Lilian

Lilian
Senyum Arion



Untuk pertama kalinya Florenzo School kedatangan pengunjung yang hampir memenuhi seluruh sisi sekolah. Acara festival yang diadakan kali ini bahkan jauh lebih ramai dibandaingkan saat Florenzo School membuka pendaftaran untuk perserta didik baru.


Tak hanya Wali para Murid, pihak sekolah bahkan membuka acara festival itu untuk umum. Sehingga siapa saja bisa memasuki kawasan sekolah elit tersebut.


Acara festival itu memberi kesempatan kepada semua orang yang sebelumnya sangat ingin memasuki kawasan sekolah tersebut. Karena Florenzo School adalah salah satu sekolah ternama dan di isi oleh anak-anak dari kalangan atas, sekolah akhirnya menerapkan peraturan larangan masuk untuk sembarang orang. Sehingga acara festival kali ini adalah keberuntungan bagi orang-orang yang sangat ingin melihat kondisi di dalam sekolah tersebut.


Tampilan Florenzo School saat ini di penuhi oleh lautan manusia. Untuk itu pihak sekolah telah menyiapkan keamanan ganda jika sewaktu-waktu ada hal yang tidak di inginkan selama acara festival berlangsung.


Ada banyak sekali stand-stand yang sudah disiapkan oleh para Murid agar acara festival semakin meriah. Para pengunjung bebas memilih barang-barang yang ingin mereka beli. Mereka juga di ijinkan masuk walau tidak membawa pulang satu barang pun.


Ada beberapa stand yang sangat ramai dikunjungi oleh banyak orang. Salah satunya adalah stand yang di didirikan oleh Arion dan teman sekelasnya.


Sejak awal di buka, stand mereka adalah pilihan pertama bagi kaum perempuan yang sangat ingin berdiri dekat dengan Geng Andromeda. Meski tiket untuk masuk stand itu sangat mahal, Namun anehnya stand itu yang paling banyak di kunjungi oleh banyak orang.


Mereka bahkan rela mengantri dan berpanas-panasan demi untuk mengambil foto dengan idola mereka masing-masing.


"Ayo semuanya berdiri dengan teratur dan jangan buat keributan." Terdengar suara Tino selaku Ketua Kelas dari Arion. Di tangannya ia memegang pengeras suara agar para pengunjung berdiri teratur.


Beberapa dari teman Tino bertugas memeriksa agar pengunjung tidak membuat keributan selama mengantri. Sebagian lagi sedang sibuk di dalam mengatur beberapa hal di dalam stand.


"Selanjutnya!!" Teriak Rita di dalam stand.


Seorang gadis yang berbadan mungil memasuki stand dengan wajah girang. Rasa lelah karena lama berdiri terbayar saat ia melihat wajah Arion yang tampak datar sedang duduk tenang di salah satu kursi yang di gunakan untuk pemotretan.


"Pilih siapa?" Tanya Rita sambil memegang sebuah buku ditangannya.


"Kak Arion ..." Jawab gadis itu dengan malu-malu.


"Silahkan." Salah satu teman Arion mengarahkan gadis itu untuk berdiri di dekat tempat Arion berada.


"Ok ... Langsung aja ya ... Satu ..." Rein menghitung dan memberi aba-aba kepada gadis itu untuk bersiap.


"Kak ... Kak ... Tunggu dulu." Tahan gadis itu kemudian melirik malu ke arah Arion. "Bisa tidak Kak Arion berdiri dan sedikit tersenyum?" Tanya Gadis itu.


"Tidak bisa!!" Jawab Arion datar dengan aura dinginnya.


Suasana dalam stand juga sudah mulai berbeda dan Arion mulai menunjukkan tampang kesalnya.


"Adek manis ... Maaf ya ... Aturannya kalian kagak boleh milih pose yang di inginkan. Tapi jika seandainya lo kagak mau ... Silahkan langsung keluar ..." Farrel menunjuk pintu keluar stand.


Gadis itu mulai panik dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak kok Kak ... Aku mau ..." Ucapnya cepat.


Gadis itu kembali berdiri dekat Arion yang tampak acuh. Terlihat beberapa kali cahaya kamera mengarah ke arah keduanya. Meski Arion di dalam foto tampak acuh, namun gadis itu tetap saja kegirangan karena dapat mengambil foto dengan Arion.


Baru saja Rita ingin memanggil pengunjung selanjutnya. Terdengar suara gaduh yang berasal dari luar stand, suara-suara itu semakin lama semakin terdengar jelas oleh orang-orang dalam stand.


