
Sejak tadi Arion celingak-celinguk mencari keberadaan Lilian. Baru saja ia tinggal sebentar, gadis sudah menghilang. Kembali Arion berjalan menuju stand makanan untuk mencari keberadaan Lilian namun gadis itu tidak ada juga di sana.
"Kemana dia pergi." Gumam Arion kecil.
Arion kembali berjalan mencari Lilian di dekat tendanya, namun tidak juga ia menemukannya. Sibuk mencari, matanya tidak sengaja melihat sepiring makanan yang sebelumnya Lilian ambil. Perlahan Arion mendekati makanan itu kemudian memeriksanya.
"Belum di makan." Gumam Arion pelan. Matanya tetap fokus menatap makanan yang sama sekali belum Lilian sentuh.
"Kak Arion cari Lilian, ya?" Tanya Laura yang sudah berdiri di dekat Arion.
Arion mengalihkan pandangannya kearah Laura kemudian mengangguk pelan.
"Tadi gue lihat dia lewat sana." Tunjuk Laura kearah lain dari tenda mereka, "Jalannya juga buru-buru, mungkin mau ke toilet." Lanjutnya.
Arion menatap kearah tunjuk Laura dengan kening mengerut. "Apa yang Lilian lakukan di sana?" Batin Arion, "Thanks." Tanpa menatap kearah Laura dan berjalan pergi.
Laura sendiri sampai menutup maulut sendiri karena kaget mendengar ucapan Arion. "Ya ampun! Di bilang terima kasih ke gue!" Pekiknya tertahan.
Arion kembali berjalan menuju arah tunjuk Laura. Jalan yang Laura tunjuk memang mengarah ke arah toilet yang di sediakan oleh pihak Osis, namun sudah sejak lama Arion menunggu di luar, Lilian tidak juga menampakkan diri.
Ada banyak sekali murid perempuan yang berniat masuk ke toilet melirik ke arah Arion yang tampak berdiri dengan diam tanpa ekspresi. Karena merasa khawatir dengan keadaan Lilian, Arion menahan salah satu murid perempuan dan menanyakan keberadaan Lilian.
"Di dalam ada Lilian?" Tanya Arion datar.
Murid perempuan yang ditanya malah melongo tidak percaya. Ia tidak menyangka akan terlibat obrolan dengan Arion meski lelaki itu hanya menanyakan tentang keberadaan Lilian.
"Nggak ada." Jawab murid itu setelah sadar dari keterkejutannya.
Arion kembali menghala napas pelan mendengar jawaban dari murid itu. Baru saja Arion ingin melangkah pergi, seorang murid perempuan lainnya berjalan mendekati Arion dan memberitahukan keberadaan Lilian.
"Tadi gue lihat dia lewat sana!" Tunjuknya kearah jalan keluar hutan. "Dia keknya lagi berjalan mengikuti Audry gitu. Keduanya bahkan terlihat berjalan dengan tergesa-gesa. Raut wajah dari Audry juga terlihat aneh." Kata murid itu mengingat kejadian yang sebelumnya ia lihat.
Arion tidak lagi mendengarkan penjelasan dari murid perempuan itu. Dengan cepat, Arion kembali berlari menuju tendanya berada kemudian memgobrak abrik isi tasnya.
"Lo kenapa?" Tanya Mario yang heran dengan kelakuan aneh Arion. Sejak tadi ia duduk di luar tenda bersama Farrel namun melihat raut wajah khawatir dari Arion membuat keduanya masuk tenda mengikuti Arion.
"Pastiin agar tidak ada satupun orang yang akan lewat sini." Kata Arion cepat tanpa melihat kearah Mario.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Farrel yang juga ikut panik.
"Audry." Jawab Arion.
Mario dan Farrel akhirnya mengerti. Meski Arion hanya menyebutkan satu nama saja, namun keduanya sudah langsung mengerti maksud dari temannya itu.
"Ok." Jawab keduanya barengan.
Setelah menemukan sesuatu yang ia cari, Arion langsung ke luar tenda dan berlari kearah tunjuk murid perempuan tadi. Perasaannya sedikit kacau mengingat Lilian pergi berjalan mengikuti Audry. Gadis itu tidak tahu saja, kalau Audry sedang kambuh maka apapun akan Audry lakukan untuk menuntaskan amarahnya.
