
Melvin berjalan maju dan mencengkram erat dagu Lilian. Lelaki itu sedkit memajukan tubuhnya kemudian menghirup dalam-dalam aroma dari tubuh Lilian.
Lilian mendorong tubuh Melvin dengan sangat keras kemudian membanting motornya dengan sangat keras. "Jangan kurang ajar ya!!" Pekik Lilian dan menatap Melvin dengan tatapan nyalang.
Melvin tertawa terbahak-bahak melihat perubahan raut wajah dari Lilian. "Gue suka lo yang galak kek gini. Kesannya lebih berani dan pastinya cocok menjadi pasangan gue." Ujarnya dengan tatapan yang tidak Lilian sukai.
"Sampai matipun gue nggak akan sudi buat jadi pasangan lo!!" Kata Lilian sedikit berteriak.
"Oh ya?" Tanya Melvin dengan seringainya. "Jika lo nggak sudi maka gue sendiri yang akan buat lo nerima gue jadi pasangan lo. Salahkan diri lo sendiri yang telah mengambil perhatian gue saat pertemuan terakhir kita." Kata Melvin kemudian berjalan mendekat ke arah Lilian.
Lilian mundur beberapa langkah untuk menghindar dari Melvin. "Gue nggak pernah mau ngambil perhatian lo!! Berikan saja pada cewek yang butuh!" Ketusnya.
Muka Melvin memerah mendengar penolakkan dari Lilian. Melvin selalu menyukai aroma yang selalu menguar dari tubuh Lilian. Lelaki itu selalu mencari keberadaan Lilian setelah pertemuan terakhir keduanya malam itu namun sayangnya Melvin tidak pernah mendapatkan informasi tentang keberadaan Lilian lantaran gadis itu baru saja pindah ke Jakarta dan selalu berpindah-pindah tempat sehingga informasi yang ia dapatkan tentang Lilian hanya sesikit saja.
Melvin melihat sekilas video yang di unggah oleh murid dari sekolah lain yang menayangkan sosok gadis yang selama ini ia cari. Terlihat di video itu Lilian sedang bersiteru dengan beberapa gadis lainnya dan mereka semua mengenakan seragam dari Florenzo School membuat Melvin semakin bersemangat karena mengetahui di mana gadis yang selama ini ia cari bersekolah.
Tidak lama sejak video yang pernah Melvin tonton yang menayangkan tentang kebaradaan Lilian, kembali video lain yang menayangkan tentang gadis itu muncul. Berbeda saat melihat video pertama membuat Melvin bahagia, video kedua justru membuat dada Melvin naik turun karena amarahnya.
Video kedua menayangkan Arion musuh bebuyutan Melvin mengungkapkan isi hatinya kepada gadis yang selama ini ia cari. Yang membuat Melvin semakin marah adalah saat melihat rona merah di kedua pipi Lilian saat Arion mengatakan perasaannya.
Dengan segala cara Melvin akhirnya mencari tahu tentang keberadaan Lilian termasuk jalan mana yang selalu gadis itu lewati saat pulang sekolah. Hingga akhirnya Melvin memutuskan untuk mencegat Lilian di jalan pulang menuju rumahnya.
"Jika gue nggak bisa dapetin lo maka jangan harap orang lain bisa memiliki lo!! Sekarang pilih, datang sendiri ke pelukan gue atau perlu gue paksa?!" Marah Melvin.
"Gue nggak sudi!!" Jawab Lilian dengan sangat tegas.
Melvin mengepalkan tangannya kuat kemudian memberi kode kepada teman-temannya untuk memegang Lilian.
"Berhenti!!" Kesal Lilian sambil berjalan mundur.
Kedua teman Melvin tidak menghiraukan ucapan Lilian, keduanya terus saja maju dan berusaha memegang kedua tangan Lilian. Namun Lilian tidak ingin terlihat lemah, meski ia kalah jumlah namun tetap saja ia harus melawan.
Sebelum kedua teman Melvin berhasil meraih tangan Lilian, gadis itu terlebih dahulu melayangkan tendangannya ke kanan kemudian memukul wajah salah satu Pria yang berusaha meraih tangan kirinya.
