Lilian

Lilian
Senyuman Manis Arion



Gladis, Meira dan Laura menatap bingung ke arah Lilian yang bertingkah aneh. Gadis itu terlihat berjalan mengendap dan sesekali menengok ke arah kiri dan kanan jalan. Sejak bel tanda istirahat berbunyi gadis itu bertingkah seperti maling yang takut ketahuan.


"Lo ini kenapa sih? Sejak bel berbunyi tingkah lo aneh banget." Kata Gladis yang sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Lilian.


"Betul ... Lo seperti sedang bersembunyi dari seseorang. Masa iya hanya karena masalah seperti tadi nyali lo jadi menciut ... Mana Lilian yang kita kenal? Pemberani dan tidak takut dengan siapa pun jika benar." Ucap Laura menimpali.


"Sssstttt." Lilian menempelkan telunjuk kanan ke mulutnya. "Jangan sebut nama gue kencang-kencang." Katanya dengan nada sepelan mungkin.


Ketiga temannya kembali mengerutkan kening bingung. "Lo hari ini bertingkah aneh tau nggak." Kata Meira.


"Hussshhh ... Kalian ini berisik banget! Gue ini lagi bersembunyi dari Kak Arion." Kesal Lilian.


"Ngapain lo bersembunyi dari Kak Arion? Biasanya juga suka ..." Ucap Gladis.


"Kalian ini gimana sih ... Tadi gue udah cerita kalau gue punya hutang sama Kak Arion ... Bayar makanan jepang itu nggak murah, kalau dia minta uangnya sekarang bagaimana?" Tanya Lilian yang masih berbicara dengan nada pelan.


"Memang harga makanannya berapaan sih? Pake uang gue aja dulu ... Lo bisa nyicil ke gue." Usul Meira.


Lilian menghela napas pelan. "Masalahnya itu orang nggak mau gue bayar pake uang ... Kalau bis bayar pake uang maka udah dari kemarin gue ganti uangnya." Jelas Lilian.


"Laaaahhh bagaimana ceritanya? Lo hutang uang namun bayarnya nggak pake uang?" Tanya Laura.


"Dia mau gue jadi babunya. Mana mau gue di suruh-suruh sama tuh orang ... Nyesel banget gue ngikutin dia kemarin. Banyak apes gue yang ada kalau sering bareng dia." Gerutu Lilian tidak senang.


"Ekhhhmmm." Dehem Gladis pelan. "Sepertinya lo masih belum bisa ladi dari dia deh." Katanya sambil menatap seseorang dari arah belakang punggung Lilian.


"Kenapa?" Tanya Lilian keheranan.


"Karena orang yang lo hindari ada tepat dibelakang badan lo bersama ketiga temannya yang lain." Kata Laura.


Tubuh Lilian menegang, bulu kuduknya bahkan meremang. Kehadiran orang yang dimaksud seperti hantu bagi Lilian, dengan gerakan pelan Lilian menengok ke arah belakang punggungnya.


Senyum paksa akhirnya terbit dari kedua sudut bibir Lilian tat kala melihat orang yang sejak tadi ia hindari sedang berdiri tegak dihadapannya sekarang.


"Ehhh Kak Arion ... Sejak kapan Kakak disini?" Tanya Lilian dengan senyum canggung.


"Yang pasti saat lo berniat untuk kabur." Kata Arion dengan tampang datarnya.


Ketiga teman Lilian hanya diam dan menyaksikan interaksi antara Lilian dan Arion. Bagi ketiganya hal itu adalah peristiwa langka yang pernah mereka lihat. Arion adalah tipekal orang yang tidak banyak bicara namun beda hal-nya jika ia bertemu dengan Lilian.


"Siapa yang mau kabur? Ini juga lagi mau jalan menuju kantin kok." Sanggah Lilian.


"Kalau begitu jalan cepat! Gue laper." Kara Arion dan langsung menarik kerah belakang jas sekolah yang Lilian kenakan.


"Eehh ... Ehh lepasin gue ..." Pekik Lilian sambil memukul-mukul tangan Arion yang menarik kerah jas-nya. "Lepasin nggak? gue bisa jalan sendiri." Lanjutnya.


