Lilian

Lilian
Nasib Sheril



Tidak henti-hentinya Lilian menebar senyuman kepada semua orang yang ia lewati sepanjang koridor sekolah. Ia begitu senang lantaran Efina akhirnya dapat mengijinkannya kembali bersekolah setelah tiga hari terkurung di dalam kamarnya.


Kedatangan Efina ke kamarnya kemarin hanya untuk memberitahukan kepada Lilian bahwa besoknya gadis itu sudah bisa kembali masuk sekolah. Lilian bahkan melompat-lompat kecil dan mencium pipi Efina dengan gemas karena senang Mama-nya itu telah mengijinkannya untuk kembali menikmati udara luar kamarnya.


Saking senangnya, Lilian bahkan memilih bangun sebelum matahari terbit hanya untuk menyiapkan semua keperluan sekolahnya. Kesenangan Lilian semakin bertambah saat di meja makan Efina kembali menyerahkan ponselnya setelah tiga hari di sita.


Itu alasannya mengapa Lilian terlihat senang dan tidak pelit membagi senyumannya kepada setiap orang yang dia lewati.


"Selamat pagi semuanya! Princess sudah kembali." Sapa Lilian setelah memasuki kelasnya.


Gladis, Laura dan Meira spontan berlari ke arah Lilian setelah melihat gadis itu berdiri depan pintu masuk kelas. Keempatnya langsung saling berpelukan dengan cara memutar dan melompat kecil.


"Gue kangen banget ama lo. Tiga hari nggak ketemu, kek ada yang kurang gitu." Ucap Gladis setelah melepas pelukannya.


"Biasanya kita selalu barengen ke kantin, ke perpustakaan, ke lapangan, dan kemana pun. Absen-nya lo selama tiga hari kek ada yang ilang gitu, kita juga khawatir ama kondisi lo." Ucap Meira sedih.


"Lo hilang dan nggak ada kabar sama sekali. Giliran kita ke rumah lo. Nyokap lo malah nyuruh kita baik dan cuman ngasih tau kalau kondisi lo baik-baik aja." Tambah Laura.


"Sorry ya semua ... Mama gue emang sedikit posesif kalau gue lagi sakit. Tapi tenang aja ... Gue udah kembali bersekolah itu artinya gue baik-baik aja." Kata Lilian dengan senyum merekah di bibirnya.


"Uwww ... Syukurlah." Ucap ketiga teman Lilian barengan.


"Gantian dong pelukannya! Kita juga mau peluk Lilian." Celetuk Kemal dari arah belakang keempat gadis itu.


Gladis melepas pelukannya kemudian berbalik menatap kearah Kemal. "Nggak usah modus deh lo! Gue kasih tau Kak Arion kalau lo pinta peluk ama Lilian!" Ancam Gladis.


"Biasa aja dong, lo! Gue cuman bercanda! Nggak usah bawa serius." Ucap Kemal takut.


"Alaaahh ... Takut kan lo! Sok ... Sokan mau peluk cewek orang!" Ketus Gladis.


"Lo ini kenapa sih? Perasaan ketus melulu ama gue! Kalau cemburu bilang aja ... Gue pasti langsung meluk lo kok. kalau lo minta." Kata Kemal kemudian langsung merentangkan tangannya kearah Gladis.


"Awas aja lo kalau dekat-dekat dengan gue!" Ancam Gladis dan siap melayangkan bogemannya kepada Kemal.


"Sudah ... Sudah ... Lo berdua ini ribut amat! Jangan-jangan nih anak berdua saling suka lagi." Tebak Denis yang sejak tadi berdiri di samping Kemal.


"Nggak!!" Jawab keduanya barengan.


"Tuh kan ... Jawabnya aja barengan. Jangan-jangan lo berdua emang jodoh." Tambah Lilian dengan kekehannya.


"Bener dah tuh ... Biasanya perasaan benci di awal itu bakal berubah menjadi cinta." Kata Laura yang ikut menggoda Gladis.


"Kata siapa?" Ketus Gladis tak terima. "Ogah banget gue kalau harus jadi jodohnya dia." Lanjutnya.


"Hati-hati lo kalau ngomong. Ntar ucapan lo berbalik ke diri lo sendiri." Ujar Kemal.


"Ihh apaan sih ..." Ketus Gladis.


