Lilian

Lilian
Kejutan



Lilian melepaskan tangannya dengan kasar dari pegangan tangan Arion setelah memastikan tidak ada seorangpun yang berada dekat dengan keduanya. Mata Lilian menajam serta hidung yang kembang kempis karena menahan kesal.


"Sejak kapan gue jadi pacar lo?" Tanya Lilian tidak terima.


"Kemarin." Jawab Arion dengan raut wajah datarnya.


Lilian menghentakkan kakinya dengan kesal karena tidak terima dengan jawaban yang Arion berikan. "Kemarin gue belum jawab mau atau tidak!"


"Gue nggak nerima penolakan." Jawab Arion masih dengan raut tanpa ekspresinya.


Lagi-lagi Lilian menghentakkan kaki tidak terima dengan jawaban Arion. "Tidak bisa! Mana ada orang ngajak pacaran di depan toilet umum?! Udah gitu nggak ada romantis-romantisnya. Gue tau lo memang datar tapi setidaknya lo ngasih gue bunga atau apa kek." Kesalnya tidak terima.


Arion menengok ke arah kiri dan kanan kemudian berjalan menuju sebuah taman kecil yang berada di sekitar koridor tempat Arion dan Lilian berdiri lalu memetik setangkai bunga putih kecil yang berada di sana.


"Nih ..." Ucap Arion sambil memberikan bunga yang telah ia petik.


Rasanya Lilian ingin sekali berteriak sekuat tenaga menghadapi sifat anehnya Arion. "Lo bener-bener nggak modal ya?! Masa iya bunga aja harus di petik di sana." Tunjuk Lilian ke arah taman. "Nggak ada romantisnya sama sekali." Kesalnya.


"Lo minta bunga ... Jadi gue kasih. Nih ..." Arion lagi-lagi meberikan bunga yang baru saja ia petik.


Lilian mengambil paksa bunga dari tangan Arion kemudian membuangnya ke sembarang arah. "Nggak usah!! Kesal sendiri gue ngomong sama lo!" Ketus Lilian lalu berjalan meninggalkan Arion sendiri.


Langkah kaki Lilian terhenti saat ia ingin berbelok menuju kelasnya. Dengan ragu Lilian membalikkan badan untuk melihat apa yang Arion lakukan setelah ia meninggalkannya.


"Lah ... Mana anaknya?" Gumam Lilian sendiri kemudian melangkah kembali ke tempat ia dan Arion tadi berdiri.


"Udah pergi?" Heran Lilian sambil mengarahkan pandangannya ke arah kiri dan kanan untuk mencari keberadaan Arion.


"Dasar datar! Harusnya dia ngejar gue ... Ini malah langsung pergi! Bener-bener nggak ada seriusnya jadi cowok. Masa iya ceweknya ngambek nggak di bujuk dan langsung di tinggal!" Pekik Lilian sedikit keras karena sangat merasa kesal.


"Awas saja lo datar kalau ketemu." Kesalnya sambil berjalan menghentakkan kakinya.


Lilian berjalan menuju kelasnya dengan raut wajah manyun. Sepanjang jalan ada banyak sekali murid yang memperhatikannya namun Lilian masa bodoh dan tidak mau ambil pusing. Lilian masih kesal dengan Arion yang langsung saja meninggalkannya begitu saja tanpa membujuknya.


Langkah kaki Lilian terhenti saat beberapa murid perempuan yang ia kenal berdiri untuk menghalangi jalannya.


Lilian sedikit membuang napas kesal melihat Audry dan ketiga temannya yang tidak mau memberinya jalan untuk lewat. "Sejak pagi mood gue udah memburuk ... Di tambah lagi nih geng ondel-ondel muncul di depan gue di waktu yang tidak tepat. Batinnya.


"Napa lo? Sepertinya nggak seneng banget lihat kita-kita." Kata Sheril dengan bersedekap dada.


Lilian menatapnya dengan malas. "Misi ya Kakak-kakak semua ... Gue mau lewat." Ucapnya.


"Lo mau kemana?" Tanya Naomi ketus.


Lilian memaksakan senyumnya agar emosinya tidak langsung meledak. "Gue mau ke kelas ... Bisa nggak Kakak-kakak semua memberikan gue jalan untuk lewat?"


"Lo pikir setelah lo nyebarin berita hoax, gue akan memberikan lo jalan untuk lewat gitu?" Tanya Sheril dengan tatapan sinisnya.


