
Pak Bara mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas yang sejak tadi ia bawa kemudian menyerahkan sebagian berkas itu kepada Pak Bram selaku Kepala Sekolah.
Sesekali Pak Bram mengerutkan kening melihat bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Sheril dan kedua temannya terpampang jelas pada berkas yang diberikan oleh Pak Bara.
"Itu adalah sebagian bukti kejahatan yang pernah dilakukan Sheril selama bersekolah di sini." Ujar Pak Bara memecah keheningan.
Ibu Linda menatap tidak suka ke arah Pak Bara. "Apa maksud bapak dengan kejahatan? Saya bisa menuntut Bapak dengan hukuman berat karena telah mencemari nama baik Putri saya!!" Tegas Ibu Linda dengan wajah memerah karena marah.
"Betul itu, hal apa yang dilakukan oleh Putri kami sehingga Bapak dengan lancangnya menyebut mereka sebagai penjahat?" Kesal Ibu Arli.
Pak Bara tersenyum sinis mendengar ucapan kedua orang tua murid. "Pertama, silahkan Bu Linda menuntut saya jika mau. Saya lebih suka masalah ini kita bawa ke jalur hukum." Katanya dengan santai kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bu Arli. "Lalu yang kedua, saya tidak pernah mengatakan bahwa Putri Ibu semua adalah seorang penjahat, kalian sendiri yang menyimpulkan sendiri."
Bu Arli langsung berdiri dari duduknya karen merasa tidak terima dengan ucapan Pak Bara. "Secara tidak langsung Bapak mengatakan Putri kami sebagai seorang penjahat!! Saya jadi penasaran hal apa yang dilakukan oleh Putri saya sehingga Bapak mengatakan mereka telah melakukan kejahatan! Ingat ya Pak, mereka masih dibawah umur, sesekali mengusili teman sebaya adalah hal yang wajar di umur mereka saat ini!" Kesal Bu Arli.
Pak Bara kembali tersenyum sinis ke arah Bu Arli. "Apakah mendorong temannya dari lantai dua termasuk mengusili teman sebaya?" Tanyanya dengan penekanan disetiap kata.
Wajah Bu Arli, Bu Linda dan Bu Santi seketika menegang mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Pak Bara. Bu Arli bahkan dengan pelan kembali menduduki kursinya.
"A ... Apa maksud Bapak?" Tanya Bu Arli guguo.
Terdengar kekehan kecil dari Pak Bara. "Seharusnya Ibu jauh lebih tahu tentang kejadian itu." Ucap Pak Bara dengan nada santai kemudian melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya.
"Mohon maaf sebelumnya Pak Bram, waktu saya tidak banyak. Tidak bisakah Bapak langsung mengambil keputusan setelah saya memberikan bukti-bukti itu?" Tanya Pak Bara.
Pak Bram menatap wajah orang tua murid lainnya dengan tatapan ragu. "Bisa saja Pak Bara, namun bisakah Pak Bara memberikan bukti lain yang lebih menguatkan bukti yang Bapak berikan ini?" Tanya Pak Bram sambil mengangkat berkas yang sebelumnya Pak Bara berikan.
Pak Bara dengan santai kembali mengambil sebuah DVD dari dalam tasnya dan menunjukkan-nya kepada semua orang. "Bisakah seseorang memutarkan isi dari CD ini? Tanyanya.
Pak Bram langsung menggangguk pelan kearah Bu Clara untuk mengambil CD itu kemudian memerintahkannya untuk memutar isinya.
Suasana dalam ruangan itu kembali tenang, semua orang begitu penasaran dengan isi CD yang Pak Bara berikan. Adegan pertama yang muncul dari DVD itu adalah ketika Audry, Sheril, Karin dan Naomi sedang membully seorang gadis dengan cara menyiramnya menggunakan air kotor. Tidak hanya itu, setelah menyiram gadis yang ada di dalam video, mereka kemudian memukul, menjambak dan menyakiti gadis itu menggunakkan benda tajam pada wajah gadis tersebut.