"Udah ... Udah ... Kenapa malah lo berdua yang berantem sih?" Ucap Meira menengahi.


"Dia tuh ..." Tunjuk Gladis.


Gladis malah melempar tatapan permusuhan kepada Kemal. Sedengkan Kemal sendiri hanya tersenyum lebar dengan mata yang sengaja di buat imut kearah Gladis.


"Oh iya, Lilian. Gimana kabar lo?" Tanya Denis setelah Gladis dan Kemal tenang.


Lilian tersenyum kecil. "Gue baik-baik aja kok. Hanya saja, Mama sedikit posesif sama keadaan gue. Jadinya gue harus beristirahat beberapa hari di rumah." Jawabnya.


Semua teman Lilian menganggukkan kepala pelan.


"Oh iya Lilian. Aksi lo saat ngelawan serigala, sumpah keren banget! Tanpa rasa takut, lo malah maju dan melawan serigala-serigala itu!" Puji Bimo dengan mengacungkan dua jari jempolnya.


"Bener dah tuh ... Mulut gue ampe menganga lebar. Kagak nyangka lo bisa seberani itu." Tambah Kemal.


Lilian tersenyum canggung. "Gue waktu itu refleks sendiri buat maju. Gue juga nggak ngerti kenapa gue bisa seberani itu ... Hanya saja, melihat tampang serigala itu membuat gue kesel. Seakan dia ngeremehin jumlah kita yang banyak." Jawabnya dengan asal.


"Wah parah banget lo! Refleks aja lo bisa bunuh tiga serigala sekaligus ... Apalagi secara sadar?" Tanya Denis heran.


"Nggak gitu kok ... Gue benar-benar refleks maju. Gue juga mengerti beberapa hal tentang serigala ... Karena itu gue bisa mengakali perlawan mereka." Kata Lilian dengan senyum canggung.


"Terus lo dapat kemampuan bertarung dari mana? Cowok aja mungkin bakalan kalah kalau lawan lo." Ujar Kemal.


Lilian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung mau menjawab apa kepada teman-temannya.Tidak mungkin Lilian menjawab kalau dia pernah melintasi waku dan kembali ke masa lalu. Oran-orang akan berpikir kalau Lilian sedang berhalusinasi dan menganggap omongan Lilian hanya sebuah lelucon kecil saja.


"Gue sebelumnya pernah belajar bela diri saat tinggal di luar negri. Gue kira, gue bakalan lupa dengan gerakanya ... Namun ternyata gue masih ingat dengab jelas caranya." Jawab Lilian yang tidak sepenuhnya berbohong.


Lilian anggap tempat masa lalunya adalah luar negri. Teman-temannya tidak akan curiga kalau Lilian mengatakan kalau ia belajar beladiri di luar negri. Semua jenis olah raga mungkin pernah Lilian coba, termasuk dengan memanah dan olahraga lain yang di anggap berat oleh kaum perempuan. Satu-satunya yang belum Lilian coba di masa depannya adalah belajar beladiri. Kemampuan mengalahkan serigala itu adalah berkat dari pemahamannya dari masa lalu saat di ajari oleh Seint, Zheyant, dan Asgar. Namun siapa sangka jika Lilian dapat mengingat ajaran mereka meski ia telah kembali ke masa depannya.


Terpaksa Lilian harus mengatakan jika ia belajar ilmu bela diri itu di luar negri.


Lilian hanya tersenyum pelan mendengar penuturan dari Bimo.


"Oh iya ... Ngomong-ngomong, lo udah denger kabar tentang si Mak Lampir belum?" Tanya Laura dengan mengecilkan nada suaranya kearah Lilian.


Lilian mengerutkan keningnya dan menggeleng pelan. "Gue nggak di bolehin pegang ponsel oleh Mama selama masa pemulihan. Emangnya ada apa dengannya?" Tanyanya penasaran.


Baru saja Laura ingin menjawab, sebuah suara gebrekan pintu dari belakang punggung Lilian membuat mereka melihat kearah sumber suara.


Braaaakk ....


Sheril dengan raut wajah marahnya mendorong pintu kelas Lilian dengan sangat keras. Napasnya terlihat tidak stabil dengan wajah yang sangat kacau. Terlihat jelas ada lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya kusut, rambut berantakan dan tampilannya bukan seperti Sheril yang Lilian kenal.


