Lilian

Lilian
Sama-sama kesal



Lilian sejak tadi mendesah pelan sambil menatap layar ponselnya. Sejak semalam ia sudah mengirimi Arion pesan singkat namun laki-laki itu sama sekali tidak membalas pesannya. Tatapan mata Arion yang terakhir kali membuat perasaan Lilian nggak karuan, jika bukan karena takut Mama-nya akan marah, maka Lilian akan dengan senang hati memilih untuk pulang bersama Arion.


"Ini orang kenapa sih? Atau sinyal ditempatnya sedang gangguan kali ya." Gumam Lilian masih saja memperhatikan layar ponselnya untuk mengecek pesan masuk dari Arion.


Semalam Lilian menyepatkan diri untuk meminta kepada Rein nomor ponsel milik Arion yang dapat ia hubungi. Namun sayang, sejak semalam Lilian masih saja tidak mendapat balasan apapun dari Arion.


"Masa iya nomor yang dikasih Kak Rein salah ..." Gumam Lilian lagi sambil mengecek nomor yang Rein berikan.


"Nomornya benar kok ... Ada tulisan Arion diprofilnya." Kata Lilian lagi.


Lilian masih saja mengecek ponselnya dan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Saat ini Lilian sedang berada diparkiran sekolah, tempat dimana ia biasa memarkirkan motornya seperti biasa setiap harinya.


Lilian pagi-pagi sekali berangkat ke sekolah untuk menemui Arion dan menjelaskan semuanya. Namun Lilian tidak tahu jam berapa Arion biasanya sampai disekolah, hingga akhirnya Lilian memutuskan untuk menunggu Arion diparkiran sekolah saja.


Sedang asik menatap layar ponsel yang tidak kunjung memunculkan notif yang Lilian inginkan, seseorang datang dan mengagetkan Lilian dari belakang.


"Woe cewek gagal move on! Ngapain pagi-pagi begini lo duduk sendirian disini? Lagi nungguin teman-teman halu lo ya." Ejek Rama sambil memukul jok belakang motor Lilian.


"Astagaaaa ..." Kaget Lilian sambil mengusap pelan dadanya karena kaget.


Lilian menatap Rama dengan raut wajah permusuhan. "Ehhh kutu-nya monyet! bikin kaget aja ... Lo bisa tidak agar sehari aja nggak usah bikin gue kesel!" Ketus Lilian.


"Uwwiiihhh santai dong ... Nggak usah ngegas." Ucap Rama santai.


"Gue nggak bisa santai tiap kali berada dekat dengan lo! Mending lo pergi jauh-jauh ... Sana ... Sana ..." Usir Lilian kesal.


Rama menggaruk kepalanya pelan. "Maaf ... Maaf ... Gue nggak sengaja. Lagian kenapa lo pagi-pagi gini bukannya langsung ke kelas malah diam disini?" Tanyanya heran.


"Terserah gue lah mau ngapain ... Apa urusannya dengan lo? Kalau nggak ada kepentingan yang mendesak mendingan lo pergi aja." Usir Lilian yang terlanjur marah.


Sebenarnya Lilian sudah sangat merasa kesal karena tidak mendapatkan balasan dari Arion. Kekesalannya secara tidak sengaja dilampiaskan kepada Rama yang kebetulan datang untuk mengusilinya.


"Lo judes amat ... Perasaan gue udah minta maaf, kenapa lo sepertinya marah banget?" Tanya Rama heran.


Lilian semakin dibuat kesal. Tidak ingin menambah kekesalannya, ia akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Rama sendirian.


"Ehh tunggu ... tunggu." Ucap Rama sambil menahan tangan Lilian. "Lo kenapa sih sepertinya nggak suka banget ama gue? Apa gara-gara karena gue selalu manggil lo cewek gagal move on?" Tanya Rama penasaran.


Lilian memutar mata malas dan tidak berniat meladeni Rama lebih lama lagi. Tanpa kata Lilian berniat melangkah meninggalkan Rama namun baru selangkah, Rama kembali menahan tangan Lilian agar tidak pergi.


"Gue minta maaf kalau gue punya salah sama lo ... Gue hanya ingin berteman baik sama lo ... Udah itu aja." Jelas Rama yang masih menggenggam tangan Lilian.


