
Lilian mengerjapkan mata berkali-kali mendengar ucapan dari Arion. Raut wajah lelaki itu sangat serius dan tidak ada tanda-tanda kebohongan yang terpancar dari matanya.
"Tadi itu gue salah denger atau gimana ya?" Batin Lilian sambil mengerutkan kening.
Tidak ada yang mau mengeluarkan suara, baik itu Lilian ataupun Arion. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sampai tidak menyadari keadaan sekitarnya.
"Ngapain lo berdua?" Terdengar suara Rein dari belakang punggung Arion.
Sontak saja Lilian mendorong dada bidang Arion dengan sangat keras sehingga lelaki itu terdorong selangkah ke belakang dan memberi celah kepada Lilian untuk melepaskan diri.
"Nggak lagi ngapa ngapain." Jawab Lilian cepat dengan menggelengkan kepalanya.
Rein menatap curiga keduanya namun hanya sebentar. "Ya udah, ayok pulang!" Ajaknya sambil mengulurkan tangan.
"Dia pulanh bareng gue." Kata Arion dengan raut wajah dinginnya.
Rein menghela napas pelan. "Gue lelah dah mancing lo seharian ... Jadi biarkan kami pulang dengan tenang. Agar gue cepat tidur dengan nyaman."
Arion sedikit mengerutkan kening mendengar ucapan dari Rein. "Maksud lo?" Tanyanya.
"Dah lah ... Jelasinnya kapan-kapan aja. Lebih baik sekarang kita pulang, gue capek nungguin lo berdua yang sejak tadi nggak balik-balik." Kata Rein dengan wajah lelahnya.
Arion menatap tak suka kearah Rein. "Dia tetap balik ama gue." Ketusnya.
"Ehhh ... Batu! Lo mau jelasin apa ke Tante Efina ntar? Lo sendiri dengarkan Tante Efina ngomong apa tadi di telepon? Jangan naruh curiga yang berlebihan ama gue ... Gue ini saudaranya Liliah. Gila bener kalo lo mikir gue yang aneh-aneh." Kesal Rein.
"Kak Rein benar ... Mama taunya Kak Rein yang akan ngantar gue pulang. Mama bisa mikir lain jika gue pulang bukang dengan Kak Rein." Ucap Lilian sambil menatap ragu kearah Arion.
Arion menatap Rein dengan tatapan malasnya. "Baiklah." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Lilian dan Rein.
_____________________
Lilian merasakan bulu-bulu halus sedang bergerak membelai wajahnya dengan sangat lembut. Bukannya terbangun dari tidurnya, Lilian semakin mempereerat selimut yang menggulung seluruh tubuhnya.
Meong ... Meong ... Meong ...
Terdengar suara Citto yang berusaha membangunkan Lilian dati tidur nyeyaknya.
"Sebentar lagi Citto ... Aku masih ngantuk." Ucap Lilian tanpa membuka matanya.
Meong .... Meong ... Meong ...
Citto terus saja bersuara sehingga membuat Lilian mau tidak mau harus membuka kedua matanya dan menatap ke arah kucing itu.
"Kau sepertinya tidak akan berhenti mengomel sebelum aku bangun." Ucap Lilian suara seraknya.
Citto menggigit kecil selimut yang menggulung seluruh tubuh Lilian.
"Iya ... Iya ... Ini aku bangun." Kesal Lilian kemudian menyibak selimutnya. "Tunggu di sini ... Aku mau mandi dulu." Setelah mengatakan itu, Lilian langsung memasuki kamar mandi.
Tidak lama setelahnya Lilian keluar dari kamar mandi dengan baju seragam lengkap yang melekat di tubuhnya. Lilian kemudian berjalan menuji meja riasnya kemudian menarik kursi kecil yang berada dekat dengan meja riasnya.
Lilian menyisir rambutnya ke belakang kemudian menyapu sedikit bedak tabur di wajahnya dan memakai sedikit lip-gloss berwarna nude ke bibirnya. Tidak lupa pula Lilian menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.
Setelah puas dengan penampilannya, Lilian berjalan ke meja belajarnya dan memasukan beberapa buku yang ia butuhkan ke dalam tas. Setelah semua persiapannya sudah selesai, Lilian akhirnya mengenakan sepatu sport warna peach dan menyampirkan tas dipunggungnya.