Lilian memasang kuda-kuda agar siap melawan orang-orang yang berusaha menahannya. Kedua orang yang Lilian tendang dan pukuli tadi kembali maju untuk menyerang Lilian. Namun sayang sekali langkah Lilian lebih cepat sehingga gadis itu dapat menghindar dari kesua Pria itu.
Tidak hanya menghindar, Lilian bahkan melawan dan memberikan pukulan kepada kedua teman Melvin sampai keduanya tidak dapat lagi melawan Lilian.
Napas Lilian mulai ngos-ngosan karena harus melawan dua Pria yang memiliki badan lebih besar darinya. Meski lelah namun Lilian harus tetap bertahan sampai akan ada orang yang akan melewati jalan itu kemudian menolongnya.
"Bodoh!! Melawan gadis kecil aja nggak bisa!!" Marah Melvin sambil menendang kedua temannya kesal.
"Frans, Yoga, pegangi dia!!" Tunjuk Melvin ke arah Lilian.
Kedua teman Melvin menuruni motornya kemudian berjalan santai ke arah Lilian. "Sebaiknya lo nyerah aja ... Pria itu sangat sadis kalau lagi marah." Kata Frans sambil tersenyum kecil kearah Melvin yang masih tidak melepas tatapannya kearah Lilian.
Lilian mendengus pelan. "Teman lo itu bukan tipe gue!" Ketus Lilian.
"Alahhh banyak omong lo! Kalau bukan lo gadis yang di sukai oleh Melvin ... Udah gue botakkin lo sekalian biar mampus!!" Kesal Yoga tidak sabaran.
"Di sukai olehnya adalah bencana buat gue!! Dan bertemu dengan kalian adalah kesialan buat gue!!" Pekik Lilian marah.
"Keknya nih cewek perlu di kasih pelajaran dulu agar nggak ngelunjak!" Yoga mulai mendekati Lilian dengan tatapan tidak sukanya.
Lilian berusaha menghindar namun tangannya sudah di cengkram kuat oleh Yoga. Terpaksa Lilian harus menendang kedua ************ Yoga dengan sangat keras membuat Yoga harus memekik kesakitan.
"**** ... Cewek sialan!! Awww ..." Terdengar ringisan yang lolos dari mulut Yoga.
Lilian beralih menatap kearah Frans yang berdiri tidak jauh darinya.
"Eiitttsss ... Jangan natap gue kek gitu ... Tugas gue cuman megangin tangan lo ... Kalau nggak suka gue nggaka akan maksa." Ujar Frans santai.
"FRANS!! Marah Melvin dari belakang punghung Frans.
Frans menghela napas pelan. "Keknya gue harus nangkep lo deh agar penyakit teman gue kagak kumat." Ujarnya sambil berjalan mendekat kearah Lilian.
Lilian sendiri sudah siap di tempatnya jika sewaktu waktu Frans menyerangnya. Benar saja, jika Lilian tidak sigap maka Frans sudah mengkapnya.
"Lo kecil tapi juga gesit." Ujar Frans santai.
Frans kemudian dengan cepat menyerang Lilian. Meski beberapa kali berhasil menghindar dari serangan Frans namun Lelaki itu berhasil membuat Lilian berada di posisi sulit.
Frans berhasil mengunci kedua tangan dan pergerakan dari Lilian. Meski masih dalam posisi sulit, Lilian masih bisa terlepas dari kungkungan Frans.
"Jangan bergerak! Gue nggak maksud buat nyakitin lo. Dengerin kata gue, jika lo nurut maka Melvin nggak akan ngelakuin hal buruk ke lo." Ucap Frans dengan nada pelan.
"Gue nggak mau ... Lepas!! Gue mau lihat, hal apa yang akan orang gila itu lakukan terhadap gue!" Ketus Lilian sambil berusaha melepaskan diri.
Tiba-tiba Melvin datang setelah melihat Lilian tidak dapat melepaskan diri dari Frans. "Lo selalu bisa gue andalkan." Ucapnya sambil tersenyum kearah Frans.
Mata Melvin kemudian beralih kearah Lilian yang masih saja berusaha melepaskan diri. "Gue juga bilang apa? Lo akan tetap jadi milik gue, entah lo mau atau tidak." Ucapnya sambil mengelus pipi Lilian.
