
Lilian menuruni mobil yang ia naiki bersama Rahadian dan Efina kemudian menatap kagum kearah bangunan mewah yang ia lihat di depannya saat ini. Bangun itu memiliki dua pilar besar yang berbentuk mahkota disisi kiri dan kanan pintu masuk bangunan.
Terdapat pahatan rumit yang Lilian tidak ketahui gambar apa yang di ukir pada sebuah pintu besar yang berwarna keemasan. Semakin lama Lilian memperhatikan pahatan-pahatan itu semakin ia yakin jika sebelumnya ia pernah melihat pahatan itu sebelumnya.
"Lilian!" Panggil Efina yang melihat Lilian yang tampak berdiri diam memperhatikan pahatan yang ada dipintu.
"I ... Iya, Mah." Jawab Lilian setelah sadar dari lamunannya.
"Ada apa?" Tanya Efina sambil menatap pahatan yang berada di pintu dan Lilian bergantian.
"Nggak apa-apa." Jawab Lilian kikuk. Matanya masih memandang kearah pahatan yang berada dipintu tersebut.
"Kamu menyukai pahatannya?" Tanya Rahadian yang entah sejak kapan sudah berdiri dekat Efina.
"Ha ...?" Tanya Lilian dengan raut wajah bingungnya.
"Sejak tadi kamu begitu serius menatap pahatan yang ada dipintu itu." Tunjuk Rahadian kearah pintu besar tersebut. "Kamu menyukainya?" Tanyanya.
Lilian menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ... Hanya saja pahatan itu begitu familiar, namun Lilian lupa pernah melihatnya dimana." Jawabnya.
"Benarkah? Padahal setau Papa ukiran itu dilukis langsung oleh Arion. Lalu Pak Aditia menyuruh pengrajin terkenal untuk mengukir lukisan Putranya dipintu." Jawab Rahadian.
"Arion? Jadi bangunan besar ini adalah kediamannya?" Batin Lilian.
Lilian mendekati pintu besar itu kemudian melihat dengan seksama ukiran yang berada di pintu tersebut. Ia menghitung banyaknya kelopak bunga yang diukir pada pintu tersebut dengan teliti.
"Bunga daisy." Batin Lilian.
Ditengah kedua pintu tersebut ada sebuah visual yang sepertinya sangat Lilian kenali. Visual seorang perempuan yang memakai gaun panjang dan mahkota kecil dikepalanya.
"Seorang Putri?" Batin Lilian lagi.
Dibelakang Putri itu, ada ukiran lain yang cukup besar. Ukiran itu adalah sebuah naga yang memiliki tanduk seperti rusa, dimulutnya juga keluar api yang membara dan naga itu memiliki sayap yang berukuran besar. Namun naga itu terlihat tunduk didepan Putri yang berdiri didepannya.
Tiba-tiba pintu dibuka dari dalam dan membuat Lilian harus mundur beberapa langkah ke belakang karena terkejut.
"Lilian ... Kamu tak apa?" Tanya Efina khawatir.
"Maaf ... Maaf ... Maaf ... Tuan, Nyonya dan Nona. Saya tidak tau jika Nona berada tepat didepan pintu. Maafkan saya karena telah membuat kalian terkejut." Pinta seorang pelayan wanita dengan raut wajah ketakutan.
Bukan hanya pelayan itu, pelayan lain sekitar lima orang dibelakangnya ikut menunduk karena merasa tidak sopan dengan tamu Tuan rumah. Awalnya mereka hanya ingin menyambut tamu, namun siapa sangka Lilian berada tepat didepan pintu saat mereka membukanya dan membuat gadis itu sampai mundur beberapa langkah karena terkejut.
"Tak apa ... Saya hanya terkejut aja." Jawab Lilian.
"Sekali lagi maafkan saya." Pinta pelayan itu takut dan masih menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa ... Kalian tidak perlu cemas." Jawab Rahadian setelah memastikan Lilian baik-baik saja.
"Terima kasih, Tuan, Nyonya dan Nona. Tanpa mengurangi rasa hormat ... Mari kami antar ke dalam, Tuan Aditia, Nyonya Elisa dan Tuan Arion sudah menunggu didalam." Kata pelayan itu dengan sopan.
Ketiganya hanya menggangguk kemudian berjalan sesuai arahan dari pelayan wanita itu. Pertama kali memasuki kediaman Arion, Lilian semakin merasa familiar dengan suasana bahkan aroma yang ada di dalamnya.
