Lilian

Lilian
Persiapan festival



Semua pasang mata tertuju pada seorang gadis mungil yang baru saja selesai memarkirkan motor matic ungu miliknya. Masih segar diingatan mereka tentang kebenaran asal usul sang sang gadis tidak biasa, namun yang ditatap malah terlihat biasa saja dan tidak merasa terganggu sama sekali.


"Untung aja pada masa lalu gue selalu jadi pusat perhartian! Kalau dihadapkan pada posisi kek gini kan gue bisa santai." Gumam Lilian pelan sambil memperbaiki seragamnya yang kusut.


"Lilian!!"


Spontan Lilian mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Gladis, Laura dan Meira sedikit berlari kecil mendekat ke arahnya.


"Nah ... Ini nih yang nggak akan pernah bisa gue hindari." Ujar Lilian dan menghela napas pelan.


"Eh Lilian! Lo utang banyak penjelasan ama kita-kita." Tudung Gladis tanpa basa basi.


"Nah bener banget dah tuh ... Kemarin lo bisa kabur dari kita-kita! Tapi sekarang jangan harap lo bisa kabur!" Ancam Laura.


Gladis dan Meira langsung memeluk tangan kiri dan kanan Lilian agar gadis itu tidak bisa kabur dari ketiga temannya.


"Kalian semua kenapa sih? Gue nggak bakalan kabur." Ucap Lilian sambil berusaha melepaskan diri dari kedua temannya.


"Nggak bisa! Kali ini lo harus menjawab semua pertanyaan kami! Untuk itu ... Ikut kita!" Ucap Meira kemudian mulai menyeret Lilian.


Lilian hanya pasrah dan mengikuti kemana ketiga temannya pergi. Hal itu bahkan menjadi berkah untuk Lilian karena ia bisa lolos dari pandangan semua orang yang terlihat menuntut jawaban padanya.


Bagi Lilian identitasnya adalah informasi pribadi dan biarkan orang-orang terdekatnya lah yang berhak tahu. Identitasnya bukanlah informasi umum yang perlu ia umbar kepada banyak orang. Untuk itulah Lilian merasa jika ia tidak perlu menjelaskan apapun pada orang lain selain orang yang ia anggap dekat.


Gladis, Laura, dan Meira ternyata membawa Lilian ke gedung sebelah barat Florenzo School. Pada setiap gedung sengaja dibuat taman-taman kecil untuk memperindah bangunan tersebut.


Kali ini ketiga teman Lilian ingin mengintrogasi Lilian dengan banyak pertanyaan yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Maka dari itu mereka memilih gedung barat yang jarang sekali orang kunjungi lantaran gedung itu adalah laboraturium IPA, hanya anak-anak yang suka bereksperimen saja yang mau menginjakkan kaki disana selain diluar jam pelajaran.


Setelah mendudukan Lilian pada salah satu kursi taman, ketiga teman Lilian berdiri dengan tangan bersidekap di depan dada layaknya seperti seorang detektif yang ingin mengintrogasi pelaku kejahatan.


"Jelasin semuanya ke kita dari awal sampai akhir!" Pinta Gladis dengan raut wajah tegas yang sengaja ia buat-buat.


"Jelasin apa?" Tanya Lilian.


Bukannya tidak ingin menjelaskan, hanya saja Lilian bingung ingin menjelaskannya mulai dari mana.


"Jelasin ke kita ... Kenapa lo nyembunyiin identitas lo?" Tanya Laura yang memperjelas pertanyaan Gladis.


Lilian sedikit membuang napas pelan. "Pertama, gue minta maaf ke kalian karena dari awal gue nggak pernah cerita tentang identitas gue. Tapi percayalah gue punya alasan ..." Jawabnya.


"Apa?" Tanya Meira balik.


"Sebenarnya gue nggak masalah kalau lo nggak cerita. Hanya aja identitas lo itu nggak biasa ... Apa lo sengaja nyembunyiin dari kita agar lo bisa ngetes kesetiaan kami sebagai teman?" Tunding Gladis.


"Nggak!" Sanggah Lilian cepat, "Sumpah! Gue nggak pernah ada niat kek gitu!" Lanjutnya.


