
"Aaaaakkhhhh ..." Teriak Rein sambil meninju udara di sekitarnya.
"Jika lo hanya diam dan tidak mau berbicara sama sekali, maka akan gue pastiin sampai kapan pun apa yang lo inginkan tidak akan pernah bisa lo dapatkan. Sesekali lo harus mengatakan isi hati lo sendiri dan jangan hanya diam saja!!" Rein meluapkan semua amarahnya karena kesal terhadap Arion yang sejak tadi hanya diam saja.
Mario dan Farrel berlari dengan tergesa-gesa, keduanya sama-sama menahan Rein agar sahabatnya itu tidak melakukan hal-hal yang membuat persahabatannya retak.
"Lo berdua ini kenapa sih? Kita sudah dari kecil selalu bersama ... Apapun masalahnya seharusnya lo berdua bicarakan dengan baik-baik dan jangan sampai amarah kalian membuat persahabatan kita merenggang!" Kesal Mario sambil menatap Rein dan Arion bergantian.
"Tau nih dua anak ... Kek anak kecil aja!!" Ujar Farrel sambil memijit kening.
"Seharusnya lo berdua jelasin pada teman lo itu! Bukan hanya diam dan malah membuat suasana tidak nyaman! Gue tau selama ini dia nggak banyak ngomong namun bukan berarti gue selalu bisa ngerti dengan kediamannya itu. Sesekali ia sendiri yang harus berbicara dan menjelaskan apa yang dia inginkan." Kata Rein yang masih dalam kemarahannya.
Arion sendiri hanya terdiam, ia bingung ingin menjelaskan mulai dari mana dan mau menjelaskan hal apa. Jika dipikir kembali ia hanya kesal karena Lilian lebih memilih Rein untuk mengantarnya pulang dan karena kekesalannya itu masalah semakin merambat kemana-mana.
Sedangkan yang diinginkan oleh Rein adalah cukup Arion mengatakan isi hatinya dan sedikit membuka diri kepada sahabat-sahabatnya. Namun Arion sering kali memilih diam dan tidak mau membicarakan hal-hal yang tidak ia inginkan. Padahal dalam persahabatan saling terbuka dan saling percaya adalah kunci eratnya tali persahabatan mereka.
"Gue pusing sama urusan lo berdua ... Bisa tidak jangan buat persahabatan kita retak hanya karena seorang gadis?" Tanya Mario tidak habis pikir dengan kelakuan Arion dan Rein.
"Gue nggak suka dengan Lilian!" Kata pertama yang dikeluarkan oleh Arion setelah lama terdiam.
"Kalau lo nggak suka kenapa setelah kejadian semalam sifat lo berubah semakin dingin begini? Lo bahkan tidak mau merespon atau sekedar bertegur sapa dengan gue!" Kata Rein sambil berkacak pinggang.
"Kenapa lo berdua bisa suka sama gadis yang sama sih? Nggak bisakah di antara kalian ada yang mau mengalah? Atau kalau nggak ada yang mau mengalah, cukup kalian bersaing secara sehat namun bagi yang tidak terpilih pada akhirnya harus bisa menerima keputusan dari Lilian!" Kesal Farrel dengan napas ngos-ngosan karena ia mengatakannya dengan satu kali tarikan napas.
"LILIAN ADALAH ADIK SEPUPU GUE!! BAGAIMANA BISA IA MEMILIH SAUDARA DAN ORANG YANG DIA SUKA?!" Tanya Rein yang sudah benar-benar habis kesabaran.
Arion, Mario dan Farrel menatap ke arah Rein dengan raut wajah tidak percaya. Untuk sejenak tidak ada yang mau bersuara, ketiganya hanya terdiam dan mulai mencerna ucapan yang baru saja keluar dari mulut Rein.
"Malam itu nyokap gue nggak ngijinin gue keluar ... Sedangkan gue khawatir jikalau malam itu gue yang akan menjadi perwakilan kompetisi itu. Dengan susah payah gue putar otak mencari cara bagaimana bisa gue keluar dan akhirnya gue nemuin satu-satunya solusi yaitu mengajak Lilian keluar dan memberikan alasan kepada Nyokap gue dan Nyokap Lilian bahwa kami berdua keluar untuk jalan-jalan."Jelas Rein lalu berjalan ke salah satu kursi untuk ia duduki.
