Lilian

Lilian
Lapangan



Lilian, Gladis, Meira dan Laura selesai mengganti seragam sekolahnya dengan seragam olahraga. Ke empatnya berjalan menuju lapangan sesuai arahan dari Pak Beni selaku olahragannya.


Semua murid kelas X Ipa 1 Sebelum melakukan olahraga berat, terlebih dahulu mereka melakukan pemenasan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di ingankan. Denis selaku ketua kelas diminta oleh Pak Beni menjadi Instruktur untuk pemanasannya.


Setelah pemanasan selesai, murid kelas X Ipa 1 dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Kelompok laki-laki akan bermain sepak bola melawan kelas X Ipa 4 yang kebetulan juga memiliki jam olahraga yang sama dengan X Ipa 1. Sedangkan kelompok perempuan bermain bola voli melawan kelas yang sama.


Kegiatan mereka berjalan lancar meski banyak sekali murid perempuan lainnya yang selalu menargetkan Lilian, namun dengan gesit gadis itu selalu bisa menghindari serangan dari pihak lawan.


Permainan mereka selesai dengan nilai X Ipa 1 berhasil unggul karena kelas mereka bermain dengan serius dan kompak. Sedangkan untuk kelompok laki-laki, permainan mereka seimbang dan memperoleh nilai seri.


Lilian beserta teman sekelasnya berjalan ke pinggir lapangan untuk sekedar beristirahat karena letih sehabis melakukan olahraga.


"Ntar sebelum bel pergantian jam bunyi ... Kalian semua harus udah selesai gantai baju!" Ujar Denis sambil mengipas wajahnya menggunakan bekas koran yang entah ia dapatkan dari mana.


"Iya ... Iya bawel banget deh lo kek cewek!" Ujar Bimo sambil mengelap keringatnya.


"Lo harusnya bersyukur ada gue yang merhatiin ..." Jawab Denis.


Bimo mencari batu kecil disekitarnya kemudian melempar ke arah Denis. "Ehhh cucurut ... Siapa juga yang minta lo perhatiin? Ogahh baget gue!" Ujarnya dengan gaya merinding.


"Berani ya lo lawan ketua kelas? Mau gue aduin kelakuan nakal lo selama ini sama Bu Clara?" Ancam Denis dengan raut wajah sinis yang di buat-buat.


Bimo mengepalkan tangannya dan meninju udara. "Lo teman terkampret yang gue punya!" Sahuttannya membua teman-temannya menertawai kelakuannya.


"Ahhh kalian berdua berisik banget ... Cuaca panas malah semakin panas lihat lo berdua!" Celetuk Gladis tiba-tiba.


"Ehhh anak kunti satu! Lo jangan asal ngerocos ya ... Mau gue pites lo?" Bimo berjalan menuju tempat duduk Gladis dan mengapit kepala Gladis di ketiaknya.


"Eehh Bimo anjirrr banget lo ... Gue keknya mau mati karena bau ketiak lo." Gladis mencoba melepaskan diri dari jepitan tangan Bimo.


Lilian dan teman sekelas lainnya hanya tertawa melihat tingkah keduanya.


"Gue udah pakek deodoran mahal ... Lo coba nyium nih ... nih ..." Bimo semakin mengeratkan jepitannya.


Gladis hampir mau muntah karena tidak tahan dengan bau ketiak Bimo. Bayangkan saja, Bimo baru selesai bermain sepak bola dan mengeluarkan banyak keringat. Gladis hanya punya satu cara yaitu menggigit perut Bimo dengan sangat keras.


Spontan Bimo memekik kesakitan dan melepas jepitannya pada Gladis. "Kanibal lo ya!!"


Gladis menatap tajam ke arah Bimo. "Lo udah berapa tahun nggak pernah mandi? Rasanya gue pengen mati aja karena nyium bau badan lo! Habis ini gue harus mandi kembang sepuluh rupa buat ngilangin bau busuknya." Ketusnya dan menatap Bimo dengan tatapan permusuhan.


"Ehhh kanibal! Lo harusnya bersyukur karena gue telah mengijinkan lo menyium bau surga. Ada banyak sekali cewek diluar sana yang mengantri hanya untuk menyium bau ketiak gue." Ucap Bimo sambil mengangkat ketiaknya ke arah Gladis.


Gladis siap-siap mengambil ancang-ancang memukul Bimo jika ia berani mendekat. "Malang sekali nasib cewek itu harus mati karrna menyium bau busuk ketiak lo!" Ketus Gladis sambil menjauhi Bimo.


Lilian dan teman-teman lainnya tertawa sampai mengeluarkan air mata melihat kelakuan kedua temannya. Bimo dan Gladis memang tidak pernah akur jika bertemu namun hal itulah yang membuat pertemanan mereka semakin kuat.


"Suami dan Istri ini tiap hari berantem mulu ... Kalian kapan akurnya?" Celetuk Bayu tiba-tiba yang membuat semua teman-temannya kembali tertawa.