Lilian menarik tangannya secara paksa. "Udah ngomongnya?" Tanyanya dengan raut wajah datar.


Melihat raut wajah tidak enak dari Lilian membuat Rama tidak lagi memaksa gadis itu untuk tetap tinggal. Rama hanya mengangguk pelan dan menatap punggung Lilian yang semakin berjalan menjauh.


Lilian sendiri sedang dalam mood yang tidak baik-baik saja. Ia merasa kesal karana Arion mengabaikan pesannya meski ia sudah mengiriminya pesan berkali-kali. Lilian hanya ingin berdiam diri sendirian agar amarahnya tidak meledak kepada orang yang tidak bersalah contoh seperti Rama tadi.


Langkah kaki Lilian membawanya menuju atap gedung tempat dimana Arion dan teman-temannya berkumpul. Entah mengapa, Lilian hanya ingin sendiri dan menenangkan pikirannya sejanak saja. Lilian harus kembali menata pikirannya agar tidak terlalu memikirkan hal-hal yang membuatya kesal.


Sesampainya diatap sekolah, Lilian mendudukkan dirinya pada sebuah kursi kayu panjang, punggungnya ia sandarkan ke belakang sandaran kursi serta matanya ia pejamkan.


Lilian menghirup udara segar disekitarnya dengan teratur sembari membuang energi-energi negatif yang mempengaruhi pikirannya. Baru saja Lilian memejamkan matanya, suara berat seorang lelaki kembali memaksa mata Lilian untuk terbuka.


"Ngapain lo disini?" Tanya Arion dengan nada datar.


Lilian membuka matanya dan langsung menatap ke arah seseorang yang sejak semalam membuat pikirannya kacau.


"Kenapa nggak membalas pesan gue?" Tanya Lilian balik.


"Gue tanya sekali lagi ... Ngapain lo disini?" Tanya Arion marah. Terlihat dari wajahnya yang mulai memerah.


Lilian menghela napas pelan. "Terserah gue mau ngapain disini ... Kalau nggak salah nih atap masih berada di gedung Florenzo School yang artinya semua murid memiliki hak untuk berada disini." Jawab Lilian dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.


"Terserah." Katanya singkat kemudian membuang tas-nya asal ke sembarang arah.


"Dari semalam gue ngirimi lo pesan ... Kenapa nggak ada satu pun dari pesan gue yang lo balas?" Tanya Lilian penasaran.


Arion mengabaikan pertanyaan dari Lilian kemudian memilih membaringkan tubuhnya pada kursi panjang lainnya. Arion menyilangkan tangan di dada kemudian memejamkan matanya.


"Lo dengar gue nggak sih?" Tanya Lilian lagi yang masih diabaikan oleh Arion.


Dengan kesal Lilian berjalan mendekati Arion kemudian mengguncang tubuhnya dengan kencang. "Jawab pertanyaan gue." Kesalnya.


"Gue nggak punya kewajiban buat balas pesan lo! Lebih baik lo pergi dan jangan ganguin gue lagi!" Tatapan Arion benar-benar tajam hingga nyali Lilian menciut.


Lilian akhirnya memilih menyerah untuk bertanya. "Ini orang kenapa sih ... Kadang baik, kadang juga gak jelas kek gini." Kesalnya.


Sebelum benar-benar pergi, Lilian menendang keras kursi tempat Arion berbaring kemudian berjalan cepat meninggalkan Arion sendiri. Sedangkan Arion sendiri hanya bisa menghela napas pelan dengan kelakuan Lilian.


___________


FLASHBACK ON


Arion memasuki kamarnya dan melempar jaket yang ia kenakan ke sembarang arah. Ia benar-benar merasa kesal mengingat hubungan apa yang Lilian dan Rein jalani sehingga keduanya terlihat sedekat itu. Bukan hanya disekolah, keduanya terlihat sangat akur dimanapun, terlebih lagi banyak orang yang menganggap keduanya cocok jika disandingkan bersama.


Kekesalan Arion semakin bertamabah saat gadis itu menolak secara langsung ajakannya untuk pulang bersama dan memilih agar pulang bersama Rein.


