Lilian

Lilian
Tertindas atau Melawan



Lilian tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya karena telah diberi ijin untuk kembali mengenderai sepeda motor. Sejak memasuki mobilnya, senyuman Lilian tidak pernah pudar dari wajah cantiknya.


Lilian bahkan bersenandung kecil menyanyikann lagu permission to dance yang sekarang lagi trend di kalangan remaja. Kepalanya bergerak sesuai nada yang ia nyanyikan dan matanya sesekali melirik ke arah luar kaca jendela mobil.


Saat lampu merah terakhir menuju sekolahnya, mata Lilian tidak sengaja melihat seorang yang kemarin sempat membuatnya kesal. Orang itu tidak lain adalah Arion yang sekarang tengah duduk di atas motos sport warna merah campur putih sedang menunggu lampu hijau.


Masih dengan perasaan bahagianya Lilian menurunkan kaca jendela mobil dan menyapa Arion yang berada tepat disamping mobil miliknya.


"Selamat pagi Kak Seint! Kebetulan sekali bisa ketemu di sini." Sapa Lilian riang.


Arion hanya menatap Lilian dengan malas kemudian matanya kembali fokus menatap ke depan.


"Dingin banget kek es batu ... Eh ngomong-ngomong Kakak udah sarapan belum? Kalau belum ..." Ucapan Lilian terhenti karena Arion telah melajukan motornya dan meninggalkan Lilian tanpa sepatah kata pun.


"Dasar papan datar, main tinggal aja ..." Kesal Lilian.


"Pak jalan cepat ... Nanti papan datar nggak bisa ke kejar." Ujar Lilian yang langsung di angguki oleh supirnya.


Tidak lama mobil Lilian memasuki gerbang Florenzo School, Saat Lilian melihat Arion yang mulai turun di atas motornya, dengan langkah cepat Lilian keluar dari mobilnya dan berlari kearah Arion berada.


"Ehhh Papan Datar ... Lo kelewatan ya, udah gue kasih hati masih aja lo minta usus gue!" Celetuk Lilian asal saat ia baru sampai di samping motor Arion.


Arion kembali mengabaikan kehadiran Lilian dan berajalan melewatinya. Lilianpun tidak menyerah dan langsung menghadang jalan Arion.


"Papan Datar ... Lo lagi sariawan ya?" Tanya Lilian sambil merentangkan tangannya untuk menghalangi jalan Arion.


"Minggir!" Kata pertama yang akhirnya Arion keluarkan.


"Ehhh gue kira tadi bisu ... Ternyata mulutnya masih berfungsi juga buat ngomong." Kata Lilian mengabaikan ucapan Arion sebelumnya.


Arion tidak ingin meladeni Lilian, ia menarik salah satu tangan Lilian kemudian menyingkirkan dari hadapannya. Arion kembali berjalan menuju kelasnya berada tanpa peduli Lilian yang sudah memanggilnya beberapa kali.


Namun tidak lama setelahnya langkah Arion terhenti saat ia merasakan sebelah tangannya di peluk oleh seseorang yang tidak lain adalah gadis yang sejak tadi mengganggunya.


"Lo maunya apa sih?" Tanya Arion yang akhirnya jengah dengan kelakuan Lilian.


"Gue maunya lo ... Cuman lo nya aja yang terlalu jual mahal." Ujar Lilian tanpa mau melepaskan pelukannya di tangan Arion.


Arion mencoba melepaskan tangannya namun Lilian semakin mengeratkan pelukannya. "Lo itu sebagai cewek harus bisa menjaga harga diri lo ... Dengan begini orang bakalan mikir lo itu cewek mur**an." Nada suara Arion mulai meninggi.


"Memangnya lo mikirnya gue kek gitu?" Tanya Lilian menatao langsung ke arah mata Arion.


Arion menghela napas pelan dan memijit pelan keningnya. "Lepasin gue!" Nada suara Arion kembali rendah namun tatapan matanya menyiratkan ketidak sukaannya terhadap kelakuan Lilian.


Lilian perlahan melepaskan tangan Arion dengan menundukkan wajah sedih. Tanpa berkata apapun gadis itu berjalan pergi meninggalkan Arion sendirian. Sedangkan Arion sendiri merasa heran dengan kelakuan Lilian, baru saja gadis itu tidak ingin melepaskannya namun tanpa berkata apapun gadis itu pergi meninggalkannya.