"Ayo Citto kita turun." Ajak Lilian dan langsung memeluk Citto.
Lilian berjalan bersama Citto dipelukannya menuju meja makan yang sudah di isi oleh kedua orang tuanya.
"Pagi Pah ... Mah ..." Sapa Lilian.
"Pagi." Balas Efina dan Rahadian barengan.
"Bi Marni di mana Mah?" Tanya Lilian.
"Ada di belakang .... Ada apa?" Tanya Efina sambil memberikan roti yang sudah ia olesi ke arah Lilian.
"Bi Marni udah siapin makanan Citto belum?" Tanya Lilian sambil memakan rotinya.
"Udah ..." Jawab Efina.
Dari arah belakang Bi Marni datang dengan membawa makanan di tangannya kemudian langsung di berikannya pada Citto.
"Tadi malam ... Rein napa ndak mampir? Tanya Efina sambil menatap serius ke arah Lilian.
"Katanya capek ... Mau langsung istirahat. Mainnya kapan-kapan aja, gitu katanya." Jelas Lilian.
Efina mengangguk kecil kemudian menatap ragu ke arah Lilian. "Lalu siapa lagi yang juga ikut ngantar kamu semalam?" Tanyanya.
Lilian menghentikan kunyahannya kemudian menatap heran ke arah Efina. "Kenapa mah?" Tanyanya.
"Nggak ... Tadi malam Mama lihat selain Rein ada motor lain yang juga ikut ngantar kamu pulang." Jalas Efina. "Siapa?" Tanyanya lagi.
"Teman-temannya Kak Rein." Jawab Lilian.
"Arion juga temannya Rein?" Tanya Efina ragu.
Lilian mengangguk pelan. "Iya ... Kak Mario dan Kak Farrel juga. Di sekolah kemana mana mereka selalu berempat ... Jadi kalau Kak Rein ngantar Lilian, otomatis yang lain juga pasti ikut ngantar." Jelas Lilian sambil memakan rotinya lagi.
"Kamu juga ikut dekat dengan ketiga temannya Rein?" Tanya Rahadian yang sejak tadi hanya diam.
Lilian tampak berpikir sebentar kemudian mengangguk pelan. "Bisa di bilang begitu." Jawabnya, kemudian meminum minuman yang ada di depannya.
"Dari ketiganya, mana yang kamu suka?" Tanya Rahadian to the point.
Lilian hampir tersedak minumannya sendiri mendengar pertanyaan dari Rahadian. "Papa nanya apaansih." Ucap Lilian sambil menyimpan kembali gelas sisa minumannya.
"Papa perlu tau." Kata Rahadian dengan wajah serius.
Lilian menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Napa sih? Ada yang aneh dari mereka?" Tanya Lilian penasaran.
"Lilian ... Orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi seperti mereka tentu saja memiliki ikatan dengan keluarga lain yang juga memiliki kedudukan tinggi. Papa perlu memastikan orang yang kamu suka." Kata Rahadian dengan raut wajah seriusnya.
Lilian tertegun mendengar ucapan dari kedua orang tuanya. Lagi-lagi masalah status dan kedudukan tinggi yang menjadi kendala dalam kehidupannya. Sejak terbangun dari koma dan bersekolah di Florenzo School, orang-orang selalu mementingkan status dan kedudukan yang di miliki oleh seseorang. Semakin tinggi kedudukan yang di miliki oleh seseorang maka akan semakin banyak orang yang akan menghormatinya. Namun beda halnya jika orang tersebut tidak memiliki kedudukan, ia akan di pandang rendah dan akan di kucilkan dari banyak orang. Seperti kisah yang pernah kedua orang tua Lilian alami.
"Papa ingin kamu mendapatkan orang yang kamu sayangi. Namun jika orang yang kamu suka ada diantara ketiga temannya Rein ..." Ucap Rahadian ragu.
"Maka status sosial mu adalah hal pertama yang akan orang-orang itu cari tau." Lanjut Efina.