Lilian lagi-lagi membuang napas pelan. "Sepertinya nih urusan bakalan panjang kalau gue ladenin ... Tapi kalau di biarin juga mereka malah nambah ngelunjak dan nggak akan pernah ada kapoknya." Batin Lilian sambil memeriksa kondisi sekitar.


"Napa lo? Nyari bantuan dari teman-teman lo itu?" Tanya Karin dengan nada ketusnya.


"Gue masih bersikap sopan pada kalian semua ... Jadi semasih kesabaran gue masih tersisa jangan mancing emosi gue." Peringat Lilian dengan tegas.


"Ehh ... Ja**ng! Lo harusnya nyadar diri ... Lo itu bukan siapa-siapa dan hanya mengandalkan keberuntungan selama ini. Berani-beraninya lo mendeklarasikan hubungan lo dengan Arion. Nggak tau diri amat lo." Kesal Sheril sambil menunjuk nunjuk ke arah Lilian.


"Ja**ng kok teriak ja**ng." Kata Lilian dengab raut wajah datar.


"Apa lo bilang?!" Tanya Naomi yang tidak terima.


"Sebaiknya lo semua minggir deh ... Gue mau lewat. Jangan nyari masalah lagi disaat kalian masih berstatus di hukum. Nggak bisa tulisan besar di depan kalian semua?" Ucap Lilian mengingatkan posisi mereka yang di hukum.


"Kita juga kek gini semua gara-gara lo." Tunjuk Karin tidak terima.


"Bener kata orang yang menyatakan manusia hanya akan melihat kesalahan orang lain tanpa mau melihat kesalahannya sendiri. Silahkan kalian jalankan hukuman kalian dan jangan nyari masalah dengan gue lagi." Tegas Lilian dengan raut wajah seriusnya.


"Songong banget lo jadi orang! Setelah lo nyebar berita palsu, sekarang lo jadi besar kepala?" Tanya Sheril dengan raut wajah marahnya.


"Berita apasih?" Tanya Lilian heran.


"Jangan pura-pura sok tidak tau ya! Tadi gue lihat dengan jelas video yang di posting oleh anak-anak lain." Seru Sheril dengan dada yang mulai naik turun.


Lilian tersenyum sinis mendengar ucapan dari Sheril. "Sepertinya mata kalian semua udah katarak dan perlu gue bawa ke dokter *TH*T untuk memeriksa pendengar lo semua satu-satu?" Tanyanya mulai terpancing emosi.


"Apa maksud lo? Lo pikir kita semua pesakitan?" Tanya Karin tidak terima.


"Gue rasa memang begitu. Jika kalian udah lihat video yang di posting maka kalian udah pasti lihat dong siapa yang narik tangan gue dan bilang gue adalah pacarnya?" Tanya Lilian dengan raut wajah datar.


"Jika penglihatan dan pendengaran kalian sedang bermasalah, maka gue dengan seneng hati akan memperjelas isi video itu. Kak Arion yang bilang gue pacarnya dan menarik tangan gue pergi namun mengapa kalian malah mencari gue? Pergi temui saja Kak Arion dan tanyakan langsung padanya mengapa dia mengatakan itu!!" Marah Lilian akhirnya.


"Lo pasti ngancem dia pakek sesuatukan? Nggak mungkin Arion dengan suka rela mengatakan hal itu sendiri." Kata Naomi masih tidak percaya dengan tayangan video yang ia lihat.


Lilian tersenyum sinis mendengarnya. "Mungkinkan seorang pewaris perusahaan Ganendra Grup dapat dengan mudah di ancem?" Tanyanya dengan raut datar.


"Bisa aja lo punya rahasia dari Arion yang buat dia terpaksa mengatakan itu." Kata Sheril masih tidak terima.


"Apa lo lihat ada ekspresi terpaksa dari Kak Arion saat mengatakan itu?" Tanya Lilian dengan raut wajah malas. "Udahlah buang waktu aja gue ngeladenin kalian semua." Ketus Lilian kemudian berusaha menerobos jalan.


"Jika lo punya hubungan dengan Arion lalu mengapa lo harus dekat dengan Rein? Bukankah itu tingkah laku seorang ja**ng?" Kata Audry yang sejak tadi hanya berdiam diri dan menonton.


