
Rahang Arion mengeras, tangannya mengepal sampai jari-jarinya memutih setelah mendengar penjelasan dari Lilian. Sejak lama Melvin selalu memusuhinya entah karena masalah apa, namun bagi Arion kali ini Melvin sangat keterlaluan karena telah melibatkan Lilian dalam masalah mereka.
"Mulai sekarang lebih baik lo nggak usah berpergian kemanapun sendirian. Ada baiknya lo minta bantuan Arion atau gue aja buat nemenin lo." Kata setelah Lilian selesai berbicara.
"Tapi ..." Ucap Lilian ragu.
"Rein, benar. Sebaiknya lo nggak usah keluar sendirian dulu." Kata Arion dengan dingin.
Lilian hanya menghela napas pasrah. Jika Arion dan Rein sudah mengatakan hal itu, maka sebesar apapun usaha Lilian ingin memeberontak tetap saja akan sia-sia.
"Lo bagaimana ceritanya bisa nolongin Lilian?" Tanya Mario kearah Audry.
Audry menatap kearah Rein sebentar kemudian kembali membuang muka kearah lain. "Nggak sengaja lewat. Tumben aja tuh jalan sepi ... Lagian napa dia milih jalan itu untuk di lewati ... Masih ada jalan lain menuju ke rumahnya." Ujarnya cuek.
"Itu tadi karena Mama nyuruh cepat pulang." Lilian membulatkan mata sempurna setelah menyadari sesuatu. "Oh astagaaa ... Gue baru inget lupa ngasih kabar ke Mama ... Gawat ... Gawat ..." Kata Lilian sambil memukul kepalanya pelan.
Arion menahan tangan Lilian untuk tidak memukul kepalanya terus. "Nanti gue bantu jelasin." Kata Arion dengan nada lembut.
"Apanya mau di jelasin? Bisa gawat kalau Mama tau tentang kejadian ini. Yang ada ntar gur malah ..." Lilian kembali terdiam karena baru memikirkan sesuatu. "Motor gue!!" Pekiknya keras setelah menyadari motornya masih tertinggal ditempat Melvin tadi.
"Kemana motor lo?" Tanya Farrel.
Lilian menghentakkan kakinya karena merasa sangat kesal. "Dasar Melvin sialan! Mimpi apa gue ketemu ama cowok sebrengsek itu! Motor gue masih tertinggal di tempat yang tadi. Belanjaan gue juga ada disana." Ucap Lilian lesu di akhir kalimatnya.
"Lo lari ninggalin motor lo gitu aja?" Tanya Mario sedikit kesal.
"Gimana nggak di tinggal ... Tadi tuh si Melvin berlaku nggak sopan ama gue. Karena mau menghindar ya gue banting gitu aja motor gue ke aspal." Jelas Lilian dengan raut wajah kesalnya.
"Apa?!!" Pekik Arion dan Rein samaan.
"Dia ngelakuin hal apa?" Tanya Arion dengan wajah memerah marah.
Lilian menatap orang-orang di sekitarnya ragu. "Dia ... Dia ... " Ucap Lilian ragu. "Dia ngendus-ngendus aroma tubuhnya gue ... Kan geli, nggak sopan banget." Ucapnya.
Arion mengeraskan rahang marah. "Sialan!" Umpatnya.
"Kurang ajar si Melvin, gue nggak terima Lilian di perlakukan kek begitu." Ujar Rein yang juga ikut tersulut emosinya.
"Gue sih terserah kalian ... Kapan mau beri mereka pelajaran." Ujar Mario.
"Gue juga ... Biar gimanapun Melvin udah keterlaluan. Jika hari ini dia belum bisa dapetin apa yang di ingkan. Bisa aja besok dia kembali lagi ... Secara siapa yang nggak kenal watak buruknya si Melvin?" Tanya Farrel sambil bersedekap dada.
"Udahlah ... Masalah ini cukup sampai sini aja. Tidak ada lain kali untuk bertemu dengannya. Nggak usah ladenin si Melvin itu ... Ntar yang ada masalahnya makin membesar." Jelas Lilian yang tidak mau lagi berurusan dengan si Melvin.
"Tapikan Lilian ..." Ucap Rein tidak terima.
"Kakak ..." Ucap Lilian dengan nada memohon.
Tidak hanya Rein, Lilian juga menatap Arion, Mario dan Farrel dengan tatapan memohon.
