
Setelah mendapat beberapa arahan dari para Guru dan Osis. Semua murid akhirnya di bagikan kelompoknya masing-masing berdasakan pilihan acak oleh anggota Osis.
Entah keberuntungan atau kesialan yang dapat Lilian gambarkan di kepalanya saatn ini. Baru saja ia merasa senang karena telah di ijinkan ikut bergabung mengikuti kegiatan jelajah, namun melihat deretan nama dalam kelompoknya membuat Lilian harus menghembuskan napas pelan.
Nama-Nama kelompok jelajah perempuan kelompok 15:
1. Sheril Calista Triadi
2. Santi Ayudia
3. Karin Bagaskara
4. Dian Amelia
5. Lilian Caroline R.
Sejak tadi Lilian hanya memandangi kertas putih yang meluliskan namanya menggunakan tinta hitam. Bukannya Lilian takut, hanya saja hubungannya dengan Sheril selama ini kurang baik. Akan tidak mudah jika Lilian harus berkerja sama dengannya selama kegiatan jelajah berlangsung.
"Lo yakin mau ikut kegiatan jelajah ini?" Tanya Meira yang sejak tadi berdiri menemani Lilian.
Lilian kembali menghela napas pelan. "Gu sih yakin ... Hanya hubungan gue dengan tuh orang aja yang buat gue nggak yakin." Ungkapnya lesu.
"Terus gimana dong sekarang?" Tanya Meira khawatir.
"Entahlah ..." Jawab Lilian.
Gladis dan Laura datang mengampiri tempat Lilian dengan napas ngos-ngosan.
"Gue udah coba minta ke pihak kepanitiaan! namun percuma, mereka nggak ngijin lo buat tukaran nama dengan kelompok lain." Papar Gladis. Ia mengelap keringat dari keningnya.
"Gimana dong? Kak Arion tau kagak ya?" Ujar Laura resah. Bagaimana tidak, Lilian udah capek-capek membujuk Arion dan Rein, namun Lilian malah di tempatkan pada kelompok yang sama dengan Sheril.
"Mau kagak mau gue harus terima. Cuman masalahnya, tuh dua orang bakal terima nggak?! Gue jadi khawatir sendiri." Ucap Lilian tak tenang.
"Lawan tiga serigala aja lo mampu apalagi harus ngelawan Mak Lampir jadi-jadian macam si Sheril itu." Celetuk Farrel tiba-tiba dari arah belakang Lilian.
Keempat gadis itu langsung berbalik dan menemukan ke empat lelaki mos wanted sekolah sudah berdiri tegak di hadapan mereka masing-masing.
"Gue sih yakin-yakin aja ama kemampuan bertahan lo! Hanya saja si Mak Lampir lebih banyak punya rencana jahat di kepalanya." Sungut Mario.
"Keputusan lo apa sekarang?" Tanya Rein dengan raut wajah seriusnya.
"Gue tetap mau ikut." Cicit Lilian pelan.
Lilian pikir Arion akan marah dan kembali ribut dengannya. Namun respon lelaki itu jauh dari perkiraan yang Lilian pikirkan. Dengan gerakan lembut, Arion malah berjalan mendekati Lilian kemudian memperbaiki posisi ransel-nya dengan benar. Setelahnya, Arion mengeluarkan sesuatu dari dalam tas-nya kemudian menyerahkannya pada Lilian.
"Ini namanya tongkat lipat. Lo tinggal pencet tombol hijau maka ia akan secara otomatis akan memanjang. Tombol warna kuning fungsinya untuk memberikan sengatan listrik pada ujung tongkat. Jika lo dalam bahaya, tekan saja tombol merah, maka akan keluar asap yang cukup tebal agar lo punya banyak waktu buat kabur." Jelas Arion dengan raut wajah serius.
Liloan mengerjapkan mata, tidak menyangka jika Arion tidak melarangnya ikut. "Lo nggak marah?" Tanya Lilian sedikit nada ragu dalam pertanyaan.
"Percuma. Lo bakal milih tetap pergi! Dari pada mendebatkan hal yang sudah pasti jawabannya, maka lebih baik gue siapin peralatan lain buat lindungi lo yang keras kepala ini." Kata Arion dengan mengetuk pelan kepala gadis itu.
