Lilian

Lilian
Terpesona



Lilian masih saja terdiam mengingat nasib yang di alami oleh Sheril saat ini. Tak tanggung-tanggung Arion dan Rein memberikan gadis itu hukuman, ingin sekali Lilian menolongnya dengan cara kembali membujuk Arion ataupun Rein, namun keinginannya itu pasti akan di tolak mentah-mentah oleh kedua lelaki itu.


Selama pelajaran berlangsung, Lilian sama sekali tidak fokus terhadap pelajarannya. Semua isi kepalanya untuk sekarang ini adalah di isi tentang Sheril. Namun setelah cukup lama Lilian berpikir, akan lebih baik jika Sheril mendapatkan hukuman itu. Selama ini sudah banyak orang yang telah Sheril sakitin. Mungkin saja dengan cara seperti itu Sheril akan berubah menjadi lebih baik lagi.


Akan jauh lebih baik jika Sheril tidak selalu mengandalkan nama keluarganya untuk semua tindakan yang ia lakukan. Ada saatnya Sheril harus berdiri sendiri atas usaha dan kerja kerasnya sendiri. Lilian berharap Sheril akan merenungkan semua hal yang terjadi pada dirinya saat ini dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


"Lo kenapa sih dari tadi diem aja? Makan makanan lo tuh! Ntar dingin." Ucap Gladis yang menyadarkan Lilian dari lamunannya.


Setelah bel istirahat berbunyi, Gladis, Laura, dan Meira memaksa Lilian untuk ikut bersama mereka ke kantin. Selama pelajaran Lilian terlihat tidak fokus dan hal itu membuat ketiga teman Lilian merasa gadis itu sedang memirkan kejadian tadi pagi. Dari pada membiarkan Lilian sendiri dengan lamunannya, ketiga teman Lilian memutuskan memaksa Lilian agar ikut bersama mereka ke kantin.


"Iya! Lo tuh nggak usah banyak mikir ... Gue tau lo sejak tadi lagi mikirin si Mak Lampir kan?" Tanya Laura.


Lilian menghela napas pelan. "Gue cuman kasihan aja ama nasibnya yang sekarang." Jawabnya.


Meira menghembuskan napas berat. "Aduh Lilian ... Orang kek gitu tidak perlu lagi lo kasihani! Sudah beberapa kali di kasih kesempatan namun dia nggak sadar-sadar juga! Nah ... Masih mending si Mak Lampir yang masih labil, tapi kan orang tuanya udah dewasa ... Sudah pastinya ngerti mana yang baik dan mana yang buruk! Tapi mereka malah ngedukung terus tindakan anaknya yang jahat itu!" Tuturnya.


"Nah ... Bener apa yang di katakan Meira! Kagak tau aja lo kalau orang tua si Mak Lampir itu sangat arogan! Semua orang di pandang rendah, udah gitu pintar mencari muka!" Tambah Laura sambil bersedekap dada, "Masih gue ingat betul ... Gimana kelakuannya sama orang tua gue dulu." Tambahnya.


Lilian, Gladis dan Meira sama-sama mengerutkan kening.


"Ada apa memangnya?" Tanya Gladis penasaran.


Laura lagi-lagi membuang napas berat. "Dulu waktu SMP, Nyokap Kak Sheril dan Nyokap gue pernah adain arisan gitu ... Di tengah jalan Nyokap Kak Sheril ada masalah gitu dengan salah satu anggota arisan. Waktu itu gue di ajak gitu sama Nyokap ke tempat arisan ... Nyampai di sana ternyata suasana udah ribut aja! Nah ... Kita berdua kan baru nyampe di sana ... Tiba-tiba Nyokap Kak Sheril langsung mau nyerang Nyokap gue yang baru nyampe."


"Lah ... Napa Nyokap Kak Sheril langsung mau nyerang Nyokap lo?" Tanya Gladis dengan kening mengerut.


"Nah itu dia ... Gue kira alasan yang waktu itu di berikan sangat tidak logis! Masa iya karena Nyokap gue telat, Nyokap Kak Sheril langsung Nyerang Nyokap gue!" Ucap Laura mengakhiri ceritanya.


Meira menggelengkan kepalanya mendengar cerita dari Laura. "Nggak salah si anaknya kek gitu! Nyokap-nya aja suka meledak gitu! Benar kata pepatah ... Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya!" Gumamnya.


"Hussshhh ... Nggak usah kita bahas mereka lagi! Ntar yang ada kita akan di labrak lagi sama si Mak Lampir." Kata Gladis sambil menengok ke kanan dan kirinya.


