
Lilian akhirnya dapat bernapas dengan lega setelah harus berada dalam ketegangan selama berjam-jam. Meski harus melewati banyak drama namun akhirnya masalah itu selesai dengan hasil kesepakatan akhir yang di setujui oleh kedua belah pihak.
"Lilian." Panggil Pak Bara setelah meyelesaikan beberapa hal yang perlu diurus.
"Iya, Om." Jawab Lilian sopan.
"Ada yang kamu butuhkan lagi?" Tanya Pak Bara memastikan.
"Nggak ada, Om." Jawab Lilian sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, Om balik ke kantor ya?" Tanya Pak Bara lagi.
Lilian mengangguk pelan. "Baiklah ... Terima kasih atas hari ini ya, Om." Katanya ramah.
Pak Bara hanya tersenyum kecil kemudian berlalu pergi setelah berpamitan. Lilian memutuskan untuk kembali ke kelasnya namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Lilian." Panggil Bu Elisa.
Lilian berbalik dan mengerutkan kening saat Elisa berjalan untuk menghampirinya.
"Saya Tente?" Tanya Lilian sambil menunjuk dirinya sendiri.
Elisa tersenyum lembut kearah Lilian yang terlihat bingung. "Iya, Tante panggil kamu. Memangnya ada orang lain yang bernama Lilian?" Tanyanya dengan senyum manis di bibirnya.
Lilian tersenyum canggung mendengar ucapan Elisa. "Nggak gitu juga sih, Tante."
"Terima kasih ya." Ucap Elisa dengan tulus.
Lilian kembali menatap Elisa dengan bingung. "Terima kasih untuk apa, Tante?" Tanyanya heran.
"Terima kasih karena kamu mau memaafkan Audry." Kata Elisa dengan lembut.
Lilia mengerjapkan mata berkali-kali mendengar ucapan dari Elisa. "Meskipun begitu, bukankah Kak Audry tetap mendapat hukuman? Tante tidak perlu berterima kasih."
Elisa kembali tersenyum lembut. "Dengan kesalahan yang di lakukan oleh Audry seharusnya ia di keluarkan dari sekolah. Namun kamu dan teman-teman mu malah memilih memaafkan dan mereka hanya mendapat hukuman mebersihkan sekolah." Jelasnya.
"Itu juga berat kok, Tante. Membersihkan sekolah itu nggak gampang, terlebih lagi hukuman itu berlaku selama seminggu." Jelas Lilian.
"Hukuman itu tidak seberapa dibandingkan dengan kesalahan yang selama ini mereka lakukan. Tante harap, dengan hukuman itu mereka menyadari kesalahan masing-masing dan merubah diri ke jauh yang lebih baik lagi." Harap Elisa.
"Mudah-mudahan harapan Tante terwujud." Harap Lilian juga.
"Mama." Panggil seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Elisa.
"Ehhh sayang ..." Kata Elisa sambil mengelus lengan Arion pelan.
"Pertemuannya udah selesai?" Tanya Arion.
"Udah, baru aja selesai." Kata Elisa dengan senyum lembut.
"Jadi, gimana?" Tanya Arion memandang kearah Lilian.
"Lo tanya gue?" Tunjuk Lilian kepada dirinya sendiri.
"Hmmm." Gumam Arion cuek.
"Udah, semuanya sepakat memberi hukuman kepada Kak Audry dan ketiga temannya." Jelas Lilian.
"Kalian saling kenal? Baru aja Tante mau ngenalin." Kata Elisa dengan senyuman.
"Kenal Tante, siapa yang nggak kenal anak Tante yang dingin kek kutub utara." Ucap Lilian dengan cengringan.
"Dia ngejar-ngejar Ario, Mah." Kata Arion santai.
Ekspresi Lilian langsung terlihat cemberut. "Mana ada!" Ketus Lilia.
"Apa susahnya bilang, iya." Kata Arion datar.
"Apaan sih. Dia ngawur aja, Tante. Nggak usah di dengerin." Lilian menatap tajam learah Arion.
Elisa hanya tersenyum kecil. "Kalian sepertinya cocok."
Blushhh ....
Pipi Lilian langsung memerah setelah mendengar ucapan dari Elisa.
"Tuhkan, Pipinya memerah." Tunjuk Arion.
Lilian menutup kedua pipinya yang memerah dengan kedua tangannya. "Apaan sih ... Jangan ngada-ngada. Gue hanya kepanasan aja." Sanggah Lilian.
"Bener hanya kepanasan?" Goda Arion.
"Ihh, Apaan sih. Udah dulu ya, Tante. Lilia balik ke kelas dulu." Ucap Lilian malu.
