
Semua pasang mata yang tadinya fokus menatap kearah layar yang menampilkan pertemuan para Wali murid kini beralih menatap kearah Lilian berada.
Gadis itu sama sekali tidak terusik dari duduknya meski semua pasang mata sedang mengarah kepadanya. Ketiga temannya yang sejak tadi memendam rasa penasaran juga tidak menyangka bahwa Lilian adalah murid yang tidak bisa disinggung.
Pantas saja Lilian dan Rein terlihat begitu dekat. Semua orang malah menyangka jika Lilian sedang berusaha mendekati semua anggota Geng Andromeda. Namun siapa yang sangka, jika Lilian adalah Sepupunya Rein.
Semua murid kembali membulatkan mata ketika Tama dengan gamblang mengakatakan jika Lilian adalah salah satu dari kandidat sah ahli ahli waris keluarga Arisena. Aturan keluarga Arisena yang berhak menjadi ahli waris ialah keturunan yang memiliki warna mata keemesan seperti milik Lilian dan Rein.
Hal itu yang berarti jika keluarga Arisena memiliki dua ahli waris yang sah. Warna mata keemasan adalah lambang dari keluarga Arisena. Diturunkannya ahli waris ke keturunannya yang bermata emas lantaran mereka akan meneruskan gen kepada keturunannya yang selanjutnya.
Memikirkan kebenaran tentang identitas Lilian membuat semua murid kembali mengingat hal apa saja yang pernah mereka lakukan terhadap Lilian. Hampir seluruh murid merasa gelisah lantaran mereka takut pernah menyinggung Lilian sebelumnya.
"Lilian ..." Panggil Gladis dengan lesu. Ia tidak pernah menyangka jika temannya itu adalah keturunan dari keluarga Arisena yang sangat di lindungi.
"Lo ..." Ucap Laura ragu.
"Iya ... Status gue dan Kak Rein adalah sepupuan." Jawab Lilian tanpa melihat ke arah sahabatnya. Matanya masih fokus memeperhatikan layar di depannya saat ini.
Sedangkan murid lain sudah tidak lagi peduli dengan pertemuan para Wali murid. Jawaban yang keluar dari mulut Lilian saat ini jauh lebih penting untuk mereka dengarkan.
"Lalu ... Pak Rahadian?" Tanya Meira yang takut menyinggung Lilian.
Terdengar helanaan napas panjang dari mukut Lilian. Ia tidak menyangka akan memberitahu identitas aslinya kepada Gladis, Laura dan Meira dengan cara seperti ini.
"Gue anak kedua dari Papa Rahadian dan Mama Efina. Wanita yang duduk bersebelahan dengan Papa gue adalah Efina Arisena, Adik dari Om Hans atau yang biasa kalian kenal dengan Papanya Kak Rein." Jawab Lilian sambil memandang wajah cantik Efina dari layar.
Bukan cuman ketiga teman Lilian yang terkejut, seluruh murid yang mendengar jawaban dari Lilian hampir tersedak ludah sendiri setelah mengetahui kebenaran itu.
"Ta ... Tapi mengapa lo harus merahasiakan identitas lo?" Tanya Gladis.
Baru saja Lilian ingin menjawab, Arion tiba-tiba datang dan menarik tangan Lilian untuk pergi meninggalkan kerumunan murid yang sedang dilanda rasa penasaran itu.
"Demi kebaikan Lilian." Jawab Arion dingin kemudian membawa Lilian pergi.
"Gue bakal jelasin ke kalian bertiga! Untuk sementara gue harus ikut Kak Arion!!" Pekik Lilian keras agar ketiga temannya dapat mendengarkan apa yang ia ucapkan.
Lilian tidak ingin di cap pembohong oleh ketiga temannya lantaran selama ini ia menyembunyikan identitas aslinya. Lilian sudah sangat menyayangi ketiga temannya itu sehingga ia tidak ingin teman-temannya menjadi salah paham kepadanya.
Beda halnya dengan yang dipikirkan oleh Lilian. Gladis, Laura dan Meira, malah merasa senang jika identitas Lilian terbongkar. Dengan diketahuinya oleh banyak orang tentang status Lilian, maka murid lain yang berusaha mencari masalah dengan Lilian menjadi berkurang banyak.