"Masa iya gue yang jemput dan yang ngantar orang lain? Bisa-bisa gue di cap sebagai saudara yang tidak bisa menjaga adiknya sendiri." Kesal Rein sendiri.
Ketiga sahabatnya masih saja terdiam mendengar penjelasan dari Rein. Sungguh mereka tidak menyangka kalau Rein dan Lilian ternyata adalah saudara.
"Lo nggak lagi bercandakan?" Tanya Farrel yang masih tidak percaya.
Rein membuang napas kasar. "Lo pikir setelah semua ini terjadi gue bakalan punya tenaga untuk berbohong?" Ketusnya tidak senang.
"Jadi selama ini lo nyembuyiin fakta ini dari kita bertiga? Sejak awal kita udah curiga dengan warna mata lo berdua tapi kenapa selama ini lo selalu menyanggah dan mengatakan tidak pernah melihat Lilian sebelumnya?" Tuding Mario ke arah Rein.
Rein mengacak rambutnya karena frustasi. "Itu sebelum kejadian gue tahu kalau Lilian adalah adik sepupu gue yang selama ini dicari oleh Kakek gue. Lilian adalah Putri dari Tante Efina Arisena yang sudah lama pergi meninggalkan kediaman kami." Jelasnya.
"Lalu kapan lo tahu?" Tanya Arion akhirnya mengeluarkan suara.
Rein mendengus pelan mendengar pertayaan Arion. "Gue pikir lo masih akan tetap diam. Ternyata tuh mulut masih bisa berfungsi juga." Kesalnya.
"Jelaskan saja." Ucap Arion tanpa ekspresi apapun diwajahnya.
Rein menyenderkan punggunnya ke sandaran kursi yang ia duduki. "Beberapa hari yang lalu ... Awalnya gue kaget, sama kayak kalian. Cuman setelah mendengar semua kisah tentang kedua orang tua Lilian, akhirnya gue jadi paham mengapa selama ini Lilian dan orang tuanya tidak menampakkan diri." Jelasnya.
"Bisa lo ceritakan garis besarnya tidak? Gue masih belum paham kenapa lo berdua bisa saudaraan." Kata Farrel penasaran.
Untuk kesekian kalinya Rein menghbuskan napas kasarnya. "Tante Efina atau Mama-nya Lilian adalah anak bungsu dari Mahatama Arisena atau Kakek gue ... Pada masa mudanya Tante Efina ketemu dengan Om Rahadian dan langsung jatuh hati saat pertama kali ketemu." Jelasnya.
Rein kembali mengingat semua cerita yang ia dengar saat malam itu dan cerita itupun mengalir dengan sendirinya dari mulut Rein. Arion, Mario dan Farrel hanya bisa terdiam dan mendengarkan dengan baik cerita tentang kehiduapan Lilian sebelumnya.
"Setelahnya Kakek nyuruh gue buat jagain Lilian dimana pun dan kapan pun. Sebagai saudara tentu saja gue secara otomatis bakalan lindungi Lilian meski tanpa Kakek suruh. Apalagi dia Cucu perempuan satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga Arisena." Kata Rein mengakhiri cerita panjangnya.
Mario mengangguk paham mendengar cerita dari Rein. "Jadi sebenarnya Lilian itu adalah salah satu anggota dari keluarga Arisena? Belum lagi Lilian memiliki mata yang sama dengan lo yang berarti Lilian memiliki hak sebagai penerus keluarga?" Tanyanya penasaran.
Rein mengangguk dengan wajah yang serius. "Lilian tidak mau terlibat dengan masalah ahli waris, gadis itu hanya ingin kehidupan yang bebas tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Kakek gue memang orang yang keras namun dihadapan anak perempuan dan cucu perempuannya ia akan membuang semua ego dan keras kepalanya. Seumur hidup gue baru kali ini lihat Kakek yang mengalah hanya demi tetap membiarkan anak serta cucunya tidak meninggalkannya lagi." Jelasnya panjang.