"Bagaimana mau akur ... Tiap hari ketemu pasti KDRT melulu!" Ujar Kamal yang langsung mendapat toyoran dari Gladis.


"Anjir ... Sakit Dis." Ucap Kamal dan mengusap kepalanya pelan.


"Rasskan itu emang enak!" Laura tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah sakit dari Kamal.


"Cewek dikelas kita kayaknya nggak ada yang normal ... Semuanya bar-bar. mending kita pindah kelas aja. Ayo!" Ajak kamal yang langsung di angguki oleh teman-temannya yang lain.


"Pergi aja sana jauh-jauh!! Tidak tahu aja kalau kami ini banyak disukai oleh banyak murid laki-laki disekolah ini." Ujar Ika menanggapi ucapan Kamal.


"Kalian hanya akan menjadi penonton dan menggigit kuku dipojokan saat melihat kami bersinar terang." Kata Nuril sambil mengibas rambutnya kebelakang.


"Memangnya kalian lampu sorot 12000 Volt?" Celetuk Denis sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kami lebih terang dari itu." Ujar Mia asal.


Lilian menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan aneh dari teman-temannya. Semakin lama berteman dengan mereka Lilian mungkin akan ikut gesrek.


Guyunan mereka masih terus berlanjut tanpa ada yang mau mengalah, baik itu dari pihak perempuan maupun pihak lelaki, hingga suara riuh terdengar disekitar lapangan tempat mereka semua beristirahat.


Dari seberang lapangan tempat X Ipa 1 beristirahat, Terlihat Geng Andromeda berjalan memasuki lapangan namun ke empatnya masih dengan seragam sekolah lengkapnya.


Mereka bukannya ingin bermain, melainkan hanya ingin duduk bersantai disalah satu pohon bagian selatan lapangan. Keempatnya hanya melewati lapangan dan duduk bersandar disalah satu pohon.


Ada banyak sekali murid perempuan yang mendekati mereka sambil memebawa sesuatu ditangan masing-masing. Dari jauh Lilian dapat melihat raut wajah dingin dan cuek dari Arion meski disekitarnya ada banyak sekali kaum hawa yang mengerubungi mereka seperti semut.


Arion hanya memainkan games diponselnya dan tidak sesikitpun melirik ke arah perempuan-peruampuan yang berusaha mendekatinya.


"Lilian ada Arion tuh." Tunjuk Meira ke arah Arion dan teman-temannya berada.


"Lilian udah tau ... Masa iya nggak lihat orang segede itu!" Ujar Gladis tiba-tiba.


Meira berdecak kesal. "Sensi banget lo hari ini ... Gue ngomong sama Lilian.!"


Lilian masih memperhatikan Arion dari jauh dan tidak bergerak sedikitpun. Sebenarnya sebelum berangkat sekolah ada banyak sekali rencana yang Lilian pikirkan untuk mendekati Arion namun semua rencananya harus kembali ia urungkan karena kejadian tadi pagi.


"Kalau lo suka kenapa nggak lo samperin?" Tanya Laura sambil mengamati raut wajah Lilian.


Lilian hanya terdiam dan masih tidak mengalihkan pandangannya kearah Arion. "Gue lagi susun rencana." Ucapnya tiba-tiba.


"Rencana apa?" Tanya Gladis penasaran.


Bukannya menjawab Lilian malah berdiri dari duduknya dan berniat berjalan pergi.


"Lo mau kemana?" Tanya Gladis yang segeta ingin menyusu Lilian.


Lilian membalikan badannya dan melempar senyum misterius. "Kalian tunggu di sini dan jangan kemana-mana!" Ucapnya kemudian berjalan menjauhi lapangan.


Semua teman sekelas Lilian merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Lilian. Bukannya berusaha mendekati Arion, gadis itu malah berjalan menjauhi lapangan dan menyiruh teman-temannya untuk menunggu.


Tidak lama Lilian kembali dengan membawa sebotol air mineral dan menenteng sebuah plastik kecil ditangannya. Bukannya kembali bergabung dengan teman-temannya, gadis itu malah berjalan melewati teman-temannya menunu ke tempat Geng Andromeda berada.


Teman-teman sekelas Lilian mulai memahami maksud dari Lilian, ia pergi membeli sebotol minuman dan makanan ringan untuk ia berikan pada Arion.


Setelah berhasil melewati para penggemar Geng Andromeda, Lilian berjalan lurus menuju ke empat mos wanted itu berada. Rein, Farrel dan Mario tersenyum cerah melihat keberanian Lilian untuk mendekati Arion. Sedangkan Arion sendiri hanya sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan orang-orang disekitarnya.


"Ekhmmm ..." Lilian berdehem pelan saat posisinya sudah berada tepat didepan Arion.


Arion tidak bergerak bahkan tidak mendongakkan wajahnya sedikitpun hanya untuk menatap orang yang berada didepannya. Mata Arion hanya terfokus pada layar ponsel yang menampilkan permainan tembak menembak.


"Ekhmmmm ..." Lilian kembali berdehem dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.