Bunyi ponsel tanda pesan masuk membuat lamunan Arion terhadap Lilian menjadi buyar. Dengan malas ia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan memeriksa pesan masuk.


085205XXXXXX


Kak Arion ini gue Lilian ... Maaf banget sam soal yang tadi ya ... Gue nggak maksud buat nolak ajakan lo kok.


Arion memilih mengabaikan pesan dari Lilian karena merada masih kesal dengan gadis itu. Dengan asal ia melempar ponselnya kemudian berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak membutuhkan waktu lama, Arion kembali keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek biasa dan kaos oblong warna hitam polos ditubuhnya. Mata Arion menelusuri ranjang king size miliknya untuk mencari kembali dimana terakhir kali ia membuang ponsel itu dengan asal.


Suara tanda pesan masuk kembali terdengar dan layar ponsel menyala membuat Arion dapat menemukan dimana benda pipih itu berada. Ada banyak sekali pesan masuk dari nomor yang sama.


085205XXXXXX


*Kak Arion udah pulang belum?


Kak Arion udah nyampe rumah belum?


Kak Arion kenapa nggak balas pesan gue?


Kalau benar balas dong !


Kak Arion ... Ih.


Kak Arion udah tidur ya*?


Lagi-lagi Arion mengabaikan pesan-pesan itu, dengan malas Arion meletakkan ponselnya dengan asal kemudian menarik selimutnya untuk membungkus tubuhnya.


Pagi hari ...


Arion terbangun dengan tubuh segar setelah beberapa jam beristirahat. Kakinya ia langkahkan menuju kamar mandi untuk menyiapkan diri berangkat ke sekolah.


Beberapa waktu kemudian Arion kembali keluar dengan seragam lengkap yang melekat ditubuhnya. Setelah memasukan beberapa buku didalam tas miliknya, Arion kembali mencari keberadaan ponsel yang sejak tadi malam ia abaikan.


Setelah menemukannya, Arion kembali mendapatkan pesan dari Lilian yang jumlahnya tidak sedikit.


085205XXXXXX


*Selamat tidur buat Kak Arion ...


Mimpi indah ya ...


Selamat pagi Kak Arion ...


Udah bangun belum?


Hari ini mau sarapan apa? Mau Gue bawain nggak?


Hello ... Kak Arion ...


Balas pesan gue sekali aja kenapa sih susah amat!!


Kak Arion kalau lagi marah tinggal bilang aja susah amat ...


Kalau diam gini mana tahu kalau lo lagi marah apa nggak ...


Kak Arion ...


Udah berangkat sekolah belum ...


Gue udah nyampe sekolah nih ... Cepet datang ya ... Gue tungguin nih*!


Arion menghela napas pelan. "Niat banget nih cewek." Gumannya pelan.


Setelah menbaca pesan dari Lilian, Arion akhirnya menuju dapur dan melaksanakan sarapan dengan tenang dengan Mama-nya. Jika ditanya dimana Papa-nya pasti jawabanya adalah dikantor, karena kesibukannya mengolah perusaahan Papa Arion hanya memiliki sedikit waktu dengan keluarganya.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Arion berpamitan kepada Mama-nya dam segera berangkat sekolah dengan menggunakan motor sport miliknya.


Tidak membutuhkan waktu lama untuknya agar bisa sampai disekolah. Bukan hanya jarak mension dan sekolah yang dekat namun Arion biasa melajukan motornya dengan kecepatan lumayan cepat


Arion memasuki parkiran motor dan matanya tidak sengaja menangkap seorang gadis yang sejak semalam membuatnya kesal. Terlihat gadis itu sedang mengobrol dengan Rama dengan jarak yang cukup dekat. Namun raut wajah gadis itu sepertinya sedang tidak baik, terlihat ia melepaskan tangannya dengan paksa saat beberapa kali Rama mencoba menahannya untuk pergi.


"Lihat apaan lo?" Tanya Farrel yang tiba-tiba muncul dan menepuk punggung Arion.


Mata Farrel mengikuti arah tatapan mata Arion dan menemukan apa yang sekarang tengah Arion lihat. "Lilian bareng Rama lagi." Ujar Farrel pelan.