Lemari dan hiasan dinding yang terpajang semakin membuat Lilian yakin jika ia pernah melihat pemandangan yang oa lihat saat ini. "Bukankah tempat ini sangat mirip dengan kerajaan Apollonia? Gue serasa berjalan dilorong menuju kamar Arion saja. Tatanan serta benda-benda yang terpajang semuanya sangat mirip ... Apa iya Arion yang melakukannya?" Batin Lilian penasaran.
Karena sibuk memperhatikan sekitar, Lilian tidak sadar telah menabrak punggung Rahadian. Tanpa Lilian sadari jika ia sudah sampai kedepan meja makan dan tingkah anehnya itu berhasil tertangkap mata oleh Aditia, Elisa dan Arion yang menatap datar kearah Lilian.
"Ada apa dengan tatapannya?" Batin Lilian yang heran melihat tatapan Arion kepadanya.
"Lilian ... Apa kamu baik-baik aja? Kenapa sejak tadi kamu terlihat nggak fokus?" Tanya Efina sambil menatap heran Putrinya itu.
Tingkah Lilian memang sedikit aneh saat mereka sampai dikediaman Ganendra. Ia mulai terlihat aneh saat melihat ukiran aneh yang ada didepan pintu masuk. Lilian bahkan tidak sadar jika mereka sudah sampai didepan meja makan dan menabrak punggung Rahadian.
"Ya ... Lilian baik-baik aja." Jawab Lilian dengan senyum canggung.
"Mungkin saja dia kelelahan ... Silahkan Pak Rahadian, Nyonya Efina dan Lilian untuk mengambil tempat duduk." Pinta Aditia sopan.
Lilian dengan canggung menarik salah satu kursi yang langsung berhadapan langsung dengan Arion. Tatapan mata lelaki itu terlihat tajam dan dingin saat menatap Lilian.
Karena merasa ada yang salah dengan tatapan Arion, Lilian mencoba memeriksa gaun yang ia kenakan saat ini. Ia mengenakan gaun pendek diatas lutut berwarna biru muda. ada sedikit renda dikedua lengan baju tersebut dan sisanya polos semua.
Merasa tidak ada yang salah dengan gaunnya, Lilian mulai memperbaiki tatanan rambutnya. Ia merasa jika Arion menatapnya dengan sangat intens lantaran karena ada yang salah dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.
"Ada apa?" Tanya Lilian tanpa bersuara. Ia hanya sedikit menggerakkan sedikit bibirnya namun Arion dapat memahami apa yang ingin ia tanyakan.
"Ekhmm ..." Deheman Elisa membuat Arion mengurungkan niat untuk menjawab pertanyaan Lilian.
"Sepertinya hubungan Arion dan Lilian semakin dekat." Ucap Aditia sedikit melirik kearah Lilian dan Arion.
Rahadian dan Efina hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Aditia. Keduanya sangat memahami maksud dari perkataan Aditia. Sejak dulu Elisa menawarkan jika Putranya dan Lilian di jodohkan saja, namun Rahadian selalu saja menolak dengan alasan jikalau ia tidak ingin membebani Putrinya dengan ikatan perjodohan. Biarkan Lilian sendiri yang menentukan kepada siapa hatinya akan diberikan.
Namun siapa sangka jika Lilian malah tertarik dengan Putra tunggal Aditia. Keduanya bahkan selalu terlihat bersama dan sekarang sedang menjalani hubungan spesial yang disebut dengan pacaran.
"Kami mengundang Pak Rahadian dan Nyonya Elisa kesini bermaksud untuk mempererat tali silaturahim antar keluarga. Semoga niat baik kami dapat menjadi hal positif untuk Bapak dan Nyonya." Turur Elisa.
Efina tersenyum sopan menanggapi penuturan dari Elisa. "Terima kasih telah mengundang kami. Saya harap hubungan kita akan berjalan baik sampai kedepannya." Jawabnya.
"Saya harap juga begitu." Ucap Elisa lagi.
"Tidak usah berbincang lagi ... Sebaiknya kita makan sekarang atau makanannya akan dingin." Saran Aditia yang langsung di setujui oleh semua orang.
