Lilian

Lilian
Persiapan Festival



Terlihat semua murid Florenzo School tengah sibuk mempersiapkan hal-hal yang di perlukan untuk festival sekolah yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Pihak sekolah pun telah melayangkan undangan kepada orang tua murid dan seluruh murid-murid yang berada di sekolah lain. Hal itu dilakukan agar terbentuknya hubungan baik Florenzo School dengan sekolah lain. Kegiatan festival itu juga dilaksanakan untuk menghindari tawuran dan pertikaian antar murid seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Agar acara festival itu berjalan lancar, Florenzo School meniadakan pemebelajaran sampai beberapa hari ke depan. Hal itu di manfaatkan oleh para Murid untuk mempersiapkan kelas masing-masing supaya mereka dapat memberikan yang terbaik pada hari tersebut.


Hal itu juga di manfaatkan oleh kelas X Mia 1 dengan sangat baik. Mereka terlihat sibuk menyiapkan semua keperluan yang di butuhkan untuk acara festival. Mereka membagi kelompok sesuai dengan keahlian dan minat masing-masing.


Kelompok pertama bertugas membuat kue yang akan di hidangkan pada acara festival. Kelompok kedua bertugas untuk membuat baju dari kain-kain yang sudah mereka pilih sebelumnya. Kelompok ketiga bertugas untuk menyiapkan dekorasi stand yang akan mereka gunakan pada acara festival. Kelompok ke empat bertugas menyiapkan peralatan make up serta mencari beberapa referensi tentang dandanan jaman kuno. Kelompok kelima menyiapkan strategi untuk menarik pengunjung. Kelompok ke lima bertugas untuk mengambil gambar mulai dari persiapan sampai acara festival selesai. Sisanya bertugas untuk mengamankan stand dan beberapa hal lain yang diperlukan.


Setelah beberapa hari sibuk menyiapkan keperluan untuk festival. Semua Murid kelas X Mia 1 akhirnya dapat bernapas dengan lega setelah menyelesaikan semua kebutuhan yang di perlukan.


"Akhhhhh ... Akhirnya gue bisa beristirahat juga!" Ujar Denis sambil meregangkan otot-otot pada tubuhnya. Seharian menyiapkan dekorasi untuk stand kelas mereka membuat tubuh Denis terasa pegal.


"Gue harap setelah hari ini kita dapat sedikit bersantai." Harap Bimo dengan nada lelah.


"Tentu aja bisa! Kita dah hampir menyelesaikan semua persiapan-nya. Setelah hari ini pekerjaan kita akan lebih ringan dari hari-hari sebelumnya." Jawab Lilian tanpa melihat ke arah Bimo. Tangangnya sibuk memasukan beberapa hiasan untuk dekorasi ke dalam dus besar.


"Oh iya ... Gimana persiapan kue-nya?" Tanya Denis.


Lilian masuk kedalam kelompok membuat kue dengan beberapa temannya yang lain. Kue yang Lilian buat adalah kudapan yang sering di hidangkan pada acara penting kerajaan. Jika pada jaman dahulu banyak yang suka dengan kue itu, maka tidak menutup kemungkinan pada jaman sekang kue-kue itu akan di sukai banyak orang, begitu pikir Lilian.


"Persiapannya hampir selesai ... Ada beberapa jenis kue kering yang dah selesai di buat. Tetapi ada juga beberapa kue yang harus di buat menjelang hari H. Jadi agar tidak mengurangi rasa dari kue-nya, Gue dan yang lain memutuskan agar sebagian kue-nya di buat sehari sebelum acara festival." Jelas Lilian panjang.


Bimo menyimpan hiasan dekorasi di tangannya dengan asal kemudian berjalan mendekat ke tempat Lilian berada. "Lilian ... Gue denger dari anak-anak, katanya kue yang lo buat adalah resep baru ya?" Tanya Bimo hati-hati.


Lilian tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya pelan. "Yap ... Resep itu adalah resep baru." Jawabnya.


"Nggak apa-apa emang di jual pas acara festival?" Tanya Kamal.


"Nggak apa-apa. Malah bagus buat toko kue Mama gue. Jadi nggak perlu promosi." Jawab Lilian enteng.


"Anjirrrr ... Bener juga, ya. Kok gue nggak ke pikiran kesana." Ujar Denis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Otak lo pada lagi belum bisa di ajak bisnis ... Cepet gede makanya biar bisa mikir untuk kedepan." Ledek Lilian dengan wajah songongnya.


"Alaaaah ... Dasar kutu!" Ketus Kamal tak terima.