"Nggak janji." Ucap Arion sambil membuang muka kearah lain.
Lilian menghela napas pelan. "Sebaiknya gue cari motor gue aja ... Mudah²an masih tertinggal disana." Katanya dengan nada lesu.
"Ayo." Ajak Arion sambik menggenggam tangan Lilian dengan erat.
Lilian dan yang lainnya kembali ke jalan yang sebelumnya ia lewati. Sesampainya disana motor Lilian sudah tidak ada dan hanya ada aspal datar nan bersih saja yang terlihat. Beberapa kali Lilian menghela napas pelan melihat motornya yang sudah tidak ada di tempat.
"Motornya di bawa pergi atau di curi orang?" Tanya Lilian sambil menggaruk kepalanya pelan.
"Ya pasti di bawa Melvin lah ... Hari ini dia nggak dapatein lo. Agar lo nyariin dia tentu saja motor li yang di bawa." Ujar Audry dengan nada cueknya.
Lilian benar-benar kesal dengan kelakuan Melvin, sungguh ia tidak berharap akan bertemu kembali dengan lelaki itu. "Kak Rein gimana ini? Gimana nanti jelasin ke Mama?" Tanya Lilian hampir mau menangis.
Lilian adalah gadis yang tidak dapat di tindas dengan mudah namun jika ia harus berhadapan dengan Efina maka semua keberanian yang Lilian miliki seakan menciut.
"Napa lo harus tanya Rein? Tanyakan aja solusinya pada Arion, diakan pacarnya lo!" Ketus Audry.
"Lo bisa diem nggak?!" Rein menatap kesal kearah Audry.
Audry mencebik kesal dan membuang muka tidak suka. Audry merasa bingung, hal apa yang dilihat dari Lilian oleh ke empat anggota Geng Andromeda sehingga ke empatnya terlihat dekat dengan gadis itu. Melihat Lilian dalam masalah saja ke empatnya sudah panik dan berusaha untuk sama-sama melindunginya. Ke empatnya bahkan berencana menyerang Melvin lantaran lelaki itu telah mengganggu Lilian.
"Lo tenang aja ... Serahin urusan ini ke kita aja. Sebaiknya lo pulang di antar oleh Arion dan gue bakal ngehubungi Tante Efina." Kata Rein sambil menepuk pelan kepala Lilian.
"Ekhmmm." Deheman Arion untuk menyadarkan Rein.
"Sans aja dong ..." Ujar Rein sambil tersenyum kecil.
"Sana pulang bareng Arion." Kata Rein lembut.
Lilian mengangguk pelan. "Gue pulang." Pamitnya.
Arion juga melambaikan tangan kepada teman-temannya. "Antar Audry pulang." Ucaonya kearah Rein kemudian berjalan menjauh bersama Lilian.
Rein hanya bisa menghela napas pelan setelah mendengar ucapan Arion. "Ayo pulang ... Gue antar." Ajaknya tanpa melihat kearah Audry.
Audry sendiri sudah tersenyum senang karena dapat pulang bersama dengan Rein. Sedangkan Mario dan Farrel memutuskan untuk pergi ke markasnya duluan dan menunggu Arion dan Rein disana.
__________________
Arion memacu laju motornya dengan kecepatan sedang dan berhenti tepat didepan gerbang rumahnya Lilian setelah keduanya sampai. Awalnya Arion dan Lilian hanya terdiam dan tidak ada yang mau mengeluarkan sepatah katapun hingga akhirnya Lilian memutuskan untuk menuruni motornya Arion.
"Makasih udah nganterin." Ucap Liliab sambil menundukkan wajahnya tidak berani menatap kearah Arion.
Tanpa aba-aba Arion menarik tubuh kecil Lilian dan memeluknya dengan sangat erat. Ingatan Arion kembali pada beberapa waktu lalu saat Lilian menceritakan tentang Melvin yang menyukai aroma tubuhnya Lilian.
"Gue nggak rela ada orang lain yang juga ikut nyaman dengan aroma tubuh lo." Kata Arion masih memeluk Lilian erat.
Jantung Lilian memacu dengan sangat cepat, tubuhnya bahkan menegang dan sangat sulit untuk ia gerakan. Jika tadi ia mendorong Melvin dengan sangat keras namun beda ceritanya saat Arion memeluknya dengan sangat erat sekarang.