"Anjiiiiirrr ... Baru kali ini gue lihat bidadari sungguhan." Ucap Tino yang berlari memasuki stand.


Arion tampak bodoh amat dengan suara riuh di luar dan mengabaikan ucapan dari Tino.


"Bidadari apaan?" Tanya Farrel dengan kening mengerut.


"Itu ... Lilian ... Anjirrr ..." Ucap Tino terputus karena Arion tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berlari keluar.


"Anjirrr ... Gercep amat lo denger nama Lilian! Tungguin bego!!" Teriak Rein yang juga ikut berlari mengikuti Arion.


Mario dan Farrel juga ikut berlari keluar mengikuti Arion dan Rein yang berlari keluar duluan.


___________________


Lilian berjalan dengan santai ke tempat stand-nya berada. Gadis itu seakan menulikan telingannya saat mendengar banyak sekali pujian yang tertuju kepadanya.


"Anjirrrr ... Gue seakan lagi ngawal artis terkenal tau nggak." Ujar Gladis riang. Sejak keluar diruang ganti, gadis itu tak henti-hentinya berceloteh panjang.


"Eh Lilian! Lo dengerin gue ngomong nggak sih!" Gladis menepuk pelan tangan Lilian agar gadis itu menatap kearahnya.


Lilian hanya melirik sekilas kearah Gladis. "Hmmm." Gumam Lilian pelan namun masih bisa di dengar oleh Gladis.


"Kesel Gue lama-lama tau! Dari tadi gue ngomong, Lo hanya nanggapin dengan Hmmm doang." Kesal Gladis dengan muka yang sedikit menekuk.


Lilian menghela napas pelan. "Ya Gue harus ngomong apa coba? Bukannya hal kek gini biasa terjadi tiap hari? Nah Lo aja yang hebohnya berlebihan." Jawab Lilian tanpa menatap ke arah bicaranya.


Gladis sedikit menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya juga sih ... Cuman momennya beda, Lilian. Kali ini kan lagi festival, bukan cuman anak sekolahan kita yang lagi mandangin kita. Tapi anak dari sekolahan lain juga!" Gladis kembali heboh.


Lagi-Lagi Lilian kembali menghela napas melihat kelakuan temannya yang satu itu. Namun Lilian tidak lagi berkomentar dan lebih memilih melanjutkan perjalannya menuju stand yang terlihat beberapa meter di depannya.


Suara heboh dari arah samping Lilian tidak membuat gadis itu menghentikan langkahnya atau sekedar melirik ke arah sampingnya. Lilian hanya berjalan lurus dan tampak bodoh amat dengan sekitar.


Langkah Lilian terhenti saat sebuah tangan dari arah samping menariknya pelan. Dapat Lilian rasakan deru napas beraroma mint menerpa kulit wajahnya dengan lembut.


Tatapan tajam dan mengintimidasi dari orang dihadapannya tidak membuat Lilian merasa takut sama sekali.


"Lilian!" Panggil orang itu pelan namun tatapan matanya masih tajam.


"Apa?!" Lilian malah membalas tatapan itu tak kalah tajamnya. "Napa kesini? Perasaan stand kelas kalian bukan disini." Ujar Lilian dengan nada malas.


"Napa kagak balas chat-nya Aku?" Tanya Arion dengan wajah datarnya. Ya, orang yang menarik tangan Lilian adalah Arion.


Orang itu pulalah yang membuat orang-orang disekitarnya hampir tidak bersuara lantaran karena tatapan tajamnya.


"Kagak penting." Jawab Lilian acuh kemudian berniat melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Lagi-lagi Arion kembali menarik tangan Lilian agar Gadis itu menatap kearahnya.


"Napa? Selesai jual dirinya?" Tanya Lilian dengan raut wajah menantang.


Arion sedikit berdekhem mendengar ucapan Lilian.


"Napa? Belum selesai? Sana lanjutin aja!" Usir Lilian sambil mendorong pelan dada bidang milik Arion.


Bukannya pergi, Arion malah menggenggam erat tangan Lilian agar Gadis itu tidak lagi memalingkan wajahnya.


"Kangen." Ucap Arion tiba-tiba.


Lilian sebisa mungkin menahan perasaan senang yang tiba-tiba menguncur keluar dari dalam dadanya. Bohong jika Lilian tidak merasakan rindu kepada Arion setelah beberapa hari tidak bertemu dan berkomunikasi.