Lilian kembali mundur dan menatap ke arah Audry "Lo nggak berhak ngejudget gue, terserah gue mau dekat dengan siapa aja. Toh juga mereka nggak merasa terganggu dan malah merasa nyaman dengan gue." Ucap Lilian dengan menekan semua kata-katanya.


"Lo ..." Kesal Audry tertahan karena Pak Fadli selaku guru BK tiba-tiba datang.


"Nggak Pak ... Ini kita juga mau balik ke kelas kok. Tadinya kita hanya mau nyimpen peralatan kebersihan aja." Kata Sheril cepat.


"Ya udah, sana balik ke kelas. Jangan keluyuran lama-lama di luar kelas." Ketus Pak Fadli.


"Ya udah Pak, kalau begitu kita permisi balik ke kelas." Ucap Karin lalu buru-buru pergi bersama teman-temannya.


Lilian sempat saling tatap dengan Audry, terlihat sekali dari tatapan mata Audry masih tersimpan kekesalan terhadap Lilian, namun karena kehadiran Pak Fadli, gadis itu harus menahan kekesalannya agar tidak lagi mendapatkan hukuman tambahan.


"Kamu, kenapa masih di sini?" Tanya Pak Fadli dengan ketus kepada Lilian.


"Ini juga mau ke kalas kok Pak." Kata Lilian kemudian pamit pergi ke kelasnya.


_______________________


Lilian menyenderkan pungungnya ke belakang kursi dengan mata tertutup setelah bel istirahat berbunyi dengan sangat nyaring. Terdengar beberapa kali helaan napas lelah yang berhasil lolos dari mulutnya.


"Lilian please bangun!" Ucap Gladis sambil menggoyankan tubuh Lilian.


"Iya Lilian bangun ... Jelasin ke kita ada apa yang terjadi? Sejak tadi kita nyari dan nungguin lo namun saat bel udah berbunyi lo malah nggak muncul-muncul, emangnya lo kemana?" Tanya Laura beruntun.


"Pernyataan Kak Arion dari video siaran langsung salah satu siswa itu benar, nggak?" Tanya Meira.


Lilian membuang napas lelah kemudian menatap ketiga temannya satu persatu. "Lo semua bisa diem nggak? Kepala gue lagi pusing dan hampir mau pecah rasanya." Katanya dengan nada lesu.


Ketiga temannya menatap satu sama lain karena merasa bersalah telah mengganggu Lilian. "Sorry Lilian ... Kita hanya ingin tau. Sekali lagi maaf ya." Ujar Meira.


"Lo semua nggak salah ... Wajar sih kalian bertanya. Kalian bertigakan sahabat gue, hanya saja gue nggak bisa jelasinnya sekarang. Kalian juga nggak perlu minta maaf, memang kalian lakuin kesalahan apa hingga harus minta maaf segala." Kata Lilian dengan nada lesu.


"Lo terlihat terganggu dan kelelahan gitu, makanya kita minta maaf." Ujar Gladis jujur.


Entah sudah berapa kali Lilian menghela napasnya hari ini. "Seharusnya gue yang minta maaf ... Bukan maksud gue buat gitu." Kata Lilian merasa bersalah.


"Ahh nggak usah minta maaf. Kita semua ngerti kok, iyakan?" Tanya Laura kepada keduanya.


Gladis dan Meira kompak mengangguk. "Lo bisa cerita kapapun lo mau. Jangan nyimpen masalah sendirian aja. Kita bisa kok jadi pendengar yang baik." Kata Gladis.


Lilian mengangguk dan tersenyum pelan mendengar ucapan dari teman-temannya. Baru saja Lilian merasa sedikit tenang. Denis tiba-tiba masuk dengan napas ngoso-ngososan dan berlari menuju meja ke empat gadis itu


"Lilian lo secepatnya segera ke lapangan." Ucap Denis sambil memegang dadanya karena susah bernapas.


"Ada apa di lapangan? Lo kek orang di kejar setan aja." Kata Meira dengan heran.


"Sebaiknya lo semua ke lapangan aja deh dah lihat ada apa di sana." Kata Denis yang mulai bernapas dengan normal.


Lilian mengerutkan kening bingung mendengar ucapan dari Denis. "Gue jadi penasaran ... Memangnya apa yang sedang terjadi di lapangan?"


"Ya udah ... Dari pada kita semua penasaran lebih baik kita semua cepet ke sana." Kata Meira yang sudah berdiri dari duduknya.