"Lalu kenapa, Lilian?" Kali ini Meira yang bertanya.


"Itu karena status gue yang kalian bilang nggak biasa! Bayangin jika kalian ada di posisi gue, tentunya kalian pasti akan melakukan hal yang sama. Memiliki hubungan dari dua keluarga besar bukanlah hal yang patut dibanggakan melainkan hal yang perlu di waspadai." Jawab Lilian.


Gladis, Laura, dan Meira hanya terdiam mendengar jawaban dari Lilian. Awalnya mereka ingin mengerjai Lilian dengan cara berpura-pura marah kepadanya, namun setelah mendengar jawaban dari gadis itu, ternyata selama ini Lilian dalam posisi tertekan.


"Posisi gue nggak aman! Lo semua tau bagaimana politik keluarga bisa menghancurkan masa depan seseorang! Hal itulah yang saat ini sedang di hindari oleh keluarga gue! Mereka semua nggak mau masa depan gue ancur hanya karena perebutan kekuasaan." Jawab Lilian dengan nada lesu sambil menundukkan kepalanya.


Gladis berjalan selangkah lebih dekat dengan Lilian kemudian menepuk punggungnya dengan pelan. "Sorry ... Kita nggak maksud buat bikin lo sedih." Ucapnya merasa bersalah.


"Kita cuman bercanda kok ... Tapi nggak nyangka bakal buat lo sedih." Ucap Laura yang juga ikut bersalah.


Lilian kemudian mendongakka kepalanya. "Kalian semua nggak marah ama gue?" Tanya Lilian ragu.


Gladis, Laura dan Meira kompak menganggukkan kepalanya. "Kita nggak pernah marah ama lo." Kata Meira.


"Lagian ... Kami juga nggak pernah tanya tentang identitas lo." Jawab Gladis.


"Jadi beneran kalian nggak marah?" Tanya Lilian girang.


"Nggak." Jawab ketiganya kompak.


Lilian bangun dari tempat duduknya kemudian merentangkan kedua tangannya untuk memeluk ketiga temannya. "Makasih semua." Ucap Lilian tulus.


Gladis, Laura dan Meira membalas pelukan dari Lilian.


"Nggak perlu makasih ... Emangnya hal baik apa yang kita lakuin buat lo?" Tanya Gladis setelah melepas pelukan.


"Iya ..." Ucap Laura.


"Makasih karena kalian selalu ada buat gue." Jawab Lilian.


"Karena kita sahabat." Jawab Gladis, Laura dan Meira dengan girang.


Sejenak keempatnya tertawa dengan kekonyolan masing-masing.


"Oh iya, Lilian. Ampe sekarang ... Gue nggak pernah nyangka kalo lo Sepupunya Kak Rein." Kata Laura heboh.


"Betul banget ... Pantesan aja mata lo berdua mirip. Ternyata ... Kalian berdua emang saudara. Udah gitu tiap hari terlihat lengket ... Eh ternyata saudaraan." Ujar Meira.


"Terus ... Kak Arion udah tau belum kalo lo berdua saudaraan?" Tanya Gladis penasaran.


Lilian mengangguk pelan. "Udah. Kak Farrel dan Mario juga." Jawabnya.


"Pantesan nggak pernah terlihat cemburu ... Ternyata udah tau ..." Kata Meira.


"Iya bener ... Yang kelihatan kaget hanya si Mak Lampir ama si Anin tuh ... Kemarin matanya sampai mau keluar dari tempatnya saking kagetnya." Ujar Laura mengingat raut wajah terkejut dari orang-orang itu.


"Gue malah seneng banget liat ekspresi mereka ... Selama ini mereke selalu mengagungkan nama keluarga besarnya! Nggak tau aja kalau kedudukan Lilian jauh diatas mereka." Kata Gladis dengan senyum cerah dibibirnya.


"Benar tuh ... Gue malah penasaran bagaimana ekspresi mereka setelah melihat Lilian sekarang. Apakah masih dengan raut songongnya atau gimana?" Tanya Laura penasaran.


"Bener tuh ..." Ujar Gladis.


Saking asiknya mengobrol, keempat gadis itu tidak menyadari jika mereka telah mengobrol dengan waktu yang cukup lama.