"Terus gimana dengan persiapan lain?" Tanya Lilian dan mengabaikan Kamal yang masih terus saja protes.


"Meira dan anak-anak jahit dah hampir selesai ... Mungkin besok udah bisa di cobain tuh baju-bajunya." Jawab Denis.


"Bagus dong ... Gladis juga tadi ngabarin kalau kelompoknya dah dapat make up yang pas buat tema cafe kita." Ucap Lilian.


"Baguslah ..." Ujar Denis kemudian ia mulai memasukan dekorasi yang sudah jadi ke dalam dus besar.


"Ok lah ... Kalian selesain sisa-nya. Gue mau pulang, capek." Ucap Lilian sambil merapikan rok-nya.


"Lah ... Gitu doang?" Tanya Bimo.


"Iyalah ... Tadi gue mampir doang. Gue ada urasan lain ... Jadinya harus segera pulang." Jawab Lilian enteng.


Benar, Lilian ke sekolah hanya mampir untuk melihat persiapan teman-temannya. Sebelumnya ia dan beberapa temannya sedang membuat kue di toko Efina. Karena tugas mereka sudah selesai maka mereka bisa pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.


Jalan pulang menuju rumah Lilian harus melewati sekolahnya. Untuk itulah Lilian memutuskan untuk mampir sebentar.


"Bye ... Bye ... Semua. Sampai bertemu besok." Lilian berjalan ke arah pintu sambil melambaikan tangan kepada teman-temannya.


"Ati-ati Lo." Teriak Denis dari dalam kelas. Suaranya masih terdengar jelas oleh Lilian yang masih berada tidak jauh dari luar kelas.


Meski pembelajaran ditiadakan untuk sementara namun masih banyak sekali murid dari Florenzo School yang masih terlihat di sekolah. Rata-rata dari mereka sedang sibuk menyiapkan untuk acara festival yang akan datang.


Kesibukan para murid itu berhasil menarik sedikit bibir Lilian untuk tersenyum. Sungguh pemandangan yang sungguh langka yang pernah Lilian lihat di Florenzo School. Biasanya Lilian melihat ada sorot mata persaingan antara murid satu dengan yang lainnya, namun beda halnya dengan hari ini. Lilian dapat melihat kekompakkan dari para murid-murid itu.


Lilian menghela napas pelan kemudian menghirup udara sekitar tempat ia berjalan. Meski sekolahnya di dirikan di tengah-tengah kota namun udara di sekolahnya masih sejuk lantaran banyak pohon dan tanaman lainnya yang ditanam.


"LILIAAAAAAN." Terdengar suara cempreng yang sangat Lilian kenali dari arah belakang punggungnya.


Tap ... Tap ... Tap ...


Suara sepatu seseorang yang berlari mendekat ke tempat Lilian berada.


"Li ... Li ...an ... Lo ... Ja ... Lannya ... Ce ... pet ... Amat ... Ca ... Pek ... Gu ... e ... kaaah ... Kaaaah ..." Gladis berjongkok dan memegangi dadanya.


"Lo napa sih?" Lilian mengelus punggung Gladis dengan pelan.


"Gu ... e Lagi ... Ngejar ... Lo. Bego! Lo nya aja yang jalannya cepet!" Ketus Gladis dengan napas yang masih ngos-ngosan.


"Napa lo ngejar gue?" Lagian gue kira lo lagi di luar nyiapin peralatan make up." Ucap Lilian.


Lilian mengangguk kecil. "Gue juga mampir buat liat persiapan anak-anak itu. Tapi ternyata mereka bisa di percaya ... Kerjaannya bagus."


"Bagus ... Ada si Denis yang ngontrol. Kalau kagak ... Mana tau mereka pada kabur." Ujar Gladis sambil mengipasi wajahnya yang berkeringat.


"Oh iya ... Tadi gue ke kelas nggak liat lo. Kemana, lo?" Tanya Lilian dengan tatapan curiga.


"Sans aja dong tatapannya ... Tadi gue ke toilet, kebelet pipis. Nah kan ... Gue baru inget tujuan gue manggil lo. lo sih ... Kan tadi gue jadi lupa." Gladis menepuk tangan Lilian sesikit keras.


"Apaan sih? Mana tau gue lo ada maksud manggil gue." Ucap Lilian sedikit ambigu.


"Maksud apaan?! Jangan ngadi-ngadi ya lo!" Cerocos Gladis dengan tatapan tajam. "Dah lah ... Kagak usah bacot terus ... Ntar gue lupa lagi." Lanjutnya.