Lilian bahkan tidak melawan saat Arion membenamkan wajah diceruk lehernya. Napas Arion terasa hangat dan berada dalam pelukan Arion begitu nyaman Lilian rasakan.
"Gue nggak suka milik gue di lirik ... Lo hanya milik gue." Tegas Arion masih membenamkan wajahnya di ceruk leher Lilian.
Lilian tidak berani menjawab, tubuhnnya masih saja menegang dan ia sendiri bingung mau mejawab ucapan Arion.
Arion melepaskan pelukannya dari Lilian kemudian memegang kedua bahu gadis itu untuk menghadap kearahnya. "Napa lo diem aja?" Tanya Arion dengan nada lembutnya.
Lilian hanya menggeleng pelan, mulutnya terasa kaku sehingga sangat sulit untuk ia gerakkan.
"Bernapas." Ucap Arion sambil mengelus pelan pipi Lilian.
"Ayo bernapas." Kata Arion sambil menyentil pelan kening Lilian.
Lilian yang sejak tadi menahan napas akhirnya membuang napas sebanyak-banyaknya setelah Arion menyentil keningnya. Agar tidak merasa tegang, Lilian mendorong pelan dada bidang Arion.
"Jangan terlalu dekat." Ucapnya sambil menundukkan wajah.
"Ada apa? Lo nggak suka?" Tanya Arion sambil memainkan rambut Lilian.
"Jangan menggoda." Ketus Lilian.
Arion berhenti memainkan rambut Lilian xan menatap gadis itu dengan raut wajaha heran. "Kaoan gue godain lo?" Tanyanya.
"Se ... Sekarang." Jawab Lilian sambil membuang wajah ke sembarang arah.
"Kata siapa gue lagi ngegodain lo? Gue hanya bermanja di depan pacar." Ucap Arion santai sambil memainkan kembali rambut Lilian.
Rona merah tercetak jelas di kedua pipi Lilian, sungguh Arion dapat membuat Lilian nemerah malu hanya karena ucapannya.
"Nih pipi napa semakin memerah." Kata Arion sambil menoel pelan pipi Lilian dengan telunjuknya.
"Gue bilang berhenti menggoda!" Pekik Lilian sambil menybunyikan wajahnya yang memerah malu dengan kedua telapak tangannya.
"Lo ternyata bisa merona juga?" Tanya Arion sambil tersenyum senang.
Lilian mendengus pelan kemudian memberanikan diri untuk menatap Arion. "Emangnya gue vampir ... Sampai nggak memiliki rona merah di wajah?" Ketus Lilian tidak terima.
"Iya ... Iya ... Lo Lilian, kekasih gue." Goda Arion.
Blushhhh ....
Lagi-lagi wajah Lilian kembali merona merah mendengar ucapan dari Arion. Kupu-kupu seakan memenuhi isi perut Lilian dan sebentar lagi akan terbang tinggi membawa tubuh Lilian untuk terbang.
Arion bahkan sampai terkekeh kecil melihat tingkah malu-malunya Lilian. Dimatanya gadis itu semakin menggemaskan.
"Gue perhatiin, semakin lama lo semakin kek anak kecil ya? Gemesin gitu." Arion masih saja menggoda Lilian dengan kata-katanya.
"Kalau gitu lo pacarannya ama anak kecil dong?" Tanya Lilian sambil mencebikkan bibirnya.
Arion mengangguk pelan. "Sayangnya ini anak kecil yang gede ... Yang nggak butuh permen dan coklat lagi." Ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan kepala Lilian.
"Gue mau kalo lo kasih." Ujar Lilian sambil menatap Arion dengan tatapan berbinar.
"Sayangnya sekarang gue nggak punya." Ujar Arion santai sambil mengedikkan bahunya pelan.
"Ya sudah ... Pulang sana." Usir Lilian dengan nada halus.
"Lo ngusir gue?" Tanya Arion.
"Iya ... Sorry ya." Ucap Lilian sambil mendorong dada Arion untuk pergi.
Bukannya berhasil mengusir Arion, kaki Lilian tiba-tiba terpeleset dan akhirnya tubuhnya harus terjatuh membentur dada bidangnya Arion. Wajah keduannya bahkan berjarak sejengkal saja.
Keduanya sambil menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama sehingga suara seseorang menyadarkan keduannya. Lilian terburu-buru melepaskan dekapan tangan Arion dari pinggangnya dan kemudian berdiri tegak dengan raut wajah khawatir.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Efina dengan tatapan curiganya.