"Ya udah ayok." Ajak Gladis.


Lilian dan ketiga temannya kemudian berjalan menuju lapangan bersama dengan Denis di belakang ke empat gadis itu. Kening Lilian kembali mengerut melihat ada banyak sekali murid yang sudah berkumpul mengelilingi lapangan.


"Ini ada apaan sih? Mengapa semua murid berkumpul di sini? Ada pengumuman kali ya?" Tanya Lilian beruntun.


"Mungkin aja ... Tapi biasanya kalau ada pengumuman pasti ngumpulya di aula atau di informasikan lewat pengeras suara yang ada di masing-masing kelas." Jawab Laura sambil melompat lompat kecil melihat sesuatu yang terjadi di depan.


"Kalau gitu ada apaan coba di depan sana." Ujar Gladis.


"Hei semua lewat sini." Kata Denis sambil menunjuk jalan yang dapat ke empatnya lewati.


Lilian berjalan mengikuti kemana arah tunjuk Denis bersama ketiga temannya. Melihat kedatangan Lilian, semua murid yang menghalangi jalannya pelan-pelan mundur untuk meberi gadis itu jalan untuk lewat.


Lilian semakin merasa kebingungan melihat tatapan aneh yang dilayangkan murid-murid lain kepadanya.


"Kalian akhirnya datang juga." Ujar Kemal yang tiba-tiba mincul di depan Lilian dan yang lainnya. "Ehh Lilian lohat di depan sana!" Tunjuk Kemal ke arah tengah lapangan.


Mata Lilian langsung membulat sempurna melihat Arion yang sudah memegang buket bunga dengan ukuran besar ditangannya dan ada banyak sekali jenis bunga yang ia letakkan di sekitar tempatnya berdiri.


Tidak ketinggalan dengan ketiga teman Arion. Mulai dari Rein yang memegang boneka minions yang berukuran besar kemudian Mario yang memegang buket coklat ukuran besar dan Farrel yang memegang buket yang berisi semua foto Lilian.


Tentu saja Lilian merasa terkejut serta terpana melihat apa yang di depannya sekarang. Lilian bahkan menutup mulut tidak percaya dan tanpa sadar kakinya melangkah mendekati tempat Arion dan ketiga temannya berada.


Mata Arion dan Lilian langsung terkunci satu sama lain. Dengan senyum mengembang yang menghiasi bibirnya, Arion menatap Lilian dengan penuh kasih sayang.


"Sebelumnya gue minta maaf karena nggak tau bunga apa yang lo suka, itu sebabnya gue milih semua jenis bunga dan membawanya ke sini agar lo bisa nentuin bunga apa yang lo sukai. Gue juga bawain lo boneka minions yang lo suka serta coklat yang mungkin akan buat gigi lo sakit. Tapi tenang aja ... Saat lo memakannya cukup lo ingat gue aja dan gue jamin lo nggak akan sakit gigi." Ucap Arion panjang dan membuat semua orang yang ada di situ terpana.


Lilian tidak dapat berkata apa-apa lagi. Sungguh Lilian merasa terpana dengan kelakuan Arion. Bukan hanya Lilian, semua orang yang hadir bahkan terpana dan merasa iri dengan Lilian. Sungguh momen yang sangat langka melihat Arion tersenyum selebar itu dan harus berbicara panjang di depan banyak orang. Hal itu Arion lakukan hanya untuk Lilian seorang dan hanya Lilian lah yang dapat membuat hati Arion tergerak.


Arion berjalan mendekat ke arah Lilian kemudian kembali tersenyum lebar seperti sebelumnya. "Jadilah pacar yang baik dan jangan sembarangan dekat dengan orang yang nggak gue ijinin." Lalu Arion menepuk kepala Lilian pelan dan memberikan buket bunga besar yang ia bawa kepada Lilian.


"Jangan nakal-nakal, ingat!" Kata Arion dengan tegas.


_________________


Udah dua ribu kata, artinya Author harus stop.


Author bakal sibuk dalam dua minggu ke depan untuk mengurus keperluan anak-anak di sekolah. Kemungkinan UP juga nggak akan teratur tapi akan Author usahankan untuk kalian. Author juga akan janji akan mengganti dua hari kemarin namun bukan sekarang ya ...


Jangan lupa Vote, Like, Komen dan kasih Bintang buat nyemangati Author ya ☺️