
Rahadian mengepalkan tangannya dengan sangat erat mendengar cerita dari sang Putri. Selama ini Lilian tidak pernah menceritakan apa yang ia alami selama ia berada di sekolah, hingga akhirnya ia membuka diri itupun karena Lilian takut ketiga temannya menjadi sasaran atas masalah yang ia hadapi.
"Bagaimana, Mah? Bisa bantuin Lilian kan?" Tanya Lilian setelah ia selesai menceritakan semua yang telah terjadi.
"Kenapa baru sekarang kamu menceritakan semua yang telah kamu alami, Lilian? Seharusnya sejak awal kamu menceritakan semuanya agar kamu tidak tertindas oleh mereka." Kata Efina dengan penuh emosi.
"Mah ... Lilian masih bisa nyelesain-nya sendiri. Hanya saja kali ini masalahnya melibatkan ketiga teman Lilian. Mereka bertiga sudah sangat baik pada Lilian, jadi aku nggak mau kalau mereka mendapatkan masalah gara-gara aku." Jelas Lilian.
"Meskipun begitu kamu tetap harus menceritakan masalah kamu, Lilian! Mama tidak terima jikalau kamu di perlakukan seperti itu, pokoknya mereka harus mendapatkan hukuman." Kata Efina tegas.
"Kali ini biarkan Papa yang menyelesaikan semuanya." Ucap Rahadian yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Tidak bisa! Mama tahu Papa akan bersikap seperti apa dalam menghadapi keponakannya Elisa." Ucap Efina tidak terima.
"Mama tidak percaya dengan Papa?" Tanya Rahadian dengan wajah serius. "Ingat perjanjian mu dengan Papa Tama, kalau identitas Lilian sekarang terbongkar maka kita akan kesusahan menghadapi masalah yang akan datang. Biarkan Papa Tama menyelesaikan semua kemungkinan yang akan terjadi baru kita akan membongkar identitas Lilian sebenarnya." Lanjutnya.
"Tapi ..." Ucap Efina ragu.
"Mah ... Lilian hanya butuh posisi ketiga teman Lilian tetap aman. Sisanya biarkan Lilian sendiri yang menyelesaikannya." Usul Lilian.
"Percayakan saja masalah ini pada Papa dan Lilian sendiri, Mah. Masa depan Lilian jauh lebih penting. Kita sudah melakukan banyak upaya agar bisa tetap merahasiakan identitas Lilian. Bersabarlah sebentar lagi dan biarkan masalah ini Papa yang menyelesaiakanya." Kata Keira dengan nada pelan.
Efina menatap khawatir kepada Lilian, ia sangat menyayangi kedua Putrinya dan tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada mereka. Sebagai seorang ibu tentu saja ia tidak terima jika anaknya di tindas oleh orang lain. Andai saja masalah yang akan datang tidak melibatkan Putrinya maka akan lebih baik Efina sendiri yang menyelesaikan masalah yang du hadapi oleh Lilian.
"Baiklah ... Hanya saja Papa harus berjanji sama Mama akan membuat mereka yang berusaha menyakiti Lilian mendapatkan pelajaran yang tidak akan membuat mereka mengganggu Lilian lagi." Pinta Efina dengan sorot mata sendu.
"Papa janji." Kata Rahadian tegas
Setelah mengatakan hal itu, Rahadian langsung bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Menurut perkiraan Rahadian, Audry akan melaporkan masalah yang terjadi di cafe malam ini juga kepada Elisa.
Sedangkan Efina segera berlari menuju dapur untuk menyiapakan kompres untuk mengobati kepala Lilian.
________________
Sebelum tidur, Lilian mengecek ponsel yang sejak tadi ia abaikan. Ada banyak sekali notifikasi yang masuk dalam ponselnya namun Lilian begitu malas untuk mengecek notif-notif itu.
Jari Lentik Lilian membuka notif yang paling teratas pada layar ponselnya.
Kak Rein~
P
P
P
Lilian lo ada dimana?
Lo baik-baik sajakan?
Tadi gue ke cafe tapi lo-nya udah cabut.
Lilian balas pesan gue!
Gue khawatir ini!
Audry benar-benar gila ... Tadi gue udah nyamperin dan ngasih ancaman buat dia agar tidak lagi gangguin lo.