"Bener tuh." Setuju Lilian, "Oh iya ... Tumben gue nggak lihat Kak Arion dan yang lainnya." Ucap Lilian sambil mengarahkan pandangannya ke semua sisi kantin.


"Tentu aja lo nggak akan lihat! Mereka semua lagi latihan di lapangan! Bentar lagi mereka bakal tanding basket ama anak SMA Tunas Harapan." Jawab Meira sambil memakan makanannya.


Lilian spontan menggebrak meja dan membuat ketiga temannya terkejut.


Braaakkk ...


"Seriusan?" Tanya Lilian dengan mata membulat.


"Anjiiiirrr ... Kaget gue! Bisa nggak kalau kaget ... Kagak usah gebrak meja? Lihat kuah makanan gue pada tumpah!!" Pekik Gladis sambil menunjuk kuah sotonya yang tumpah.


"Iya ... Kaget ya kaget aja lo! Kagak usah ngegebrak meja segala!" Tambah Meira.


Lilian tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Soryy ... Nggak sengaja gue!" Ucap Lilian.


"Untung temen gue lo." Ucap Laura.


Lilian masih tersenyum canggung karena kelakuannya. "Oh iya ... Kapan mereka tanding? Dan kenapa gue nggak tau?" Tanya Lilian beruntun.


"Jelas aja lo kagak tau ... Lo absen selama tiga hari dan ponsel lo ggak bisa di hubungi. Terus kita mau ngabarin lo pakek apa? Ke rumah lo aja kita di usir." Ucap Meira dengan dengusannya.


"Katanya sih pertandingannya bakal di adakan dalam beberapa hari ke depan." Kata Gladis.


Lilian mengangguk pelan. "Tapi kok Kak Arion atau Kak Rein nggak kasih tau gue?" Heran Lilian.


"Mana sempat? Tadi pagi keburu bel masuk!" Jawab Laura.


Tadi pagi Arion dan ketiga temannya datang untuk menemui Lilian, namun insiden tadi pagi membuat ke empatnya harus mengurungkan niatnya untuk bertemu Lilian lantaran bel masuk keburu berbunyi.


"Bukan tadi pagi." Kata Lilian.


"Lah kapan kalian ketemu?" Tanya Meira bingung.


"Kemarin. Mereka manjat tembok buat ketemu ama gue. Namun mereka nggak bahas apapun tentang pertandingan itu." Kata Lilian dengan polos.


Ketiga teman Lilian membulatkan mata sempurna mendengar ucapan Lilian.


"Berat amat mau ketemu ama lo! Pakek manjat tembok segala lagi." Ucap Gladis heran.


"Mau kek gimana lagi? Kalian sendiri aja udah ketemu langsung apa Nyokap gue." Kata Lilian.


"Benar juga sih." Jawab Gladis.


"Ya udah ... Cepetan lo semua makan! Gue mau melihat mereka latihan." Ucap Lilian.


Gladis, Meira dan Laura menatap kesal kearah Lilian. Namun walaupun begitu, mereka tetap menuruti keinginan Lilian.


Setelah Selesai makan dan membayar makananannya masing-masing. Keempat gadis itu akhirnya melangkahkan kakinya menuju lapangan basket. Lilian tidak lupa membawa banyak minuman untuk ia berikan kepada Arion dan teman-temannya.


Seperti hari-hari biasa. Lapangan basket di penuhi oleh banyak sekali murid perempuan yang hanya ingin melihat idola mereka masing-masing.


Teriakan demi teriakan terdengar dari sisi pinggir lapangan itu. Ada juga yang membawa beberapa atribut untuk menyemangati idola mereka masing-masing. Tidak sedikit pula dari mereka yang membawa minuman untuk di berikan kepada idolanya. Meski Arion dan yang lainnya tidak akan mengambil minuman itu, namun murid-murid tetap saja membawakan mereka minuman.


"Kak Arion semangaaatt!!"


"Kak Arion aku mencintai mu!!"


"Semangat Geng Andromeda!! Kami bersama kalian!"


"Semangat Rein!!"


"Cinta ku Rein, Semangat!!"


"Kau begitu tampan, Mario!!" Menikahlah dengan ku!!"


"Bawalah aku bersama mu Farrel!! Ku mohon!!"


Dan banyak sekali teriakan-terikan lain yang Lilian dengar.


Setelah Lilian dan ketiga temannya sampai di lapangan. Keempatnya langsung celingak celinguk untuk mencari jalan memasuki barisan depan lapangan. Namun tidak ada sedikit pun celah untuk keempatnya untuk memasuki lapangan itu.


