Lilian

Lilian
Kemarahan Anin



Pertemuan para Wali murid yang menghabiskan waktu cukup lama akhirnya selesai juga. Hasil dari pertemuan itu adalah memberi teguran keras kepada semua murid yang sempat hadir pada saat pertadingan basket kemarin.


Menurut sebagian Wali murid, kejadian kemarin itu terjadi begitu saja tanpa bisa di cegah. Perselisihan antara dua sekolah adalah faktor utama yang menyebabkan murid-murid itu harus terlibat dalam tawuran. Maka dari itu, para Wali murid meminta agar pihak sekolah memberikan kelonggaran kepada anak-anaknya.


Permintaan itu akhirnya di setujui oleh Pak Bram setelah berunding terlebih dahulu dengan para Guru lainnya. Namun untuk mengembalikan nama baik sekolah di mata masyarakat, pihak sekolah mengajukan satu permintaan kepada para Wali murid.


Pak Bram meminta kepada para Wali murid untuk membayar denda atas kesalahan yang di lakukan oleh anak-anaknya. Dana yang terkumpul dari denda tersebut akan di pergunakan untuk mengadakan kegiatan yang akan mengembalikan nama baik sekolah.


Namun Rahadian dan Tama menolak keras jika kegiatan yang akan di adakan oleh pihak sekolah di tangani oleh pihak Osis. Menurut keduanya, Rama tidak pantas menjabat sebagai Ketua Osis setelah kemarin ia mendorong Lilian dengan sengaja di depan banyak orang.


Kelakuan Rama di anggap tidak mencerminkan sebagai pemimpin dari semua murid lainya. Karena tidak ingin memeperpanjang masalah, Pak Bram akhirnya menyetujui permintaan Rahadian dan Tama.


Setelah semua setuju dengan permintaan masing-masing dari pihak sekolah maupun Wali murid. Pak Brama akhirnya dapat sesikit bernapas lega. Karena kejadian kemarin melibatkan dua sekolah, maka tentu saja Pak Bram harus menyelesaikan masalah itu juga dengan sekolah lain yang terlibat.


Kemarin Florenzo School menghubungi pihak yang berwajib untuk membubarkan atau menangkap pelaku yang menprovokasi tawuran. Sebagian dari murid SMA Tunas Harapan lagi-lagi di tangkap oleh Polisi untuk yang ke sekian kalinya. Karena murid sekolah itu selalu mencari masalah dengan murid Florenzo School, maka Pak Bram memutuskan untuk membawa kasus itu ke jalan hukum. Biar yang berwajib saja yang akan memutuskan hukuman apa yang akan mereka berikan. Asal dengan hukuman itu anak-anak dari SMA Tunas Harapan memiliki kesadaran agar tidak lagi mencari masalah dengan anak-anak dari Florenzo School.


Setelah semua masalah di rasa sudah selesai, Pak Bram akhirnya langsung menutup pertemuan itu secara resmi. Namun belum sempat para Wali murid beranjak dari tempat duduknya, suara lantang dari Aditia Ganendra kembali harus membuat Wali murid tetap berada di tempat lebih lama lagi.


"Karena pertemuan ini telah resmi di tutup oleh Pak Bram, maka saya ingin memperjelas sesuatu di hadapan banyak orang!" Ucap Aditia dengan raut wajah serius.


Para Wali murid masih terdiam menunggu kata-kata apa yang ingin di sampaikan oleh Aditia selanjutnya.


"Beberapa tahun yang lalu ... Keluarga Anderson mengirimkan proposal kerja sama kepada kami. Isi proposalnya tidak lain ingin menyatukan Putra saya dan Putrinya yang bernama Anindya." Tutur Aditia sambil menatap dingin ke arah Faruk yang sudah mulai khawatir.


"Di sini saya ingin memperjelas satu hal! Sudah lama banyak kolega atau pebisnis lain yang berkerja sama dengan saya menanyakan hal yang sama! Pertanyaannya, kapan Putra saya akan meresmikan hubungan dengan Putri Pak Faruk! Namun sejak proposal itu dikirimkan, kami tidak pernah memberi balasan atas proposal yang dikirimkan kepada kami! Seharusnya Pak Faruk tau betul jawaban apa yang seharusnya kami berikan jika pihak kami tidak memberi balasan proposal pada proposal Bapak!!" Jelas Aditia panjang.


