Lilian

Lilian
Tentang Audry



Lilian menatap lekat raut wajah Gladis yang menatapnya dengan tatapan serius. Setelah menarik Lilian untuk memasuki kelasnya, Gladis mengusir Kamal, Bimo, Denis, dan rombongan anak sekelas dengannya yang sangat ingin tahu perihal kejadian kemarin yang di alami oleh ke empat gadis itu saat berada di cafe Butterfly.


Gladis meminta kepada anak-anak sekelasnya untuk meninggalkannya bersama ketiga temannya lantaran ia ingin membahas hal yang sangat penting kepada Lilian, Laura, dan Meira. Gladis juga berjanji akan menceritakan semua kejadian yang ia alami kemarin dengan sedetail mungkin asalkan teman sekelasnya mau memberikannya waktu untuk bersama ketiga temannya.


"Napa lo hanya diem aja?" Tanya Laura dengan mengerutkan keningnya. "Katanya ada hal yang perlu lo beritahu." Lanjutnya.


"Ho oh ... Bikin penasaran aja nih anak." Kata Meira setuju.


"Husssshh ... Lo semua pada bisa sabar napa sih? Gue lagi nyusun kata-kata yang pas buat ngejelasinnya." Kesal Gladis.


"Alaaahh ... Gaya lo, pakek nyusun kata yang pas segala. Biasanya kalau mau cerita ya cerita aja." Ujar Meira tidak sabaran.


"Masalahnya, ini masalah yang mau gue ceritain sangat Urgent banget dan harus di jaga banget kerahasian-nya." Kesal Gladis.


"Udah ah ... Napa malah pada ribut sih? Jadi apa nggak nih ceritanya? Kalau mau ribut gue ogah dengerinnya." Kata Lilian.


"Tuhh kaaan ... Jadi marah Lilian-nya." Sebal Gladis.


"Ya udah langsung aja ... Nggak usah pakek basa basi lagi." Tuntut Meira.


"Iya ... Iya ... Pada bawel amat sih." Ketus Gladis.


Sebelum Gladis memulai ceritanya, terlebih dahulu gadis itu menengok ke arah kanan dan kirinya. Gladis ingin memastikan jikalau tidak akan ada orang yang mendengar pembahasan mereka.


Setelah memastikaan keadaan aman, barulah Gladis mulai membuka suara. "Kak Audry ternyata memiliki penyakit mental yang sudah sangat sulit di sembuhkan." Ucap Gladis dengan nada sepelan mungkin.


"APA?!!" Pekik Lilian, Laura dan Meira samaan.


Semua pasang mata yang tadinya sibuk dengan urusannya masing-masing kini fokus menatap ke arah empat orang gadis yang duduk saling berhadapan.


"Hussshhh." Gladis mencoba menenangkan ketiga temannya agar tidak berisik. "Nggak usah teriak-teriak napa sih? Ntar orang malah dateng semua." Kesal Gladis.


"Sorry ... Sorry ... Kita kaget soalnya." Ucap Laura.


"Gue nggak salah dengerkan?" Tanya Lilian masih tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan dari Gladis.


"Seriuuss. Gue bahkan berani sumpah." Kata Gladis dengan mengangkat dua jarinya.


"Lo tahu dari mana?" Tanya Laura pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan agar lebih dekat lagi dengan Gladis.


"Abang gue." Jawab Gladis.


"Abang lo?" Tanya Meira bingung.


Gladis mengangguk cepat. "Gue kan punya abang yang jadi Dokter Psikiater." Katanya dengan nada pelan.


Lilian, Meira dan Laura saling memandang satu sama lain karena masih bingung mencerna informasi yang baru saja mereka dapatkan dari Gladis.


"Bagaimana ceritanya sampai Abang lo ngasih tahu informasi tentang pasien? Bukannya setahu gue informasi pasien hanya pihak keluarga yang berhak tahu?" Tanya Lilian.


"Gue bukan di kasih tahu. Tapi gue tahu karena tidak sengaja lihat berkas-berkasnya." Jawab Gladis.


"Lahhh bagaimana bisa?" Tanya Laura semakin penasaran.


Gladis semakin mencondongkan tubuhnya ke depan kemudian menengok ke arah kiri dan kanannya lagi. Gladis tidak mau jika informasi ini bocor maka ia dan Abangnya akan mendapat masalah lantaran telah membocorkan informasi penting tentang pasien.