"Kita nggak bisa masuk!" Kata Laura sedikit berteriak. Suara bising dari murid-murid lainnya membuat keempat gadis itu harus sedikit berteriak agar di dengar oleh satu sama lain.


Gladis tanpak terdiam sebentar untuk memikirkan cara memasuki sisi depan lapangan. Tidak lama setelahnya, Gladis langsung tersenyum lebar karena mendapat ide.


"Gue punya ide." Ujar Gladis dengan senyum mengembang.


"Apa?" Tanya Lilian, Meira dan Laura cepat.


Gladis tersenyum aneh dan menatap ketiga temannya bergatian. "Ikuti gue dari belakang dan jangan sampai terpisah." Katanya memperingati.


Lilian, Laura dan Meira langsung mengangguk setuju dengan ucapan Gladis.


Sebelum menjalankan rencananya, Gladis terlebih dahulu mengambil napas panjang setelahnya ia mulai menjalankan rencana.


"AWAS ... AWAS ... GUE BAWA AIR PANAS!! AWAS!!!" Teriak Gladis.


Semua murid perempuan refleks menepi setelah mendengar teriakan dari Gladis. Melihat jalan yang sudah mulai terbuka, Gladis langsung berjalan maju dan di ikuti oleh ketiga temannya dari belakang.


"AWAS ... AWAS!! GUE BAWA AIR PANAS!! KALAU KALIAN SEMUA NGGAK MENGHINDAR, SIAP-SIAP AJA KULIT KALIAN AKAN MELEPUH!!!" Teriak Gladis lagi.


Semua murid yang sebelumnya sibuk meneriaki nama-nama idola mereka kini secara spontan menghindar. Siapa juga yang mau terkena air panas, terlebih lagi dalam keadaan banyak orang.


Ide dari Gladis ternyata berhasil. Keempat gadis itu kini berhasil berdiri tepat di depan barisan para murid. Tidak sia-sia Gladis harus berteriak kencang dan menghabiskan suaranya. Meski setelah itu keempatnya harus mendapatkan sorakan dari murid lain karena sudah berbohong.


"Diem deh lo semua!!" Ancam Gladis dengan tatapan garangnya ke semua orang yang menyorakinya.


Lilian, Meira dan Laura hanya menghela napas melihat kelakuan Gladis. Mereka tidak menyangka jika ide yang Gladis maksud adalah dengan cara membohongi banyak orang. Namun walaupun begitu, berkat cara dari Gladis keempatnya dapat berdiri di barisan depan.


"Lain kali cari cara yang lebih cantik napa?" Ucap Laura sedikit kesal.


"Alahhh! itu cara paling ampuh ... Nggak penting cantik-cantik! Yang penting kita udah ada di depan." Ucap Gladis ketus.


Di saat Gladis dan Laura lagi memperdebatkan cara yang Gladis lakukan tidak cantik. Lilian malah fokus kearah Arion yang sedang berlatih dengan teman-temannya di tengah lapangan.


Keringat sudah membasahi semua baju yang Arion pakai. Namun meski berkeringat, Arion malah terlihat jauh lebih tampan. Tatapan serius dan pahatan rahang yang sempurna membuat Lilian harus menelan ludah susah payah. Belum lagi perut kotak-kotak yang yang tercetak jelas karena keringat yang telah membasahi seluruh baju Arion.


Lilian bahkan sampai lupa berkedip karena mengagumi keindahan yang di ciptakan tuhan di depannya saat ini. Pergerakan Arion yang lincah serta kemampuannya mencetak angka membuat Lilian benar-benar terbang dengan imajinasinya.


"Tuhan terima kasih telah menciptakan makhluk setampan itu." Gumam Meira yang juga ikut terpana.


Laura dan Gladis akhirnya berhenti berdebat dan langsung fokus kearah pandangan kedua temannya. Benar saja, Laura dan Gladis ikut terpana dengan pandangan yang ada di hadapan mereka, sungguh ciptaan tuhan yang sempurna.


"Mungkin inilah gambaran dari bidadara yang tuhan ciptakan di atas langit sanga." Gumam Gladis sambil menatap kerah depan lapangan.


"Dosa nggak ya kita lihat yang beginian?" Tanya Laura yang juga tidak ingin mengalihkan pandangannya.


"Meski berdosa ... Tapi gue nggak akan nyesel dengan dosa yang gue pandangi saat ini." Ujar Meira tanpa berkedip.