Lilian semakin memberontak. "Jauhkan tangan kotor lo! Gue nggak sudi!" Ketus Lilian.
Wajah Melvin kembali memerah dan baru saja ia ingin melayangkan tamparannya kearah pipi Lilian, seseorang tiba-tiba datang dan bertepuk tangan dengan sangat keras.
"O o ... Seorang Melvin tidak dapat mengalahkan musuhnya secara langsung dan kini beralih menahan ceweknya. Nggak gantel banget jadi cowok." Ucap Audry dengan seringai sinisnya.
Melvin menatap tajam kearah Audry yang sekarang berdiri dengan bersedekap dada dengan jarak tak jauh darinya. "Lo jangan ikut campur!" Tunjuknya kearah Audry.
Audry tersenyum sinis ke arah Melvin dan Frans yang saat ini sedang menahan pergerakan Lilian. "Gue nggak maksud buat ngeganggu kalian semua." Tunjuk Audry kearah Melvin dan teman-temannya. "Hanya saja gue nggak sengaja lewat dan lo semua ganggu perjalanan gue." Ujarnya santai.
"Lo kalau mau lewat ya lewat aja ... Napa harus buang waktu kita?" Tanya Yoga kesal.
"Lo ..." Marah melvin tertahan saat tangan Audry mengeluarkan sesuatu dan melemparnya tepat ke arah Frans dan Melvin.
Dengan gerakkan cepat, Audry berlari kearah Lilian yang sudah Frans lepaskan kemudian menarik tangan Lilian berlari menjauh. Audry menarik tangan Lilian tidak tahu arah hingga keduanya sampai pada sebuah gedung yang lama tidak terpakai.
"Kita sembunyi disitu." Tunjuk Audry kemudian kembali menarik tangan Lilian bersembunyi di bawah tangga gedung dan di halangi oleh banyak barang.
Terdengar napas ngos-ngosan dari kedua gadis itu. Lilian menatap lama kearah Audry yang menstabilkan napas sambil memeriksa kondisi saat ini.
"Lo ..." Kata Lilian tertahan saat Audry menatap tajam kearahnya.
"Lo bisa diem dulu nggak? Mereka dateng." Kata Audry.
Benar saja, dari arah depan gedung terlihat beberapa orang datang sambil mengengok kiri dan kanan.
"Lilian keluar!!" Teriak Melvin marah. "Audry gue tau lo ada disini bersama Lilian!! Jangan cari masalah dengan gue atau lo akan dapat masalah dari gue!!" Lanjutnya dengan muka memerah.
Audry memberi aba-aba kepada Lilian agar tetap diam dan jangan sampai bersuara yang akan mebuat posisi keduanya di ketahui.
"Audry keluar lo! Gue nggak ada urusan dengan lo ... Serahkan Lilian pada gue dan gue nggak akan gangguin lo!" Ancam Melvin sambil memeriksa sekitar.
Lilian dan Audry tetap saja memilih diam dan tidak bersuara. Hingga akhirnya seseorang datang mendekat kearah tempat Lilian dan Audry bersembunyi. Melihat akan ada ancaman untuknya, Lilian meraih sebatang kayu yang berada di dekatnya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memukul.
Orang yang mendekat adalah Frans, Lelaki itu mebungkukkan sedikit badannya dan menemukan Lilian dan Audry yang sedang bersembunyi. Baru saja Lilian ingin melayangkan pukulannya, Frans menaruh telunjuk di mulutnya dan memberi kode untuk tetap diam. Lilian tentu saja merasa heran namun ia tetap diam sesuai kode dari Frans.
"Lo nemuin mereka?" Tanya Yoga yang tiba-tiba datang.
Frans kembali berdiri tegak dan mengedikkan kedua bahunya. "Gue nggak nemuin kedua cewek itu. Mungkin saja mereka lari kearah lain dan bukan kesini." Katanya santai.
"Gue juga mikirnya gitu ... Bisa saja tuh dua cewek ngambil jalan lain namun Melvin tetap kekeh mikir Audry dan Lilian ada disini." Ujar Yoga sambil mengamati sekitarnya.
"Lo udah meriksa sebelah sana?" Tunjuk Frans ke salah satu bagian gedung.
"Belum." Ucap Yoga.