Setelah Adegan pertama selesai diputar. Muncul lagi adegan kedua dengan tempat yang berbeda namun dengan ke empat gadis yang sama. Dalam video itu, keempat gadis itu menyeret seorang gadis yang berbeda dari adegan pertama. Keempat gadis itu dengan kejamnya merobek baju seorang gadis didepan banyak orang. Meski terlihat jelas di video itu jika gadis yang di bully sedang memohon dan menangis untuk diampuni namun Audry dan teman-temannya sangat enggan melepasnya. Mereka bahkan menertawai dan bersenang-senang melihat penderitaan yang dialami gadis yang mereka bully.
Selanjutnya adegan ketiga memperlihatkan jika Sheril dengan sengaja mendorong seorang gadis dari lantai dua sehingga gadis itu mendapat banyak luka ditubuhnya. Bukannya merasa bersalah atau taku, Sheril dan teman-temannya malah merayakan hal itu seakan mereka mendapatkan hadiah besar.
Adegan demi adegan terus saja diputar tanpa ada yang berniat menghentikannya. Tidak ada satu orang pun yang bersuara atau membantah saat adegan-adegan keji itu diputar. Mereka seakan larut dalam tayangan yang terus saja diputar didepan matanya.
Hingga video terakhir menampilkan kejadian yang sebelumnya Lilian dan ketiga temannya alami. Adegan itu diputar dimulai dari Audry yang dengan tidak sabarannya mencari keberadaan Lilian. Lalu selanjutnya adegan itu berputar saat Audry dan ketiga temannya mendekati Lilian yang sedang berbincang dengan ketiga temannya. Hingga video itu memperlihtkan adegan dimana Ke delapan gadis itu saling menyerang satu sama lain.
"Apakah semua bukti-bukti itu cukup untuk meyakinkan Kepala Sekolah, siapa yang jujur dan siapa yang berbohong disini?" Tanya Pak Bara setelah video terakhir selesai diputar.
Orang tua murid dari Audry dan ketiga temannya tidak lagi bersuara seperti sebelumnya. Jika tadi mereka sangat ngotot dengan mempertahankan argumen dari Putrinya masing-masing kini mereka hanya terdiam seakan mulutnya kebas.
Mereka sudah tidak dapat lagi berkutik setelah bukti diperlihatkan langsung didepan mata.
"Sejak tadi saya hanya diam karena saya belum tahu dengan jelas kejadian yang Putri saya lakukan. Namun Ibu-Ibu semua sangat percaya diri dan langsung meminta hukuman diberikan kepada Putri kami tanpa memberikan bukti yang jelas. Setelah bukti terpampang jelas didepan kalian, mengapa kalian hanya diam?" Kata Pak Bagus, Ayah dari Laura.
Tidak ada seorang pun orang tua murid dari Audry dan ketiga temannya yang mau membuka mulut. Bibir tetap saja terkatup dan membuang wajah masing-masing ke sembarang arah.
"Saya juga hanya diam sejak tadi karena belum tahu pasti siapa yang salah dan benar. Namun Ibu-Ibu langsung meminta hukuman sebelum pihak dari anak kami memberi penjelasan. Bahkan kalian semua malah mengata-ngatai Putri kami. Sebagai seorang Ibu, saya tidak rela Putri saya diperlakukan seperti ini. Mereka yang benar malah mereka yang dituduh, sungguh miris! Benar kata Pak Bara, buah jatuh pasti tidak jauh dari pohonnya." Sindir Bu Sintia, Ibu dari Meira.
"Meski orang tua saya belum bisa hadir disini, namun sebagai Kakak dari Gladis saya merasa sangat kecewa dengan anak-anak Ibu. Umur mereka masih sangat muda namun perilaku mereka sangat diluar batas." Kata Rio.
Pak Bara mengehela napas pelan setelah melihat orang tua dari pihak Sheril dan yang lainnya seakan masa bodoh dengan kelakuan anak-anaknya. Mereka tampak acuh dan tidak memperdulikan pendapat dari orang tua lainnya.
"Jika Pak Bram masih belum bisa mengambil keputusan, maka dengan secara terpaksa saya harus membawa kasus ini ke jalur hukum." Tegas Pak Bara tidak main-main.
"Te ... Tenang Pak. Hal ini bisa kita bicarakan baik-baik." Kata Pak Bram gugup. "Jika kasus ini di bawa ke jalur hukum maka bukan hanya reputasi sekolah yang hancur namun masa masa depan Putri Ibu dan Bapak juga akan ikut terseret.