Sheril yang Lilian kenal adalah gadis yang mengutamakan penampilan di atas segalanya. Setiap hari gadis itu akan terlihat rapi dan menawan. Tidak lupa pula dengan beberapa aksesoris yang terlihat mewah saat di pakai olehnya.


Namun tampilan Sheril kali ini membuat Lilian bingung. "Apa yang terjadi selama gue tidak bersekolah? Kenapa pula tampilan nih orang berantakan kek gini." Batin Lilian heran.


"Puas lo mandangin gue?!! Puas lo melihat tampilan gue yang kek gini?! Inikan yang lo mau? Melihat gue hancur dan di tertawakan oleh banyak orang!!" Rancau Sheril.


"Ini orang kenapa sih? Datang-datang malah marah ama gue! Emangnya gue ngelakuin hal apaan? Baru aja masuk sekolah udah di sampirin oleh masalah aja dah gue ... Lagian nih orang kek-nya seneng banget deh nyari masalah ama gue." Batin Lilian dengan kening mengerut.


"Napa lo diem aja?! Seneng lo sekarang lihat gue yang kek gini?! Perusahaan Bokap gue bermasalah dan sekarang lagi di ambang kehancuran? Puas lo ... Puas!!" Teriak Sheril kearah Lilian.


Lilian semakin bingung dengan ucapan Sheril. Hari ini adalah hari pertamanya kembali bersekolah setelah tiga hari harus berada di rumah. Namun mendengar ucapan dari Sheril membuat Lilian berpikir jika gadis itu sedang menyalahkan dirinya atas apa yang Sheril rasakan saat ini.


"Maksud lo apaan sih? Gue nggak ngerti." Kata Lilian bingung.


"Nggak usah pura-pura nggak tau deh lo!! Semua penderitaan yang gue alami saat ini berasal dari lo!! Semua hal yang terjadi kepada gue dan kelurga gue adalah gara-gara ulah lo pula!!" Kelakar Sheril sambil menunjuk-nunjuk ke arah Lilian.


"Lo bicara apa sih? Gue nggak ngerti!" Ucap Lilian masih tidak mengerti arah pembicaraan Sheril.


"Apa yang telah lo katakan kepada Arion dan Rein saat acara kemah tahunan? Mereka menyalahkan gue atas hilangnya lo di hutan! Karena lo yang terluka waktu itu ... Mereka malah menghukum gue dengan cara menghentikan kerja sama secara sepihak dan memblok semua aktifitas perusahaan bokap gue!! Sekarang perusahaan gue sedang di ambang kehancuran dan semua itu di sebabkan oleh lo!! Dasar wanita jahat! Ja**ng ... Ma*i saja lo!! Teriak Sheril dengan kemarahan yang berapik-apik.


Lilian mulai memehami dengan arah pembicaraan Sheril. Mungkin saja, Arion dan Rein memberi hukuman kepada Sheril karena gadis itu telah meninggalkannya sendirian.


"Kenapa lo malah menyalahkan gue atas apa yang lo sendiri perbuat?! Kak Arion dan Kak Rein memberikan hukuman karena lo sendiri yang tidak mau mendengar peringatan mereka sebelumnya! Sekarang lo malah datang dan melimpahkan semua kesalahan yang lo sendiri perbuat ke orang lain agar lo sendiri merasa terbebas dari rasa penyesalan yang lo alami." Kata Lilian dengan raut wajah seriusnya.


"Seharusnya dengan kejadian ini ... Lo dapat merenungkan kesalahan apa aja yang telah lo perbuat! Bukan malah menyalahkan orang lain." Tandas Lilian.


"Diam!!" Marah Sheril.


Wajah Sheril semakin memerah karena marah. Ia berjalan mendekati Lilian dan berusaha menggapai rambut panjang Lilian. Namun Denis jauh lebih cepat menghentikannya dan menarik Sherik agar menjauh dari Lilian.


"Lepasin gue!! Gue mau ngasih pelajaran ke cewek ja**ng itu!! Gara-gara dia kami semua jadi susah!! Barang-barang gue bahkan sudah di juak semua untuk menutupi kerugian yang di sebabkan oleh si ja*"ng itu!!" Teriak Sheril. Ia bahkan berusaha melepaskan diri dari kungkungan Denis.


