
Lilian menghempaskan tubuhnya ke salah satu sofa single yang berada di dalam kamarnya. Kedua matanya tertutup rapat dengan tangan terentang. Seharian otak Lilian harus berkerja keras dalam menghadapi Arion yang selalu saja selalu membuatnya merasa bingung dengan perubahan sifatnya yang berubah-rubah. Saat ini yang Lilian inginkan adalah menutup kedua mata dan merilekskan tubuhnya yang terasa sangat pegal.
Setelah menemani Arion makan di salah satu restaurant Jepang, Lilian harus bersabar menemani lelaki itu berkeliling kota Jakarta hingga membuatnya merasa kelelahan. Awalnya Lilian menolak menemani namun Arion selalu saja menggunakan hutang Lilian sebagai ancaman jikalau Lilian tidak mau mengikuti keinginannya.
Alhasil Lilian harus bersabar mengikuti kemanapun Arion pergi meski lelaki itu tidak mempunyai tempat untuk dituju. Arion hanya mengenderai motornya sepanjang jalan hingga akhirnya memutuskan untuk mengantar Lilian pulang setelah hari mulai beranjak sore.
Suara ketukan pintu kembali menyadarkan Lilian dari pikirannya tentang kelakuan aneh dari Arion. Mata indahnya ia buka kemudian kepalanya sedikit ia miringkan ke arah pintu kamarnya berada.
"Siapa?" Tanya Lilian dengan nada lesunya.
"Ini saya Bi Marni Non ... Kesini mau mengantar tas-nya yang tadi di titipi oleh Den Rein." Jawab Bi Marni dari luar pintu.
"Masuk saja Bi ... Pintunya nggak saya kunci kok." Kata Lilian kemudian memperbaiki posisi rebahannya.
Krrreeeeekkkk ....
Setelah membuka pintu, Bi Marni berjalan menuju tempat dimana Lilian berada dengan membawa tas pada salah satu tangannya.
"Ini tas-nya Non ... Mau saya taruh mana?" Tanya Bi Marni.
"Kesini saja Bi." Kata Lilia sambil menerima tas-nya dari tangan Bi Marni.
"Oh iya Mama udah pulang?" Tanya Lilian sambil mencari sesuatu yang berada di dalam tasnya.
"Belum Non ... Nyonya tadi sempat berpesan kalau seandainya malam ini pulangnya sedikit terlambat ... Kalau Non butuh sesuatu atau mau makan sesuatu biar sama Bibi aja." Kata Bi Marni.
Lilian menggeleng kepalanya pelan. "Nggak usah kok Bi ... Tadi Lilian udah makan di luar bareng teman ... Setelah membersihkan diri lebih baik aku tiduran aja karena capek ... Bibi juga nggak perlu panggil Lilian untuk makan malam."
"Baik Non. Saya permisi dulu kalau begitu." Kata Bi Marni kemudian berjalan keluar dari kamar Lilian.
Lilian kembali menghela napas lelahnya setelah melihat ada banyak sekali notif dari teman-temannya. Matanya bahkan melotot melihat ribuah notif masuk diponselnya, bukannya membalas pesan dari teman-temanya, Lilian malah melempar ponselnya dengan sembarang kemudian kakinya melangkah menuju kamar mandi.
Sudah cukup rasa lelah yang Arion berikan kepadanya untuk hari ini, Lilian hanya ingin menggunakan sisa energinya untuk membersihkan diri kemudian berbaring di atas ranjang empuknya untuk melepas rasa lelahnya. Biarkan saja ketiga temannya itu akan menceramahinya besok dengan waktu berjam-jam, tujuannya saat ini hanya ingin beristirahat.
___________________
Lilian berjalan dengan mengabaikan tatapan dari banyak orang disepanjang koridor menuju kelasnya berada. Lilian tahu tatapan itu adalah tatapan penasaran dengan kejadian yang kemarin terjadi antara ia dan Arion.
Kemarin Arion menggendong dan membawanya pergi, hal itu tentu saja akan memunculkan banyak pertanyaan dari para murid tentang apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan.