"Memangnya apa yang diinginkan Lilian?" Tanya Arion masih dengan raut wajah datarnya.
"Kebebasan. Sejak kecil Lilian tidak boleh keluar rumah sembarangan dan hanya diijinkan untuk pergi ke toko kue milik Mama-nya. Semua ruang gerak Lilian dibatasi sehingga Lilian tidak menginginkan hal lain kecuali kebebasan untuknya." Jawab Rein.
"Gue jadi kasian sama Lilian ... Tapi yang bikin gue penasaran, Lilian memiliki beberapa keterampilan khusus misalnya bisa menguasai ilmu bela diri yang cukup untuk melindungi dirinya. Darimana dia mendapatkan keterampilan itu kalau ruang geraknya dibatasi? Tanya Mario yang masih penasaran tentang Lilian.
"Kata Om Rahadian, Lilian selalu belajar hal-hal baru di rumahnya. Jadi untuk mengganti kebebasan Lilian keluar dari rumah, ia bebas menekuni hal-hal yang ia sukai misalnya seperti beladiri, memanah dan olah raga lain yang bisa dilakukan di dalam rumah." Jawab Rein yang sebenarnya.
"Gue jadi penasaran apa pekerjaan Bokap Lilian. Lo tahu nggak?" Tanya Farrel.
Mario dan Farrel refleks mengalihkan penadangannya kearah Arion untuk mendepatkan respon dari sahabatnnya itu.
"Siapa nama Bokap-nya tadi?" Tanya Arion.
"Namanya Rahadian ... Jujur gue juga penasaran, namun sepertinya orang-orang dari keluarga gue juga nggak ada yang tahu tentang pekerjaannya." Kata Rein.
Arion mencoba mengingat nama yang disebutkan oleh Rein tadi, nama itu seperti tidak asing untuk ia dengar namun Arion masih belum mengingat jelas nama yang disebutkan. Untuk beberapa saat Arion hanya terdiam namun setelahnya ia akhirnya menunjukkan raut wajah lain atau lebih tepatnya ekspresi kaget.
"Rahadian?" Tanya Arion.
Rein mengangguk cepat. "Lo kenal atau sekedar pernah dengar?" Tanyanya penasaran.
"Apa Nyokap Lilian memiliki bisinis kuliner kue?" Tanya Arion sekali lagi untuk memastikan kebenaran yang ada dipikirannya.
"Ya betul. Semua bisnis restaurant dari Arisena saja masih dibawah nama Tanta Efina." Jelas Rein dengan raut wajah serius.
Arion membulatkan mata sempurna mendengar ucapan terakhir dari Rein. Sungguh hal ini adalah sebuah kebetulan yang sangat tepat. Arion tidak menyangka jika dibelakang punggung Lilian terdapat orang-orang yang memiliki posisi tinggi dan kokoh. Pantas saja selama ini, pihak Florenzo Scholl tidak bisa membuat Lilian berada diposisi sulit setelah gadis itu berurusan dengan anak dari orang-orang penting.
"Apa yang lo ketahui harus lo bagi dengan kita." Kata Rein setelah melihat ekpresi lain dari Arion.
Selama ini Arion memiliki ekspresi minim, bukan tidak mungkin ia tidak mengetahui apapun setelah Rein melihat perubahan wajah dari Arion yang baru saja ia tampilkan.
"Bapak Rahadian adalah jantung dari perusahaan gue." Jelas Arion masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
Rein, Mario dan Farrel tentu saja menunjukkan ekpresi terkejut seperti yang Arion lakukan sebelumnya, bagimana bisa Papa-nya Lilian adalah jantung dari perusahaan Ganendra grup. Sungguh kebenaran itu tidak bisa dipercaya oleh ke tiga orang itu.
"Maksud lo jantung perusahaan apa?" Tanya Rein yang benar-benar sangat penasaran.
"Jika Bokap gue adalah penunjuk arah maka Pak Rahadian adalah penggerak. Posisinya adalah tangan kanan atau orang yang paling Bokap gue percaya. Semua urusan perusahaan berada dibawah tanggung jawabnya dan Bokap gue. Agar Bokap tidak kehilangan orang yang berbakat sepertinya maka keluarga Ganendra harus mengikhlaskan saham yang sekarang sudah mencapai dua puluh dua persen berada dibawah nama Rahadian." Jelas Arion panjang kali lebar.