Suara riuh kembali terdengar memenuhi seisi ruangan pertemuan. Memang sejak lama Faruk mendeklarasikan hubungannya dengan Ganendra Grup. Namun siapa yang menyangka jika Aditia malah menolak proposalnya dan malah mempermalukannya di depan umum.


"Bapak ... Hal ini bisa kita bicarakan baik-baik dengan kedua keluarga yang bersangkutan." Pinta Melani. Ia tidak ingin jika semua orang mengejek Putrinya lantaran telah di tolak oleh Aditia.


"Saya rasa kali ini adalah waktu yang tepat, Nyonya Melani! Sudah sejak lama saya ingin mengumumkan hal ini, namun saya nggak pernah punya waktu luang." Kata Elisa.


"Di tempat ini saya ingin menegasakan bahwa Putra saya dan Putri Pak Faruk tidak memiliki hubungan apapun. Jadi tolong kepada semua pihak yang mendengar langsung hari ini agar tidak lagi mempertanyakan hal yang sama di kemudian hari! Jujur saja saya sedikit risih dengan isu yang tidak benar ini! Jika isu ini masih tetap menyebar ... Maka saya akan mengambil tindakan tegas bagi siapa saja yang menyebarkan isu bohong itu!!" Tegas Elisa.


Terlihat jelas Faruk sedang menahan kekesalannya kepada Aditia dan Elisa yang telah mempermalukannya.


"Kenapa Pak Aditia atau Nyonya Elisa baru memberikan jawabannya sekarang?! Di depan banyak orang pula!!" Nada suara Faruk meninggi. Emosi yang sejak tadi ia tahan sekarang tidak lagi ia pendam. Habis sudah kesabarannya dalam menghadapi keluarga besar lainnya sejak tadi.


"Itu karena saya sangat sibuk dan tidak punya waktu luang! Seharusnya Pak Faruk Dan Nyonya Melani langsung bisa mengerti alasan kami yang tidak membalas proposal itu! Bukan malah menyebarkan rumor yang nggak benar!!" Tutur Aditia dengan raut wajah tidak senang.


Faruk dan Melani kehabisan kata untuk menjawab ucapan Aditia. Semakin banyak mereka berbicara, maka hal itu akan semakin mempermalukan keduanya dan juga Putrinya.


Sedangkan di luar ruangan, semua murid bahkan sampai berteriak karena mendengar secara langsung penolakan dari keluarga Ganendra terhadap keluarga Anderson untuk menjodohkan Arion dan Anin.


Sejak tadi memang layar di samping ruang pertemuan masih menyala dan menampilkan orang-orang yang berada di dalam ruangan. Mendengar penolakan itu, Anin langsung berlari keluar dari kerumunan murid yang masih setia menonton Pertemuan dari layar.


Anin akan tambah merasa malu jika ia masih tetap bertahan di sana. Hingga akhirnya ia berlari keluar meninggalkan semua orang, namun Sheril, Naomi dan Karin langsung mengejar kemana gadis itu berlari.


_______________________


"ARRGGGHHH ..." Anin berteriak sekencang mungkin dan membanting semua benda-benda yang ia lihat di hadapannya.


Setelah berlari keluar dari kerumunan para murid, Anin akhirnya memilih ruang penyimpanan alat-alat olahraga sebagai tempat untuk melampiaskan semua emosinya.


"MENGAPA?!!"


"MENGAPA?!!"


"APA KURANGGNYA HIDUP GUE! HARTA, KEKUASAAN, CANTIK, LALU APA LAGI YANG MEREKA MAU?!!" Teriak Anin.


Prang ... Prang ... Prang ...


Lagi-lagi Anin menjatuhkan semua alat olahraga yang ada di hadapannya. Kemarahannya itu butuh ia lampiaskan kepada sesuatu. Marah, kesal, dan malu sudah bercampur aduk menjadi satu. Ingin sekali agar Anin menghilang untuk sementara di dunia ini.