Tadi sebelum berangkat sekolah, Lilian sempat mengecek ponselnya dan menemukan artikel sekolah yang membahas tentang dirinya dan Arion. Meski Lilian tidak membaca isi dari artikel tersebut namun ia yakin jika artikel itulah yang membuat banyak sekali pasang mata menatap Lilian dengan tatapan menuntut penjelasan. Namun Lilian adalah tipe perempuan yang mengabaikan hal-hal yang menurutnya tidak penting sama halnya dengan kejadian yang sekarang ini terjadi, Lilian hanya berjalan cuek dan mengabaikan tatapan banyak orang terhadapanya.
Langkah kaki Lilian terus saja berjalan maju menuju kelasnya berada. Untuk sesaat kening Lilian mengerut menatap banyak sekali murid perempuan bahkan laki-laki berkumpul diluar kelasnya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi disana? Mengapa banyak sekali orang?" Gumam Lilian pelan.
Lilian terus saja berjalan mendekati kelasnya hingga terdengar suara salah satu dari murid perempuan. "Itu dia orangnya." Sambil menunjuk ke arah Lilian berada.
Lilian kembali mengerutkan keningnya namun kakinya tetap saja bergerak ke arah pintu kelasnya berada.
"Eh lo yang namanya Lilian kan? Siswi pindahan dari bandung?" Tanya Seorang murid perempuan yang tidak ia kenal.
"Benar ada apa?" Tanya Lilian sambil melihat sekitarnya.
"Jelasin ke kita semua ... Apa hubungan lo dengan Arion?" Tanya gadis itu yang disetujui oleh murid lain yang berada di belakangnya.
Lilian hanya menatap malas ke arah para murid tersebut. "Apa kalian tidak punya pekerjaan lain? Pagi-pagi buta begini kalian malah berkumpul disini dan menanyakan hal yang nggak penting begitu."
"Ehhh nggak usah bertele-tele deh lo ... Tinggal jawab aja susah amat." Ketus seorang murid perempuan lainnya.
"Gue nggak punya kewajiban untuk menjelaskan hubungan gue dengan Kak Arion pada kalian semua ... Akan lebih baik jika kalian melakukan hal-hal yang lebih berguna di pagi hari seperti ini." Kata Lilian.
"Lo pikir kita nggak punya pekerjaan lain? Kita luangkan waktu buat datang kesini untuk menanyakan hal penting ini. Kami semua tergabung dalam komunitas fans dari Geng Andromeda ... Beberapa waktu lalu lo terlihat dekat dengan Rein namun kejadian kemarin sepertinya lo sedang berniat mendekati semua anggota dari Geng Andromeda! Sebagai salah satu penggemar dari Arion tentu saja kami merasa tidak terima dengan kelakuan ja**ng lo!!" Kata salah seorang murid sambil berkacak pinggang dihadapan Lilian.
"Kalau begitu kenapa nggak lo tanyain secara langsung saja pada Kak Arion dan malah datang bertanya pada gue? Jujur gue nggak punya waktu buat ladenin kalian? Sebaiknya berikan gue jalan agar gue bisa masuk ke kelas." Kata Lilian sambil mencari celah untuk memasuki kelasnya.
"Lo kayaknya memang nggak tahu diri ya ... Posisi lo sekarang adalah murid baru jadi jangan membuat masalah dengan kita-kita atau nggak lo akan ..." Ucapan murid itu terputus tat kalah suara cempereng seseorang menyela dari belakang punggung Lilian.
"Akan apa? Mau apa lo? Nggak usah ngancam-ngancam teman kita ya ... Posisinya kalian yang datang kesini dan mencari masalah dengan Lilian. Memangnya kenapa kalau Lilian punya hubungan dengan Kak Arion dan Kak Rein? Apa masalahnya dengan kalian? Kalian semua bukan teman, sahabat dan lebih nggak mungkin lagi adalah kekasihnya jadi kalian nggak punya hak buat nggak suka pada Lilian karena dekat dengan anggota Geng Andromeda." Kata Laura tanpa jeda sedikitpun.
"Ehh lo nggak usah ikut-ikutan ya ... Kita nggak punya masalah dengan lo jadi sebaiknya lo pergi aja karena kehadiran lo nggak kami butuhkan di sini." Ketus salah satu murid perempuan lainnya.
"Eehhh siapa yang disini seharusnya pergi? Sebaiknya Mata kalian semua diperiksa ke dokter agar nggak rabun atau katarak! Nggak lihat tulisan didepan kelas ini bertulis X Mia 1 yang berarti kelasnya kita. Kehadiran lo semua disini hanya sebagai pengganggu dan sebaiknya lo semua pergi dari depan kelas kita!!" Ketus Gladis dengan tatapan tajamnya.