"Kenapa masa depan Putri saya juga ikut terseret? Jika mereka salah ya salah saja ... Disini Putri kami yang menjadi korban namun sepertinya Bapak begitu melindungi anak-anak itu!!" Kesal Bu Sintia.
"Tenang Bu, bukan begitu maksud saya." Kata Pak Bram.
"Lalu apa maksud Bapak? Jika masalah ini dibawa ke jalur hukum, yang salah maka akan menjadi salah. Mana bisa yang benar menjadi salah!" Kesal Pak Bagus.
"Sepertinya masalahan ini bukan hanya kesalahan dari anak dari Ibu-Ibu. Peran orang tua dan guru juga diperlukan dalam hal mendidik dan mengajarkan anak-anak ke hal yang baik. Sebagai orang tua kita perlu menegaskan jika salah maka salah dan jika benar maka benar. Lingkungan sekolah juga mempengaruhi karakter seorang anak, sehingga kita perlu mengawasi hal apa saja yang anak-anak lakukan selama disekolah. Disini peran guru juga sangat penting, jangan hanya melihat dan mengabaikan kelakuan anak-anak yang merugikan orang lain. Guru juga bertanggung jawab mendidik bahkan mengimformasikan kepada orang tua kondisi dari murid, sehingga untuk kedepannya kita tahu hal apa yang perlu dilakukan." Jelas Rio panjang.
"Anak yang baru gede kemarin sore berani-berani menasehati saya? Kamu pikir kamu siapa? Kamu tidak berhak menceramahi saya. Saya tahu mana yang benar dan salah buat diri saya sendiri!" Marah Bu Linda tidak terima.
Pak Bara menggebrak meja karena sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan kelakuan orang tua murid yang tidak tahu diri. Bukan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh anak-anaknya, mereka malah mementingkan posisi masing-masing.
Pak Bram langsung mencegah Pak Bara yang berniat berdiri dari tempat duduknya. "Maafkan kami Pak karena tidak bisa tegas dalam masalah ini. Namun saya memohon dengan sangat kepada Bapak agar masalah ini kita bicarakan dengan baik-baik." Mohonnya.
"Lalu, apa keputusan bapak terkait masalah ini? Saya tidak bisa diam saja melihat keterdiaman Bapak dan guru-guru disini. Kalian sudah melihat bukti didepan mata namun masih saja memilih diam dan tidak berani mengambil keputusan! Jika Bapak takut dengan jabatan atau posisi orang-orang di ruangan ini maka saya juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang Bapak takutkan! Saya pastikan setelah kaki saya melangkah keluar dari ruangan ini maka bukan cuman sekolah ini yang saya hancurkan namun orang-orang yang memilih diam akan juga terseret dalam masalah ini!" Kesabran Pak Bara benar-benar habis.
Sejak tadi Pak Bara hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Melihat Kepala Sekolah yang tidak berani mengambil keputusan membuatnya semakin marah, jika saja Rahadian dan Efina yang hadir saat ini maka Pak Bara jamin, jikalau orang-orang itu akan langsung memilih menghancurkan sekolah yang tidak memberikan hak kepada Putrinya.
"Ayo Lilian! Lebih baik kita pergi." Ajak Pak Bara.
Lilian sudah ingin bangun dari kursinya namun suara tenang seseorang menghentikannya dan membuatnya kembali duduk tenang.
"Mohon kepada Pak Bara untuk memberi muka kepada saya." Akhirnya setelah lama diam, Elisa baru mengeluarkan suara.
Semua orang yang hadir diruangan tampak terkejut menatap kearah Bu Elisa. Memang sejak dulu, Bu Elisa banyak diam setiap kali datang sebagai wali dari Audry. Namun kali ini berbeda, nampak raut wajah dari Bu Elisa terihat khawatir.
"Saya mohon kepada Bapak agar bisa membicarakan masalah ini dengan baik-baik." Harap Bu Elisa dengan raut wajah khawatirnya.