Arion baru tersadar akan lamunannya setelah mendengar suara bisik-bisik dari para murid yang menyaksikan keduanya sedari tadi. Tidak ingin terlalu lama di perhatikan oleh banyak orang, ia pun segera pergi menuju kelasnya.


_______________


Lilian memasuki kelasnya dengan muka ditekuk. Mendengar ucapan Arion tadi membuat suasana hati yang sebelumnya cerah kini berubah menjadi mendung.


Ketiga teman Lilian menatap bingung satu sama lain melihat raut wajah dari Lilian. Sejak kemarin ketiganya berencana datang lebih awal untuk melakukan introgasi dadakan terhadap Lilian.


"Ehhh pagi-pagi muka lo kenapa kusut begitu? Padahal kita sudah nungguin lo dari tadi." Ucap Laura yang tidak tahan untuk tidak bertanya.


Lilian menghela napas pelan kemudian meletakan kepalanya di atas meja. "Gara-gara Seint." Jawabnya pelan.


"Seint?" Tanya Gladis yang tidak paham dengan ucapan Lilian.


"Maksud lo Kak Arion?" Tanya Meira.


Lilian hanya mengangguk pelan kemudian menyembunyikan wajahnya dilipatan kedua tangannya.


Lilian kembali menegakkan badannya dan menatap ketiga temannya secara bergantian. "Kenapa lo pada nungguin gue?"


Laura memukul sebelah tangan Lilian kesal mendengar pertanyaan Lilian. "Lo ini gimana sih ... Kemarin saat dilapangan lo di gendong pergi sama Kak Arion dan nggak balik-balik sampai jam terakhir."


Gladis memperbaiki posisi duduknya agar nyaman berbicara dengan Lilian. "Berita lo yang di gendong sama Kak Arion sudah tersebar luas satu sekolah. Kak Arion tidak suka disentuh oleh cewek, tapi kemarin saat dilapangan ia sendiri yang menggendong lo pergi." Cerita Gladis dengan menggebu-gebu.


"Sebenarnya kemarin ada apasih? Apa yang lo bahas sama Kak Arion? Kok lo harus di gendong sama Kak Arion?" Tanya Meira berentun.


Lilian menggaruk lehernya pelan, bingung mau menjelaskan apa kepada teman-temannya. "Gue sendiri aja bingung dengan kejadian kemarin ... Bagaimana gue harus ngejelasin ke kalian?" Tanya Lilian sambil menghela napas pelan.


Laura berdecak kesal dengan jawaban yang Lilian berikan. "Lo bagaimana sih ... Kemarin lo itu pingsan atau bagaimana?" Tanya Laura benar-benar penasaran.


"Kayaknya tertidur." Jawab Lilian singkat.


Ketiga teman Lilian membuka mulut lebar-lebar mendengar jawaban dari Lilian.


"Tutup tuh mulut! Lalat masuk tau rasa!" Ucap Lilian sambil menatap malas ketiga temannya.


Refleks ketiga teman Lilian menutup mulut mereka masing-masing. "Kok bisa lo ketiduran kayak begitu? Satu sekolah benar-benar gempar dari kemarin ... Kak Sheril dan teman-temannya bolak balik kelas kita beberapa kali untuk melihat lo udah kembali atau belum." Cerita Gladis penuh semangat ke arah Lilian.


"Seriusan sampai beberapa kali? Kayaknya kemarin gue kecapean makanya bisa ketiduran gitu." Kata Lilian mulai mengikuti pembahasan ketiga temannya.


Meira mengangguk cepat. "Serius ... Mungkin hari ini mereka bakalan balik lagi buat nyariin lo."


"Kayaknya mereka mau ngelabrak lo ... Secara ya selama ini nggak ada orang yang berani dekat-dekat sama Kak Arion, kalaupun ada mereka bakalan memilih mundur karena harus secara langsung berhadapan dengan Kak Sheril." Jelas Gladis mengingat kejadian-kejadian yang sebelumnya ia temui selama bersekolah di Florenzo School.


"Memangnya pengaruh Kak Sheril itu sebesar apasih? Mengapa orang-orang oada takut padanya?" Tanya Lilian penasaran dengan cerita ketiga temannya.


Ketiga teman Lilian merapatkan kursi mereka agar semakin mendekat dengan posisi duduk Lilian.