"Lo bertiga yang nggak berkepentingan kalau mau masuk ya masuk saja! Kita disini hanya punya masalah dengan dia." Tunjuknya ke arah Lilian.
"Masalah Lilian adalah masalah kita juga ... Sebagai sahabatnya kami nggak akan ninggalin dia. Memangnya masalah apa yang kalian punya dengan Lilian? Setahu gue selama Lilian bersekolah disini ia nggak pernah tuh cari masalah dengan lo semua!!" Kesal Meira dengan mata melotot.
"Diem deh lo!! Teman lo itu yang dengan beraninya merayu anggota dari Geng Andromeda ... Sebagai penggemar mereka tentu saja kami tidak rela jika teman ja**ng kalian itu menggoda mereka."
"Ehh jaga ucapan lo ya! Memangnya mereka kenal lo? Yang gue lihat sepertinya kalian lah yang berusaha menggoda mereka namun tampang kalian terlalu mur***n sehingga mereka nggak tertarik!" Marah Lilian akhirnya. Kesabaran Lilian sebenarnya benar-benar di uji dalam beberapa hari belakangan ini.
Murid-murid itu tampak melotot dan terlihat marah. "Dasar ya lo semua!" Kesal seorang gadis dan berniat maju menyerang Lilian dan ketiga temannya.
"Ehhh lo semua ngapain ngumpul disini? Perasaan nggak ada pembagian sembako disini, tapi kenapa rame?" Kata Denis yang datang bersama teman sekelas Lilian lainnya.
"Lo semua mau labrak Lilian ya? Awas aja lo semua gue laporin sama Pak Fadli karena sudah mengganggu ketenangan kelas kami." Kata Bimo yang tidak mau bertele-tele.
"Ehh diam deh lo semua! Kalau mau masuk ya masuk aja ... Disini kita hanya punya urusan dengan ana ini." Tunjuknya ke arah Lilian.
"Eehhh kecebong! Bentar lagi mau bel masuk ... Sebaiknya lo semua pergi ... Kalau nggak biar kita laporin lo semua ke Pak Fadli. Tau rasa lo pada kalau di hukum bersihin toilet sekolah.
Semua murid yang berkumpul menunggu kedatangan Lilian menatap satu sama lain. Sungguh mereka tidak ingin mendapatkan hukuman itu, meski rasa penasaran mereka masih belum terjawab namun mereka lebih baik memilih pergi dari pada harus membersihkan toilet sekolah.
Satu persatu mereka akhirnya bubar dan hanya meninggalkan murid-murid dari kelas X Mia 1 saja.
"Nahhh gitukan enak." Kata kamal sambil memeluk dada.
Setelah kepergian para murid itu, Gladis langsung menarik tangan Lilian untuk memasuki kelasnya. Setelah berhasil duduk di kursinya tatapan murid dikelas Lilian langsung menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.
"Orang-orang tadi mungkin nggak punya hak untuk bertanya ... Namun karena kami adalah teman lo dan juga bagian dari lo maka sudah seharusnya lo jelasin ke kita semua tentang kejadian kemarin." Kata Gladis dengan wajah seriusnya.
Entah sudah ke berapa kalinya Lilian menghembuskan napas namun ia tetap harus menjelaskan semuanya kepada teman-tamannya.
"Kak Arion bawa gue pergi hanya mau nagih hutang." Kata Lilian dengan wajah kesalnya.
"Nagih hutang? Jelaskan lebih detail lagi." Tuntut Laura.
"Sebelumnya gue punya kewajiban buat traktir Kak Arion makan selama seminggu ... Kemarin adalah hari ketiga gue traktir, makanya Kak Arion bawa gue pergi." Jawab Lilian manyun.
"Masa itu doang?" Tanya Gladis tidak percaya.
"Ya mau apa lagi?" Tanya Lilian kesal.
"Kenapa Kak Arion harus gendong dan bawa lo pergi?" Tanya Denis yang sejak tadi juga ikut nimbrung.
"Karena gue nggak mau ikut bareng dia ... bayangin aja gue lagi belajar tapi dipaksa pergi hanya karena harus bayarin dia makan." Lilian semakin kesal mengingat kejadian yang kemarin.
"Udah gitu gue harus bayarin dia makan di restaurant Jepang. Habis uang jajan gue ..." Kesal Lilian.