Lilian tidak dapat mengeluarkan pendapat. Kata-kata ketiga temannya sudah mewakili semua ucapan yang ia pikirkan dalam hati. Saking mengagumi ciptaan tuhan di depan matanya saat ini, Lilian bahkan tidak sadar jika Arion sedang berjalan mendekatinya. Sejak tadi Arion memanggil namanya, namun telinga Lilian seakan tuli dan tidak dapat mendengarkan apapun.


"Lilian! Kak Arion berjalan mendekat." Ucap Gladis memperingati.


Namun lagi-lagi Lilian tidak dapat mendengar apapun. Matanya hanya fokus kearah Arion yang mendekatinya.


"Gue bahkan berhalusinasi kalau Kak Arion sedang berjalan mendekat!!." Pekik Lilian dalam hati.


Arion menatap bingung kearah Lilian yang tidak menyahut sedikit pun dengan panggilannya. Berkali-kali ia memanggil dan melambai kearah gadis itu namun tidak ada sedikitpun respon dari Lilian. Gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan yang menurut Arion aneh.


"Lo sakit?" Tanya Arion menempelkan punggung tangannya pada kening Lilian.


"Dia dapat berbicara." Gumam Lilian pelan.


"Emang lo pikir gue bisu?" Tanya Arion, "Lo lagi nggak sakit kan? Badan lo juga nggak panas." Heran Arion.


"Tampan." Ucap Lilian tidak sadar.


Arion sedikit menarik senyumnya mendengar pujian dari Lilian.


"Lelaki tampan ini adalah cowok lo." Bisik Arion ke telinga Lilian.


Lilian mengerjapkan mata berkali-kali mendengar ucapan Arion. "Kok halusinasi gue kek kenyataan?" Batinnya. Mata Lilian tidak sengaja melirik kearah lapangan dan tidak menemukan Arion di sana.


Seketika mata Lilian membulat saat menyadari orang yang di depannya saat ini adalah nyata dan bukan halusinasinya.


"Anjiirr ... Yang di depan mata gue ternyata beneran orangnya?!" Pekik Lilian.


Cup ...


Arion mencium pipi Lilian dan berlari masuk kembali ke tengah lapangan untuk kembali latihan.


Terdengar suara sorak serai dari penonton yang menyaksikan adegan romantis antara keduanya. Semua murid bahkan meneriaki nama Arion dan Lilian secara bersamaan. Sedangkan ketiga teman Lilian yang menyaksikan aksi romantis keduanya dari dekat tidak dapat menutup mulut mereka masing-masing. Ketiganya terlalu terkejut dengan aksi yang Arion lakukan.


"Dasar brengsek ... Bisa-bisanya lo nyium gue saat gue nggak sadar!!" Teriak Lilian yang dapat di dengar banyak Arion.


Arion hanya mengedikkan bahu cuek kemudian tersenyum mengejek kearah Lilian. Arion mengangkat telunjuk tangan kanannya dan membentuk angka nol pada tangan kirinya.


Melihat hal itu membuat Lilian semakin tidak terima. Bisa-bisanya dia mencuri cium pada Lilian di saat gadis itu tengah tidak sadarkan diri dari pesonanya.


Lilian menggigit bibir bawahnya dengan kesal melihat tatapan kemenangan yang Arion lemparkan kepadanya saat keduanya secara tidak sengaja bertatapan.


"Awas aja lo datar!!" Pekik Lilian tertahan.


Sedangkan murid lainnya masih saja bersorak senang melihat tingkah Arion yang jarang sekali ia tunjukkan kepada banyak orang. Terlihat jelas jika Arion tak tanggung-tanggung menggoda Lilian di tengah lapangan sana. Sedangkan Lilian di pinggir lapangan terlihat menatap Arion dengan tatapan tajamnya.


"Kalian berdua sweet banget." Gumam Gladis.


"Jarang-jarang loh Kak Arion bertingkah seperti itu." Tambah Laura.


"Hari ini kita semua menang banyak! Berkat Lilian kita dapat melihat lebih banyak senyuman dari Kak Arion." Pekik Meira.


Lilian menatap kesal kearah ketiga temannya. "Pacar gue itu!!" Lalu kembali menatap kesal kearah Arion di tengah lapangan. "Senyum mengejek kek gitu di bilang bagus! Buta kali mata semua orang." Kesal Lilian dalam hati.


"Tenang aja Lilian! Kita bukan teman yang suka nikung teman kok." Ucap Laura yang di angguki oleh kedua temannya.


Lilian tidak lagi mendengar ucapan dari ketiga temannya. Yang di pikirkannya saat ini adalah bagaimana caranya untuk membalas Arion.


_________________