Lilian

Lilian
Pertandingan



Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Pertandingan basket antara Florenzo School melawan SMA Tunas Harapan sebentar lagi akan di mulai. Kursi para penonton sudai mulai di padati oleh murid-murid dari kedua sekolah maupun sekolah lain yang ingin menyaksikan pertandingan tersebut.


Atribut-atribut untuk memberikan semangat kepada kedua sekolah sudah selesai di persiapkan oleh kedua pendukung. Sebelum pertandingan di mulai, para penonton sudah saling sindir menyidir di kursinya masing-masing.


Sorakan demi sorakan memenuhi se-isi lapangan indoor tersebut. Kedua sekolah telah sepakat jika pertandingan tersebut di adakan di tempat lain. Hal itu bertujuan agar team mana pun yang nantinya akan menang, maka tidak akan lagi ada yang saling menyalahkan.


Hingga akhirnya tempat yang di pilih sebagai tempat berlangsungnya pertandingan itu terletak di tengah-tengah kedua sekolah tersebut.


Sebelum pertandingan itu di gelar, antusiasme dari para pendukung sangatlah besar. Jauh-jauh hari para pendukung telah menyiapkan atribut apa saja yang akan mereka bawa selama pertandingan itu di gelar.


Contohnya seperti Lilian dan ketiga temannya. Jauh-jauh hari Lilian telah menyiapkan atribut-atribut untuk mendukung Arion dan teman-temannya. Sekarang waktunya tiba, dimana ke empat gadis itu bersorak menyemangati team dari sekolahnya.


"Florenzo school!!"


"Florenzo School!!"


"Florenzo School!!"


Sorakan untuk menyemangati Arion dan teman-temannya terdengar sangatlah jelas dari kursi para penonton. Tidak mau kalah dari para pendukung Florenzo School, murid dari SMA Tunas Harapan juga menyoraki nama sekolahnya untuk menyemangati Melvin dan teman-temannya.


"Tunasa Harapan!!"


"Tunas Harapan!!"


"Tunas Harapan!!"


Sorakan dari kedua pendukung semakin keras. Terlebih lagi saat kedua team yang sejak tadi di tunggu-tunggu mulai memasuki lapangan pertandingan.


"Kak Arion semanga!!"


"Kak Rein aku cinta pada mu!!"


"Uwwww!!" Terdengar sorakan untuk murid yang menyemangati dengan kata-kata aneh.


"Semangat!!"


"Semangat!!"


"Semangat!!"


Suara kedua pendukung team tersebut. Lilian mengangkat tinggi-tinggi papan nama yang beberapa hari yang lalu telah ia persiapkan bersama ketiga temannya. Sambil menyebutkan nama Arion, Lilian berdiri sambil melompat-lompat kecil dati tempat duduknya.


"Lilian hati-hati! Lo bisa aja terjatuh!" Peringat Gladis.


Lilian malah tersenyum cengengesan ke arah Gladis.


"Nggak nyangka gue bakal seramai ini pertandingannya! Gue tau sekolah kita itu famous. Tapi gue kagak nyangka aja kalau pertandingannya bakal seramai kek pertandingan di tipi tipi yang gue tonton!" Kata Laura sedikit berteriak.


Suara ribut dari penonton lain mengharuskan ke empatnya harus berbicara sedikit berteriak agar satu sama lain dapat mendengarkan dengan jelas.


"Ho oh ..." Setuju Meira.


Tidak jauh dari kursi Lilian dan ketiga temannya berada. Anin datang bersama dengan Sheril, Naomi dan Karin. Mereka mengambil tempat tempat duduk dua baris di depan Lilian dan ketiga temannya.


"Sejak kapan si Mak Lampir akrab dengan Kak Anin?" Tanya Gladis dengan kening mengerut.


Arah pandang Lilian juga jatuh ke arah kursi yang di tempati Anin dan yang lainya. Tatapan mata Lilian bertabrakan dengan mata Sheril yang terlihat melempar senyum sinis ke arah Lilian.


"Nggak tau! Tapi lihat senyumnya si Mak Lampir ... Sinis amat kek Mak Lampir beneran." Kesal Laura.