Setelah mendapat ijin dari Elisa, Lilian akhirnya berlari pergi meninggalkan sepasang anak dan Ibu itu. Tidak lupa Lilian menarik tangan teman-temannya yang sejak tadi juga sedang menunggunya untuk berjalan bersamanya menuju kelas.
"Mama akan jauh lebih senang jika kalian bisa bersama." Ucap Elisa tiba-tiba sambil menatap punggung Lilian yang menjauh.
"Mahhh ..." Panggil Arion ingin berdebat.
"Bukan karena anak itu adalah anak emas dari Rahadian. Namun karena anak itu memiliki karakter yang baik dan ceria. Akan lebih cocok jika ia dipasangkan dengan mu." Kata Elisa.
"Maahhh ..." Panggil Arion lagi.
"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" Tanya Elisa memancing.
"Arion pergi dulu." Ucapnya datar dan langsung pergi meninggalkan Elisa sendiri.
Elisa hanya tersenyum kecil menatap punggung Arion yang semakin menjauh. "Hanya gadis itu yang pantas bersanding dengan mu Arion. Jika kamu tidak bisa, maka orang lain pun juga tidak bisa memilikinya." Kata Elisa kemudian berjalan pergi.
Di tempat yang tidak jauh dari Elisa berdiri tadi, ternyata Audry telah mengamati Elisa dan Lilian dari belakang. Audry semakin penasaran dengan identitas Lilian setelah ia mendengar bahwa Elisa begitu menginginkan gadis itu untuk bersanding dengan Putranya.
"Gue harus secepatnya selidiki tentang identitas Lilian." Ucap Audry dengan yakin.
_________________
Setelah pertemuan selesai, Lilian dan ketiga temannya harus melanjutkan pelajaran sampai bel pulang berbunyi.
Pulang sekolah bukannya langsung istirahat, kedua orang tua Lilian malah menyuruhnya untuk menjelaskan hasil pertemuan tadi pagi. Selesai menjelaskan semua yang kedua orang tuanya ingin ketahui, Lilian langsung membersihkan diri dan makan malam bersama kedua orang tua dan Kakanya.
Lilian langsung melemparkan tubuhnya dengan bebas ke atas ranjang empuknya itu setelah seharian merasa sangat lelah. Matanya sedikit demi sedikit tertutup hingga akhirnya ia terlelap dengan sangat nyenyak sampai sinar bulan digantikan dengan sinar mentari pagi.
Ranjang king size yang berada di dalam kamar Lilian begitu membuat gadis itu merasa nyaman dan tidak ingin terbangun dari mimpi indahnya. Meski sinar matahari pagi mulai melewati gorden jendela kamarnya namun Lilian masih enggan untuk bangun dari tidurnya.
Dering ponsel Lilian terdengar memenuhi seluruh isi kamar dan membuat si empuh harus membuka kedua matanya.
"Siapa sih pagi-pagi dah ganggu." Gumam Lilian dengan suara serak khas bangun tidur.
Lilian menatap malas melihat nomor baru yang tertera di layar ponselnya dan mengganggu tidur paginya.
...085238XXXXXX Calling ......
"Hallo." Sapa Lilian malas.
"Jam segini lo masih tidur?" Tanya seorang di seberang telepon.
Lilian melirik kearah jam yang letaknya tidak jauh dari tempat tidurnya berada. "Masih jam enam lewat dua puluh delapan menit kok. Lagian hari ini juga libur, terserah gue mau bangun jam berapa." Kata Lilian sambik menutup kedua matanya lagi.
"Lo jangan lupa dengan janji lo hari ini." Ketus seseorang disebrang sana.
"Janji apaan? Gue kagak ada janji apapun dengan orang lain hari ni. Lagian lo ini siapa sih? Pagi-pagi dah gangguin orang tidur." Kesal Lilian.
"Lo nggak bangun sekarang juga, maka gue nggak sudi nerima lo buat gabung sebagai anggota." Ancamnya.
"Anggota apaan? Gue nggak ada niatan mau masuk sebagai keanggotaan apapun." Ketus Lilian.
Setelah itu bunyi suara, tut ... tut ... tut ... Tanda orang itu telah memutuskan telepon sepihak.
"Ini orang siapasih? Pagi buta gini udah gangguin orang tidur. Pakek segala ngancem lagi ... Memangnya gue mau masuk anghota apaan?" Gumam Lilian kesal dan melemoar ponselnya dengan asal.
Lilian kembali menarik selimutnya dan menutup kedua matanya lagi. Namun tiba-tiba ia teringan sesuatu yang membuat kedua bola matanya membulat sempurna.
