
Lilian mulai menulis beberapa kejadian yang terjadi selama acara kemah berlangsung di dalam buku catatan yang ia bawa. Gadis itu sebenarnya sudah sadar sejak semalam saat semua orang telah tertidur lelap karena kelelahan.
Bukannya kembali memejamkan mata, Lilian malah menganasis semua kejadian yang telah ia lalui. Saat ia bertarung melawan tiga serigala, matanya tidak sengaja melihat lambang sebuah keluarga pada kaki sebelah kiri belakang serigala itu. namun sayangnya karena kurangnya pencahayaan semalam membuat pandangan Lilian sedikit ngabur.
"Lambang itu memang terlihat kecil dan hampir tidak terlihat karena di tutupi oleh bulunya, namun gue sangat yakin kalau serigala itu memiliki tanda di kakinya." Gumam Lilian. Ia mengetuk-ngetukkan pulpen di tangannya ke dagu.
Lilian kembali mengingat kejadian selama ia dan teman-temannya melakukan reboisasi di sebelah hutan sebelah selatan. Meski tidak banyak orang tahu, namun Lilian sangat mengenali salah satu tanaman yang hidup di wilayah hutan gundul itu.
"Gue ingat denga sangat jelas kalau tanaman itu adalah tanaman yang membuat perasaan seseorang semakin meningkat dari biasanya. Mungkin tanaman itu tidak akan berpengaruh besar pada orang yang lagi tidak mengidap penyakit apapun. Namun beda halnya dengan seseorang yang mengidap penyakit mental seperti Audry. Tanaman itu akan sangat mempengaruhi kondisi mentalnya." Kata Lilian dengan alis yang saling bertautan.
"Tidak banyak orang yang mengenal tanaman-tanaman itu, namun jika tanaman itu sengaja di budidaya maka fungsi tanaman itu saat besar nanti akan sama dengan bahan-bahan pembuatan obat terlarang." Lilian menghela napas pelan lalu mengeluarkan kameranya di dalam tas.
Lilian kembali mengecek foto tanaman yang sengaja ia ambil waktu itu. "Tanaman itu sepertinya baru di tanaman. Namun pertanyaannya siapa yang menanamnya?" Tanya Lilian ke dirinya sendiri.
Lilian mulai memikirkan beberapa kejadian yang mungkin memiliki keterkaitan satu sama lain. Kejadian pertama adalah saat mereka melakukan reboisasi di hutan sebelah selatan. Anehnya, di antara semua hutan yang ada, mengapa para penebang liar itu memilih untuk menebang hutan sebelah selatan sekaligus. Jika mereka tidak ingin di ketahui oleh pemerintah setempat tentang perbuatannya, maka mereka seharusnya menebang pohon secara acak dan tidak memilih satu tempat yang sama. Hal itu hanya akan memunculkan kecurigaan yang tidak perlu.
Kedua, di sebelah hutan yang gundul itu terdapat tanaman-tanaman kecil yang Lilian tahu memiliki manfaat yang tidak boleh di perjual belikan oleh sembarang orang. Berkat time travel yang Lilian alami, gadis itu jauh lebih mengerti tetang beberapa manfaat beberapa tanaman hanya dengan melihat jenis dan pertubahannya. Tanaman itu memang akan sangat cepat tumbuh jika di tanam di tempat yang sesuai, hutan sebelah selatan adalah pilihan terbaik bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu.
Ketiga, munculnya kawanan serigala di daerah perkemahan mereka. Meski team penyelidik telah mengkonfirmasi bahwa serigala-serigala itu milik para penebang liar, namun Lilian masih melihat celah di sana. Setahu Lilian, para penebang liar atau pemburu akan memilih hewan berupa anjing untuk di jadikan hewan penjaga. Anjing lebih cepat beradaptasi dengan manusia, meski anjing memiliki insting yamg kuat namun ia masih kalah dengan insting yang serigala miliki.