Lilian menghela napas pelan kemudian berdiri dari duduknya. "Lilian tau apa maksud kalian." Katanya dengan raut wajah sedih. "Lilian berangkat dulu, takutnya akan telat." Lalu mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.
Lilian berjalan dengan lesu meninggalkan Efina dan Rahadian yang menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Memangnya apa yang ia pahami?" Tanya Efina dengan bingung ke arah Rahadian.
Rahadian menggeleng pelan tanda tidak tahu. "Apakah Lilian akan menyerah?" Tanyanya.
"Jika dia betul adalah anak mu, maka dia tidak akan menyerah begitu saja" Jawab Efina dengan nada santai.
Rahadian hanya menghela napas pelan dan memijit pelan keningnya mendengar ucapan dari Efina.
_________________
Lilian berjalan dengan tidak semangat menuju kelasnya. Mendengar ucapan kedua orang tuanya tadi membuat Lilian tidak bersemangat dan tidak memiliki tenaga untuk menjalani harinya.
"Rasanya ingin sekali untuk bolos ... Tapi sudah terlanjur sampai sini mai bolos kemana." Gumam Lilian lesu dengan wajah tertunduk.
Lilian terus saja berjalan menunduk tanpa mau melihat jalan di depannya. Hingga akhirnya ia menabrak seseorang dan membuat tubuhnya mundur beberapa langkah.
"Awwww ..." Desis Lilian pelan sambil memegang keningnya sakit karena telah menabrak seseorang.
"Eh cewek gagal move on. Jalan tuh pakek mata ... Biar lo nggak nabrak orang. Datang sekolah bukannya semangat ... Ini malah kek kain kusut aja tuh muka." Ujar Rama dengan kesua tangan terlipat ke depan dada.
Lilian menatap malas ke arah orang yang tidak sengaja ia tabrak. "Jalan tuh pakek kaki dan males amat gue harus lihat muka lo pagi-pagi gini." Kesalnya.
Rama membuang napak kecil mendengar ucapan Lilian. "Ehhh gagal *move o*n ... Ceritanya lo yang nabrak gue, tapi napa malah lo yang ngegas?" Tanya Rama dengan sedikit meninggikan suaranya.
Lilian yang sejak tadi mood-nya memburuk kini semakin memburuk karena harus bertemu dengan Rama. Orang yang notabene menjadi kandidat pertama yang selalu sukses menyulut emosi Lilian.
"Suka-suka gue lah ... Mulut ... Mulut gue! Awas gue mau lewat! Males pagi-pagi ladenin lo!" Ketus Lilian.
"Ehh bocah ... Lo kudu minta maaf dulu ke gue. Main pergi-pergi aja." Ujar Rama sambil menahan Lilian agar tidak pergi.
Lilian sebisa mungkin menahan emosinya agarbtidak meledak tiba-tiba. "Baiklah ... Maaf ya tadi gue udah nabrak lo." Kata Lilian dengan raut wajah datar.
"Lo ngucapinnya kek nggak ikhlas gitu. Kalau minta maaf itu harus natap orangnya dan gunakan nada yang sangat lembut." Kata Rama sambil tersenyum ke arah Lilian.
"Mintaa maaf aja pakek banyak banget aturannya. Intinya gue udah minta maaf! Biarkan gue lewat ... Males gue berantem pagi-pagi sama lo. Mood gue udah memburuk jadi tolong jangan nambah mood gue semakin memburuk!" Ketus Lilian kemudian berusaha melangkah meninggalkan Rama.
Rama kembali menarik tas Lilian sehingga gadis itu kembali berdiri berhadapan dengannya. "Lo napa sih pagi-pagi udah jutek aja? Pagi-pagi tuh lo harusnya udah senyum, jangan kek kain kusut." Ujarnya.
"Lo jangan ngelunjak ya ... Udah gue kasih baik juga dari tadi. Masih baik emosi gue nggak meledak." Lilian mulai kesal.
"Memangnya apa yang akan terjadi kalo lo kesal? Gunung berapi akan meletus?" Gurau Rama.
Lilian mengepalkan tangan erat kemudian menabrak tubuh Rama yang menghalangi jalannya dengan keras. Baru saja Lilian berjalan beberapa langkah, Rama kembali mengikuti langkah kakinya.