"Udah nggak usah lihatin mereka lagi! Merusak pemandangan dan momen baik aja! Lihat di depan sana ... Kak Arion natap ke arah kita." Tunjuk Meira ke arah tengah lapangan.


Benar saja, sejak memasuki lapangan Arion sibuk mencari keberadaan Lilian. Banyaknya penonton yang hadir membuat Arion kesusahan untuk mencari keberadaan gadis itu


Beruntung papan nama yang sebelumnya Lilian buat membantu Arion menemukan keberadaan gadis itu. Terlihat Arion melempar senyum manis serta melambaikan tangan ke arah Lilian dan teman-temannya berada.


Suara di kursi para penonton semakin meriah lantaran melihat Arion melempar senyum selebar itu. Belum lagi Rein, Mario dan Farrel yang juga ikut melambai ke arah Lilian dan ketiga temannya berada.


"Mereka melambai ke arah kita?" Tanya salah satu gadis yang duduk dari tempat duduk Lilian berada.


"Mereka tersenyum ke arah sini."


"Astaga ... Astagaa ... Jantung gue."


"Mak tolong ... Anak mu rasanya mau mati sekarang."


Banyak lagi sorakan-soeakan yang Lilian dengar dari para penonton. Lilian hanya membalas dengan senyuman sambil mengangkat tinggi-tinggi papan nama yang ia pegang. Lilian jelas sangat mengetahui kepada siapa senyuman itu di berikan.


Sedangkan di kursi lain, Anin terlihat tersipu karena merasa Arion melempar senyum ke arahnya. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Anin menyemangati Arion dengan suara keras dan di ikuti oleh Sheril, Naomi dan Karin yang juga duduk di dekatnya.


Di sisi lain lapangan, pandangan Melvin tidak pernah lepas dari tempat Lilian berada. Senyuman yang menghiasi wajah cantik Lilian membuat Melvin juga ikut tersenyum melihatnya.


Namun sayangnya senyuman Lilian di berikan kepada Arion. Itu sebabnya Melvin memutuskan untuk mengalahkan Arion hari ini. Ia merasa Lilian menyukai Arion lantaran lelaki itu adalah most wanted di Florenzo School. Hingga Melvin berpikir akan mengalahkan ketenaran Arion untuk mendapatkan Lilian.


Setelah persiapan selesai, kedua team basket dari kedua sekolah mulai berjalan ke tengah lapangan untuk menentukan siapa yang pertama mendapatkan bola.


Arion dan Melvin saling berhadapan satu sama lain. Setelah wasit melempar bola tinggi-tinggi, permainan pun di mulai. Arion dan Melvin sama-sama melompat untuk menepis bola, namun tangan Melvin jauh lebih cepat dari pada Arion.


Setelahnya bola itu langsung di ambil alih oleh Frans, salah satu anggota dari team basket Tunas Harapan. Setelahnya bola itu kembali oper ke arah Melvin setelah melihatnya maju ke depan.


Melvin mulai bergerak membawa bola dan mencoba lolos dari penjagaan Arion. Setelah mencoba beberapa langkah untuk mengecoh Arion, Melvin memutuskan untuk mengoper bola kepada Rian temannya.


Melvin bergerak maju meninggalkan Arion dari tempatnya kemudian Rian kembali mengoper bola kepada Yoga. Hingga akhirnya bola tersebut berakhir ke tangan Melvin kembali.


Dan shoot, point pertama berhasil di raih oleh SMA Tunas Harapan. Terdengar soarakan meriah dari pendukung Melvin dan teman-temannya.


"Tunas Harapan!!"


"Tunas Harapan!!"


"Tunas Harapan!!"


Suara semangat dari kursi semakin menggelegar. Melvin menunjuk ke arah Lilian saat point pertama ia dapatkan. Hal itu beraryi jika Melvin mempersembahkan point pertamanya untuk Lilian.


Rahang Arion mengeras melihat hal itu, namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Sedikit saja ia terpancing maka permainannya akan mulai kacau. Arion yakin kepada Lilian jika gadis itu tidak akan berpaling darinya.


Pertandingan kembali berlangsung, setelah memberikan point pertama untuk Tunas Harapan kini saatnya Arion dan teman-temannya membalas ketertinggalan.