Sedangkan murid lain harus kembali merasa kecewa lantaran tidak bisa mendengar jawaban lebih dari mulut Lilian. Akhirnya semua murid kembali memutuskan untuk fokus ke layar yang menayangkan tentang pertemuan Wali murid untuk mendapatkan informasi lain tentang Lilian.
____________________
Suasana ruang pertemuan yang tadinya sempat kacau kini kembali berjalan dengan tenang. Meski Pak Bram sempat merasa terkejut dengan beberapa fakta yang baru ia dengar, namun mengembalikan suasana pertemuan untuk kembali normal jauh lebih penting untuknya.
"Beberapa kali Cucu saya mendapat perlakuan tidak baik oleh murid lain sejak ia mulai bersekolah disini! Selama itu saya masih tetap sabar dengan cara tetap diam! Namun saya tidak menyangka jika dengan keterdiaman saya membuat Wali murid lain semakin bertingkah ketika Anaknya bersinggungan dengan Lilian Cucu saya!" Tutur Tama. Setelah beberapa saat yang lalu emosi Tama tidak terkendali, kini akhirnya Emosinya kembali mereda setelah di tenangkan oleh Zoya.
"Tidak sampai disitu ... Terakhir kali Putri Pak Burhan telah meninggalkan Cucu saya sendiri di dalam hutan saat acara kemah tahunan kemarin di adakan. Namun sampai sekarang Pak Bram masih memilih diam dengan kebenaran itu! Jangankan di hukum, sekedar memberi peringatan pun tidak!" Sindir Tama sambil menatap sinis ke arah Pak Bram.
Kali ini Pak Bram memang ada di posisi yang salah. Ia pikir dengan tidak menyinggung Pak Burhan maka suasana sekolah masih berjalan lancar seperti biasanya. Namun siapa sangka jika murid yang sempat ia abaikan adalah murid yang paling tidak boleh ia singgung.
"Bukan hanya itu! Anak Pak Burhan bahkan memprofokasi Keponakan dari Nyonya Elisa untuk bersinggungan dengan Lilian. Mereka bahkan berusaha mempermalukan Putri saya di hadapan umum. Namun beruntungnya keluarga dari Nyonya Elisa merasa bahwa itu adalah kesalahan Keponakannya dan membiarkan Lilian untuk memilih memafkannya atau langsung mengeluarkannya!" Jelas Rahadian dengan wajah dinginnya.
Pak Burhan semakin kicep ditempat duduknya. Baru saja perusahaannya pulih dari ambang kebangkrutan, kini ia kembali menyinggung orang-orang yang seharusnya ia tidak singgung sama sekali.
"Dan sekarang ... Perihal kejadian kemarin! Rein dan yang lainnya memang salah karena terlibat tawuran. Namun beda halnya dengan Lilian yang terluka karena di dorong oleh Ketua Osis itu! Setelahnya, Putri kesayangan dari Pak Faruk yang terhormat malah kembali mencari masalah dengan Cucu saya sewaktu menghindari tawuran itu!" Kembali Tama menuturkan kejadian yang terjadi kemarin.
Faruk mengepalkan tangannya erat mendengar ucapan terakhir dari Tama. Jika bukan posisi perusahaan Tama yang kuat, maka sejak dari tadi Faruk akan mendepak orang tua itu keluar.
"Itu karena Cucu Pak Tama telah mengganggu milik Putri saya!" Nada suara Faruk mulai meninggi.
"Milik? Apa milik Pak Faruk yang Putri saya ganggu?" Tanya Efina. Sejak tadi lidahnya sangat gatal untuk mencela Faruk yang telah menjelekkan Putrinya. Namun karena pertemuan itu dilaksanakan secara resmi, Efina akhirnya harus bisa lebih menahan diri lagi.
"Arion!" Jawab Faruk tegas.
"Jaga ucapan mu, Pak Faruk!!" Akhirnya setelah lama berdiam diri, Aditia akhirnya mengeluarkan suara juga.
"Sejak kapan Putra saya menjadi milik Putri Bapak?" Tanya Aditia dengan dingin.
Farus dan Melani sempat tertegun melihat raur wajah dingin serta tatapan tidak suka yang Elisa layangkan kepada keduanya. Sorot mata antara Aditia dan Elisa seakan meyiratkan ketidak sukaannya terhadap ucapan Faruk.