"Nggak bisa!! Akan sangat merepotkan jika lo berusaha kabur dan tidak mambayar hutang." Ucap Arion datar.


"Gue janji nggak bakalan kabur." Kata Lilian dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.


Arion memang melepaskan tangannya dari kerah jas Lilian. Namun tangannya yang lain malah beralih untuk mendekap tubuh Lilian. "Ehhh ... Ehhh nggak gini konsepnya! Bukan melepaskan lo malah mengikat gue." Kata Lilian sambil berusaha melepakan diri dari kungkungan Arion.


"Cara seperti ini adalah cara yang paling ampuh untuk mengikat mu. Jangan sampai melawan atau gue akan melakukan hal-hal lain yang nggak bisa lo bayangin pokoknya." Ancam Arion sambil menggeret tubuh Lilian.


Ketiga teman Lilian dan ketiga teman Arion lagi-lagi mendapatkan kejutan besar. Biasanya Arion tidak ingin didekati atau disentuh oelh orang lain namun kali ini Arion sendirilah yang mendekap erat tubuh Lilian dengan suka rela.


Bukan hanya teman dari keduanya, murid-murid lain yang juga sedang berjalan menuju ke arah kantin atau ke tempat lain menatap Arion dan Lilian tidak percaya. Posisi keduanya membuat orang salah paham, keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta sehingga harus saling berpelukan saat berjalan menuju kantin.


Lilian yang sejak tadi berusaha melepaskan diri dari kungkungan Arion akhirnya harus bisa pasrah mengikuti keinginan dari lelaki itu. Sedangkan Arion sendiri tidak memperdulikan tatapan dari banyak orang dan hanya fokus berjalan menuju kantin berada.


Lilian akhirnya bisa bernapas lega setelah ia sampai disebuah meja yang selalu ditempati oleh anggota dari Geng Andromeda. Arion menarik salah satu kursi disampingnya lalu memberikannya kepada Lilian.


"Duduk!" Perintahnya dengan raut wajah yang tidak ingin dibantah


Tidak ingin terus berdebat dengan Arion, Lilian langsung menduduki kursi yang diberikan tanpa bantahan. Arion sendiri menarik sedikit sudut bibirnya ke atas melihat kelakuan Lilian yang patuh dengan perintahnya.


"Gue mau makan soto ayam." Kata Arion setelah berhasil menduduki kursinya.


Lilian menatap malas ke arah Arion. "Kalau makan ya pesanlah! Kenapa lo malah ngasih tahu gue?" Tanyanya kesal.


"Sana pergi pesan." Kata Arion sambil menopang wajahnya menggunakan sebelah tangannya.


Lilian menatap Arion dengan tatapan tajamnya. "Enak aja ... Lo yang mau makan kenapa gue yang harus mesenin? Gue bukan pembantu lo ya ..." Katanya tidak senang.


"Lo punya hutang sama gue ... seharusnya lo bertanggung jawab dengan hutang lo itu." Ucap Arion santai.


"Eehhh Papan Datar! Kalau bukan karena lo sendiri maka gue nggak akan punya hutang sama lo! Dari kemarin gue juga udah mau bertanggung jawab dengan mengganti sejumlah uang yang lo bayarin saat di restaurant Jepang." Kesabaran Lilian mulai habis menghadapi Arion.


"Terserah gue dong ... Lo yang punya hutang sama gue maka sebagai orang yang lo hutangi gue berhak menentukan dengan apa lo harus membayar hutang." Kata Arion dengan senyum manis yang terbit dari bibirnya.


Semua murid yang berada dikantin hampir tidak bisa bernapas saat melihat senyuman Arion, pekikan dari jauh bahkan terdengar dari tempat Lilian dan Arion berada. Bukannya sama seperti murid perempuan lain yang terpesona dengan senyuman Arion, Lilian malah mengeluarkan aura kekesalannya.


"Dasar Papan Datar ... Lo selalu saja bisa memanfaatkan keadaan. Udah berkali-kali gue di kibulin dan sekarang rasakan pukulan maut dari gue ..." Lilian akhirnya bisa melampiaskan kekesalannya dengan cara memukul lengan Arion berkali-kali.