"Sadar deh lo!! Semua kejadian yang lo alami adalah buah dari pohon yang telah lo tanam!! Selama ini lo selalu berbuat jahat kepada orang lain! Hingga akhirnya lo harus ngerasain penderitaan orang-orang yang telah lo lukai itu lewat tangan orang lain!! Bukanya sadar dan memperbaiki diri, lo malah menyalahkan orang lain terhadap nasib buruk yang lo terima." Kata Lilian sedikit berteriak.


"Diem deh lo!! Lo nggak pantes buat nasehatin gue!! Lihat aja ... Gue akan balas semua hal yang gue alami sekarang ini!! Lo akan merasakan penderitaan yang jauh lebih buruk dari yang gue rasain saat ini!! Teriak Sheril.


Denis dan Kemal berusaha menarik tangan Sheril agar menjauh dari Lilian. Emosi gadis itu sekarang sedang tidak stabil, bisa saja dia melakukan hal-hal yang tidak di inginkan terhadap Lilian.


"Sampai sini lo masih menyalahkan orang lain atas masalah ya lo sendiri perbuat?" Arion datang dari arah lain dan berdiri tepat di samping Sheril yang masih ingin melepaskan diri.


"Arion ..." Panggil Sheril. Napasnya terlihat tersendat-sendat.


"Masih untung gue tidak menghancurkan lo dengan sehancur-hancurnya. Gue masih memberikan keluarga lo untuk bisa bangkit." Ucap Arion dengan dingin.


Kehadiran Arion membuat suasana di sana menegang. Laki-laki itu datang bersama dengan tiga temannya, namun raut wajahnya saat ini tidak bisa di bilang baik-baik saja.


"Apa yang lo sebut sebagai harapan? Lo telah memblokir perusahaan gue agar tidak bisa bekerjasama dengan perusahaan manapun. Hidup gue hancur ... Tidak ada yang bisa gue pertahanin. Perusahaan hancur, rumah di sita, dan semua barang-barang berharga ikut di rampas habis! Lalu di mana letak harapannya? Hidup gue bahkan jauh lebih beruntung dari pengemis di luar sana!!" Teriak Sheril.


Arion menatap Sheril dengan datar. "Jika sejak awal lo tau bakalan seperti ini, kenapa lo nggak pernah sadar? Gue masih memberikan kesempatan kepada keluarga lo untuk bangkit sendiri. Mulailah hidup sederhana dan lebih memahami penderitaan orang lain."


Sheril menjatuhkan dirinya di atas lantai koridor dan berjalan merangkak kearah kaki Arion. "Gue mohon ... Kembalikan kondisi keluarga gue dari awal. Gue janji akan melakukan hal apapun asal lo ngembaliin kondisi perusahaan gue." Pintanya.


Arion hanya menatapnya datar. "Bubur tidak akan bisa kembali menjadi nasi! Terima saja nasib lo yang sekarang." Ucapnya dingin.


"Kenapa Arion?! Kenapa? Kenapa tidak sedikit pun di hati lo ada nama gue? Kenapa tidak sedikit pun lo merasa kasihan kepada nasib gue!! Tidak bisakan lo memberikan gue sedikit saja kasih sayang yang lo punya?!" Sheril menangis sekencang mungkin mengingat nasib malangnya.


Semua orang bahkan sudah sangat ramai berkumpul di depan kelas X Mia 1. Sheril yang selama ini selalu menindas orang lain kini harus bersujud di bawah kaki Arion untuk meminta sedikit saja belas kasihnya. Tidak peduli akan di tertawai oleh orang lain namun Sheril masih berharap jika Arion akan mengasihaninya dan kembali memulihkan kondisi perusahaan keluarganya.


"Kejahatan lo selama ini udah banyak. Sekarang waktunya untuk lo merenungkan semua hal yang pernah lo lakuin." Ucap Arion.


"Lo memang kejam!! Lo nggak pernah bisa menatap kearah gue!! Bahkan rasa kasihan terhadap gue aja lo nggak punya!! Lihat saja ... Apa yang bisa gue lakuin untuk membalas rasa sakit hati gue!! Tunggu saja!!" Teriak Sheril.


Sheril akhirnya bangun dari lantai kemudian berlari sekencang mungkin. Ia tidak ingin semakin terlihat menyedihkan di mata Arion.


______________________