Lilian!
27 Panggilan tidak terjawab dari Kak Rein.
2 Panggilan tidak terjawab dari Laura.
2 Panggilan tidak terjawab dari Meira.
3 Panggilan tidak terjawan dari Gladis.
"Gilaaa ... Kak Rein nelpon banyak bener." Gumam Lilian melihat banyaknya panggilan masuk dalam ponselnya.
...Kak Rein Calling ......
"Lah, baru aja di omongin." Ujar Lilian.
Lilian menggeser tombol hijau dari ponselnya dan menempelkan benda pipih itu di pipinya.
"Hallo." Sapa Lilian.
"Lo lagi dimana? Dan bagaimana kondisi lo sekarang?" Tanya suara berat di seberang sana.
Lilian menjauhkan ponselnya dan membaca nama yang tertera di atas layar. "Benar kok Kak Rein yang nelpon. Kok suaranya mirip Kak Arion ya." Gumam Lilian heran.
"Ini memang gue, Arion." Kata seseorang dari seberang sana.
"Kok bisa?" Tanya Lilian heran.
"Ponselnya rusak karena dibanting. Tadi kita lihat siaran langsung salah satu murid dari sekolah lain yang menayangkan tentang lo dan Audry. Niatnya mau nolongin lo, ehhh ternyata lo udah balik." Kata Rein dari seberang sana.
"Owww kalian lagi ngumpul?" Tanya Lilian.
"Ho oh ... Hubungin lo sejak tadi susah amat. Terpaksa harus nelpon Tante Efina buat nanyain keadaan lo. Terus gimana kepala lo sekarang?" Tanya Rein.
"Udah lumayan sih ... Tadi udah di obatin sama Mama." Jawab Lilian sambil memeluk bantal gulingnya.
"Sejak tadi Arion khawatir banget sama lo, Lilian! Tapi gengsinya gede ... Alasan pake ponselnya Rein buat nanyain keadaa lo." Terdengar suara Teriakan Farrel di seberang sana.
Lilian terkekeh kecil mendengar suara ribut setelah Farrel selesai berbicara. Ponsel milik Arion memang sudah rusak lantaran ia banting karena kesal terhadap kelakuan Audry.
Saat itu keempatnya sedang ngumpul di salah satu atap gedung yang sebelumnya Lilian kunjungi. Farrel meminjam ponsel milik Arion karena ponselnya sendiri kehabisan daya untuk menghubungi Mamanya jika malam nanti ia akan telat pulang. Namun secara tidak sengaja, Farrel menemukan siaran langsung dari seseorang yang menayangkan keributan antara Lilian dan Audry.
Dengan marah Arion langsung melempar ponselnya ke sembarang arah dan langsung bergegas menuju caf**e dimana Lilian dan Audry berada. Sayangnya Lilian sudah pulang dan hanya tersisa Audry dan teman-temannya yang sedang mengobati lukannya.
Bukannya menolong saudaranya sendiri, Arion malah membentak Audry dan mengatakan hal itu pantas ia terima lantaran karena kejahatan yang Audry lakukan selama ini. Rein juga ikut membentak dan mengancam Audry jika seandainya gadis itu kembali mengganggu Lilian.
"Lo nggak lihat aja bagaimana sepupu dan calon pacar lo ini hilang kendali di hadapan Audry dan Mak lampir. Anjiiirr serem abis ... Kalau bukan karena mereka cewek semua, mungkin saja nih anak dua udah buat mereka babak belur." Jelas Mario dengan suara sedikit berteriak.
Lilian tersenyum kecil mendengar Marion mengatakan calon pacar sebagai sebutan Arion kepadanya. "Oh ya?" Tanya Lilian menahan kesenangannya.
"Tentu saja ... Nih anak berdua hampir mau nampar tuh si Audry yang gilanya udah nggak ketolong. Hanya saja tuh pipi udah babak belur duluan. Lo yang buat mahakarya itu ya?" Tanya Farrel di akhir kalimatnya.
Lilian tidak bisa untuk tidak tertawa mendengar cerita dari Farrel. "Bukannya Kak Audry itu sepupunya Kak Arion? Kenapa ia malah mau menghukum saudaranya itu?" Tanyanya penasaran.
"Karena dia salah. Orang salah harus di kasih hukuman." Kali ini Arion sendiri yang menjawab.