Dengan perasaan khawatir, Arion menyelusuri jalan yang sebelumnya Lilian dan Audry lalui. Hingga kedua bola matanya menatap kearah gadis yang sejak tadi ia cari. Gadis itu sedang berusaha menahan Audry agar tidak terus-terusan menyakiti dirinya sendiri. Sudah banyak darah yang melumuri baju keduanya namun Arion tidak tahu darah siapa itu.
"Lilian!" Panggil Arion.
Audry sejenak menatap kearah Arion sedangkan Lilian memunggunginya karena posisi gadis itu sedang memeluk Audry dengan erat.
Tanpa banyak berpikir lagi, Arion langsung berlari kearah keduanya. "Tahan dia sebentar." Kata Arion kemudian mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi ia bawa.
"Cepatlah." Jawab Lilian.
Arion langsung menyuntikkan obat ke lengan Audry. Dengan perlahan Audry kembali tenang dan tak lama setelahnya gadis itu langsung ambruk tidak sadarkan diri.
"Lo nggak apa-apa?" Tanya Arion pada Lilian. Kepala Audry ia tahan agar tidak jatuh ke tanah.
"Hanya sedikit goresan." Tunjuknya kearah tangannya yang sejak tadi berdarah.
Arion semakin panik melihat Lilian yang juga terluka karena Audry. "Lo masih bisa jalan sendiri atau nungguin gue? Bentaran aja kok."
"Gue masih bisa jalan sendiri, sekarang yang terpenting adalah Kak Audry. Cepat bawa dia pergi dari sini." Kata Lilian kemudian mulai berdiri dari duduknya.
Kedua kaki Lilian terasa bergetar, namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya dari Arion agar lelaki itu tidak semakin khawatir kepadanya.
Arion sendiri langsung menggendong Audry namun matanya tidak hentinya melirik kearah Lilian. "Lewat sini." Kata Arion menunjukkan jalan.
Lilian berjalan mengikuti Arion dari samping. Tubuhnya terasa lemas tidak bertenaga, tangannya juga sudah mulai kesakitan. Lilian memaksakan diri untuk mengikuti langkah kaki Arion yang cepat meski kepalanya mulai berkunang-kunang.
Sampai di tenda, Farrel dan Mario langsung menyambut keduanya. Arion langsung membaringkan Audry di dalam tenda yang sebelumnya sudah di siapakan oleh kedua temannya itu.
"Jagain dia sebentar." Pinta Arion kemudian kembali keluar tenda untuk memastikan kondisi Lilian.
Di luar tenda Lilian terlihat meringis kesakitan dengan wajah yang pusat pasi. Arion segera mendekat kemudian memeriksa tangan Lilian yang tidak hentinya mengeluarkan banyak darah.
"Lo perlu di obati." Kata Arion dan langsung mengangkat tubuh Lilian kembali masuk ke dalam tenda.
Farrel dan Mario sama-sama terkejut melihat kondisi Lilian yang tidak bisa di bilang baik-baik saja. Seluruh tubuhnya di penuhi oleh banyak darah, entah itu darah dari Audry atau dari darahnya sendiri.
"Obatin tangan Audry dan gue obatin Lilian!" Pinta Arion cepat.
Mario yang pertama bergerak cepat untuk membantu mengobati luka di tangan Audry. Sedangkan Arion sendiri dengan cekatan mengobati luka dari tangan Lilian. Ia membersihkan luka di tangan Lilian sepelan mungkin agar gadis itu tidak merasa kesakitan.
Setelah darah Lilian berhenti keluar, baru Arion menyapukan obat diatas luka milik Lilian. Setelahnya Arion membalut luka gadis itu dengan perban.
Arion kembali menghela napas pelan melihat banyaknya bercak darah pada baju Lilian. "Ganti baju lo dengan baju gue, setelahnya lo istirahat." Katanya dengan nada lembut.
Lilian tidak mengeluarkan suara namun ia tetap saja mengangguk sebagai jawabannya.
"Kalian berdua udah selesai?" Tanya Arion kearah Mario dan Farrel.
"Udah." Jawab Farrel.