KRINGGGGGGG ....


Bunyi bel tanda masuk membuat keempat gadis itu menghentikan obrolannya.


"Yah ... Udah masuk aja." Ujar Gladis lesu.


"Udah ah ... Lanjut nanti aja obrolannya. Sekarang kita ke kelas aja." Ajak Lilian kemudian menarik tangan teman-temannya untuk bergerak.


Keempatnya akhirnya berjalan menuju kelasnya berada. Sepanjang jalan, semua murid Florenzo School melempar pandangan mereka ke arah Lilian. Gadis itu telah menggegerkan satu sekolah dengan identitas aslinya, tentu saja membuat Lilian sekarang menjadi pusat perhatian banyak orang.


Ada banyak sekali raut wajah yang terlihat jelas ingin mendekati Lilian. Namun gadis itu malah terlihat biasa saja dan acuh dengan pandangan orang-orang itu kepadanya.


Tidak lama setelahnya, keempat gadis itu sampai didepan kelasnya. Baru saja Lilian dan ketiga temannya ingin memasuki kelas, suara riuh dari belakang malah menghentikan langkah keempat gadis itu.


"Lilian ... Lo kemana aja? Kita cariin dari tadi juga." Kesal Kamal.


Teman-teman sekelas Lilian ternyata tidak lagi di dalam kelas melainkan sedang sibuk mencari keberadaan Lilian. Sejak kemarin mereka sangat penasaran dengan identitas Lilian dan berniat menanyakan langsung tentang kebenarannya.


"Emang kenapa lo nyariin, Lilian?" Tanya Gladis dengan raut wajah judesnya.


"Eh diem deh lo! Gue nggak tanya lo." Jawab Kemal kesal.


"Tapikan Lilian teman gue." Jawab Gladis tidak mau mengalah.


"Lilian temen gue juga ..." Jawab Kemal.


"Udah ah ... Kalian berdua ribut terus." Kata Denis kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Lilian.


"Identitas lo yang di kabarkan kemarin ... Bener?" Tanya Denis hati-hati agar tidak menyinggung Lilian.


"Bener." Jawab Lilian.


Untuk sejenak teman sekelas Lilian menahan napas setelah mendengar jawaban langsung dari Lilian. Sungguh mereka tidak pernah menyangka akan sekelas dengan keturunan Arisena. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata Lilian juga memiliki hubungan dengan keluarga Ganendra. Lantaran Rahadian memiliki saham di perusahaan milik Ganendra Grup.


"Udah ... Jawaban itu mungkin udah mewakili rasa penasaran kalian." Kata Lilian kemudian berbalik untuk memasuki kelasnya.


"Tapi Lilian ..." Kata teman sekelasnya yang masih belum puas dengan jawaban Lilian.


"Udah ... Nggak usah banyak tanya lagi! Lilian telah memberikan jawabannya dan gue harap kalian dapat menghargai itu." Ujar Gladis dengan tegas.


Meski tidak terima, namun teman sekelas Lilian akhirnya pasrah. Percuma saja mereka menahan Lilian dan menanyakan banyak hal jika gadis itu sendiri tidak mau menjawab pertanyaan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk memasuki kelas dengan teratur.


Semua murid kembali menduduki kursi mereka masing-masing meski ujung matanya sesekali mencuri pandang ke tempat Lilian dan ketiga temannya berada.


Sama seperti hari-hari biasanya, ketika ke empat gadis itu sedang mengobrol selagi menunggu kedatangan Guru yang akan mengajar. Kemal dan teman-temannya akan datang dan mengganggu obrolan Lilian dengan ke tiga temannya itu. Denis sebagai ketua kelas bukannya membantu menenangkan keributan yang dibuat oleh Kemal, ia malah ikut-ikutan mengganggu ke empat gadis itu.


Hingga akhirnya suara ketukan pintu terdengar dari luar dan membuat Kemal dan teman-temannya kembali terduduk ke kursi mereka masing-masing.


Awalnya Lilian dan yang lainnya mengira kalau yang datang adalah Guru yang akan mengajar. Akan tetapi yang datang malah anggota Osis, namun kali ini tanpa Ketua yang biasa selalu bersama dengan mereka.