Arion sendiri tidak menepis atau menghindar dari pukulan yang Lilian berikan, raut wajah Arion bahkan terlihat tidak kesakitan dan malah terlihat cuek dengan apa ya g Lilian lakukan. Lilian sendiri akhirnya berhenti saat merasakan tangannya mulai pegal karena terus-terusan memukul Arion.


Lilian yang sebelumnya terlihat kesal kini mulai terpesona dengan senyuman Arion. Dalam hati Lilian selalu menyadarkan dirinya agar tidak terpesona dengan senyuman Arion namun pesona laki-laki itu sangatlah kuat sehingga pertahanan yang Lilian bangun runtuh dalam sekejap.


Wajah Lilian mulai memerah malu karena terus saja ditatap oleh Arion yang sejak tadi menatapnya dengan senyuman. Arion bahkan tidak merasa mulutnya pegal karena terus saja tersenyum.


"Wajah lo memerah ... Apa sekarang lo sudah terpesona?" Tanya Arion menggoda.


Lilian mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk mengindari tatapan dari Arion. "Eenng ... Eng ... Engak. Si ... Siapa juga yang terpesona." Kata Lilian gugup sambil mengibaskan tangannya untuk mengipas wajah yang terasa panas.


"Kalau nggak kenapa lo harus menghadap ke arah lain? Apakah pandangan yang sekarang lo tatap lebih menarik dari wajah gue?" Tanya Arion masih menggoda Lilian.


Wajah Lilian semakin memerah mendengar kata-kata dari Arion. " Se ... Sejak kapan lo ... Lo pintar ngegombal?" Kata Lilian gugup.


Arion kembali tersenyum mendengar pertanyaan dari Lilian yang masih membuang wajahnya ke arah lain. "Gue nggak sedang ngegombal kok ... Hanya saja akan lebih baik kalau lo menatap ke arah gue saja." Kata Arion sambil membekap kedua wajah Lilian dengan kedua tangannya untuk menghadap ke arahnya.


"Sekarang gue tanya lagi ... Apakah pandangan yang lo lihat tadi lebih menarik dari wajah gue?" Tanya Arion sambik tersenyum manis.


Sejenak Lilian menarik napasnya saat melihat wajah tampan dan senyuman dari Arion. Seketika pikiran Lilian menjadi kosong lantaran terpana dengan senyuman dari Arion. Jantung Lilian bahkan berdetak sangat kencang dan berdetak tidak karuan.


"Aduhhh Mamaaaa tolongin Lilian ... Bisa mimisan gue kalau lama-lama natap nih orang." Batin Lilian.


"Ayok jawab ... Mana yang lebih menarik?" Tanya Arion sambil menggerakkan kepala Lilian pelan.


"Lebih menarik lo." Gumam Lilian tanpa sadar.


Senyuman Arion semakin lebar sedangkan Lilian menutup mulutnya karena sudah tanpa sadar mengatakan hal yang aneh. "Bego ... Bego ... Begoooo." Kata Lilian sambil memukul kepalanya pelan.


Arion menahan tangan Lilian agar tidak terus memukuli kepalanya kemudian mengelus kepala Lilian dengan lembut. "Lo terlihat lebih cantik saat sedang malu-malu."


Pertahanan Lilian benar-benar runtuh, kali ini Lilian harus benar-benar mengaku kalah dari Arion. Jantungnya sejak tadi berdetak tidak karuan dan pikirannya mulai kosong. Agar tidak terlalu jatuh dengan pesona Arion, Lilian akhirnya harus memilih mengalah.


"Sebaiknya gue segera pesan makanan ... Kalau nggak nanti keburu bel." Kata Lilian panik kemudian langsung pergi meninggalkan Arion.


Arion hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah dari Lilian. "Lucu." Gumamnya pelan.


"Apanya yang lucu? Gue baru tahu kalau teman gue pinter menggoda seorang gadis." Ujar Farrel tiba-tiba dan menarik salah satu kursi yang berada didepan Arion.


"Gue bahkan nggak percaya kalau lo bisa tersenyum selebar itu." Kata Rein menimpali.


"Yang bikin gue tambah tidak percaya adalah teman gue bahkan mampu membuat seorang gadis cantik tersipu malu sampai salah tingkah begitu." Ucap Mario sambik menggeleng kepalanya ke kiri dan kanan.