"Bukanya itu bagus ya Lilian? Selama ini Kak Arion nggak ngijinin siapa pun untuk mendekatinya ... Kemarin dia sendiri loh yang datang dan bawa lo pergi. Bu Rita aja sampai nggak bisa nahan dia pergi." Kata Laura dengan mata berbinar.
"Dari mana letak bagusnya? Yang ada apes gue ... Apalagi gue harus ngutang lagi." Kata Lilian dengan raut wajah kesal.
"Cantik-cantik kok ngutang." Gurau Kamal.
Gladis menatap Kamal dengan raut wajah tidak sukanya. "Diem deh lo! Kalau ucapan lo nggak mutu lebih baik lo diam aja."
"Judes amat sih lo ... Becanda gue." Ucap Kamal.
"Udah ahh ... Kenapa sih tiap kali kita lagi bahas sesuatu kalian berdua pasti berantem melulu ... Ada pepatah yang mengatakan kalau benci bisa saja berubah jadi cinta." Kata Denis dengan senyum menggodanya.
"Bener banget deh tuh ..." Kata Meira menimpali.
"Diem deh lo semua! Kenapa jadi bahas gue sama Gladis sih ... Fokus ke Lilian aja." Ucap Kamal sambil mengetuk meja yang sekarang ia duduki.
"Kenapa gue?" Tanya Lilian.
"Ya karena lo sekarang jadi trending topic di akun media sosial sekolah. Gileee lo Lilian ... Baru pindah ke sini langsung terkenal di satu sekolah." Ujar Bimo kagum.
"Kenapa nggak kita manfaatkan saja ketenaran Lilian saat event sekolah nanti diadakan?" Usul Denis tiba-tiba.
"Apa maksud lo manfaatin gue?" Tanya Lilian mulai emosi.
"Aissshhh jangan marah dulu. Sebentar lagi sekolah akan mengadakan event. Gue dengar osis akan membebaskan setiap kelas untuk memilih apa saja yang ingin dijual dan ditampilkan pada saat itu. Nahhh mumpung kabar Lilian lagi hot-hotnya kita gunain kesempatan itu untuk menampilkan sesuatu yang Lilian miliki." Jelas Denis dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Memangnya apa yang gue miliki? kalian semua pasti udah tau kalau Anak-anak dari Florenzo School sedang dalam keadaan marah ama gue gara-gara masalah kemarin." Kata Lilian.
"Ehh lu nggak tau aja kelakuan +62, mulut doang bilang kesal ama lo namun dalam hati masing-masing pengen jadi kek lo. Gue sih setuju-setuju aja dengan usulan Denis, secara Lilian itu cantik kenapa nggak tampilkan aja kecantikannya nanti pas di event, anak cewek lainnya juga boleh ikut kok." Kata Bimo memberi usul lagi.
"Tuhh kan ... Kita ntar akan tampilkan kecantikan dari princess-princess X Mia 1, namun untuk rencana lebih lanjutnya akan kita bahas lebih lanjut lagi. Untuk sekarang fokus dulu selesain masalah Lilian yang selalu di labrak murid dari kelas lain." Kata Denis.
"Benar juga ... Kita dari tadi bahasnya kok mutar-mutar ya? Jadi bingung gue." Kata Gladis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lo aja yang bege." Ujar Kamal tanpa sadar.
"Diem deh lo! Atau mau gue timpuk pakai sepatu?" Tanya Gladis yang mulai membuka sepatunya.
"Haaaaissss mulai lagi." Kata semua orang serentak melihat kelakuan Gladis dan Kamal.
Tidak lama setelahnya bel masuk pun berbunyi. Semua orang membubarkan diri kemudian kembali ke meja mereka masing-masing untuk menerima pelajaran.
_____________________
Maaf ya part ini keknya gaje banget ... Dua hari terakhir Author lagi punya masalah yang lumayan ribet. Karena masalah itu bikin Author nggak fokus buat nulis ... Biasanya lihat komenan raiders bisa memunculkan inspirasi baru buat nulis namun karena masalah yang Author hadapi dua hari terakhir benar-benar buat Author nggak fokus.
Mudah-mudahan masalah Author cepat selesai biar kedepannya tetap lancar UP. Author juga janji bakalan ganti part untuk dua hari yang kemarin Author nggak UP.
Sekali lagi Author minta maaf ya 🙏🙏🙏🙏🙏