"Ohh." Ucap Lilian agar terlihat biasa saja.


"Kamu nggak?" Tanya Arion dengan nada lembut.


"Nggak! Ngapain rindu ama pacar yang lagi asik jual diri?" Lilian kembali memasang raut kesalnya.


"Lilian!" Panggil Arion dengan nada tajam. Arion hanya tidak ingin jika Lilian mengeluarkan kata-kata kasar.


"Apa? Nggak suka?!" Lilian kembali menantang, "Udah sana ahh ... Aku sibuk!" Lilian kembali mendorong Arion agar menjauh darinya.


Baru saja Arion ingin membalas ucapan Lilian, suara dari arah belakang Arion menghentikan niatnya.


"Aissss ... Gila!! Adek Gue cantik banget Anjiiiirr ..." Ucap Rein heboh sambil menggelengkan kepalanya.


"Uiiiiissss ... Definisi Bidadari turun dari kayangan cocok buat Lo, Lilian." Kali ini suara Farrel yang terdengar. Ia bahkan tidak mengalihkan tatapannya ke arah Lilian.


Rein, Farrel, dan Mario memang sedari tadi berlari mengikuti langkah kaki Arion. Ketiganya sempat kehilangan jejak Arion lantaran karena banyaknya pengunjung yang datang. Namun tak lama setelahnya mereka mendengar suara heboh yang tidak jauh dari tempat mereka kehilangan jejak Arion.


Karena penasaran, ketiganya memutuskan untuk mendekat ke arah suara heboh itu berada. Tak jauh dari tempat ketiganya berada, sepasang kekasih tampak berdiri saling berhadapan dengan sangat serasi. Hal itu pula yang membuat orang-orang disekitarnya merasakan iri melihat pasangan tersebut.


"Diem Lo pada!" Lilian menatap ketiganya dengan kesal.


"Uiiissss ... Santai ... Cantik cantik tapi pemarah!" Sindir Farrel.


Lilian menyipitkan matanya tanda ketidak sukaannya terhadap Farrel.


"Sans aja dong! Tatapan mata Lo kek mau makan Gue Idup idup." Ucap Farrel kemudian sedikit merapat kearah Mario untuk berlindung.


"Apaan sih, Lo! Sana jauh jauh!" Usir Mario.


"Kagak ada rasa kepritemanan amat dah Lo." Gerutu Farrel tak jelas.


"Masih marah?" Mario mengabaikan ucapan Farrel dan lebih memilih bertanya kepada Lilian.


"Kagak usah tanya tanya!" Ketus Lilian dan membuang wajahnya kearah lain.


Mario, Farrel dan Rein hanya menghembuskan napas pelan. Ketiganya tahu jika Lilian masih kesal dengan mereka. Berbicara banyak akan membuat Lilian semakin marah, lebih baik ketiganya diam dan membiarkan Arion saja yang membujuk Gadis itu.


Sedangkan Arion sendiri sejak tadi tidak mengalihkan pandanganya sedikitpun ke arah Lilian. Ia menatap Lilian dengan sangat lekat, perasaan rindu yang ia pendam seakan menguar begitu saja saat melihat berbagai ekspresi yang Lilian tunjukan dalam satu waktu.


Arion menatap Lilian dari atas sampai bawah, tidak sedikitpun yang ingin ia lewatkan dari Gadis itu. Sosok Gadis yang ia rindukan kini berdiri tepat dihadapannya, ingin sekali ia memeluk Gadis itu dengan sangat erat dan meluapkan semua kerinduan yang ia pendam.


Namun Gadis yang sangat ia rindukan sedang dalam keadaan marah. Hal itulah yang membuat Arion harus menahan diri sejak tadi.


Setelah menimbang sedikit lama, Arion menarik tangan Lilian agar Gadis itu kembali mendekat. Arion sedikit menundukkan badannya kearah Lilian kemudian membisikkan sesuatu tepat ke telinga Gadis itu.


"Baik itu dulu maupun sekarang, Kau akan tetap terlihat cantik dimata ku, LILIAN DAISYLA MARVEN." Arion menekan nama Gadis itu kuat.


Sedangkan Lilian menegang di tempat. Nama yang Arion sebut adalah namanya pada masa lalu. Namun mengapa Arion mengetahui nama itu. Lilian membeku di tempat tak kala melihat senyum misterius dari Arion.


"Senyum itu milik Seint. King Alpenseint Balas, dari kerajaan Apollonia." Batin Lilian tak percaya.


________________________