Lilian tidak dapat menyembunyikan senyumnya setelah Arion mengatakan hal itu. "Makasih." Ucapnya senang.
"Gue udah tanyain ke pihak kepanitiaan jika rute yang akan kalian laluin masih memiliki sinyal kuat. Pastiin ponsel lo tetap aktif agar gue bisa mastiin kondisi lo baik-baik aja." Jelas Rein.
"Ok." Jawab Lilian semangat.
"Bawa juga ini!" Mario menyerahkan sebuah alat kejut listrik kelada Lilian. "Gunain itu kalau ada orang yang berusaha celakain lo. Alat itu memiliki sengatan listrik yang mampu membuat orang sanpai tidak sadarkan diri." Jelasnya.
"Makasih ya semua." Kata Lilian girang.
Ketiga teman Lilian ikut bahagia melihat Lilian yang juga tampak sangat bahagia. Entah kebaikan apa yang telah Lilian lakukan sehingga banyak sekali orang yang sangat peduli padanya.
"Udah selesai salam perpisahannya?" Ketus Sheril yang muncul tiba-tiba bersama tiga orang lainnya.
"Santai dong! Ngegas amat." Dumel Gladis.
"Lo suruh gue santai? Kagak tau aja kalian kalau gue udah nungguin dia sampai jamuran kek gini." Tunjuknya kesal ke arah Lilian.
"Emang dasar lo nya aja yang udah jamuran dari dulu! Napa nyadarnya baru sekarang? Kemana aja lo?" Sinis Farrel dengan tatapan mencemooh ke arah Sheril.
"Gue kagak ngomong ama kalian semua ya!!" Tunjuknya ke arah semua orang yang berada dekat dengan Lilian. "Dan lo! Mau ikut apa kagak? Kalau mau kita tinggal sekarang jika lo masih mau ngobrol dengan temen-temen lo! Waktu kita berharga dan nggak ada waktu buat nungguin lo yang nggak ada penting-pentingnya sama sekali!" Cerocos Sheril yang tidak ada hentinya.
"Gendang telinga gue hampir mau pecah!! Sialan banget nih lalat. Suaranya terdengar ngeeeet ... Ngeeeet ... Ngeeeet gitu di telinga gue! Kan, risih jadinya." Dumel Farrel sambil mengibaskan tangannya di udara untuk mengusir lalat besar di hadapannya.
Tawa Mario dan Gladis pecah mendengar ucapan Farrel. Ia adalah tipe lelaki yang akan langsung mengatakan hal yang ada di kepalanya secara langsung. Farrel bahka. tidak pernah berpikir jika kata-katanya itu akan menyakiti hati orang lain. Misalnya seperti saat ini, terlihat jelas raut wajah Sheril yang memerah karena amarahnya yang harus ia tahan.
"Kita pergi aja! Kesel gue lama-lama di sini!!" Ajak Sheril dengan mengentakkan kakinya pergi.
"Sorry ya guys ... Gue keknya juga harus pergi. Jika tidak, tuh orang bakal nunjukin taringnya lagi." Kata Lilian dengan kekehan.
"Hati-hati." Ucap semuanya serentak.
Lilian akhirnya pergi mengikuti langkah Sheril yang sudah berjalan lumayan jauh darinya. Meski Arion merasa khawatir dengan kondisi Lilian, namun tetap aja ia yakin jika Lilian dapat melindungi diri dengan baik.
Lilian dan kelompoknya mulai memasuki area hutan yang sudah di tandai oleh kepanitiaan. Semua murid lainnya juga sudah memulai star setelah mendapatkan aba-aba dari pihak Guru.
Lilian bersama dengan kelompoknya sudah berhasil melewati satu posko dan akan mendekati posko kedua. Selama perjalanan, Sheril selalu saja menyindir Lilian dengan kata-katanya, namun omongan Sheril hanya di anggap sebagai suara lalat pengganggu oleh Lilian.
Sesuai petunjuk yang di berikan oleh anggota Osis, rute yang Lilian dan kelompoknya lewati sejauh ini tidak ada kendala sama sekali. Hanya saja ada banyak nyamuk hutan yang mengganggung perjalanan mereka, sisanya semua aman.