"Gue kagak ngerti ... Kapan dan dimana Lilian mengenal Rama?" Terdengar suara Rein dari arah belakang Arion.


Arion menegok ke belakang dan menemukan ketiga temannya yang sudah berada didekatnya. Entah sejak kapan ketiga temannya datang namun Arion tidak menyadarinya karena terlalu fokus menatap ke arah Lilian dan Rama berada.


"Apa mereka sudah saling kenal sejak lama?" Tanya Mario bingung.


"Ntahlah ... Entar gue tanyain deh ..." Ujar Rein.


Arion menatap tidak suka ke arah Rein, sejak semalam Arion juga mengabaikan pesan dari Rein dan bersikap acuh kepada temannya itu.


"Sikap lo itu kenapa sih? Aneh banget ..." Kata Rein yang mulai tidak tahan menerima tatapan tajam dari Arion terus.


"Benar tuh ... Kalau suka sama Lilian bilang aja apa susahnya ... Jangan buat pertemanan kita jadi berantakan hanya karena seorang gadis. Jika mau bersaing ya bersaing secara sehat saja ... Namun kalian berdua harus bisa menerima dengan lapang dada bagi siapa saja yang akan Lilian pilih nanti." Kata Mario sambil menatap Arion dan Rein bergantian.


"Gue nggak suka!!" Ketus Arion.


"Lahh kalau nggak suka kenapa sikap lo aneh gitu ke gue? Sejak semalam sepertinya sikap lo memang aneh ke gue ... Pesan gue bahkan lo abaikan dan sekarang lo bersikap dingin ke gue." Kata Rein serius kepada Arion.


"Gue hanya capek." Ucap Arion dingin.


"Udahlah ... Kalian ributin apasih? Pagi-pagi masa iya kalian udah ribut aja." Kesal Farrel yang tidak suka adanya ketegangan dalam perteman mereka.


"Tau tuh teman lo." Ujar Rein acuh.


Arion mengabaikan ucapan dari Rein namun matanya menangkap kearah Lilian yang berjalan menjauhi Rama dengan langkah yang sangat cepat. Karena penasaran Arion langsung menuruni motornya dan berjalan mengikuti langkah kaki Lilian pergi.


"Ehh lo mau kemana?" Tanya Farrel sedikit berteriak namun di abaikan oleh Arion.


"Itu anak mau kemana sih buru-buru amat." Tanya Mario yang heran dengan sikap Arion.


"Tau tuh teman lo ... Makin hari sikapnya makin aneh aja." Ujar Rein kemudian turun dari motornya.


"Kayak bukan temen lo aja ..." Ucap Mario.


Rein malah mengedikkan bahunnya kemudian berjalan meninggalkan kedua temannya. Kembali ke Arion yang tadi sedang berjalan mengikuti langkah kaki Lilian menuju atap sekolah.


Terlihat gadis itu mendudukkan tubuhnya pada kursi panjang dan memejamkan mata. Lihat hati Arion ingin memarahi Lilian karena telah menolak ajakan pulangnya semalam. Namun melihat binar mata dari Lilian membuatnya tidak tega untuk memarahi gadis itu.


Arion pun memilih membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Siapa sangka Lilian malah mendekatinya dan menggoyangkan tubuhnya dengan kesal. Sebisa mungkin Arion tidak mengeluarkan kata-kata kasar andalan agar tidak melukai gadis itu.


Namun tetap saja, meski Arion ingin berbicara baik-baik dengan Lilian namun mulutnya seakan selalu bergerak sendiri kemudian mengucapkan kata-kata yang tidak enak untuk di dengar.


Sebelum Gadis itu pergi, Arion merasakan jikalau Lilian menendang kursi dengan sangat keras dan secepatnya berlari pergi. Arion hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Lilian.


Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin sekali Arion tanyakan pada Lilian, namun gengsi-nya terlalu tinggi jika Arion harus menyapa Lilian terlebih dahulu. Salah satu hal penting yang sangat ingin Arion tanyakan adalah mengapa gadis yang mirip dengan Lilian selalu saja muncul dalam mimpinya.


FLASHBACK OFF


_______________