"Lo baru pindah ke Jakarta baru beberapa hari jadi wajar saja lo nggak akan tahu sejarah tentang mereka." Ujar Gladis pelan yang hanya dapat di dengar oleh mereka berempat.


Laura mengetuk jarinya ke atas meja dengan pelan agar Lilian fokus menatap ke arahnya. "Kemarin secara singkat kita bertiga udah ngejelasin ke lo ... Kalau Kak Sheril itu salah satu Putri dari perusahaan besar. Sebenarnya ada sepuluh keluarga besar di Indonesia yang tidak bisa di singgung dan salah satunya adalah keluarga Kak Sheril. Ayahnya pemilik perusahan besar yang bergerak di berbagai bidang, dengan kekuasaan ayahnya Kak Sheril memanfaatkannya untuk menekan orang lain. Misalnya seperti kita-kita yang berasal dari keluarga sedang ini." Jelasnya panjang kali lebar.


"Lalu apakah pihak sekolah akan diam saja melihat ke adilan disekolah ini tidak di tegakkan dengab baik?" Tanya Lilian yang tidak mengerti dengan kebijakan yang dibuat oleh sekolah.


Meira mendekatkan wajahnya agar lebih dekat dengan Lilian. "Lilian kita berada di Florenzo School dimana yang paling berkuasa di sini adalah orang-orang dari kalangan atas. Ceo-Ceo dari perusahaan besar sebagian besar bersekolah di sini dan hampir ahli weris mereka beekumpul di sini ... Sebagai kelas menengah kita hanya bisa ambil jalan aman saja agar kita bisa lulus tanpa hambatan apapun." Jelas Meira dengan raut wajah yang sangat serius.


"Jadi maksud kalian ... Meskipun kita benar namun karena status kita lebih rendah, maka kita akan tetap bersalah di mata para guru. Begitu?" Tanya Lilian yang mulai mengerti pembahasan dari ketiga temannya.


Ketiga temannya kompak mengangguk bersamaan. "Siapa yang lemah maka dia akan di mangsa oleh yang kuat ... Peraturan itu memang tidak tertulis di sekolah ini namun realita yang terjadi adalah hal semacam itu." Jelas Gladis.


"Kalau begitu jika Kak Sheril dan teman-temannya datang mencari masalah dengan gue, haruskah gue hanya menerima apa yang akan mereka lakukan terhadap gue?" Tanya Lilian yang membuat ketiga temannya saling menatap satu sama lain.


"Gue bukan orang lemah dan mudah di tindas ... Terlebih lagi gue harus mengalah atas kesalahan yang nggak gue lakuin sama sekali. Gue nggak mau menjadi pecundang yang hanya melihat dan menerima perlakuan tidak adil yang orang lain lakuin terhadap gue. Jika gue merasa benar maka sebisa mungkin gue akan melawan ketidak adilan yang akan gue terima." Kata-kata Lilian membuat ketiga temannya tertegun.


Selama ini demi menghindari masalah ketiga teman Lilian hanya akan menjadi penonton atas ketidak adilan yang orang lain terima.


"Lo tidak takut dikeluarin?" Tanya Meira pelan.


Lilian menghela napas pelan. "Jika gue tidak mendapat ke adilan dan di keluarkan maka hal itu tidak akan menjadi masalah ... Gue terbiasa berpindah sekolah terus namun sebelum gue benar-benar pergi maka orang itu juga harus mendapatkan hukuman dari ketidak adilan yang gue dapatkan." Jawaban Lilian kembali membuat ketiga teman Lilian kembali mengingat kejadian apa saja yang pernah lalui di Florenzo Scholl.


"Tidak akan mudah bagi murid yang dikeluarkan oleh Florenzo School ... Gue dengar mereka harus merubah nama agar dapat melanjutkan pendidikanya." Ujar Laura hati-hati.


"Ahhh sudahlah ... Mengapa kalian menghawatirkan sesuatu yang belum terjadi? Gue akan menjalani kehidupan yang gue inginkan dan mari kita melihat apa yang akan terjadi di kehidupan gue untuk kedepannya." Ujar Lilian dengan senyum mengembang dari bibirnya.


Tidak lama kemudian bel masukpun berbunyi. Lilian beserta teman-temannya mengikuti pelajaran sesuai jadwal yang sebelumnya telah dibagikan


__________________