Elisa terlihat menawarkan beberapa makanan yang ia masak sendirin kepada Rahadian dan keluarga. Tidak ada percakapan selama makan malam itu berlangsung, kedua belah pihak sama-sama saling menghargai satu sama lain dengan cara makan dengan tenang tanpa berbicara. Hingga akhirnya mereka selesai dengan makanannya masing-masing.
Aditia juga tidak pernah mengungkit jika apa yang Rahadian dapatkan saat ini berkat dukungan dari keluarganya. Namun Aditia berpikir jika Rahadian pantas mendapatkan posisinya saat ini berkat kerja keras serta kecerdasan yang dimiliki oleh Rahadian. Itu sebabnya Aditia harus merelakan sebagian sahamnya untuk dijual kepada Rahadian agar lelaki itu tidak akan pergi meninggalkan Ganendra Grup.
"Kamu terlalu sungkan ... Jangan berbicara terlalu formal. Meski kita jarang bertemu karena urusan binis, namun kita ada dijalan yang sama. Itu artinya kita satu keluarga." Ujar Aditia dengan kekehannya.
"Betul itu ... Sudah sangat lama saya ingin mengundang Pak Rahadian dan keluarga untuk makan malam bersama. Hanya saja ... Waktu kita nggak banyak, jadi kita tidak bisa saling bertemu. Meski dibeberapa pertemuan penting kita bertemu, namun kita tidak bisa berbicara seleluasa sekarang." Kata Elisa dengan senyum lembutnya.
"Oh iya ... Sebaiknya kita mengobrol diruang keluarga aja agar lebih nyaman." Saran Aditia.
"Boleh." Jawan Rahadian.
Arion dan Lilian yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan kini nampak memandang satu sama lain. Keduanya terlihat tidak nyaman berada diantara kedua orang tuanya masing-masing. Mereka membahas tentang kehidupan orang dewasa yang sama sekali belum Lilian dan Arion pahami sama sekali.
"Arion, lebih baik kamu ajak Lilian untuk berkeliling! Kami ada pembahasan penting dan kalian tidak perlu untuk tau." Kata Elisa.
Memang Elisa dan Aditia ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan antara Arion dan Lilian kedepannya kepada Rahadian dan Efina. Namun menurut Aditia dan Elisa, akan lebih baik jika keduanya tidak mendengar pembahasan mereka. Itu sebabnya, Elisa membiarkan mereka untuk menghabiskan waktu bersama tanpa mengetahui hal apa yang kedua belah pihak bahas.
Awalnya Lilian ragu untuk mengikuti ucapan Elisa, namun tatapan mata dari Rahadian dan Efina yang mengijinkannya pergi membuat Lilian mengikuti keinginan Elisa.
Arion juga tidak tahu harus membawa Lilian kemana, namun langkah kakinya seakan menuntunya untuk berjalan menujun kamarnya berada. Sedangkan Lilian hanya mengikuti kemana Arion berjalan dari belakang.
Hingga akhirnya Arion dan Lilian sampai pada sebuah pintu yang berukuran cukup besar meski tak sebesar pintu masuk yang pertama kali Lilian masuki tadi.
Namun antara pintu pertama dan yang kedua memiliki kemiripan yang hampir sama. Jika pintu pertama hanya ada ukiran seorang gadis. Pintu kedua muncul sosok lain, visualnya mirip dengan seorang Pangeran yang sedang menunggangi seekor kuda. Jari jemari Lilian tidak sadar menyentuh ukiran yang berada dipintu tersebut.
"Ada apa?" Tanya Arion akhirnya. Setelah lama berdiam diri tanpa suara, kini akhirnya ia mengeluarkan suara juga.
"Tidak ... Ukirannya sangat bagus." Jawab Lilian.
"Masuk." Perintah Arion.
"Ha?" Tanya Lilian bingung.
Arion menyuruhnya untuk memasuki ruangan itu namun Lilian terlihat memandangnya dengan tatapan curiga.
"Lo mau ngapain? Suara gue ini bisa terdengar sampai ke ruang makan tadi kalau gue teriak." Kata Lilian.
"Memangnya lo pikir gue mau apa?" Tanya Arion yang memperpendek jarak antara keduanya.
"Mau apa lo?" Lilian berjalan mundur hingga punggungnya bersentuhan dengan pintu yang berada dibelakangnya.
"Mau ..." Arion mulai mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Lilian.
Spontan Lilian memjamkan mata karena tidak sanggup menatap mata Arion yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
Tek ...
