Lilian

Lilian
Apartemen Arion



Lilian membuka matanya dengan perlahan dan mulai menyusuaikan pencahayaan disekitarnya. Ia merasa bingung melihat warna cat dinding disekitarnya berwarna abu-abu sedangkan kamarnya berwarna putih tulang dengan kombinasi warna peach.


Lilian kemudian mendudukan dirinya dan mengamati benda-benda di sekitar tempat ia berbaring. Barang-barang disekitarnya terlihat seperti barang milik laki-laki dan aroma kamar tersebut khas milik laki-laki.


"Kenapa gue bisa ada disini?" Batin Lilian sambil mengingat kejadian sebelumnya.


"Astagaaaa ... Apa yang telah gue lakuin?!" Tanya Lilian ke dirinya sendiri sambil menepuk jidatnya keras.


Lilian kembali mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami selama ia berada disekolah. "Tadi gue sama Kak Arion duduk dilapangan untuk mengobati luka ... Tidak lama ..." Ucapanya menggantung saat ingatan akan kejadian tadi pagi dapat ia ingat dengan sangat jelas.


"Bodoh ... Bodoh ... Bodoh!" Ucapnya kesal sambil memukul pelan keningnya. "Kenapa gue bisa sampai kelepasan? Gawat ... gawat ... gawat ... malu banget gue anjiirrr." Lilian mulai mengguling-gulingkan badannya diatas ranjang yang sekarang ia tempati.


"Terus gue ada dimana ini? Masa iya UKS modelannya kek begini?" Gumamnya sendiri namun kemudian ia kembali menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri.


Terlihat seseorang memasuki kamar tersebut tanpa Lilian sadari. Orang itu adalah Arion, niatnya ia ingin mengecek Lilian sadar atau belum namun yang sekarang tengah ia lihat adalah sesuatu yang terlihat menggulung dibalik selimut.


"Bukannya waras lo tambah nggak waras setelah sadar." Ujar Arion dengan nada dinginnya.


Lilian berhenti menggerakkan badannya kemudian memunculkan kepalanya agar ia bisa melihat orang yang sedang berbicara dengannya.


"Apa lo bilang?! Ketus Likian tidak suka kemudian ia melepas semua selimut yang membelenggu seluruh tubuhnya.


"Apa yang lo lakuin disini?" Tanya Lilian lagi dengan tatapan curiganya.


Arion tidak menanggapi pertanyaan Lilian, ia hanya berjalan ke salah satu kursi yang langsung berhadapan dengan posisi Lilian.


"Terserah gue mau ngapain disini?" Ucap Arion masih dengan nada datar dan dinginnya.


"Dasar! Lo mau ngambi kesempatan dalam kesimpatannya?" Tanya Lilian mulai kesal.


"Kesempatan apa yang harus gue ambil dari lo? badan rata dan kekurangan gizi kek gitu ... Nggak ada bagus-bagusnya." Kata Arion dengan santainya.


Lilian kesal mendengar kata-kata Arion, lelaki itu dengan mudahnya mendiskripsikan bentuk badan Lilian tanpa ada sedikitpun rasa malu di wajahnya.


"Mulut lo kurang di ajar ya! Bentuk badan gue ini adalah bentuk badan yang di inginkan oleh banyak gadis ... Kakak yang memiliki pikiran kolot begitu mana bisa mengerti dengan hal-hal semacam ini." Ketus Lilian.


Arion menghela napas pelan mendengar ucapan Lilian. Semakin lama ia meladeni Lilian maka akan semakin lama pula ia terbebas dari gadis cerewet itu.


"Cepat makan makanan mu! Setelah selesai baru gue antar lo pulang!" Ucap Arion dengan nada penuh perintah.


"Memangnya gue sekarang berada dimana?Tanya Lilian penasaran.


"Apartemen gue." Jawab Arion sambil menyenderkan punggungnya ke belakang kursi.


Mata Lilian terbuka lebar mendengar ucapan Arion. "Kenapa Kakak bawa gue kesini?! Kalau ada yang lihat nanti kita dikira ngapa-ngapain lagi!" Kesal Lilian kemudian berniat meninggalkan ranjangnya.


"Makan!" Nada suara Arion mulai meninggi karena merasa Lilian tidak mendengarkan ucapannya.


"Kita nggak cuman berdua! Rein, Mario dan Farrel juga berada disini. Mereka sekarang ada diruang keluarga." Jawab Arion kesal.


Lilin hanya ber oh ria kemudian memakan makanan yang telah disiapkan oleh pengurus apartemen milik Arion. Sejak Lilian tidak sadarkan diri tadi pagi, Arion membawa Lilian pulang ke apartemennya tempat ia dan teman-temannya jadikan sebagai bascapm.


"Setelah makan gue antar lo pulang!" Ucapnya dengan wajah raut dingin.


"Nggak perlu ... Gue telepon supir aja buat jemput." Kata Lilian sambil menyuapi makanan ke mulutnya.


Arion tidak menjawab, biarkan gadis itu melakukan hal yang ia inginkan. Setelah melihat Lilian tadi pagi menangis, Arion menjadi tidak tega padanya dan untuk hari ini biarkan gadis itu melakukan hal yang ia inginkan selama itu membuatnya jauh lebih tenang.