Jika anjing mudah beradaptasi dengan manusia dan sering di jadikan teman, maka beda halnya dengan serigala. Hewan itu identik sebagai hewan pemburu dan memiliki insting kuat dan penciuman jauh lebih baik dari anjing penjaga. Hanya saja serigala sedikit tertutup dan tidak suka terlihat oleh manusia. Mereka hanya akan berada di wilayah mereka sendiri dan hanya akan menyerang orang lain apabila orang itu telah memasuki wilayahnya.
Keempat, pihak sekolah masih tetap melanjutkan kegiatan kemah tahunan meski mereka sudah tahu jika malamnya, murid-murid Florenzo School di serang oleh kawanan serigala. Jika wali murid mengetahui berita itu maka mereka berhak mengajukan keberatan kepada pihak sekolah.
Kelima, hutan sebelah selatan pohonnya di pangkas habis sedangkan di wilayah lain masih tetap utuh. Tidak satupun pohon dari ketiga wilayah hutan lainnya di tebang. Ada dua kesimpulan yang dapat Lilian ambil. Yang pertama, hutan wilayah utara berada dekat dengan wilayah pemukiman warga. Jika mereka menebang wilayah sana, maka aktifitas mereka akan lebih cepat di ketahui. Kesimpulan kedua, hutan wilayah barat juga sama halnya dengan hutan wilayah utara, namun bedanya hutan sebelah barat selalu mejadi tempat para pendatang yang ingin berkemah. Letaknya juga dekat dengan jalan besar sehingga hutan sebelah barat bukan menjadi pilihan para penebang liar.
"Namun mengapa para penebang itu tidak melakukan penebangan liar di wilayah hutan sebelah timur?" Heran Lilian.
"Wilayah itu jauh dari pemukiman warga dan memungkinkan mereka melakukan penebangan liar di sana. Jika gue menjadi penebang liar, maka gue akan memilih wilayah timur. Atau jangan-jangan ada hal lain yang di rencanakan?" Lilian terdiam sebentar untuk memikirkan sesuatu.
"Dari pada gue berandai-andai lebih baik gue kesana aja." Putus Lilian akhirnya.
Lilian mengelurkan ponsel dari saku celananya kemudian memeriksa waktu yang tertera di sana. Waktu menujukkan jam 11:23, itu artinya gue udah ngehabisin waktu sekitar satu jam lebih dari garis star. Gue harus kembali ke tempat kemah sebelum matahari terbenam atau dua singa akan marah sama gue." Kata Lilian sambil mengatur pengingat dalam ponselnya.
"Udah! Kalau nih Hp nanti bunyi, maka gue harus segera balik." Mata Lilian kemudian beralih kearah sinyal ponselnya, "Sinyal juga masih kuat. Itu artinya gue belum bisa kabarin Kak Arion. Kalau rencana gue ketahuan, maka mereka akan memaksa gue buat kembali ke tempat kemah. Capek-capek gue harus bersikap keras kepala tadinya!" Gerutu Lilian sendiri.
Lilian memasukan buka dan pulpen yang ia gunakan tadi ke dalam ransel-nya kemudian melingkarkan kameranya di leher.
Tangannya kembali membuka peta yang tadi Sheril tinggalkan untuknya. "Bodoh memang Kak Sheril! Masa iya ninggalin gue dengan peta penunjuk arah! Biarin aja kalian semua kesasar, siapa suruh ninggalin gue." Kekeh Lilian dengan hati senang.
"Ada untungnya juga Kak Sheril ninggalin gue sama peta nih ... Gue bisa cari jalan pintas yang aman menuju ke hutan sebelah timur. Nasib baik memang hanya untuk anak baik." Ujar Lilian senang.
Kakinya mulai ia langkahkan kembali menuju hutan sebelah timur. Sambil melihat jalan yang di tunjukkan dalam peta, Lilian memilih jalan yang aman untuk ia lewati. Meski hari masih terang, namun Lilian tidak mau mengambil resiko bertemu dengan hewan buas. Cukup semalam Lilian harus melawan tiga ekor serigala, Lilian sudah tidak ingin lagi melawan hewan buas lainnya.