Kehadiran ketiga temannya membuat senyuman manis yang selalu terbit di wajah Arion menghilang. Sejak tadi Arion hanya fokus menggoda Lilian yang wajahnya memerah semerah tomat tanpa melihat kehadiran ketiga temannya.


Arion lupa jikalau tadi ia sudah meninggalkan ketiga temannya setelah ia bertemu dengan Lilian. Arion bahkan lupa jikalau sejak tadi ia dan Lilian masih berada dikantin dan interaksi keduanya pastinya sudah disaksikan oleh banyak oasang mata termasuk ketiga temannya sendiri.


"Kenapa lo diam?" Perasaan saat berdua dengan Lilian tuh mulut tidak pernah berhenti buat ngomong." Kata Farrel menyindir.


"Ya iyalah tidak pernah berhenti ... Secara lo dan Lilian kan berbeda kasta dihatinya Arion." Ejek Rein.


"Dunia bagai milik berdua dan kita hanya numpang ngontrak doang ... Suasana kantin yang sesak dan riuh gini aja nggak mereka hiraukan ... Bagaimana dengan kita bertiga yang hanya remahan peyek doang?" Tanya Mario dengan raut wajah sedih yang sengaja ia buat-buat.


"Diem lo semua!!" Ketus Arion dengan tatapan datarnya.


"Eeeitttsss ... Jangan marah Bro santai ... Pawang lo belum datang, sulit ntar ngendaliin lo." Ejek Farrel tidak henti-hentinya.


"Hebat juga adik gue karena bisa melelahkan gunung es ... Senyum lo tadi oeeee jangankan perempuan normal, lelaki *gant*le aja bisa meleleh dong." Kata Rein yang tidak henti-hentinya menggoda Arion.


"Mau dong di senyumin kek gitu ... Bertahun-tahun berteman hanya dapat senyum kecut dan tatapan tajam doang." Sindir Farrel.


Ketiga temannya sangat puas menggoda Arion, sangat jarang Arion melakukan hal-hal seperti itu. Ketiga temannya tidak akan melewatkan kesempatan emas itu untuk menggodanya namun yang di goda malah terlihat cuek dan tidak peduli. Kehadiran ketiga temannya di anggap angin lalu oleh Arion sendiri.


Arion memang sejak kecil tidak banyak meperlihatkan banyak ekpresi, ia cenderung terlihat diam dan dingin. Namun sebenarnya Arion memiliki hati yang hangat, meski ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya lewat lisan namun Arion lebih memilih bertindak untuk membuktikan keperduliannya kepada orang-orang terdekatnya.


Arion sendiri sangat pintar mengendalikan ekpresi wajah. misalnya seperti sekarang ini ketiga temannya sejak tadi menggodanya tentu saja akan membuat Arion sedikit malu namun karena ia dapat mengendalikan ekspresi wajahnya maka ketiga temannya tidak akan dapat melihatnya dengan mudah.


Arion hanya menatap malas kearah teman-temannya yang sejak tadi menggodanya namun pandangannya teralihkah tat kala terdengar suara bunyi piring terjatuh ke atas lantai dengan sangat keras.


PRAAAAANNNGGGGGG ...


Bunyi itu bahkan terdengar memenuhi seluruh isi kantin, awalnya Arion ingin mengabaikan suara itu, namun mata tajamnya menangkap sesosok gadis yang sejak tadi ia goda sedang beradu mulut dengan gadis lainnya dengan kondisi seragam yang sudah kotor karna tumpahan kuah kaldu.


"Itu bukannya Lilian?" Tanya Rein yang mulai khawatir jikalau suara tadi berasal dari tempat Lilian berdiri.


"Sepertinya memang iya." Kata Mario setuju.


"Kayaknya dia sedang berdebat dengan gadis lain ... Sebaiknya kita samperin aj ..." Belum selesai Farrel ngomong, Arion sudah meninggalkan ketiga temannya untuk segera mendekati Lilian.


"Gila tuh orang ... Gercep amat." Kata Farrel takjub.


Tidak ingin membuang waktu lama, Rein juga segera mengikuti langkah Arion dan kemudian disusul oleh kedua temannya yang lain.


---------------------