Beberapa kali Lilian dan kelompoknya harus beristirahat lantaran karena Sheril selalu saja mengomel karena lelah. Ia bahkan mulai memerintahkan teman sekelompoknya untuk melayani kebutuhannya.
"Eh Lilian! Jangan berdiri aja! Ambilin gue minum, haus gue!" Perintah Sheril sambil mengibaskan tangannya.
"Eh Lilian! Gue lagi kelelahan, nggak bisa apa lo langsung nurutin gue kek yang lain?" Tunjuknya kearah Santi dan Dian, teman sekelompoknya.
"Bener ... Sheril tuh pewaris tunggal! Kalau dia mengalami dehidrasi yang berlebihan maka akan buruk untuk kondisi tubuhnya! Siapa nanti yang akan disalahkan? Tentunya kalian temen sekelompok yang tidak ingin membantunya!" Judes Karin dengan tatapan mengancam.
"Emang lo pikir gue kagak lelah gitu?" Tanya Lilian tidak terima. "Gue juga capek! Cuman masih mampu buat ngambil minum sendiri. Lagian gue kagak peduli dia anak tunggal atau pewaris tunggal! Gue mau negasin ke kalian kalau gue bukan babunya yang gampang lo suruh-suruh! Kalau haus ya minum aja sendiri!" Kesalnya.
"Lo semakin berani, ya!!" Marah Sheril.
"Sejak kapan gue takut dengan lo? Tiga serigala gue kalahin dengan kedua tangan gue sendiri. Bukan tidak mungkin juga kalau gue mau matahin kedua tangan kalian karena nggak ada gunanya sama sekali!" Ancam Lilian dengan tatapan penuh intimidasi.
Sheril dan Karin langsung mengatupkan mulut mereka rapat-rapat karena takut. Ucapan Lilian memanglah benar, semalam gadis itu melawan tiga ekor serigala sendirian. Akan jauh lebih mudah untuk Lilian mengalahkan Sheril dan Karin sendirian jika melihat aksi gadis itu semalam.
Tidak lagi mendengarkan rengekan dari Sheril, Lilian dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum melewati posko kedua, Lilian dan kelompoknya harus menyebrangi subuah anak sungai kecil. Sungai itu memiliki air yang jernih dan segar, mereka bahkan mampu melihat ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya.
Di pinggir sungai itu terdapat banyak sekali bebatuan besar maupun kecil. Bebatuan itulah yang menambah kecantikan dari sungai itu.
"Sepertinya sudah ada beberapa kelompok lsin yang sudah melewati sungai ini." Tunjuk Santi ke arah sebuah batu yang masih terlihat basah oleh cipratan air.
"Tentu saja udah! Kita jalannya kek keong! Mungkin kita adalah kelompok terakhir yang melewati sungai ini." Sindir Lilian ke arah Sheril.
"Diem deh lo! Di sini gue adalah Ketuanya. Terserah gue mau jalan cepat atau lambat!" Marah Sheril dan raut wajah sinis.
Lilian tidak ingin berdebat lagi dengan Sheril dan memilih membasuh wajahnya menggunakan air sungai yang mengalir itu. Pandangan Lilian teralihkan setelah mendengar teriakan Sheril yang memekakan telinga.
"Lilian cepat kejar kertas itu!!" Pekik Sheril sambil menujuk kertas yang sudah di bawa pergi oleh air sungai.
"Napa harus gue?" Tanya Lilian.
"Gue ketuanya di sini! Cepat kejar kertas itu!" Pekik Sheril.
Lilian akhirnya mengalah dan memilih mengejar kertas yang Sheril maksud. Sedangkan Sheril sendiri tersenyum puas melihat kepergian Lilian. Sheril sendirilah yang sengaja membuang kertas itu dan memilih Lilian untuk mengejar kertasnya.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan!!" Ajak Sheril dengan senyuman puas di bibirnya.
"Tapi Lilian ..." Ucap Santi ragu.
"Nggak usah tapi-tapian!! Di sini Sheril Ketuanya, jadi turutin apapun yang Sheril perintahkan!" Ketus Karin dengan tatapan mengancam.
"Justru karena dia adalah Ketuanya! Lilian adalah anggota kelompok dan sudah sewajarnya Ketua melindungi anggota kelompok! Nggak mungkin kita harus meninggalkannya di hutan sendirian!" Kata Dian yang tidak setuju dengan keputusan Sheril.