"Sebaiknya lo istirahat saja ... Agar besok kembali beraktifitas." Kata Arion dengan lembut.
Kembali terdengar suara sorakan dari seberang sana menggoda Lilian dan Arion.
"Ya sudah ... Bye." Ucap Lilian dengan senyuman.
"Bye. semoga mimpi indah." Ucap Arion.
Lilian tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Setelah menutup teleponnya Lilian langsung menutup kedua matanya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
_________________
Sebelum berangkat sekolah, Lilian mendengarkan penjelasan dari Papanya tentang masalah yang kemarin ia alami. Sejak semalam, Rahadian sudah membereskan masalah tentang Putrinya termasuk video-video yang tersebar di seluruh media sosial yang menayangkan tentang Putrinya.
Rahadian tidak ingin citra Putrinya menjadi rusak lantaran karena video-video itu. Meski Putrinya tidak bersalah sama sekali namun orang-orang tidak mau tahu tentang kebenarannya dan hanya fokus tentang perselisihan antara Putrinya dan Audry.
Sehingga Rahadian memutuskan untuk meretas semua video yang menayangkan tentang Putrinya dan mengancam akan menuntut bagi siapapun yang menyebarkan video itu.
Rahadian menjelaskan jika tidak ada yang perlu Putrinya itu khawatirkan lagi. Lilian hanya perlu berangkat ke sekolah dan menjalani hari-harinya yang tenang. Masalah Audry dan Sheril sudah di urus semua oleh Rahadian dan memastikan bahwa mereka akan mendapat hukuman atas apa yang telah mereka lakukan.
Setelah mendengarkan penjelasan Rahadian dan sarapan bersama keluarganya, Lilian memacu laju motornya dengan kecepatan sedang. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Lilian agar ia mencapai sekolahnya dan langsung memarkirkan motornya di tempat biasa.
Setelah melepas helm dikepalanya, Lilian langsung melangkah menuju kelasnya berada namun tangan seseorang menghentikan langkahnya.
"Hai, Lilian." Sapa Rama dengan senyum mengembang di bibirnya.
Lilian menatap aneh ke arah Rama yang tersenyum cerah ke arahnya. Tidak biasanya laki-laki itu langsung tersenyum kepadanya, tiap hari Rama selalu saja membuat Lilian merasa kesal namun sepertinya tidak untuk hari ini.
"Kenapa lo diem aja?" Tanya Rama yang tidak mendapatkan respon dari Lilian.
"Memangnya gue harus ngapain?" Tanya Lilian dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Ya lo sapa balik lah ... Masa iya lo hanya diam aja." Kata Rama dengan nada santai
"Tumben hari ini lo nggak Resek ... Biasanya tiap ketemu lo, gue harus mengeluarkan tenaga ekstra." Kata Lilian.
"Wihhh ... Sebenarnya gue udah berusaha bersikap baik tiap ketemu lo. Hanya saja lo aja yang nganggap gue gitu." Ucap Rama masih dengan senyumannya.
"Mungkin." Kata Lilian.
"Oh iya ... Gue tadi malam sempat liat video lo yang kesebar, beruntungnya saat gue cek kembali video-video itu udah hilang." Kata Rama pelan, takut menyinggung Lilian.
"Ohh." Ucap Lilian.
"Terus bagaimana keadaan lo?" Tanya Rama lagi.
"Seperti yang lo lihat. Baik-baik saja dan masih bisa mengobrol dengan lancar dengan lo." Jawab Lilian.
"Syukurlah kalau begitu." Kata Rama.
Asik mengobrol, Lilian tidak menyadari Arion sudah berdiri di sampingnya dan menarik tangannya pergi. "Kita ke kelas." Katanya datar.
Rama tidak terima dengan kelakuan Arion yang menarik tangan Lilian dengan tiba-tiba saat gadis itu sedang mengobrol dengannya. "Gue nggak suka ya, lo bersikap seperti ini kepada Lilian." Kata Rama menatap Arion tidak suka.
Bukannya menjawab, Arion malah melepas tangan Rama yang menahan tangan Lilian pergi bersamanya. "Kita pergi." Ucapya datar.