"Kemarin setelah balik dari rumahnya Laura, gue langsung pulang." Jelas Gladis dengan hati-hati agar suaranya tidak bisa di dengar jelas oleh orang lain selain ketiga temannnya.


"Kemarin rambut gue pada banyak yang rontok gara-gara si Mak Lampir. Saat nyampai rumah ternyata Abang gue udah ada di rumah dan lihat tampilan gue yang mengenaskan dong." Jelas Gladis sambil mengingat kejadian yang ia alami.


"Nah karena Bang Rio adalah seorang Dokter. Otomatis jiwa ingin mengobatinya muncul ... Terlebih lagi yang terluka itu adeknya sendiri, mana mau dia lihat gue sakit-sakitan. Trus di bawalah gue ke ruang kerjanya untuk di obati. Tak lama ia ngobatin gue, tiba-tiba ponselnya berdering. Kayaknya tuh panggilan dari orang penting kalau di lihat dari ekspresi Abang gue yang serius gitu." Jelas Gladis panjang.


"Trus ... Trus ...?" Tanya Meira semakin penasaran.


"Bang Rio ninggalin gue buat ngangkat telpon dan nyuruh gue buat nungguin dia. Karena bosen gue iseng gitu lihat berkas-berkas yang berada di atas meja milik Bang Rio. Ehhh nggak sengaja gue nemu berkas milik Kak Audry di antara berkas yang di tumpuk oleh Bang Rio." Jelas Gladis.


Lilian, Laura dan Meira tidak dapat menyembunyikan raut wajah terkejutnya mendengar informasi yang baru saja Gladis berikan. Sungguh informasi yang Gladis sampaikan tidak dapat di ketahui oleh sembarang oleh jika di lihat status sosial dari Audry.


"Karena penasaran dengan tuh berkas, gue buka-buka aja ... Lo semua pasti nggak bakalan nyangka dengan informasi yang gue dapatkan dalam catatan berkas itu." Kata Gladis dengan raut wajah yang sangat serius.


"Apa? Cepat beritahu." Tuntut Laura.


"Kak Audry mengidap PTSD yang sulit banget di sembuhin. Menurut berkas yang gue baca, Kak Audry udah lama banget menderita sakit itu." Kata Gladis.


"PTSD penyakit semacam apaan sih? Gue kagak ngerti tentang ilmu kedokteran." Ujar Meira.


"PTSD itu ganguan stres pascatrauma, atau lebih sering di kenal sebagai ganguan mental di karenakan pernah mengalami trauma berat dan banyaknya tekanan yang di terima oleh si penderita." Jelas Lilian.


Laura dan Meira melongo tidak percaya mendengar penjelasan dari Lilian mengenai penyakit yang Audry derita saat ini.


"Jadi maksud lo, Kak Audry itu sedang mengalami gangguan mental?" Tanya Meira.


Gladis mengangguk cepat. "Ho oh ... Kondisinya itu bahkan udah ia derita sejak lama. Menurut berkas yang gue baca, orang penderita PTSD biasanya akan melampiaskan amarahnya dengan menyakiti orang lain atau diri sendiri untuk kepuasannya." Jelasnya.


"Apa mungkin Kak Audry membully anak-anak selama ini karena sakit mental yang ia derita?" Gumam Lilian pelan.


"Bisa jadi ... Namun yang bikin gue penasaran nih ... Hal apa yang buat Kak Audry menderita PTSD? Jika ia mengalami gangguan mental seperti yang di jelaskan, lalu hal apa yang menyebabkan ia mendapatkan tekanan dan akhirnya harus di rawat dengan waktu yang lama?" Ujar Gladis bingung.


"Di dalam berkasnya tidak di jelaskan?" Tanya Lilian.


Gladis menggeleng pelan. "Di sana tidak di jelaskan faktor penyebab ia mendapatkan tekanan itu ... Di sana hanya tertulis jika Kak Audry sedang dalam proses penyembuhan." Jelas Gladis.


Ke empat gadis itu terdiam memikirkan sakit yang Audry terima. Gladis, Laura dan Meira masih tidak menyangka jikalau selama ini Audry yang terkenal sebagai Ratu bully ternyata memiliki gangguan mental yang sangat sulit di obatin. Jika Audry tidak dapat mengontrol emosinya maka gadis itu akan menyakiti dirinya sendiri sebagai kepuasannya.