Lagi-lagi Arion mengabaikannya dan hanya fokus menatap layar ponselnya. "Apakah layar ponsel itu jauh lebih baik dibandingkan dengan wajah ku?" Batin Lilian.


Ketiga teman Arion mulai menahan tawanya melihat kelakuan Arion yang tidak pernah berubah sedikitpun. Arion akan mengabaikan orang yang mendekatinya sampai orang itu menyerah dan memilih pergi dengan sendirinya.


Namun hal itu tidak berlaku bagi Lilian, dengan langkah cepat Lilian merebut paksa ponsel Arion dan memasukan benda pipih itu ke dalam saku celana olahraga miliknya.


Arion mengepalkan tangannya sebelum ia mendonggakkan wajahnya untuk melihat orang yang telah berani mengganggu ketenangannya.


"Kau." Ucapnya dengan nada dingin khas miliknya.


"Apa?" Tanya Lilian dengan mata melotot.


"Ponsel gue!" Arion menatap Lilian dengan tatapan tajamnya dan mengangkat tangannya di udara meminta ponselnya untuk dikembalikan.


Bukannya mengembalikan ponsel Arion, Lilian malah menaruh sebotol air mineral ke tangan Arion. Marah karena ponselnya tidak dikembalikan, Arion malah meremas kuat air meneral itu dan membuangnya dengan kasar. Beruntung air mineral itu tidak tumpah keluar.


"Wahhh kuat sekali pengaman botol itu, merek terkenal pasti. Lain kali gue harus membeli air mineral dengan merek yang sama." Gumam Lilian sambil menatap ke arah botol ai mineralnya.


"Ponsel gue!" Kata Arion kembali meminta ponselnya.


Bukannya memberikan ponsel Arion, Lilian malah berjalan memungut air mineralnya dan kembali berdiri dihadapan Arion. Semua orang menahan napas sesaat melihat kelakuan Lilian, gadis itu benar-benar menguji tingkat kesabar Arion.


"Selain tidak tahu malu ... Apa sekarang lo juga udah tuli?!!" Arion benar-benar tidak dapat lagi menahan amarahnya.


Semua orang termasuk ketiga teman Arion mengacungkan jempol terhadapa keberanian yang Lilian miliki. Tidak hanya berani, gadis itu tidak memiliki sedikitpun rasa takut di wajah cantiknya.


"Tidak tahu malu? Ada kok cuman kalau sedang ngehadapin papa datar kayak lo." Tunjuk Lilian kemudian mengangkat ke dua bahunya cuek. "Harus extra tebal ... Kalau tuli, gue masih memiliki pendengaran yang bagus, cuman Kaknya aja yang ngegas." Lanjut Lilian.


Arion mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju udara dengan keras. "Sebelum kesabaran gue abis ... Balikin ponsel gue!" Ucapnya dengan menahan amarahnya agar tidak meledak.


Lilian menatap kebawah kantong celananya kemudian kembali menatap ke arah Arion. "Ambil sendiri." Katanya dengan raut wajah santai.


Ketiga teman Arion melongo tidak percaya mendengar ucapan Lilian barusan, bukan hanya tidak takut kepada Arion, gadis terlalu berani dengan mengatakan hal itu kepada Arion.


Arion memperpendek jaraknya denga Lilian kemudian sedikit membungkuk badannya dan membisikan sesuatu di telinga Lilian. "Lo pikir gue tidak akan berani mengambil ponsel gue sendiri?" Arion mulai menarik pinggang Lilian untuk mendekat ke arahnya. "Gue bahkan bisa ngelakuin hal lebih dari yang lo banyangin." Tangan Arion mulai bergerak ke bawah kantong celana Lilian.


Posisi keduanya seperti orang yang tengah berpelukan mesra, membuat semua orang yang menyaksikan keduanya tidak ingin melewatkan momen berharga seperti itu.


Lilian hanya tersenyum santai. "Bagus juga ... Akan lebih baik jika Kakak melakukan hal lebih. Gue akan lebih mudah melaporkan mu dengan kasus pelecahan dan semua orang yang hadir hari ini akan menjadi saksi antara kita berdua. Grup Ganendra adalah perusahan besar, jadi berita seperti ini akan lebih cepat menyebar ketimbang gosip selebritis." Lilian masih mempertahankan ketenangannya tanpa takut sedikitpun.


Arion menutup matanya sebentar demi meredam amarahnya, gadis dihadapannya ini benar-benar menguji kesabarannya. Setelah merasa lebih baik, Arion mendorong pelan tubuh Lilian dan ia kembali meninju udara berkali-kali.


"Apa mau lo?" Tanya Arion yang langsung membuat senyum Lilian merekah.


"Jika seperti ini, Kakak kan tidak perlu membuang banyak tenaga karena menahan marah." Ucap Lilian dengan senyuman lebarnya.


Ketiga teman Arion tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Lilian. Setelah sekian lama akhirnya muncul seseorang yang dapat mengendalikan Arion. Orang itu bahkan berwujud seorang gadis cantik dengan tubub yang sangat mungil.


________________