Arion mengambil langkah besar kemudian mengoper bola kepada Rein. Melvin membayang-bayangin pergerakan dari Arion sehingga Arion memilih beralih ke sisi pojok lapangan. Merasa Arion telah ia berhasil ia kunci pergerakannya, Melvin melempar senyum sinis ke arahnya.


Namun Melvin harus menelan ludah pahit karena merasa di tipu oleh Arion. Arion sengaja membawa Melvin ke pinggir lapangan untuk mempermudah teman-temannya mencetak angka. Rein berkerja sama dengan Farrel untuk saling mengoper bola, setelah merasa Melvin terkecoh, Arion langsung mengambil langkah lebar dan menerima operan bola dari Farrel.


Shoot, Point pertama berhasil di dapatkan oleh Florenzo School. Suara menggelegar kembali terdengar dari kursi pendukung Florenzo School.


"Florenzo School!"


"Florenzo School!!"


"Florenzo School!!"


Sorakan semangat tidak henti-hentinya dari kursi penonton.


Pertandingan selanjutnya berlangsung cukup sengit. Kedua team perwakilan sekolah masing-masing tidak mau mengalah. Babak pertama SMA Tunas Harapan berhasil uggul dengan skor 24-21.


Babak kedua Florenzo School mengejar ketertinggalannya dan berhasil unggul dengan skor 62-56. Namun kedua team masih belum menyerah, masih ada dua babak lagi untuk mengejar kemenangan.


Pertandingan babak ketiga kembali di mulai, Arion dan Melvin sama-sama memberikan perfoma terbaik sebagai ketua team basket sekolah. Namun Melvin memiliki ide picik, ia sudah dapat memprediksi jika team Florenzo School akan unggul dari teamnya. Bukan saja Arion yang perlu di khawatirkan oleh Melvin, namun kemampuan dari Rein, Mario Farrel dan Andri juga harus di pikirkan.


Meski pertandingan mulai memasuki akhir babak ketiga, namun performa dari team basket Florenzo School tidak berkurang sama sekali. Sejauh ini mereka belum mengganti anggota pemain dan masih memiliki banyak tenaga.


Itu sebabnya Melvin mempersiapkan rencana cadangan. Di akhir babak ketiga, jika team dari Tunas Harapan tertinggal jauh, maka mereka akan menjalankan rencananya yaitu dengan bermain kasar.


Sebisa mungkin mereka akan mengacaukan pertandingan sehingga team Florenzo School tidak dapat membawa pulang kemenangan. Beberapa kali Arion dan yang lainnya harus terjatuh dengan keras di atas lantai lapangan lantaran di dorong dengan sengaja.


"Katanya jago!! Main kok kasar!!" Teriak Gladis yang tidak terima.


"Tempat gelut bukan di situ!! Main dengan adil!!" Teriak Laura.


Lilian memegang papan nama di tangannya dengan erat. Melihat Arion, dan teman-temannya terjatuh membuat Lilian khawatir.


"Florenzo Scool!! Kalian bisa!" Teriak Lilian dengan sangat keras.


Semua orang menatap ke arah Lilian berada. Namun gadis itu seakan tidak peduli dengan tatapan semua orang, matanya hanya fokus ke arah tengan lapangan dimana Arion dan yang lainnya berada.


"Semangat!!" Kalian bisa!!" Teriak Lilian lagi.


Melihat Lilian yang semangat mendukung team sekolahnya membuat pendukung lainnya ikut bersemangat. Kembali teriakan semangat dari para pendukung memenuhi se-isi lapangan.


Arion tersenyum kecil melihat kegigihan Lilian dalam mendukung team-nya. Semangat para pemain dari Florenzo School pun bertambah. Sampai akhir babak ke empat, Arion dan teman-temannya berhasil mengalahkan team dari SMA Tunas Harapan dengan skor 102-87.


Sorakan dari kursi penonton kembali menggema setelah wasit menyatakan waktu permainan selesai. Lilian dan ketiga temannya langsung berlari menuju ke tengah lapangan untuk memberikan Arion dan yang lainnya selamat.