"Sejak kapan kami menyetujuinya? Apakah setelah proposal pengajuan kerja sama dengan menjodohkan kedua Anak itu, kalian mendapatkan balasan dari kami?" Tanya Elisa dengan nada tidak senang.
"Apa yang Pak Aditia dan Nyonya Elisa maksud?" Tanya Melani dengan membukatkan mata.
Tek ... Tek ... Tek ...
Pak Bram mengetok meja yang di depannya untuk menenangkan kedua keluarga yang berstatus tinggi itu agar tetap tenang.
"Mohon kepada Bapak dan Nyonya agar sekiranya jangan keluar dari pembahasan kita sebelumnya. Jika memang itu masalah keluarga, maka sebaiknya hal itu di bicarakan secara pribadi saja! Sekali lagi saya mohon kepada Bapak dan Nyonya!" Peringat Pak Bram.
Masalah tentang sekolah saja sudah membuat Pak Bram pusing. Apalagi jika kedua keluarga besar itu harus menembah masalah yang seharusnya tidak dibahas di pertemuan itu.
"Pak Bram mengingatkan agar sekiranya kami untuk fokus ke masalah yang terjadi kemarin. Lalu bagaimana dengan masalah-masalah yang sebelumnya pernah melibatkan Putri saya?" Tanya Efina yang mulai mendesak Pak Bram.
"Hari ini secara jelas jika Putri saya di minta untuk keluar dari sekolah! Lalu hukuman apa yang akan Pak Bram berikan kepada murid yang memulai masalah dengan Putri saya? Melaporkan ke pihak berwajib mungkin terlalu enteng bagi saya ... Adakah hukuman lain yang jauh lebih menakutkan dari penjara, Pak Bram?" Tanya Efina dengan raut wajah dinginnya.
Pak Bram terdiam cukup lama. Di hadapkan pada para Wali murid yang berstatus tinggi sangat menguras tenaga bahkan emosinya.
Sedangkan dari pihak Faruk sudah mulai tidak tenang, ucapan dari Aditia dan Elisa yang belum menyetujui proposal kerja sama keduanya membuat Faruk harus memutar otak agar kedua orang itu menyetujui propsal yang ia ajukan.
Bukan saja mendapat orang yang di cintai Pitrinya, propasl kerja sama itu bahkan dapat menguntungkan Faruk apabila Aditia mau menerima ajakan kerja sama itu.
"Tenanglah Nyonya Efina ... Kami berjanji akan menangani tuntutan Nyonya." Jawab Pak Bram ragu.
Sebenarnya keluarga Ganendra Grup bisa saja berkerja sama dengan keluarga Arisena untuk mendepak keluarga Anderson untuk keluar dari sepuluh keluarga ternama. Namun kerja sam politik hingga hubungan internasional yang dibangun oleh keluarga itu sudah menyebar kemana-mana. Keluarga Anderson bahkan mampu menyelamatkan keluarga Triadi yang di ambang kebangkrutan.
Perusahaan Triadi tidak bisa dikatakan kecil atau menengah. Perusahan itu di kategorikan masuk keluarga status tinggi meski tidak masuk dalam sepuluh keluarga teratas. Namun membuat perusahaan itu di dalam kebangkrutan mengharuskan pihak yang bersangkutan dengannya harus mengeluarjan kocek yang cukup besar.
Jika Ganendra Grup dan Arisena Grup bergabung untuk menjatuhkan Anderson Grup, maka siap-siaplah dua perusahaan itu harus menerima kerugian yang tidak sedikit. Keluarga Anderson sangat pintar mendapatkan rekan untuk di ajak kerja sama, hubungan politik serta taktik berbisnisnya juga sangat bagus. Hal itulah yang membuat Rahadian atau Tama harus memikirkan cara lain untuk menghukum keluarga sombong itu.
Faruk juga harus memilih untuk mengalah kali ini. Arisena Grup dan Ganendra Grup adalah salah satu perusahaan yang seharusnya ia ajak kerja sama bukan berselisih seperti saat ini. Keinginan Putrinya bisa saja ia tolak namun menyinggung dua keluarga ini pastinya akan membuatnya rugi banyak.