Sepanjang jalan, Lilian menemukan beberapa buah-buahan. Salah satu di antaranya adalah jambu biji dan belimbing. Meski buah itu tumbuh liar namun Lilian akui buah-buahan itu cukup manis untuk ia konsumsi.
"Syukur-syukur tadi pagi gue makannya banyak. Kalau ngga, bisa-bisa gue yang mati kelaparan." Ujarnya dengan memakan jambu biji di tangannya.
Sepanjang jalan, Lilian dapat menemukan benerapa tanaman yang bisa di tumbuk menjadi obat luka dan obat sakit perut. Jika seandainya Lilian tidak sedang terburu-buru maka ia akan dengan senang hati memanen tanaman-tanaman itu.
Lilian kembali memeriksa ponselnya dan menemukan sinyal masih sangat kuat. Ada beberapa notif pesan masuk dari Arion yang menanyakan keadaannya, agar tidak membuat lelaki itu khawatir. Lilian akhirnya membalas pesan Arion meski sangat singkat.
"Gue masih jauh nggak ya?" Tanya Lilian pada diri sendiri. Sejenak Lilian beristirahat di bawah sebuah pohon besar sambil meminum air dari dalam botolnya. Sudah hampir satu jam Lilian berjalan namun ia tidak dapat menemukan satupun petunjuk.
"Apa mungkin gue yang salah, ya." Heran Lilian. Matanya masih setia menelusuri peta yang ada di tangannya itu.
Sesaaat kemudian terdengar suara semak yang bergoyang. Semakin lama suara itu semakin dekat. "Gawat ... Gawat ... Gawat ... Kalau seandainya tuh hewan buas maka gua akan ketahuan." Kata Lilian panik. Ia mengeluarkan parfum dari dalam ranselnya dan menyemprotkannya di seluruh tubuh untuk mengelabui aroma tubuhnya.
Dari arah jauh namun masih bisa Lilian lihat, ada sekelompok orang yang berjalan dengan terburu-buru. Di depannya ada tiga ekor serigala yang di linkarkan tali di lehernya.
"Gawat! Moga aja tuh serigala nggak nyadar gue ada disini." Lilian menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Seperti harapan Lilian, orang-orang itu tidak ada yang menyadari tentang keberadaan Lilian dan berjalan melewati tempat persembunyian Lilian begitu saja. Salah satu serigala sebenarnya menyadari keberadaan Lilian, namun serigala itu di paksa berjalan cepat oleh seseorang yang melingkari lehernya menggunakan tali.
"Sabar Lilian! Di depan lo ada serigala yang memiliki penciuman hebat. Jika lo mengikuti mereka sekarang maka keberadaan lo akan di ketahui." Ucap Lilian ke dirinya sendiri.
Setelah orang-orang itu tidak terlihat lagi, Lilian langsung keluar dari persembunyiannya dan berjalan mengikuti arah orang-orang itu pergi. Tidak lama Lilian berjalan, terdengar suara seperti mesin dari jauh. Meski suaranya terdengar samar namun Lilian pastikan jika suara itu adalah suara mesin.
Lilian langsung mempercepat langkahnya menuju sumbe suara. Setelah melewati jalan yang cukup lama, suara yang Lilian dengar semakin lama semakin jelas. Kakinya terus-terusan melangkah menuju sumber suara. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah sungai yang memiliki ukuran yang cukup besar dari sungai yang terakhir kali ia lihat.
Lilian berjalan mendekati sungai itu namun keningnya mengerut setelah ia sampai di bibir sungai itu. "Napa ada cairan warna merah yang tercampur dalam air sungai ini?" Herannya.
Lilian memeriksa sekitar sungai untuk memastikan ada tanaman lain yang menyebabkan air dalam sungai sebagian berwarna merah. Namun setelah Lilian memeriksa, tidak ada satupun tanaman yang menyebabkan airnya menjadi warna merah.
"Sungai ini dari mana kemana?" Gumam Lilian. Ia menyempatkan diri mengambil beberapa gambar tentang ke anehan sungai itu.