Lilian menatap Rama dengan tatapan tidak enak. "Maaf ya ... Tapi sebaiknya gue pergi." Ucap Lilian sedikit berteriak lantaran tangannya sudah di tarik oleh Arion.
Rama hanya mengehela napas pelan melihat kepergian Lilian dan Arion. Selalu saja seperti itu, entah apapun yang Rama inginkan selalu saja berkaitan dengan Arion.
Lilian sendiri terus saja ditarik oleh Arion untuk mengikuti langkahnya. "Kak Arion sejak kapan Kakak tadi di sana?" Tanyanya penasaran.
Arion menghentikan langkahnya dan berdiri berhadapan dengan Lilian. "Jangan dekat-dekatnya." Katanya dengab raut wajah tidak suka.
"Kenapa?" Tanya Lilian dengan menahan senyumnya. "Kelihatannya dia baik." Lanjut Lilian sambil memperhatikan raut wajah dari Arion.
"Pokoknya lo jauhin dia sejauh mungkin. Jangan bertemu dengannya dan jangan berbicara dengannya!" Kesal Arion.
"Memangnya kenapa? Kita kan satu sekolah, tentu saja pasti bertemu secara tidak sengaja. Terlebih lagi dia adalah Ketua Osis, masa ia kalau ada kegiatan yang melibatkan kami bertemu gue harus ngejauhin dian." Kata Lilian yang masih mengamati perubahan raut wajah dari Arion.
"Pokoknya lo nggak boleh berhubungan dengannya! Hanya ada sesuatu yang paling mendesak baru kalian boleh berbicara namun harus ada orang lain yang menemani." Tegas Arion.
Lilian terkekeh kecil mendengar ucapan Arion. "Kakak sedang cemburu ya?" Tuding Lilian sambil menunjuk Arion.
"Nggak." Jawab Arion sambil membuang muka ke arah lain.
"Kalau begitu kenapa lo ngelarang gue buat bertemu dengan Kak Rama? Kalau lo bilang cemburu maka gue bakal jauhin dia." Kata Lilian dengan senyum di bibirnya.
"Berisik!" Kesal Arion kemudian menarik tangan Lilian kembali menuju kelasnya.
Sepanjang jalan Lilian terus saja tersenyum lebar. Ia bahkan mengabaikan tatapan dari banyak orang, entah itu tatapan penasaran dengan kejadian yang Lilian alami kemarin atau tatapan penasaran ketika melihat Arion dan Lilian berjalan dengan bergandengan tangan bersama menuju kelasnya.
Bohong kalau Lilian tidak bahagia. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini bahkan terpancar secara jelas pada raut wajah Lilian. Langkah kaki Arion dan Lilian terhenti saat keduanya telah sampai di depan kelas Lilian.
"Belajar yang benar dan jangan lupa besok jam delapan pagi gue jemput." Kata Arion.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Memangnya kita mau kemana?" Tanyanya.
Arion menyentil pelan kepala Lilian. "Besok adalah hari dimana lo harus nemenin gue pergi ngambil gambar ... Kalau lo nggak ikut maka lo nggak bakal bisa bergabung dengan ekstrakurikuler kami." Jelas Arion
"Oh iya ... Hampir lupa." Kata Lilian dengan senyum lebar.
"Baiklah kalau lo udah ingat. Gue ke kelas dulu." Ujar Arion dan langsung pergi menuju kelasnya
Lilian masih saja tersenyum menatap punggung Arion yang semakin menjauh dari pandangannya. Kembali ia merasakan tarikan pada tangan kirinya.
"Lilian ada berita heboh." Kata Gladis dengan semangatnya.
"Apaan? Masalah gue yang di antar oleh Kak Arion sampai di kelas?" Tanya Lilian.
"Bukan. Ini masalah kita kemarin. Untuk masalah lo dan Kak Arion di jeda dulu untuk sementara." Ucap Gladis heboh.
"Apaan? Ada apa memangnya?" Tanya Lilian yang juga ikut penasaran.
"Ikut gue ke kelas dulu ... Di dalam sudah ada Laura dan Meira yang nungguin lo sejak tadi." Ujar Gladis kemudian menarik tangan Lilian untuk memasuki kelasnya.
__________________
Sudah mencapai dua ribu kata ... Artinya Author harus stop dan lanjut ke bab selanjutnya.
Selamat menunggu bab selanjutnya ....