Namun langkah Lilian terhenti saat tangan kanannya di tarik paksa ke belakang dan langsung menghadap ke arah Rama yang entah muncul dari mana.


"Lo mau apa?" Tanya Lilian dengan alis mengerut.


Rama tidak menjawab, namun sorot matanya tertuju ke belakang punggung Lilian. Karena merasa penasaran Lilian akhirnya berbalik dan menatap ke arah yang sama dengan pandangan Rama.


Di depan sana, tidak jauh dari tempat Lilian berdiri. Anin memeluk tubuh Arion dengan sangat erat, namun hanya sebentar saja lantaran Arion langsung menghempaskan tubuh Anin dan membuat gadis itu jatuh ke atas lapangan.


Belum sempat Lilian mencerna situasi yang terjadi, Rama kembali menghempaskan tubuh Lilian dengan sangat keras kemudian gadis itu juga terjatuh dengan sangat keras di atas lantai lapangan.


"Awww ..." Pekik Lilian kesakitan.


Tatapan mata Arion tertuju ke arah Lilian yang merintih kesakitan. Di sebelah gadis itu Rama berdiri dengan tatapan nyalang ke arah Lilian. Dengan langkah lebar, Arion berjalan menuju tempat Rama berdiri kemudian langsung memukul wajah Rama dengan sangat keras.


Bugh ...


***Bugh ...


Bugh*** ...


Arion memukuli wajah Rama berkali-kali, ingin sekali Rama melawan namun Arion telah mengunci pergerakannya.


"Stop! Arion ... Gue mohon!" Pinta Anin setelah berdiri dari tempatnya terjatuh.


Arion tidak mendengarkan permintaan Anin dan malah menghempaskan tangan gadis itu dengan keras. Lagi-lagi Anin harus merintih kesakitan lantaran pantatnya harus kembali mencium lantai lapangan.


"Jangan sakitin dia!! Atau gue dapat melakukan hal yang lebih parah dari yang lo terima!!" Teriak Arion dengan wajah memerah.


Rein berlari ke tempat Arion dan Rama berada kemudian memisahkan keduanya.


"Tenang! Dia bisa mati!!" Teriak Rein.


Terlihat dada Arion yang naik turun karena menahan amarahnya terhadap Rama. Mata Arion kembali tertuju ke arah Lilian yang sekarang di dekati oleh Melvin.


Arion kembali mengambil langkah lebar kemudian mendorong Melvin yang sejak tadi memaksa membantu Lilian berdiri.


"JANGAN MENYENTUHNYA!!" Marah Arion.


Arion berjongkok kemudian memeriksa luka yang Lilian dapatkan. Lutut gadis itu terlihat mengeluarkan darah, tatapan nyalang kembali ia arahkan ke arah Rama yang sekarang di bantu berdiri oleh Anin.


"Wisshhh ... Penjaganya datang." Ejek Melvin dengan senyum sinis.


Semua orang yang masih belum meninggalkan lapangan harus menahan napas mereka masing-masing melihat tatapan tajam dari Arion. Para Guru yang masih berada di pinggir lapangan juga harus mengondisikan semua murid-muridnya menjauhi keributan agar tidak terjadi keributan lainnya.


Sejak lama hubungan kedua sekolah tersebut kurang akur. Jika satu orang memulai keributan maka akan ada keributan lainnya yang akan muncul. Itu sebabnya guru harus bisa mengkondisikan suasana agar tidak ada lagi keributan lainnya.


Sedangkan di tengah lapangan, Arion masih menatap tajam ke arah Melvin. Jika terjadi keributan yang semakin besar maka Arion akan mengamankan Lilian terlebih dahulu.


"Mengapa Arion?!! Mengapa lo memukulinya seperti ini?" Pekik Anin keras.


Arion mengalihkan pandangannya ke arah Melvin dan menatap tajam ke arah Rama. Kondisi tubuh Rama sangat mengenaskan, ada banyak luka yang lelaki itu terima dari Arion.


"Jawab gue Arion!!" Teriak Anin lagi.


"Karena dia telah mengganggu milik gue!!" Arion melempar tatapan nyalang ke arah Anin dan membuat nyali gadis itu menciut.


___________________