Yang membuat ke empat gadis itu bingung, jika Audry menderita sakit itu sejak lama. Mengapa pihak keluarga gadis itu malah membiarkan gadis itu berkeliaran bebas dan melakukan hal-hal yang membuat orang lain di rugikan.


Jika memang Audry tengah menderita sakit mental maka bukankah lebih baik jika gadis itu di rehabilitasi sampai kondisi mentalnya membaik atau sembuh total. Namun pihak dari keluarga Audry seakan menyembunyikan kondisi gadis itu dan membiarkan Audry melakukan hal-hal yang ia inginkan.


"Lo semua tahu nggak, kalau dalam berkas itu juga tertulis bahwa sebulan terakhir Kak Audry tengah menjalani perawatan intensif terkait dengan sakit yang ia derita?" Gumam Gladis pelan.


Laura membukatkan mata tidak percaya. "Masa? Berarti selama Kak Audry di skors, ia sebenarnya sedang menjalani rehabilitas?" Tanyanya terkejut.


Ketiga temannya kompak menggelengkan kepalanya. "Nggak pernah sih ... Cuman gue pernah denger, entah benar atau tidak kalau Kak Audry suka berlama di dalam toilet. Menurut kabar ada banyak tetesan darah di lantai toilet namun setelah di periksa nggak ada orang yang terluka." Jelas Meira.


"Apa mungkin dia melukai diri sendiri? Jika benar, lalu mengapa kita nggak pernah lihat dia terluka?" Tanya Laura heran.


"Bisa aja lukanya berada di tempat yang tak terlihat. Misalnya tertutup oleh jas?" Tebak Lilian asal.


"Bisa jadi." Kata Gladis. "Gue jadi penasaran." Lanjutnya.


"Setelah gue pikir-pikir kembali, kejadian kemarin yang kita alami ... Apakah termasuk dalam melampiaskan kepuasan Kak Audry?" Gumam Lilian yang masih penasaran dengan Audry.


"Bisa jadi." Kata Meira antusias.


"Kalau pun benar ... Kok gue jadi kasihan ya? Gue tahu dia mungkin salah namun entah mengapa gue ngerasa gimanaa gitu." Ujar Laura simpatik.


"Gue setuju ... Awalnya gue emang gedek banget. Malah udah buat rencana untuk bales dendam namun setelah tahu sakit yang ia derita gue jadi kasihan aja." Ucap Gladis.


"Ehhh ngomong-ngomong masalah kemarin ... Gue masih ingat ancaman si Mak Lampir. Lalu gimana sekarang nasib kita?" Tanya Meira mulai sadar dengan masalah yang alan mereka hadapi.


"Bener juga ... Kita sejak tadi sibuk ngurus masalah orang ... Tapi lupa dengan masalah sendiri." Ucap Laura tidak habis pikir.


"Sudahlah ... Kita bakal jalani semua masalah bersama-sama. Doain aja, agar supaya kita masih tetap bisa bersekolah di sini." Ucap Meira berharap.


Saat keempat gadis itu masih asik mengobrol, tiba-tiba suara speaker yang berada di dalam ruang kelas berbunyi memberikan sebuah pengumuman penting.


Diharapkan kepada Murid yang saya sebutkan namanya agar segera menuju ruang Kepala Sekolah.


*Lilian, Meira Laura dan Gladis dari kelas X


Audry, Sheril, Naomi dan Karin dari kelas Xi


Sekali lagi, bagi murid yang saya sebutkan namanya di atas agar segera menuju ruang Kepala Sekolah*.


Pengumuman pun berakhir, Lilian dan ketiga temannya menatap satu sama lain mendengar pengumuman yang baru saja di tunjukkan kepada keempatnya. Dengan raut wajah lesu, ketiga teman Lilian langsung berdiri dari duduknya untuk segera memenuhi panggilan tersebut.


"Semangat Cecannya X Mia 1, Jika kalian benar maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucao Kamal memberi semangat kepada ke empat gadis itu.


"Thanks Kamal, Tumben bener lo nggak ngeselin hari ini. Atau lo sengaja ya mau ngasih gue salam perpisahan kek gini." Tuduh Gladis.


"Haiss dalam situasi gini, masih aja lo curigaan ama gue. Gue tulus nyemangatin kalian semua." Kesal Kamal.