"Astagaaaa ... Hari ini gue ada janji mau ikut Kak Arion pergi ngambil gambar. Mampus ... mampus ... mampus ..." Ujar Lilian sendiri.
Dengan panik Lilian mencari keberadaan ponsel yang tadi ia buang dengan sembarang. Karena terlalu panik ia tidak dapat menemukan keberadaan ponselnya.
"Astaagaaa ... Dimana kau ponsel!!" Kesal Lilian sambil menarik selimutnya dan membuangnya dengan asal.
Lilian akhirnya dapat menemukan kembali ponselnya dan dengan gerakan cepat, ia kembali memanggil nomor yang sebelumnya menelponnya.
Tuthhhh .... Tuthhhh ... Tuthhhhh ...
Terdengar suara beberapa kali sambungan telepon namun si penerima belum mau menerima telepon dari Lilian. Setelah mencoba beberapa kali, akhinya panggilan Lilian diterima.
"Ngapain lo telepon gue?" Ketus seorang lelaki disebrang telepon.
Lilian membenarkan posisi duduknya agar beebicara dengan orang disebrang sana dengan nyaman. "Ini Kak Arion ya? Maaf ya tadi nggak ngenalin suaranya ... Habisnya nih kan nomer baru, Kak Rein ngasih nomor yang selah berarti." Bujuk Lilian.
"ini nomor baru gue. Yang lama hapus aja, terserah." Masih dengan nada ketusnya
"Kak Ario ... Jadikan kita hari ini pergi?" Tanya Lilian hati-hati.
"Tadi lo bilang nggak mau." Ucap Arion datar.
"Maaf Kak Arion ... Tadi gue baru bangun tidur. Otak juga masih belum jalan." Ucap Lilia. dengan nada selembut mungkin.
"Sekarang dah jalan otak lo?" Tanya Arion dengan nada tajamnya.
"Udah ... Udah kok. Sekarang kita boleh pergi?" Tanya Lilian maaih dengan bujukannya.
"Tiga puluh menit dari sekarang." Ucapnya datar.
Tut ... Tut ... Tut ...
Sambungan telepon di putuss okeh sepihak.
"Dasar papan datar tidak tahu di untung!! Masih baik gue ngomong dengan nada lembut. Nah ini langsung di matiin! Dasar papan datar nggak punya sopan santu banget lo jadi orang!!" Maki Lilian sendiri di depan ponselnya.
Puas memaki ponselnya, Lilian akhirnya memasuki kamar mandi dan membersihkan diri. Waktu yang Arion sebutkan tidak banyak sehingga membuat Lilian seperti seseorang yang di kejar oleh waktu.
Tidak lama setelahnya, Lilian keluar dengan baju kaos lengan pendek warna putih. Bawahannya ia padukan dengan rok hitam selutut dan garis putih. Lilian menyapukan make up tipis diwajahnya dan mengikat satu rambunya keatas. Ada beberapa helai rambut Lilian yang sengaja ia biarkan terurai di depan wajah. Untuk hari ini Lilian memilih sepatu sport warna putih bersih agar serasi dengan warna bajunya.
Setelah menyemprotkan parfum beberapa kali ditubuhnya, Lilian akhirnya siap dan segera mengambil kamera yang ia letakkan diatas meja.
Sebelum benar-benar keluar kamar, Lilian memastikan dulu beberapa kebutuhan yang akan ia bawa selama ia pergi. Misalnya seperti dompet, lipstik cadangan, parfum dan hal lain yang dibutuhkan.
Setelah merasa semua yang diperlukan sudah tersedia, Lilian mengambil tas selepang yang ukurannya sedang kemudian memasukan semua barang didalamnya. Untu kameranya Lilian langsung mengalungkannya pada leher.
Setelah selesai, Lilian langsung menuruni tangga dan menyamperi kedua orang tua dan Kakanya yang sedang melaksanakan rutinitas pagi yaitu sarapan.
"Pagi Papa, Mama, Kakak." Sapa Lilian ceria.
"Pagi." Jawab semua kompak.
"Loh kok udah rapi? Mau kemana memangnya?" Tanya Efina bingung dengan tampilan rapi dari Putrinya.
"Hari ini Lilian ijin keluar, ya. Soalnya mau ada kegiatan ektrakurikuler ... Kemarin wali kelas Lilian bilang, wajib bagi murid untuk mengikuti ekstrakurikuler minimal satu. Kemarin Lilian pilih fotografi dan hari ini anak-anak ada acara gitu diluar sekolah. Jadinya Lilian harus ikut." Jelas Lilian.
"Memangnya kemana tempat kalian pergi?" Tanya Rahadian sambil menyesap kopi paginya.
