dan Lilian temoati saat ini.
Kebanyakan pengunjung yang datang adalah orang-orang dari kelas ekonomi atas dan rata-rata sudah berumur dua puluh lima tahun ke atas. Sehingga kehadiran Arion dan Lilian yang masih menggunakan seragam sekolah sangatlah kontras.
"Lo ngapain bawa gue kesini? Sumpah gue nggak nyaman banget dilihat kek gini oleh banyak orang." Kata Lilian dengan nada yang sengaja ia kecilkan.
"Anggap mereka tidak ada!" Kata Arion cuek.
Lilian langsung memukul tangan Arion dengan keras. "Anggap nggak ada bagaimana? Jelas-jelas orang itu sedang menatap kita dengan aneh ... Lagian ngapain juga kita kesini saat jam belajar sedang berlangsung." Kesalnya.
Seorang pelayan restaurant datang dengan membawa buku catatan kecil ditangannya. "Selamat datang di restaurant kami ... Ada yang ingin Tuan muda dan Nona Muda pesan?" Tanya pelayan wanita itu dengan sopan.
Arion meraih sebuah buku menu didepannya kemudian menunjuk beberapa makanan dan minuman yang ia inginkan dan langsung dicatat oleh pelayan tersebut.
"Bagaimana dengan Nona? Ada yang ingin ditambahkan?" Tanya Pelayan itu sopan.
"Tidak usah biar samaan aja dengan apa yang dia pesan." Kata Lilian sambil tersenyum canggung.
"Baiklah ... Mohon agar Tuan dan Nona agar menunggu sebentar, selagi menunggu silahkan menggunakan fasilitas lain yang kami sediakan." Ucap pelayan tersebut dengan ramag kemudian menarik diri untuk secepatnya menyiapkan makanan yang dipesan.
Arion tampak hanya diam merespon pelayan tersebut sedangkan Lilian hanya memberikan senyumannya. Mata Lilian beralih menatap fasilitas yang restaurant itu sediakan selama menunggu. Disana ada layar kecil mirip dengan tablet yang langsung terhubung dengan Wi-fi full jaringan, selagi menunggu pengunjung bisa menggunakan teblet itu dan disediakan makanan-makanan kecil.
"Karena tadi pas bel istirahat gue nggak sempat makan maka makanan ini lo yang traktir." Kata Arion tiba-tiba yang langsung membuat Lilian langsung menatapnya tidak percaya.
"Enak saja!! Lo sendiri yang narik gue kesini ... Kenapa sampai sini lo malah nyuruh gue buat bayar makanan lo?" Tanya Lilian tidak habis pikir.
"Hari ini masih terhitung sebagai hari lo yang teraktir gue makan selama seminggu ..." Kata Arion santai.
"Enak aja ... Nggak bisa!! Gue nggak setuju, perjanjiannya lo makan dikantin sekolah dan bukan di restaurant mewah kek gini." Kesal Lilian tidak terima.
"Lalu apa bedanya? Toh kita sama-sama makan." Ujar Arion masih dengan raut wajah tenangnya.
"Ehhh Papan Datar, Kutub Es yang nggak cair-cair, Papan Balon jelek." Maki Lilian kesal. "Tentu saja ada bedanya ... Lo makan di restaurant mahal sama kantin sekolah perbedaannya jauh ... Ibarat langit dan bumi. Gue makan sehari disini kek gue makan berbulan-bulan di kantin sekolah. Meski sama-sama mengenyangkan namun harganya terlampau jauh." Ketus Lilian kesal.
"Gue nggak mau tahu ... Lo tetap harus ngebayarin." Ujar Arion santai.
"Nggak bisa! Lagian gue nggak bawa apa-apa ... Lo asal narik tangan gue tanpa memberikan gue waktu untuk sekedar mengambil tas gue. Oh iya astagaaaa ..." Kata Lilian baru mengingat sesuatu. "Kalau tas masih bisa dibawa pulang sama teman-teman gue ... Trus bagaimana denga motor gue." Katanya dengan lesu.
"Lo tenang aja ... Tas dan motor lo aman." Kata Arion dengab raut wajah biasa.
"Darimana lo tahu kalau tas dan motor gue aman?" Tanya Lilian.
"Tadi gue udah ngirim pesan ke Farrel buat amanin tas dan motor lo." Jawab Arion.
Lilian mengembuskan napas lega. "Syukurlah ... Lalu siapa yang bayarin makanan-makanan ini?" Tanyanya lagi.
"Lo lah ..." Kata Arion cuek.
"Gue nggak bawa apa-apa dan uang!!" Kesal Lilian.
"Cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Arisena mana mungkin tidak memiliki uang sama sekali." Kata Arion yang langsung diplototi oleh Lilian.
"Dari mana lo tahu?" Tanya Lilian penasaran.
Arion hanya mengedikkan bahu cuek tanpa mau menjawab pertanyaan dari Lilian. Tidak berselang waktu lama, beberapa pelayan datang dan membawa pesanan keduanya dan langsung meletakkan semuanya diatas meja.
Mata Lilian mengerjap beberapa kali melihat makanan yang Arion pesan tadi.
"Kenapa lo hanya natap makanan doang? Nggak suka atau mau bilang nggak mampu untuk bayar?" Tanya Arion penasaran.
Lilian menghembuskan napas kasar. "Keduanya benar ... Gue nngak bisa makan makanan mentah, yang ada perut gue mual dan kadang gue sampai sakit-sakitan." Ucapnya lesu.
"Kalau tahu nggak bisa makan makanan mentah kenapa harus pesan makanan yang sama? Bodoh!" Ketus Arion.
Arion kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Seorang pelayan datang dengan senyum ramah diwajahnya. "Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah.
"Bungkus semua makan yang diatas meja dan buatkan lagi makanan yang sama namun isiannya sudah harus dimasak semua." Kata Arion.
"Baik." Kata pelayan tersebut dan langsung melakukan hal yang diperintahkan oleh Arion.
"Karena gue adalah orang yang baik maka untuk kali ini gue bakal bantuin lo buat bayar namun lo harus membayar hutang lo ntar." Kata Arion dengan raut wajah sombongnya.
"Tau gini gue nggak bakal mau datang kesini tadi." Kesal Lilian.
Arion hanya menebar senyum manisnya meski Lilian secara terang-terangan menatap sinis ke arahnya. Entah mengapa ia merasakan hal yang sangat aneh yang menguar dari dalam dirinya, perasaan nyaman dan juga hangat saat berada di dekat Lilian.
__________________