"Selamat pagi semua!" Sapa seorang gadis yang biasa di panggil Rere. Ia adalah sekertaris Osis yang akan menggantikan Rama jika lelaki itu sedang berhalangan.


"Pagi."


"Kedatangan kami kali ini mungkin membuat kalian sedikit heran ... Namun kedatangan kami kali ini ingin menginformasikan hal penting." Ucap Rere dengan aura tegasnya.


"Beberapa hari yang lalu sekolah kita di cap miring oleh masyarakat luar karena beberapa insiden yang nggak perlu lagi gue jelaskan. Untuk menghilangkan isu miring itu ... Maka pihak sekolah setuju akan menyelenggarakan festival yang di buka untuk umum." Jelas Rere panjang.


Rere memberi aba-aba kepada rekan-rekannya untuk membagikan brosur kepada setiap murid yang berada di dalam ruangan. Sejenak Rere memberikan waktu kepada semua murid di kelas itu untuk membaca brosur yang telah dibagikan.


"Nah ... Dalam brosur tertulis jika masing-masing kelas harus menyiapkan sesuatu yang bisa bernilai jual tinggi. Bagi kelas yang mendapatkan penghasilan banyak, maka kelas itu akan diberikan reward khusus dari pihak sekolah." Jelas Rere.


"Dari penjelasan gue ... Ada yang ingin kalian tanyakan?" Tanya Rere sambil mengalihkan semua pandangannya ke semua arah.


Denis adalah orang pertama yang mengangkat tangan untuk bertanya. "Apakah tidak ada ketentuan barang atau apapun yang akan kami jual?"


"Tidak ada ... Kami membebaskan kalian menentukan sendiri barang atau apapun yang ingin kalian jual. Asalkan sesuatu yang kalian jual bukanlah hal yang aneh atau dilarang. Disini kalian di bebaskan untuk berpikir kreatif dalam hal mempromosikan barang kepada halayak umum." Jelas Rere lagi.


Semua murid termasuk Lilian menganggukan kepala tanda mengerti. Namun tidak lama setelahnya, Kemal kembali mengangkat tangannya tangannya untuk bertanya.


"Kemana Senior Rama? Kenapa malah sekertarianya yang datang mengumumkan?" Tanya Kemal yang di angguki oleh banyak orang.


"Kalian pasti sudah tau jawabannya. Kejadian kemarin melibatkannya dan hal itu membuatnya harus di berhentikan dari jabatannya." Jawab Rere dengan tenang.


Semua murid kembali menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah menjawab pertanyaan dari Kemal, Rere dan yang lainnya akhirnya pergi setelah tidak ada lagi pertanyaan dari para murid.


Di dalam brosur yang telah dibagikan, waktu untuk memeprsiapkan festival itu adalah seminggu dari sekarang. Untuk itu Denis berharap kepada teman-temannya untuk memberikan ide atau kontribusi agar acara tersebut berjalan lancar.


Denis ingin agar teman-temannya memberikan ide yang belum pernah orang lain coba. Sehingga pada saat acara festival berlangsung, kelas mereka dapat memberikan kontribusi banyak serta hal positif kepada semua orang yang akan datang.


Terlebih lagi festival itu akan di buka untuk umum yang artinya mulai dari anak kecil sampai orang tua bahkan lansia akan dapat menikmati acara itu. Denis ingin sesuatu yang mereka siapkan untuk acara festival disukai oleh semua usia.


Untuk itu Denis memberikan waktu sehari kepada teman-temannya untuk memikirkan ide apa yang akan mereka ajukan kepadanya agar acara festival dapat berjalan lancar. Sebagai ketua kelas, Denis memiliki tanggung jawab besar dalam mengajak teman-temannya agar tetap kompak dan mau berkerja sama dalam team.


Namun melihat ke kompakan yang selalu ada di pada diri teman-temannya, Denis yakin jika teman-temannya akan memberikan ide yang bagus untuk acara festival yang akan di langsungkan satu minggu yang akan datang.


________________


Akhirnya Author bisa UP setelah sekian lama menghilang karena kesibukan di dua sekolah. Kangen banget ama cerita Lilian dan kalian para raiders ... Mudah-mudahan kalian masih tetap bersama cerita Lilian.