Lilian menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Rama "Lo maunya apasih?" Tanya dengan kesal.
"Kalau gue bilang maunya lo? Percaya nggak?" Tanya Rama dengan senyum manisnya.
"Lo keknya udah gila." Ucap Lilian kemudian kembali melangkahkan kakinya.
"Gue serius." Ucap Rama sambil menyamai langkahnya dengan Lilian.
"Berhenti dan jangan ikuti gue!!" Ketus Lilian dengan dada yang mulai naik turun.
"Lo tambah cantik kalau sedang marah begini." Kata Rama dan menjulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Lilian.
"Jauhkan tangan kotor lo." Ucap Arion yang entah sejak kapan sudah berada di samping Lilian dan menarik gadis itu untuk berada di belakang punggungnya.
Rama menatap tidak suka ke arah Arion dan mengepalkan tangannya yang tadi ingin menyentuh kepala Lilian.
"Jangan campurin urusan gue dan lepaskan dia." Kata Rama sambil melirik sedikit ke arah Lilian.
Arion tersenyum sinis dan kembali memasang raut wajah datarnya. "Jika itu berkaitan dengannya, maka itu akan menjadi urusan gue."
"Lo kembali ingin menunjukkan sikap sok berkuasa lo disini?" Tanya Rama dengan tatapan tidak sukanya.
"Bukannya kata-kata itu lebih pantas untuk diri lo sendiri? Memaksa sorang gadis yang bahkan tidak ingin berbicara dengan lo." Ucap Arion dengan nada sinis.
"Lo ..." Ucap Rama tertahan karena tersulut emosi.
"Gue peringatkan! Jangan pernah mengganggu atapun mendekatinya lagi!!" Tegas Arion dengan tatapan dinginnya.
Rama tersenyum sinis mendengar ucapan dari Arion. "Memangnya lo siapanya sehingga lo berhak memutuskan siapa aja yang berhak untuk mendekatinya?"
"Gue adalah pacarnya. Sebagai pacar, gue berhak ngelarang dia buat dekat-dekat dengan cowok lain." Arion menekan semua kata-katanya agar Rama dapat mendengarnya dengan jelas. "Dia milik gue dan gue nggak suka milik gue di sentuh oleh orang lain." Tegas Arion kemudian menarik tangan Lilian untuk pergi meninggalkan Rama yang mengepalkan tangannya dengan erat dan tidak dapat lagi membalas ucapannya.
Suara riuh dari banyak murid terdengar sangat jelas meski Arion dan Lilian telah pergi jauh. Sejak Lilian dan Rama tidak sengaja bertabrakan, murid-murid dari Florenzo School sudah mengambil video dari keduanya dan menyiarkannya secara live pada akun media sosialnya.
Dari postingan salah satu murid, Arion dapat mengetahui jika Rama berusaha mendekati Lilian meski terlihat jelas gadis itu menolaknya. Namun Rama masih tetap ngotot mengikuti Lilian dan hal itu sukses membuat Arion marah kemudian memutuskan mencari keberadaan keduanya melalui petunjuk siaran langsung salah satu murid.
Arion mempercepat langkahnya saat melihat Rama mulai ingin menyentuh kepala Lilian dan menarik tangan gadis itu pergi setelah puas membungkam mulut Rama dengan kenyataan.
Pengakuan dari Arion tentu saja membuat satu sekolah menjadi heboh. Terlebih lagi ada banyak sekali murid yang menyiarkan langsung momen dimana Arion mengakui bahwa Lilian adalah pacaranya. Sehingga kabar itu menyebar dengan sangat cepat dan membuat penggemar Lilian dan Arion menjadi patah hati.
Tidak sedikit orang yang tidak setuju dengan hubungan keduanya dan tidak sedikit orang pula yang setuju dengan hubungan antara Lilian dan Arion yang baru saja di umumkan di depan banyak orang.
Banyak orang yang tidak percaya dengan kabar itu namun siarang langsung yang menyiarkan keduanya juga adalah bukti bahwa Arion secara tidak langsung mengumumkan dan mendeklerasikan hubungannya dengan Lilian ke semua orang.
___________________