"Ada apaansih? Kek nya serius banget, ya?" Tanya Lilian yang mulai penasaran.


"Lo tau nggak?" Tanya Gladis dengan wajah serius.


"Kagak ... Mana tau gue kalo lo belum ngasih tau." Heran Lilian.


"Lo tau apa yang di siapin Kak Arion dan Geng-Geng nya itu buat acara festival?" Tanya Gladis dengan wajah yang serius.


"Tau ... Fotografi kan?" Tanya Lilian balik.


"Terus?" Bukannya menjawab Gladis malah balik bertanya.


"Lo kagak jelas banget ... Terus apaan? Foto ya foto ... Meski kek harus ada penjelasan lagi!" Kesal Lilian.


"Ishh ... Lo tau kagak, kalau kelas Kak Arion dan kawan-kawan menyediakan stand khusus bagi siapa aja yang mau foto bareng mereka tinggal bayar." Jelas Gladis dengan raut wajah serius.


Lilian terdiam sebentar untuk mengolah informasi yang baru saja ia dengar. "Ma ... Maksudnya siapa aja boleh foto bareng mereka asal bayar, gitu?" Tanyanya.


Gladis mengangguk cepat. "Betul ... Tadi gue nggak sengaja denger pas di toilet. Anak-anak perempuan dah pada heboh ngebahas hal itu."


Lilian mengepal kedua tanganya dengan erat. " Dasar Es Batu! Berani-beraninya dia nggak ngomong apa-apa kek gue!" Kesal Lilian kemudian berjalan dengan tergesa menuju kelas Arion berada.


"Ehhh ... Kutu Ayam! Tungguin gue!" Teriak Gladis saat Lilian mulai berjalan jauh.


Lilian memencet tombol lift dengan tidak sabaran. Kesal dengan pintu lift yang belum juga terbuka, ia pun memutuskan untuk berjalan menuju tangga darurat. Sepanjang jalan ia tidak menghiraukan panggilan dari Gladis yang memintanya untuk sedikit bersabar. Yang Lilian pikirkan saat ini adalah sampai ke kelas Arion dengan cepat.


Tiba di depan pintu kelas Arion, Lilian membuka pintu kelas itu dengan sangat keras hingga terdengar suar dentuman yang sedikit keras.


Paaaaakkkk ....


Semua penghuni dalam kelas terkejut mendengar suara dentuman tersebut. Beberapa murid bahkan sampai terjungkal ke depan dan tidak sadar menyumpah serapahi orang yang telah menciptakan kagaduhan tersebut.


"Astagaaa ... Kaget gue." Farrel mengelus pelan dadanya dan memandang ke asal suara.


"Kesambet, lo? Dateng bukanya say hello malah bikin gue kaget!" Cercah Rein yang juga sama kaget dengan yang lain.


Lilian mengabaikan tatapan kesal dari semua orang dan hanya fokus ke tempat Arion berada. Lelaki itu sedang duduk di kursinya dengan tangan menyilang di depan dada. Orang lain yang melihat Arion saat ini mungkin akan terpana. Ia duduk tepat di samping jendela dengan mata yang masih tertutup rapat. Sinar yang masuk melalui jendela kelas menambah ketampanan lelaki itu.


Jika tidak dengan keadaan marah Lilian mungkin akan mengagumi ketampanan itu. Namun beda halnya dengan saat sekarang, baginya Arion saat ini adalah mangsa yang harus diburu olehnya.


"Lo nggak apa-apa?" Tanya Mario lembut. Keningnya sedikit mengerut melihat tatapan tajam yang Lilian layangkan ke arah Arion.


Tanpa mau membuang waktu Lilian langsung berjalan ke tempat Arion berada.


Braaaaakkk ....


Lilian menggebrak meja dengan sangat keras. Sedangkan Arion yang sejak tadi menutup mata langsung memandang tajam ke arah orang yang telah mengganggu tidurnya.


Tatapan Arion berubah saat menyadari jika yang menggebrak meja adalah Lilian. Spontan senyuman manis kembali terukir di wajah tampannya itu.


"Saat ini senyuman itu tidak akan membuat gue tergoda." Batin Lilian.


"Lilian." Panggil Arion lembut.


"Nggak usah sok manis! Gue kagak punya waktu buat basa-basi!!" Ketus Lilian dengan wajah garangnya.


"Lo." Tunjuk Lilian dengan raut wajah marahnya. "Jual diri?!" Lanjutnya.


Arion langsung mengerutkan kening mendengar ucapan Lilian.


_____________________