"Tenanglah, Anin!! Semua hal nggak akan berjalan baik kalau lo marah kek gini!" Ujar Naomi yang mencoba menenangkan Anin dari kemarahannya.


"Tidak ada yang berjalan dengan baik meski gue tetap tenang!! Lo semua denger sendirikan? Mereka ngomong apa?!!" Tanya Anin kepada Sheril, Naomi dan Karin.


Ketiganya berhasil menyusul Anin yang berlari tidak tau arah dan akhirnya berhenti di ruang penyimpanan alat-alat olahraga.


"Iya gue tau! Cuman kalau lo tetap tenang ... Maka setidaknya lo masih bisa memikirkan hal apa yang bakal lo lakuin untuk kedepannya." Jawab Karin yang juga berusaha menenangkan Anin.


"Gue pernah ada di posisi lo! Karena gue emosian maka dari itu Lilian berhasil ngalahin gue!!" Kata Sheril.


"ARGGGHHH ... Semua ini gara cewek sialan itu!! Bokap dan Nyokap Arion nolak gue karena udah tau identitas aslinya! Nggak ... Nggak ... Nggak bisa! Gue nggak terima!!" Teriak Anin. Ia kemudian mulai mengacak rambutnya kareba merasa frustasi.


"AAARRRGGGHHH ... SIALAN, CEWEK MU**HAN, GA**L, TIDAK TAU DIRI!! DIA PASTI SENGAJA LAKUIN HAL INI, MEMBUAT ORANG TUANYA DATANG DAN MENGAKUI IDENTITASNYA! LALU KEDUA ORANG TUA ARION AKAN LANGSUNG MEMILIHNYA!!" Tetiak Anin yang semakin frustasi.


Memikirkan Arion yang tidak akan menjadi pasangan hidupnya membuat Anin merasa kesal dan marah. Ia melimpahkan semua hal yang terjadi kepadanya kepada Lilian.


"Gue harus balas! Ya ... Gue harus balas! Nggak ada apapun yang nggak bisa gue dapatin selema ini." Gumam Anin sendiri.


"Maka dari itu, tenanglah!! Lo nggak akan dapat memikirkan cara untuk nyingkirin tuh cewek kalau lo marah-marah kek gini." Kata Karin mengingatkan.


Anin mencoba mengatur napasnya agar ia tetap tenang. Benar yang di katakan oleh teman-temannya, jika ia tetap marah maka Anin tidak dapat memikirkan cara untuk menyingkirkan Lilian dari hadapan Arion.


___________________


"Lo semua ... Lihatkan bagimana ekspresinya si Anabel? Puas banget gue lihat dia yang kek frustasi gitu!" Ujar Gladis sambil bertepuk tangan karena senang.


Setelah acara pertemuan selesai, Gladis, Laura dan Meira memutuskan kembali ke kelas untuk mencari Lilian. Namun saat sampai, mereka bertiga malah tidak menemukan Lilian. Akhirnya mereka bertiga kembali membahas tentang pertemuan yang baru saja terjadi tadi.


"Lihatlah! Puas banget gue lihat si Anabel kesel gitu ... Dari awal Om Rahadian membuka identitas Lilian, raut wajah tuh orang udah kusut banget." Tambah Laura sambil tertawa keras.


"Mulai sekarang ... Anak-anak tuh bakalan mikir dua kali buat nyari masalah dengan Lilian! Kagak nyangka gue kalau temen kita yang satu tuh adalah anaknya konglomerat." Ujar Meira.


"Bener banget dah tuh ... Kalau di pikir-pikir, gue jadi takut sendiri! Selama ini gue ada salah ngomong atau apa saat bareng Lilian." Ucap Gladis takut.


"Alah tenag aja ... Lilian teman kita! Gue bahkan masih mau temenan ama Lilian meski dia bukan dari keluarga kaya." Sahut Laura.


Ketiganya memang ikhlas berteman dengan Lilian. Meski selama ini Lilian belum terlalu terbuka kepada ketiganya, namun Gladis, Meira dan Laura bisa menerima hal itu. Ketiganya berpikir jika Lilian memang membutuhkan waktu lebih agar ia bisa terbuka lagi pada mereka.