Arion menjitak kening Lilian sedikit keras karena tingkah lucu yang Lilian lakukan.
"Awww ..." Pekik Lilian kesakitan sambil menyentuh kening yang Arion jitak.
"Otak lo semakin kesini, semakin liar ya! Atau jangan-jangan selama ini lo mikir ngeres trus?" Tuduh Arion yang berniat menggoda Lilian.
"Enak aja! Lo aja yang mesum! Ngapain pakek deketin wajah lo segala kearah gue! Lo sendiri yang lagi mikir ngeres!!" Ucap Lilian tidak terima.
"Tapi napa lo malah merem? Lo kan jago beladiri, seharusnya lo melawan bukannya merem!" Goda Arion.
Wajah Lilian memerah karena malu, jika disuruh memilih lebih baik Lilian memilih Arion yang tampak diam dan dingin ketimbang banyak bicara seperti sekarang ini. Meski Lilian berusaha membela diri tetap saja ia akan kalah jika berdebat dengan Arion.
"Udah ahh! Terserah lo!" Kesal Lilian dan mendorong dada Arion hingga lelaki itu mundur selangkah ke belakang.
Arion tersenyum menyeringai mendengar ucapan Lilian. "Oh terserah gue ya ... Kalau gitu ..." Arion menggantung ucapannya kemudian mulai mendekatkan wajahnya kembali kearah Lilian.
Tidak ingin tertipu atau digoda lagi oleh Arion, Lilian langsung mendorong dada Arion sedikit keras. Namun sayangnya Lilian juga ikut mundur kebelakang karena tenaga yang ia keluarkan berlebihan. Hingga akhirnya punggung Lilian membentur pintu dibelakangnya dan membuat pintu itu terbuka lebar.
"Aw ..." Pekik Lilian pelan.
Matanya menelusuri setiap isi dari ruangan tersebut, terdapat sebuah ranjang king size dipojok kiri ruangan. Di arah yang berlawanan ada sebuah lemari besar yang ditengah-tengahnya terdapat sebuah cermin setinggi badan Arion sendiri.
Warna ruangan itu berbeda dengan warna ruangan yang Lilian lewati sejak tadi. Jika warna yang sering Lilian lihat berwarna keemasan, beda halnya dengan kamar yang satu ini yang berwarna abu muda dan sedikit goresan warna hitam untuk mepercantik ruangan itu.
Sepanjang jalan Lilian hanya menemukan banyak varang antik dan mahal. Namun beda halnya dengan ruangan yang Lilian lihat saat ini yang terlihat seperti nuansa modern. Ada banyak benda-benda elektronik seperti mesin permainan, komputer, DVD, dan alat elektronij lainnya.
Tanpa sadar Lilian melangkahkan kakinya lebih dalam lagi memasuki ruangan itu. Aroma ruangan itu mirip seperti aroma yang selalu Lilian cium pada tubuh Arion. Semakin dalam Lilian dapat melihat dekorasi mobil-mobilan yang terpajang rapi di etalase kaca.
Hingga akhirnya mata Lilian menangkap sebuah lukisan besar yang berada tepat diatas ranjang king size itu. Mata Lilian membulat serta jantungnya berdegup sangat kencang melihat lukisan besar yang Arion pajang.
Lukisan itu adalah lukisan wajah Lilian di masa lalu. Tidak ada beda sedikitpun dari lukisan itu dengan sosok Lilian pada masa lalu. Gaun yang Lilian kenakan pada lukisan adalah gaun yang pernah Seint berikan kepada Lilian saat pertemuan dengan kerajaan lain diadakan di aula kerajaan. Hingga akhirnya Lilian jatuh terduduk dengan kaki yang melemas.
"Ada apa? Lo nggak apa-apakan?" Tanya Arion panik.
Lilian tidak menjawab pertanyaan Arion. Pikiran dan matanya masih fokus kepada lukisan yang Arion gantung di atas ranjangnya itu. Sosok itu adalah Lilian dari masa lalu, namun mengapa Arion bisa mendapatkan lukisan itu. Tidak mungkin jika Arion hanya membayangkan wahjahnya saat ia melukis.
"Ada apa?" Tanya Arion yang masih berusaha menyadarkan Lilian dari lamunannya.
Lilian masih menatap lukisan itu. "Seint." Tanpa sengaja mulut ia menyebut nama itu.
___________________