Jika bukan Rahadian yang terikat dengan Ganendra Grup dan Lilian memiliki garis keturunan dengan Arisena. Maka Faruk hanya akan menghitung detik saja melihat kehancuran lawannya.
"Saya ingin Cucu saya mendapatkan keadailan!" Pinta Tama dengan wajah garangnya. "Saya tidak takut untuk merugi jika itu demi Cucu saya ... Apabila Pak Bram masih tetap mimilih diam maka saya sendiri yang akan langsung turun tangan langsung untuk meluluh lantahkan sekolah ini!" Ancam Tama.
Semua orang lagi-lagi memilih diam. Wali murid lainnya lebih memilih diam ketimbang harus mengeluarkan suara yang berujung menyinggu salah satu keluarga besar yang hadir.
"Untuk masalah yang terjadi sebelumnya tentang Lilian lagi kami proses bersama pihak yang berwajib. Kami hanya tunggu menerima hasilnya saja." Jawab Pak Bram. Ia harus meilih kata yang paa untuk diberikan kepada Tama.
"Lalu bagaimana dengan kejadian kemarin?" Tanya salah satu Wali murid.
"Sama seperti yang saya katakan sebelumnya ... Jika ada yang terluka pada kejadian kemarin itu bukan dari unsur kesengajaan. Jadi untuk Pak Faruk dengan Nyonya Melani, kami pihak sekolah dengan tegas menolak permintaan yang sebelumnya Bapak dan Nyonya utarakan." Jawab Pak Bram.
"Namun proses kejadian kemarin masih kami selidiki. Anak-anak bapak mungkin saja akan di panggil sewaktu-waktu untuk di jadikan saksi." Kata Pak Bram.
Faruk dan melani harus terpaksa menerima keputusan Pak Bram. Namun masalah yang jauh lebih besar akan segera ia hadapi setelah ia keluar dari sekolah itu nanti.
Jika tahu Lilian adalah Anak yang tidak bisa di singgung, maka Faruk akan memilih menghukum Putrinya Anin ketimbang harus berhadapan dengan dua keluarga itu.
Setelah keluar dari halaman Florenzo School nanti, Faruk harus menyiapkan mental serta tenaga ektra karena harus menghadapi dua keluarga besar sekaligus.
Pikiran Faruk sudah tidak lagi berada di pertemuan para Wali murid. Pikirannya saat ini telah melayang jauh ke beberapa kemungkinan yang akan ia terima nanti. Sebisa mungkin Faruk mencoba mengendalikan emosinya agar tidak meledak karen ulah Putrinya itu.
Faruk awalnya menaruh curiga kepada Lilian yang tidak dapat ia akses dengan mudah tentang identitasnya. Namun deskripsi dari Putrinya yang mengatakan kehidupan Lilian sangatlah sederhana membuat Faruk berpikir jika Lilian itu bersekolah di Florenzo School dengan bantuan dana beasiswa.
Siapa sangka bahwa Lilian adalah anak dari donatur dari Florenzo School. Meski Faruk telah menerima dengan lapang dada tentang hukuman yang akan Putrinya terima. Namun Faruk masih tetap tidak terima jika harus menerima kerugian yang di alami perusahaannya karena telah menyinggung Lilian.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Kejadian yang sebelumnya terjadi tidak akan mungkin dapat di putar kembali. Faruk hanya perlu bersiap diri untuk menerima serangan dari dua keluarga besar itu.
Sedangkan Rahadian sendiri ternyata sudah menyiapkan rencana lain bersama dengan Efina. Agar Putrinya tidak dapat di ganngu lagi oleh orang lain, maka Rahadian dan Efina harus menempatkan Putrinya itu pada deretan orang yang harus orang lain hormati.
Beda halnya dengan Tama yang sudah bersiap untuk bersaing dengan Faruk. Tujuan Tama, Rahadian dan Efina ke sekolah hanyalah untuk mempublikasikan identitas Lilian sekaligus mengokohkan posisi Lilian di sana agar tidak ada lagi yang akan mengganggu.
Sedangkan untuk membalas kesombongan keluarga Anderson. Tama dan Rahadian harus menyusun rencana lain agar keluarga itu merasa kapok.
______________________