Setelah menyelesaikan makananya, Lilian kemudian menatap ke arah Arion dan menjulurkan tangannya ke arah Arion untuk meminta sesuatu.


Arion yang tidak tahu maksud dari Lilian hanya menatap gadis itu dengan raut wajah datarnya kemudian Arion berjalan menuju salah satu meja dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang berwarna merah dari dompetnya.


"Gue nggak butuh uang Kakak! Berikan ponsel gue!" Kata Lilian sambil menjulurkan tanganya kembali ke arah Arion.


"Gue nggak tahu dimana ponsel lo." Jawab Arion tenang.


Lilian membulatkan mata sempurna mendengar jawaban Arion. "Lo hanya bawa gue kemari sendiri tanpa ransel atau ponsel gue?" Tanya Lilian memastikan.


Arion mengangguk cuek. "Saat dilapangan lo nggak bawa apa-apa."


Lilian meremas selimutnya dengan kasar. "Kalau begitu bagaimana gue bisa menghubungi supir rumah? Ponsel saja nggak punya." Kesalnya kemudian ia kembali menatap ke arah Arion.


"Pinjam ponsel lo aja." Pinta Lilian sambil menjulurkan tanggannya.


"Jika lo lupa maka gue bakal ngingetin. Tadi pagi ada cewek aneh yang datang ke lapangan dan mencuri ponsel gue." Jawab Arion dengan nada cueknya.


"Enak aja! Gue bukan pencuri! Sembarangan saja ..." Kesal Lilian kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel Arion.


Saat Lilian ingin menghubungi supir untuk menjemputnya, ternyata daya ponsel Arion sejak dari tadi habis. Lilian melempar asal ponsel itu sambil mengusap pelan wajahnya.


"Bangun! Gue yang antar!" Ucap Arion dingin.


"Nggak bisa! Sejak pagi gue bolos dan tidak memberikan kabar pada Mama. Jika Mama dan Papa tahu hari ini gue bolos dan pulang diantar cowok maka tamat sudah kebebasan yang gue miliki." Kata Lilian merasa putus asa.


"Masalah sekolah udah gue tangani dan untuk Mama dan Papa lo tinggal jelasin saja kejadian yang sebenarnya." Ucap Rein yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu bersama ke dua temannya.


"Hai Lilian ... Apakah lo udah baikan?" Tanya Farrel kemudian memasuki kamar Arion.


Lilian mengangguk pelan. "Terima kasih karena udah nolongin gue." Ucap Lilian tulus.


"Gue rasa Arion jauh lebih berhak mendapat ucapan itu ... Karena dialah yang telah menolong mu." Kata Mario.


Lilian menatap Arion kemudian ia menundukkan sedikit wajahnya karena malu. "Terima kasih atas pertolongan mu." Ucapnya tulus.


Bukannya menjawab ucapan terima kasih dari Lilian, Arion malah berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah pintu keluar kamar.


"Cepat berdiri! Lo gue antar sekarang!" Ujarnya kemudian berjalan meninggalkan Lilian dan ketiga temannya.


Tidak ingin membuat Arion menunggu, Lilian akhirnya dengan cepat mengibas selimutnya dan berlari mengejar langkah Arion.


"Gue pulang dulu ya Kakak-Kakak semua!! Sekali lagi terima kasih." Ucap Lilian sebelum menghilang dari hadapan ketiga teman Arion.


Setelah keluar dari pintu apartemen Arion, Lilian mengejar Arion yang terlebih dahulu memasuki lift. Apartemen yang Arion tempati adalah salah satu bangunan milik Ganendra Grub dan memiliki 23 laintai. Apartemen yang Arion tempati sekarang berada di lantai ke 23.


Sebelumnya Arion berniat membawa Lilian ke mensionnya namun niatnya ia urungkan di karenakan mensionnya terdapat banyak orang. Akan sangat merepotkan jika ia harus menjelaskan kepada orang lain tentang hubungan Lilian dengannya.


Hingga akhirnya ia memutuskan membawa Lilian ke apartemen miliknya, selain jaraknya dekat dengan sekolah mereka, apartemen Arion juga memiliki pengamanan yang kuat sehingga tidak akan banyak yang tahu jika Arion membawa salah satu gadis ke dalam kamar apartemennya.


Setelah beberpa waktu, Lilian dan Arion akhirnya sampai dilantai dasar tempat parkir mobil ataupun kendaraan lainnya. Lilian hanya berjalan mengekor ke belakang Arion tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Keduanya memasuki mobil namun sebelum Arion menyalankan mesin mobilnya, Arion menatap wajah Lilian dengan sangat intens dan membuat Lilian merasa bulu kuduknya berdiri.


"Siapa orang yang kau panggil Seint?" Tanya Arion yang berhasil membuat Lilian tertegun.


 


Maaf karena part kali ini mungkin sedikit pendek, kondisi Author tidak memungkinkan untuk menulis lebih banyak lagi.


Akan ada banyak typo atau kata-kata yang tidak nyambung dikarenakan Author memaksakan diri untuk UP. Sekali lagi Author minta maaf ya 🙏🙏🙏