"Kita keluar, Lilian mau ganti baju." Kata Arion yang langsung di angguki okeh kedua temannya.
Sebelum keluar, Arion memberikan kaos warna hitam kepada Lilian untuk di pakainya. Kemudian keluar dari dalam tenda agar Lilian bisa mengganti pakaiannya.
"Audry." Jawab Arion. Lagi-lagi ia menghembuskan napas berat.
"Kali ini Lilian jadi korban?" Tanya Farrel dengan mata melotot.
Arion menggeleng pelan. "Dia nahan Audry untuk nggak lukain dirinya sendiri." Jawabnya.
"Jadi Lilian udah tau tentang kondisi Audry selama ini?" Tanya Farrel memastikan.
Arion mengedikkan bahunya pelan. "Entahlah ... Tapi mungkin dia udah tau."
"Gur nggak nyangka Lilian bisa senekad itu. Tapi ..." Kata Mario sambil memikirkan sesuatu, "Audry kambuh karena apa? Biasanya kalau dia udah kek gitu berarti dia lagi bener-bener dalam posisi tertekan." Lanjutnya.
"Oh iya satu lagi ... ada luka di bibir Audry. Mungkinkah Audry lagi mencoba melawan penyakitnya itu?" Tanya Farrel.
Arion hanya diam, ada banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benaknya tentang kondisi Audry. Sudah sangat lama penyakit Audry nggak pernah kambuh namun penyakit itu tiba-tiba muncul malam ini.
Arion dan kedua temannya terdiam cukup lama hingga suara seseorang membuyarkan pikiran mereka masing-masing.
"Lilian mana?" Tanya Rein dengan raut wajah seriusnya.
Spontan ketiga orang itu menoleh kearah Rein berada.
"Lo dari mana aja?" Tanya Mario. Ia memperhatikan penampilan Rein yang terlihat acak-acakan. "Dan kenapa dengan tampilan lo?" Lanjutnya bertanya.
Rein malah tidak mengubris pertanyaan dari Mario dan memilih mendekati pintu masuk tenda. "Lilian lo ada di dalam?" Tanya Rein dengan suara sedikit meninggi.
Tidak ada jawaban dari dalam tenda, Rein akhirnya kembali memanggil adik sepupunya itu. "Lilian lo ada di dalam?!" Tanyanya lagi.
"Lilian lagi istirahat di dalam, kondisinya tidak bisa di bilang baik." Jawab Farrel ragu. "Biarkan saja dia beristirahat dulu di dalam." Lanjutnya.
Rahang Rein mengeras setelah mendengar kondisi Lilian. Ia bahkan membuka paksa pintu masuk tenda dan membuat ketiga temannya semakin bingung dengan kelakuannya.
"Apa yang lo lakuin?" Tanya Arion dan menarik paksa tangan Rein agar menjauh dari pintu masuk tenda.
"Jangan sentuh gue!" Rein menghempaskan tangan Arion dengan kasar kemudian memukul wajah lelaki itu dengan sangat keras.
Arion mundur beberapa langkah ke belakang akibat pukulan keras yang dia terima dari Rein. Sudut bibirnya sedikit mengelurkan darah segar.
"Rein tenanglah! Ada apa dengan lo?" Tanya Farrel sambim menahan Rein agar tidak lagi memukul Arion.
"Jangan tanya gue! Tanyakan pada teman lo itu!" Tunjuknya ke arah Arion.
Arion hanya menatap Rein dengan tatapan dingin tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia menyeka sudut bibirnya yang terus-terusan mengelurkan darah.
"Apa maksud lo? Kenapa lo terlihat begitu marah?" Tanya Mario. "Tidak biasanya Rein bersikap seperti saat ini." Pikirnya.
Rein tersenyum sinis ke arah Arion. "Ya ... Gue bakalan marah kalau seandainya orang yang gue sayang di sakiti!!" Pekiknya.
Ucapan Rein membuat orang-orang di sekitarnya semakin bingung.
"Lo bilang apa sih? Katakan dengan jelas!" Pinta Mario.
"Tanyakan pada temen brengsek lo itu!" Tunjuknya ke arah Arion dengan wajah memerah. "Jika tujuannya untuk mendekati Lilian adalah untuk membalaskan rasa sakit Audry karena selalu gue tolak!! Maka gue sebagai Kakaknya tidak akan sudi mengijinkan dia untuk mendekati Adik gue!" Jelas Rein dengan suara lantang.