"Lo berdua dari keluarga mana? Setelah ini gue pastiin keluarga lo ancur seancurnya! Kalian berdua telah melawan gue, jadi hukumannya berlaku untuk semua anggota keluarga lo!!" Ancam Sheril dengan mata melotot.
"Maaf Sheril, gue mohon jangan lakuin itu!" Pinta Sheril.
"Gue juga minta maaf." Kata Dian.
Terpaksa keduanya harus mengalah pada keputusan Sheril. Keduanya tidak ingin kalau usaha keluarganya hancur hanya karena menyinggung Sheril. "Maafkan kami Lilian! Namun keluarga gue juga nggak salah. Gue nggak mau mereka jadi korban." Batin Santi.
"Gue harap lo baik-bain aja, Lilian!" Batin Dian dan menatap sedih ke arah tempat Lilian mengejar kertas tadi.
"Ayok jalan!" Ajak Sheril.
Keempat gadis itu langsung pergi meninggalkan Lilian sendiri di sana. Sedangkan Lilian sendiri bersorak dengan girang karena telah berhasil menangkap kertas yang sejak tadi ia kejar.
"Kualitas kertasnya bagus bener ... Di bawa oleh air masih aja nggak rusak." Kagum Lilian dengan kertas yang ia pegang.
Lilian membuka kertas itu dan menemukan gambar peta yang mencangkup seluruh wilayah hutan. Dalam peta itu juga sudah di tandai wilayah mana yang harus Lilian dan kelompoknya lalui selama jelajah.
"Syukur-syukur petanya masih baik-baik aja. Kalau nggak, bisa-bisa kami tersesat karena salah ambil jalur." Gumam Lilian pelan.
Lilian kembali berjalan ke tempat terakhir kali teman sekelompoknya berada. Namun kerutnya mengerut lantaran keempat temannya sudah tidak lagi ada di tempat.
"Lah mereka kemana?" Heran Lilian sambil menengok ke kiri dan ke kanan.
Lilian masih tidak menemukan satupun dari ke empat temannya itu.
"Masa iya mereka ninggalin gue?" Tanya Lilian ke diri sendiri.
"Kak Sheril! Kak Karin! Kak Santi! Dian!" Panggil Lilian satu-satu dari teman sekelompoknya.
Tidak ada jawaban dari ke empatnya meski Lilian udah memanggil dan mencari mereka ke sekitar sungai itu.
"Gue di tinggal sendiri" Gumam Lilian.
Lilian kembali menatap lama peta yang sejak tadi ia pegang. "Siapa yang punya ide buat ninggalin gue sendiri dengan peta ini?" Heran Lilian. "Apa mungkin Kak Sheril udah memotretnya? Kalau tidak ..." Bukannya takut Lilian malah tertawa dengan terbahak-bahak memikarkan kebodohan Sheril.
"Apa yang bisa mereka lakukan tanpa peta sebagai penunjuk arah? Lagi-lagi Lilian harus tertawa keras. Niatnya menginggalkan Lilian sendiri agar tersesat, Sheril malah membuat dirinya sendiri berada dalam masalah.
"Baguslah ... Capek-capek gue cari cara agar bisa keluar dari rombongan! Mereka malah meninggalkan gue dengan suka rela." Kata Lilian dengan girang.
Lilian mencari tempat yang pas agar ia bisa duduk dengan nyaman. Pilihannya jatuh pada sebuah pohon berukuran sedang di pinggiran sungai dan di bawahnya terdapat batu-batu kecil yang lumayan banyak.
"Dengan gini kan gue bisa menjalankan rencana gue dengan sangat mulus." Ucapnya dengan tawa renyah.
Lilian mengeluarkan sebuah buku dan pulpen dari dalam tasnya. Di dalam buku itu Lilian sudah merencanakan banyak hal yang akan ia lakukan.
Lilian menandai tanda centang di halaman buku yang tertulis "Keluar dari rombongan". Di atas tulisan itu terdapat tulisan "Lolos dari Arion dan Rein".
"Saatnya lanjut ke rencana selanjutnya." Gumam Lilian pelan.
_____________________