Pak Bara yang sebelumnya berdiri dari duduknya kini kembali duduk dengan tenang. Berbeda dari Bara yang terlihat tenang, semua orang tua murid tampak bingung dengan sikap dari Bu Elisa yang begitu menghormati Bara. Ada banyak sekali pertanyaan yang timbul dari benak mereka masing-masing.
"Terima kasih karena Bapak masih memberi muka kepada saya." Kata Bu Elisa.
Lagi-lagi orang-orang itu dibuat bingung. Bu Elisa yang dikenal sebagai seseorang yang memiliki jabatan tinggi harus merendah kepada orang yang mereka tidak ketahui identitasnya secara jelas.
"Saya tahu Audry salah dalam masalah ini, namun saya meminta keringanan hukuman untuk keponakan saya." Harap Bu Elisa.
Orang-orang menatap Bu Elisa dengan tatapan tidak percaya, entah posisi apa yang dimiliki oleh Pak Bara sehingga membuat Bu Elisa harus memohon keringanan untuk hukuman Audry.
"Tente .." Panggil Audry dengan nada tinggi.
"Diam!!" Marah Elisa dengan menatap Audry tajam. "Kamu salah namun tidak mau mengakuinya. Tante salah selama ini karena selalu saja memanjakan mu! Sesekali kamu harus ditegur seperti ini agar jera dan menyadar dimana letak salah mu!!" Ketus Elisa.
Tidak ada yang berani berbicara satupun. Kepala Sekolah yang sebelumnya takut mengambil keputusan kini merasa malu sendiri mendengar ucapan Bu Elisa. Wanita terlihat sangat marah namun masih tetap mempertahankan keanggunan yang ia miliki.
"Berikan saja hukuman untuk membuatnya jera. Namun saya masih berharap, Pak Bara serta orang tua murid lainnya mau maafkan Audry dan memberikan keringanan untuk keponakan saya." Harap Bu Elisa.
"Tapi Bu Elisa ..." Sanggah Bu Linda tidak terima.
"Lebih baik anda tetap diam Bu Linda! Jika anda hanya memperkeruh masalah maka akan lebih baik anda tidak berbicara sedikitpun." Kata Elisa dengan raut wajah datarnya.
Linda langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat mendengar ucapan dari Bu Elisa. Wanita itu terlihat menatap Linda dengan tatapan tajamnya.
"Kalau begitu sudah bisa dipastikan siapa yang salah disini. Maka dari itu ..." Kata Pak Bram terjeda lantaran suara seseorang yang tiba-tiba menyela.
"Yang berhak memutuskan hukumannya adalah Lilian dan ketiga temannya. Merekalah yang menjadi korban dalam masalah ini." Kata Pak Bara menyela.
"Saya setuju." Ucap Pak Bagus.
"Saja juga." Kata Rio dan Bu Sintia.
Pak Bram terlihat melirik Elisa sebentar kemudian menyetujui ucapan Pak Bara. "Baiklah."
Pandangan Pak Bara langsung mengarah kepada Lilian dan ketiga temannya yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan orang tua. "Hukuman apa yang kalian berikan kepada mereka?" Tanyanya.
Setelah berunding sebentar, Lilian dan ketiga temannya sepakat memberi hukuman kepada Audry dan teman-temannya.
"Kami sebenarnya sudah memaafkan Kak Audry dan yang lainnya. Namun hukuman itu tetap harus diberikan agar kedepannya mereka tidak melakukan kesalahn yang sama." Ucap Lilian yang dipercaya menjadi perwakilan.
"Lalu hukuman apa yang pantas mereka terima?" Tanya Elisa ragu.
"Biarkan mereka dihukum membersihkan sekolah selama sebulan. Untuk mengingatkan mereka atas kesalahan yang mereka lakukan, maka biarkan mereka mengenakan papan yang digantung di depan dada dan bertulis kami melakukan kesalahan." Ucap Lilian tenang.
"Tidak bisa begitu ..." Ucap Sheril tidak terima.
"Setuju." Ucap Bu Elisa tegas dan tidak terbantahkan.
Pertemuan pun selesai, tidak ada yang berani membantah jikalau Elisa sendiri telah setuju. Menentang hanya akan membawa masalah lain untuk masing-masing, meski tidak setuju namun mereka tetap menerima keputusan itu.
_____________