"Apa maksud lo?" Tanya Farrel. Jelas ia sangat terkejut dengan ucapan Rein barusan.
"Sejak kapan lo rencanain ini semua, HAAH?!" Tanya Rein dengan dada yang naik turun karena marah.
Farrel dan Mario membulatkan mata tidak percaya mendengar penuturan dari Rein. Keduanya spontan menoleh kearah Arion yang juga tampak diam karena merasa terkejut.
Arion sendiri terdiam dari tempatnya mendengar ucapan dari Rein. Ingin sekali ia membela diri namun bibirnya seakan tidak ingin di gerakan. Ia hanya terdiam dengan banyak sekali pikiran yang terputar secara otomatis di kepalanya.
"Mulai sekarang jauhin Lilian!" Pinta Rein kemudian kembali berjalan menuju tenda, tempat dimana Lilian berada.
Emosi Arion mulai terpancing mendengar ucapan Rein, dengan langkah lebar Arion menyusul Rein kemudian kembali menarik temannya itu untuk menjauh.
"Lepasin gue!" Kembali Rein menghentakkan tangan Arion dengan kasar.
"Gue harap kalian berdua agar tenang! Kita semua bisa bicarakan hal ini baik-baik!" Kata Mario yang mencoba menenangkan suasana.
"Apa kalian berdua adalah anak kecil? Sehingga nggak bisa bicarain hal ini dengan baik-baik? Kita saling mengenal nggak cuman setahun atau dua tahun! Kita sudah saling mengenal lama! Redam emosi kalian berdua, setelahnya kita bicarakan baik-baik!" Tambah Farrel. Meredam emosi kedua temannya.
Rein membuang wajah kearah lain, enggan menatap kearah wajah Arion. Sedangkan Arion sendiri kembali meredam amarahnya yang siap meledak. Jika Rein marah karena hal lain Arion bakalan terima dan hanya akan memilih diam, namun Rein mencoba menjauhkan Lilian darinya tentu saja Arion tidak terima.
Setelah keduanya sudah tenang, Mario akhirnya yang pertama membuka suara. "Gue mulai dari lo, Rein." Ucapnya dengan tatapan mengarah kearah Rein. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya.
Rein membuang napas kasar. "Sheril tadi deketin gue, dia bilang kalau Arion mendekati Lilian semata-mata karena ingin membalas rasa sakit yang Audry terima selama ini. Mereka berdua membuat perjanjian akan menyakiti Lilian jika gue tetap menolak Audry." Jelasnya.
"Dan lo malah percaya ucapan Mak Lampir?" Tanya Mario heran.
Rein memutar sebuah rekaman suara dari ponselnya kemudian menyerahkan ponselnya kepada Mario. Dalam rekaman suara itu terdengar suara lelaki dan perempuan yang memang sedang membuat kesepakatan. Isi dalam rekaman itu sama persis dengan yang di jelaskan oleh Rein.
Farrel dan Mario langsung menoleh kearah Arion. "Lo bisa jelasin isi dari rekaman suara itu?" Tanya Mario.
Arion mengehala napas berat. "Benar itu adalah suara gue dan Audry." Jawabnya.
Rein kembali emosi mendengar jawaban yang di berikan Arion. Rein maju beberapa langkah dan ingin kembali memukul Arion, namun Farrel dan Mario kembali menahan Rein agar tidak kembali memukul temannya itu.
"Tenanglah Rein! Kita belum mendengar penjelannya secara keseluruhan!" Ucap Farrel. Sebisa mungkin ia harus menenangkan Rein agar masalahnya tidak semakin melebar.
"Lo berdua minta gue agar tetap tenang setelah mendengar jawabannya? Lepasin gue!" Rein mencoba melepaskan diri dari Mario dan Farrel yang menahannya.
"Biarkan dia menjelaskannya sampai selesai." Kata Farrel.
"Apa yang perlu ia jelaskan lagi? Dia sendiri yang mengakui bahwa suara itu adalah benar suaranya dengan Audry!" Marah Rein.
__________________