"Nggak tahu ... Lilian belum di kasih tahu." Jawab Lilian sambil mengunyah roti yang baru saja ia buat.
"Lohh kok nggak tahu? Masa kamu pergi tanpa ada persiapan tempat? Mana tahu ada sesuatu di jalan dan kami tidak tahu harus mencari mu dimana." Kata Efina khawatir.
"Mama tenang aja. Kak Rein juga ikut kok. Kalau ada apa-apa pasti Kak Rein bakal lindungi Lilian." Jelas Lilian.
"Ya sudah kalau begitu. Ingat! Tidak boleh terpisah dari teman-teman kamu, terutama Rein. Kalau mau ke toilet atau di manapun ajak Rein atau teman yang lain asal jangan sendirian. Jangan jajan yang aneh-aneh ntar sakit dan tetap terus aktifkan ponsel agar Mama tenang ngehubungi kamu kapan aja." Kata Efina panjang lebar.
"Iya Mama." Jawab Lilian.
"Jangan cuman iya ... Iya aja. Harus laksanain nanti." Ujar Efina.
"Siap, Mama. Lilian akan menjalankan tugas dengan baik dan benar." Ucap Lilian sambil memberi hormat.
Efina, Rahadian dan Keira terkekeh kecil melihat tingkah lucu dari Lilian.
"Kapan pulang dek?" Tanya Keira.
Lilian mengedikkan bahu tanda tidak tahu. "Nggak tahu, Lilian belim tahu tempatnya jadi nggak bisa nentuin kapan pulangnya." Jawab Lilian.
"Kalau bisa jangan malam-malam ya sayang. Kalau dah kelar semuanya, kamu langsung pulang aja." Ucap Efina khawatir.
"Iya Mama, kalau semuanya kelar nanti Lilian langsung pulang." Jawab Lilian.
"Terus kapan kamu berangkat?" Tanya Rahadian.
"Nunggu kabar dari teman dulu bentar. Tadi bilangnya suruh siap aja dulu nggak ngasih tahu harus ngapail lagi setelahnya." Jawab Lilian jujur.
"Maaf Tuan, Nyonya, Non. Di luar ada pemuda tampan, datang cari Non Lilian." Kata Bi Marni yang baru saja datang menyampaikan informasi.
"Rrin sudah datang ya Bi?" Tanya Efina sambil meminum jusnya.
"Bukan Den Rein, Nyonya. Pemuda lain namun masih cakep kayak Den Rein. Lebih cakep malah." Kata Bi Marni dengan senyum cerah.
"Itu mungkin Kak Arion, Mah. Temen Lilian, sekaligus ketua ekstrakurikuker fotografi." Jawab Lilian kemudian berdiri dari duduknya.
Sama-sama Lilian, Efina, Rahadian dan Keira berjalan menuju ruang tamu untuk menemui seseirang yang datang menjemput Lilian.
Mata Lilian langsung berbinar melihat tampilan Arion yang sekarang. Sungguh lebih berkali-kali lipat tampan saat sekarang jika Lilian membandingkan dengan tampilan Arion yang sedang mengenakan seragam sekolah.
"Pagi, Om ... Tante. Saya temannya Lilian, mau ijin keluar. Ada kegaiatan yang akan kami ikuti soalnya." Sapa Arion sambil menyalim tangan Efina da Rahadian sopan.
"Kamu ..." Tunjuk Rahadian kearah Arion.
"Papa kenal?" Tanya Efina.
Rahadian mengangguk pelan. "Putranya Aditia dan Elisa." Jawabnya.
Arion tersenyum kecil. "Salam kenal, Tante." Ucapnya sopan.
Efina menatap Arion lama dan mengangguk pelan. "Tolong jagain anak saya, ya." Kata Efina sambil mendekati Arion dan mengelus tangannya pelan.
"Baik Tante. Om dan Tante tidak perlu khawatir." Kata Arion sopan.
"Ya sudah, segera berangkat. Hati-hati di jalan ya." Kata Rahadian.
"Iya, Om. Kalau begitu kami berangkat dulu." Katanya sambil menunduk sopan.
"Kami pergi dula ya, Mama ... Papa." Pamit Lilian sambil tersenyum ceria.
Arion dan Lilian pun pergi menggunakan mobil yang sengaja Arion bawa untuk menjemput Lilian. Sedangkan Rahadian dan Efina masih menatap mobil Arion yang mulai menghilang dari pandangan.
"Tidak apa-apa jika mereka dekat?" Tanya Efina.
"Mama nggak perlu khawatir. Ayo kembali masuk." Ajak rahadian.
________________________