"Ahhh ... Gue juga puas banget lihat ekspresinya si Mak Lampir tadi. Benar-benar kaget tau nggak! Anak-anak lain juga nggak kalah terkejutnya." Kata Meira sambil tersenyum senang.


"Selama ini mereka menyombongkan ke kuasaan di depan Lilian! Tau-taunya Lilian bahkan lebih berbahaya jika di singgung! Untung aja tuh anaknya baek." Kata Gladis sambil bersedekap dada karena bangga mengingat hal baik yang pernah Lilian lakukan.


"Betul banget ... Masih nggak nyangka kalau Lilian Sepupuan dengan Kak Rein! Pantas aja mereka dua deket ... Awalnya gue heran dengan Kak Arion yang nggak cemburu saat Lilian sedang bersama Kak Rein. Eh tau-taunya mereka saudaraan." Ujar Laura heboh.


"Apa jangan-jangan Geng Andromeda dah tau kalau Lilian sepupuan dengan Kak Rein?" Tanya Meira dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Pasti taulah ... Lihat aja mata Lilian dan Kak Rein! Padahal sangat jelas kalau mata mereka berdua sangat mirip ... Warna mata itu hanya ada di keluarga Arisena loh." Kata Gladis.


"Iya bener ..." Jawab Meira.


"Oh iya ... Ngomong-ngomong Lilian kemana, ya?" Tanya Gladis sambil menengok ke kiri dan kanan untuk menelusuri isi kelas.


"Kan, lo liat sendiri tadi di bawa kabur ama Kak Arion. Jangan di tanya lagi mereka mau kemana ..." Sahut Laura


"Iya juga sih." Jawab Gladis.


"Tadi Lilian bilang mau jelasin sesuatu ke kita ... Coba cek ponsel kalian masing-masing, kayak aja ada chatb masuk dari Lilian." Kata Meira mengingatkan.


Kedua temannya langsung memeriksa ponsel masing-masing. Namun tidak ada chat masuk yang Lilian kirimkan.


"Belum ada." Kata Gladis.


"Sama gue juga nggak ada." Kata Laura.


"Kalau begitu kita tunggu Lilian chat sendiri atau nyamperin kita aja! Sekarang mungkin dia lagi bareng sama Kak Arion. Oh iya ... Ngomong-ngomong soal Kak Arion ... Kira-kira jka Nyokap dan Bokapnya tau hubungan Putranya dengan Lilian, bagaimana ya?" Tanya Meira penasaran.


"Kalian lihat sendiri bagaimana si Anabel di tolak mentah-mentah di depan banyak orang! Pasti malu banget dah tu si Anabel." Ujar Gladis sambil mengingat raut wajah marah dari Anin sebelum meninggalkan kerumunan.


"Benar juga ya, gue sejak tadi nggak mikir sampai situ! Apalagi Bokap dan Nyokap Kak Arion sama sekali nggak mengeluarkan suara saat semua orang lagi bahas masalah Lilian dengan Anabel tadi." Sahut Laura yang membenarkan ucapan Gladis.


"Nggak kebayang aja kalau Lilian juga di tolak kek tadi." Ucap Meira mulai khawatir.


"Hussh ... Nggak usah mikir kek gitu. Gue yakin Lilian bisa daparkan restu dari orang tua Kak Arion." Kata Laura.


"Lo pikir orang mau nikah pakek restu-restu segala?" Tanya Gladis heran.


"Emang lo pikir nikah aja yang perlu restu orang tua? pacaran juga kudu perlu restu." Celetuk Laura.


"Iya deh terserah lo aja ... Gue mah ngikut aja." Pasrah Gladis.


Obrolan ketiganya masih terus berlanjut sampai waktu yang cukup lama. Kejadian saat pertemuan para Wali murid tadi banyak sekali yang membuat semua orang terkejut. Apalagi saat membahas tentang identitas Lilian, tidak perlu menunggu besok. Semua rincian kejadian itu pasti sudah di tertulis dengan sangat lengkap oleh para penyuka gosip.


Hal tentang Lilian bahkan dari dulu selalu menjadi hal yang di tunggu-tunggu oleh murid lain. entah hal itu baik atau buruk namun semua orang lebih menyukai kisah tentang kehidupan Lilian di bandingkan harus menonton serial tv.


________________________