Setelah di rasa cukup, Lilian kembali berjalan mengikuti arah cairan merah itu berasal. Lilian juga mengecek waktu di ponselnya. Sekarang waktu menujukkan jam 14:12, itu artinya Lilian harus bergerak cepat sebelum matahari terbenam. Matanya tidak sengaja melihat sinyal di ponselnya yang semakin melemah.
"Gue harus ngirim pesan ke mereka." Gumam Lilian.
Lilian mengetikkan sesuatu di layar ponselnya kemudian akan mengirimnya kepada dua orang.
"Jika gue nggak balik setelah matahari terbenam itu artinya lo harus secepatnya nyariin gue. Ada sesuatu yang gue temukan di hutan dan sangat menjanggal, itu sebabnya gue harus memastikannya dulu. Jika pesan ini masuk dan ponsel gue nggak bisa di hubungi, maka sinyal gue sudah hilang. Lo cari gue ke hutan bagian timur dan gunakan peta penunjuk arah. Gue selalu mengambil jalan hijau. Dan jika gue menyalakan peledak yang di berikan oleh Papa, maka kondisi gue sedang dalam keadaan terdesak."
Setelah mengetikkan pesan itu, Lilian lansung menekan tanda anak panah di ponselnya. Pesan itu ia kirim kepada Arion dan Rein, mungkin saja kedua lelaki itu sudah sampai lebih dulu di garis finish dan sedang menunggu kedatangannya.
Setelah memastikan pesannya sudah terkirim, Lilian kembali memasukan ponsel ke saku celannya. Untuk berjaga-jaga, Lilian mengeluarkab tongkat yang tadi Arion berikan kepadanya.
Lilian akhirnya kembali berjalan menelusuri sungai itu. Semakin lama, warna memerah dalam air semakin banyak dan suara yang Lilian dengar tadi semakin jelas.
Hingga Lilian dapat melihat sebuah bangunan yang cukup besar dan atapnya mengeluarkan asap yang lumayan tebal. Ia mencari tempat bersembunyi agat tidak ada orang yang dapat melihat keberadaannya.
"Gue baru tau kalau di dalam hutan ada gedung. Besar pula." Ucap Lilian.
Lilian juga dapat melihat beberapa orang berlalu lalang di sekitar gedung dengan membawa batang pohon yang sudah di potong kecil-kecil.
"Mungkinkah pohon-pohon itu di tebang dan di bawa kesini?" Kata Lilian heran.
Semakin lama rasa penasaran Lilian semakin besar. Ingin sekali ia mendekati gedung itu dan memeriksa aktifitas apa yang orang kerjakan di sana. Dengan menggunakan kameranya, Lilian memeriksa aktifitas di sana, ia juga mengambil beberapa gambar dari kameranya.
"Apa yang mereka kerjakan di dalam? Ada suara mesin dan beberapa pekerja yang berlalu lalang membawa kayu untuk masuk kesana. Aroma sekitar sini juga nggak enak banget ... Bau obat-obatan tercium sangat kental." Gumam Lilian dan mengelurkan masker di dalam ransel-nya untui ia pakai.
"Jangan-jangan ini adalah tempat pembuatan obat ilegal." Kata Lilian dengan mata melebar.
"Nggak bisa! Gue nggak bisa hanya diem aja ... Gue harus mastiin dari dekat." Putus Lilian.
Lilian berjalan dengan cara mengendap endap agar tidak ketahuan. Tiba saatnya ia harus berjalan melewati sungai yang memiliki air berwarna merah.
"Ahhhh ... Warna merah dari sungai di akbitkan oleh limbah pakbrik itu." Lilian mengangguk-ngagukan kepalanya setelah melihat sebuah pipa yang mengeluarkan cairan warna merah.
Lilian mendekati sungai itu dengan hati-hati. "Aromanya mirip dengan tanaman yang berada di hutan sebelah selatan." Mata Lilian membulat setelah menyadari sesuatu. "Jangan-jangan mereka lagi memproduksi obat terlarang."
__________________