"Ya udah kita cari kesana ... Siapa tau mereka ada di sana." Kata Frans kemudian menarik Yoga menjauhi tempat persembunyian Lilian dan Audry.
Lilian dan Audry dapat bernapas dengan sangat lega setelah melihat Frans dan Yoga yang berjalan menjauh. Meski posisi mereka aman namun tidak ada antara keduanya yang mau mengelurkan sepatah katapun. Keduanya memilih diam sampai posisi keduanya benar-benar aman.
Setelah lama menunggu, Audry akhirnya memutuskan keluar dari persembunyiannya dan memeriksa keadaan sekitarnnya.
"Sepertinya aman ... Lo bisa keluar." Ucap Audry.
Lilian akhirnya keluar dari persembunyian dan berjalan menuju tempat Audry berdiri. "Thanks ya Kak karena udah nolongin gue." Ucapnya tulus.
Audry melirik Lilian sekilas kemudian membuang napas kasar. "Gue nggak maksud nolongin lo ya! Gue nggak sengaja aja lewat dan lihat lo disana." Ketusnya.
"Tapi tetap aja lo udah nolongin gue." Ucap Lilian sambil tersenyum.
"Lo nggak usah seneng dulu ... Melvin nggak akan lepasin kita gitu aja. Bisa aja dia masih berada dekat sini dan lagi nyari kita." Kata Audry sambil berjalan meninggalkan Lilian.
Lilian mengikuti langkah Audry. "Oh ya Kak ... Tadi lo gunain apa buat lari dari si Melvin itu?" Tanyanya penasaran.
"Bubuk penghilang jejak ... Gue selalu bawa tuh bubuk kemanapun buat jaga-jaga." Kata Audry santai.
Lilian mengangguk pelan. "Oh gitu ... Tadi bukannya teman si Melvin itu nemuin kita? Tapi kenapa dia malah nolongin kita?" Tanyanya lagi.
"Namanya Frans ... Orangnya memang baik, hanya saja dia memilih teman yang payah." Kata Audry sambil memeriksa ke kanan dan ke kiri jalan. "Aman ... Kita lewat sini." Lanjutnya.
"Sudah tau semua temannya jahat ... Masih aja mau temanan ama si Melvin itu ... Kek nggak ada teman lain aja." Gumam Lilian sendiri.
Audry hanya mengedikkan bahu cuek mendengar gumaman Lilian, ia memilih memeriksa jalan sekitar agar keduanya tidak tertangkap oleh Melviln.
"Ngapain lo berdua disini?" Tanya seorang dengan suara berat dari arah punggung keduanya.
Lilian dan Audry seketika menegang, keduanya sampai lupa bernapas karena takut Melvin menemukan keduanya. Dengan gerakkan pelan keduanya membalikkan badan dan menemukan ke empat lelaki yang sangat mereka kenali sedang menatap heran ke arah keduanya.
"Kalian ..." Kata Lilian tertahan kemudian tubuhnya melemas sampai terduduk diatas aspal jalan.
Ke empat lelaki itu tentu saja terkejut melihat Lilian. Dengan cepat ke empatnya berjalan mendekat kearah Lilian.
"Lo kenapa?" Tanya Arion sambil menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Lilian.
Lilan menggeleng pelan namun wajah Arion terlihat panik. "Wajah lo napa membiru?" Taya Arion.
Rein langsung menatap tajam kearah Audry yang berdiri tak jauh dari tempat Lilian terduduk.
"Bukan gue." Ketus Audry dan mebuang wajah ke arah lain.
Lilian menatap sendu kearah Lilian dan mendongakkan wajahnya kearah Rein. "Kak Audry yang udah nolongin gue." Ujar Lilian.
"Nolongin lo dari apaan? Terus napa pakaian kalian terlihat lusuh begitu?" Tanya Mario yang ikut heran.
"Tadi dia di jegal ama si Melvin dan teman-temannya." Kata Audry tanpa mau melihat seorangpun di dekatnya.
"Lahh kok bisa?" Tanya Farrel terkejut.
"Mungkin karena dia pacarnya Arion." Ujar Audry cuek.
Arion mengepalkan tangannya erat kemudian berniat mencari Melvin namun tangan Lilian menahan Arion agar tidak kembali berurusan dengan lelaki itu.
____________________