Ketiga temannya melongo tidak percaya, sungguh mereka tidak menyangka akan mengetahui identitas asli dari Lilian yang selama ini mereka cari.
"Pantasan saja sekuat apapun gue berusaha mencari identitas Lilian namun tetap saja gue tidak bisa menemukannya. Ternyata orang-orang dibelakang Lilian memiliki kekuasaan yang tersembunyi." Gumam Mario pelan.
"Lo nggak salah tebak atau ingat tidak?" Tanya Rein memastikan.
"Gue yakin ... Oh gue punya sesuatu." Ucap Arion kemudian memeriksa ponselnya. "Beberapa kali saat liburan keluar negri kami sering makan malam bareng jika Bokap dan Pak Rahadian punya waktu luang, sesekali kami juga mengambil gambar. Coba lo lihat apakah ini bokapnya Lilian?" Tanya Arion sambil menunjukkan foto keluarga dilayar ponselnya.
"Betul ini Om Rahadian Papa-nya Lilian." Ucap Rein antusias.
"Gilaaa ... Nggak nyangka gue kalau Lilian adalah orang yang tidak bisa sembarangan disentuh. Lilian memiliki ikatan darah dengan Arisena dan memiliki keterikatan dengan Ganendra grup." Ucap Farrel sambil geleng-geleng kepala.
"Jangan lupakan usaha Mama-nya yang sudah memiliki banyak cabang, Daisy bakery." Tambah Arion.
Ke empatnya sampai geleng-geleng kepala mengetahui fakta tentang identitas asli dari Lilian. Arion yang sejak tadi salah paham dengan Rein akhirnya merasa bersalah sendiri karena marah tanpa sebab dengan hubungan Lilian dan Rein yang ternyata hanyalah saudara sepupuan.
Arion akhirnya terbangun dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rooftop.
"Mau kemana lo?" Tanya Mario bingung melihat Arion yang tiba-tiba berdiri dan sebentar lagi mencapai pintu.
"Nemuin Lilian." Ucap Arion singkat tanpa berbalik.
"Nggak salah paham lagi lo sama gue? Sejak kemarin malam kerjaannya nyuekin gue ... Setelah tahu yang sebenarnya bukannya minta maaf malah langsung pergi mau nemuin Lilian aja." kesal Rein dengan wajah judesnya.
"Perasaan tadi bilangnya nggak suka ... Setelah semua telah dijelaskan, sekarang udah mau nemuin anak orang aja." Tambah Farrel mengompori.
"Bel juga udah dari tadi bunyi ... Mau nemuin Lilian dimana lo? Orang pasti udah masuk kelas dan sekarang sedang belajar." Kata Mario menambahi.
Arion tidak lagi menghiraukan ucapan-ucapan dari ketiga temannya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana caranya agar ia bisa menemui Lilian secepat mungkin meski ia harus menerobos masuk ke kelas Lilian.
"Ehhh baik-baik lo sama gue! Buat sedikit masalah aja nggak akan pernah gue ijinin lo dekat-dekat dengan sepupu gue lagi! Baik-baik lo sekarang sama gue dan jaga sikap lo terhadap gue." Kata Rein yang hampir seperti berteriak.
Arion malah mengabaikan ucapan dari Rein dan langsung segera menuruni tangga untuk menemui Lilian. Sepanjang perjalanan menuju kelas Lilian suasanya sangat sepi karena murid-murid Florenzo Schooll sudah kembali memasuki kelas masing-masing setelah bel tanda istirahat selesai.
Sepanjang jalan hanya ada bunyi gesekan lantai dan sepatu dari Arion yang berjalan dengan terburu-buru. Arion juga mengabaikan tiap kali beberapa murid perempuan menyapa ataupun memanggilnya. Dalam pikiran Arion saat ini hanya ingin bertemu dengan Lilian, gadis yang sejak semalam ia abaikan.
____________________