"Nggak ngapa-ngapain kok Mah." Jawab Lilian cepat.
"Nggak ngapa-ngapain kok raut wajah kamu mengatakan hal lain?" Tanya Efina masih dengan tatapan curiganya.
"Serius Mah ... Kita nggak ngapa-ngapain." Ucap Lilian sambil mengangkat dua jarinya.
"Tadi Mama lihat kamu seperti sedang memeluknya?" Tanya Efina sedikit melirik ke arah Arion.
"Nggak kok. Mama salah paham aja ... Tadi Lilian terpeleset dan refleks Kak Arion nangkap Lilian. Jadi kelihatannya kek Lilian yang lagi peluk Kak Arion." Jawab Lilian jujur.
"Ohh gitu ..." Kata Efina manggut-manggut. "Lalu kapan motor kamu selesai di perbaiki?" Tanya Efina.
Lilian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. "Motor?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.
Efina mengangguk pelan. "Iya motor ... Rein bilang motor kamu lagi di perbaiki karena ada sedikit masalah." Jelasnya.
"Oh iya Tante ... Motornya sedang di bengkel dan kemungkinan akan di perbaiki sedikit lama. Tapi pekerja bengkelnya bilang akan secepatnya memperbaiki motornya." Jawab Arion yang langsung ngerti arah pembicaraan Efina.
"Aneh ya ... Motornya baru tapi kok cepat sekali bermasalah. Papa belinya asal-asalan." Ucapnya heran.
"Kalau gitu, biar Mama minta tolong Rein aja buat antar jemput kamu selama motornya di bengkel. Mama nggak mau motornya sampai mogok lagi kek hari ini ... Kan bahaya buat kamu. Masih mending mogoknya di tempat rame kek sekarang .... Kalau mogok di tempat sepi bisa bahaya buat kamu." Ucap Efina khawatir.
"Biar saya aja Tante yang antar jemput." Ucap Arion menawarkan diri.
Efina menatap lekat ke arah Arion, ia masih merasa khawatir jika Lilian anaknya harus di antar jemput oleh orang lain selain Rein Saudara Sepupunya.
"Tante tenang aja ... Saya bakal jagain Lilian kok. Pergi dan pulang dengan aman." Ucap Arion meyakinkan Efina.
Efina menatap ragu kearah Lilian namun lewat tatapannya Lilian mengisyaratkan bahwa Arion dapat menjaganya dengan baik. "Baiklah." Meski ragu namun Efina masih saja menyetujuinya.
Arion tersenyum kecil mendengar persetujuan dari Efina. Itu artinya Efina mulai membuka diri untuk menerima Arion untuk berada di sekitar Putrinya.
"Di luar dingin ... Sebaiknya kita masuk aja." Ajak Efina.
"Maaf Tante ... Saya punya sedikit urusan penting. Untuk itu saya tidak bisa mampir ..." Ucap Arion ragu.
"Ohh ... Nggak apa-apa. Sebelumnya makasih ya udah nganterin Lilian pulang. Untuk beberapa hari ke depan mungkin Tante akan sedikit merepotkan mu untuk mengantar Lilian sekolah." Ucap Efina tulus.
"Oh nggak apa kok Tante ... Saya malah senag bisa membantu." Ucap Arion ramah. "Kalau gitu saya pamit dulu ya Tante." Lanjutnya.
"Ya udah hati-hati." Ucap Efina.
Arion memberi kode kepada Lilian untuk berpamitan. Setelah Lilian mengangguk, Arion akhirnya memacu motornya dengan kecepatan sedang.
Efina masih saja menatap punggung Arion yang semakin menjauh dari pandangan. "Napa senyumnya terlihat kaku?" Tanya Efina heran tanpa melihat kearah Lilian.
"Kak Arion memang gitu ... Dingin dan datar. Kalau senyum terlihat di buat-buat dan di paksa." Jelas Lilian sambil tersenyum membayangkan raut wajah datar Arion.
Efina mengalihkan pandangannya ke arah Lilian yang masih tersenyum kearah tempat Arion pergi. "Dan kamu suka yang seperti itu."
Lilian langsung menatap kearah Efina kaget. "Ahh Mama ..." Rajut Lilian kemudian menarik Efina untuk memasuki rumahnya.
_______________________