Lilian dan ketiga temannya tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat raut wajah kesal dari Kamal. Selain dari Kamal, Ke empat gadis itu juga mendapatkan kata penyemangat dari teman-teman sekelasnya. Hal itu membantu ke emoat gadis itu sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


Lilian, Gladia, Laura dan Meira akhirnya berjalan keluar kelas menuju Ruang Kepala sekolah berada. Di perjalanan ponsel Lilian tiba-tiba berdering dan menunjukkan seorang nama yang sangat ia kenal.


...My Hiro Calling ......


"Kalian jalan duluan aja dulu ... Ntar gue nyusul." Kata Lilian yang langsung di angguki oleh ketiga temannya.


Setelah memastikan teman-temannya sudah sedikit menjauh, Lilian langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Hallo pah ...?" Sapa Lilian.


"Hallo sayang ... Sekarang kamu lagi di mana?" Tanya Rahadian di sebrang sana.


"Ini lagi di sekolah ... Cuman mau ke Ruang Kepala sekolah." Jawab Lilian.


"Oh ... Baru di panggil rupanya. Papa cuman mau ngasih tahu kalau kamu nggak perlu cemas. Papa udah ngirim assistent Papa buat nyelesain semua masalah di sekolah kamu. Namanya Om Bara, ntar dia yang ngurus semuanya." Jelas Rahadian di sebrang sana.


"Iya pah ... Makasih ya pah." Kata Lilian dengan senyum ceria.


Terdengar suara kekehan di sebrang sana. "Nggak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tugas Papa buat lindungin kamu. Seharusnya Papa dan Mama yang minta maaf karena dalam situasi seperti ini, kami berdua tidak bisa menemani mu dalam menyelesaikan masalah. Papa janji bakal secepatnya ngurus semua kebutuhan kamu agar nanti kamu bebas menunjukan identitas mu yang sebenarnya." Kata Rahadian merasa bersalah.


"Papa tenang saja nggak perlu khawatir dengan Lilian. Aku ngerti kok gimana kondisi aku yang sekarang." Kata Lilian.


"Syukurlah. Kalau gitu Papa tutup ya sayang ... Ntar Papa tanya ke Om Bram untuk kelanjutan masalahnya." Ucap Rahadian di sebrang sana.


"Pah ... Pah ..." Panggil Lilian sebelum Rahadian menutup teleponnya.


"Ada apa sayang? Ada yang kamu butuhkan lagi." Tanya Rahadian.


"Hmmmm." Gumam Lilian ragu. "Papa bakalan ngasih hukuman apa ke Kak Audry?" Tanya Lilian ragu.


"Di keluarkan mungkin jalan yang terbaik. Papa nggak mau kamu merasa terganggu selama kamu mengenyam pendidikan di sana. Akan lebih baik jika anak itu tidak lagi bisa bertemu dengan mu lagi." Kata Rahadian tegas.


"Pah. Boleh Lilian minta sesuatu?" Tanya Lilian ragu.


"Apapun yang kamu inginkan semasih bisa Papa kabulkan maka akan Papa berikan." Kata Rahadian.


"Jika boleh ... Lilian mau kalau Kak Audry jangan di keluarkan." Katanya ragu.


"Ada apa Lilian? Apakah dia kembali mengancam mu? Atau ada orang lain yang mengancam mu lagi? Katakan pada Papa siapa yang telah mencoba mengancam mu?" Tanya Rahadian tidak sabaran.


"Papa ... Nggak ada yang ngamcam Lilian. Ini murni keingina Lilian sendiri." Jelas Lilian.


"Tapi kenapa Lilian? Bagaimana jika lain kali dia masih mengganggu mu?" Tanya Rahadian masih tidak terima dengan keputusan Putrinya.


"Untuk kali ini aja pah ... Jika seandainya mereka masih melakukan hal yang sama maka terserah Papa mau melakukan apapun, termasuk mengeluarkan mereka." Harap Lilian.


Terdengar helaan napas dari seberang telepon, sungguh Rahadian akan luluh jika Lilian meminta dengan nada lembut seperti saat ini.


"Bagaimana Papa akan menjelaskan hal ini kepada Mama mu?" Tanya Rahadian dengan nada berat.


"Lilian mohon pah ..." Harap Lilian.


Rahadian mengehela napas berat namun akhirnya mengalah dan mengabulkan permintaan Putrinya. "Baiklah."


_______________