
Saat bel pulang berbunyi Lilian tidak langsung pulang ke rumahnya dan lebih memilih membantu Arion dan teman-temannya untuk menjalankan hukuman dari Pak Fadli. Setelah membantu Arion dan yang lain, Lilian memutuskan untuk langsung pulang dan di antar langsung oleh Arion meski Lilian menolak karena membawa motor sendiri.
Namun tetap saja Arion mengantar Lilian pulang meski keduanya mengendarai motor masing-masing.
Setelah memastikan Arion telah pergi jauh dari rumahnya, barulah Lilian memasuki rumahnya yang nampak sepi seperti biasa. Karena terlalu lelah, Lilian memutuskan untuk langsung memasuki kamarnya saja.
Lilian membuang tas yang ia pakai ke sembarang arah dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang king size-nya. Sejenak ia menutup kedua matanya untuk menghilangkan semua rasa lelah yang ia rasakan untuk hari ini.
Baru saja Lilian ingin terlelap, bunyi ponselnya membuat gadis itu harus membuka kembali kedua mata yang sempat tertutup itu.
Ketua Kelas Calling ....
"Nih anak kagak tau aja kalao gue lagi ngantuk." Dengus Lilian kemudian menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo ..." Baru saja Lilian ingin mengomeli Denis namun lelaki itu malah mengomelinya duluan.
"Ehhh ... Ba**kek! Kemana aja lo berempat?! Gue tungguin sampai lumutan pas bel pulang sekolah! Ehhh kalian malah kabur dari jam pelajaran!" Omel Denis di seberang sana.
"Ehhh ... Lo ngapasih langsung ngomel aja? Kek cewek lagi PMS aja, lo! Balas Lilian.
"Gimana gue nggak keseell, Lilian Caroline Rahadian! Kita dah janjian bakal ngebahas tentang festival yang bakal di adakan beberapa hari lagi hari ini! Naahhh lo berempat malah kabur ... Udah gitu nggak ada kabar lagi!" Kesal Denis.
Lilian langsung memukul jidatnya karena baru ingat jika mereka akan membahas tentang persiapan festival. "Ahhh ... Sorry Denis ... Gue lupa. Lagian napa lo nggak ngabarin gue sejak tadi?"
"Gue dah coba, Lilian! Sampai tangan gue keriting karena nelponin lo berempat mulu!" Terdengar dengusan dari Denis.
Lilian menghela napas pelan. "Sorry deh sorry ... Ini karena gue terlalu khawatir dengan keadaan Kak Arion tadi. Jadi kelupaan deh." Jawabnya jujur.
"Ya udah deh ... Toh dah terlanjur juga. Lain kali tolong partisipasinya, ya!" Denis menekan kalimat terakhirnya.
"Iya deh iya ... Terus gimana jadinya tema kita?" Tanya Lilian.
"Karena kalian berempat kagak hadir ... Maka lo semua harus terima hasil kesepakatan kami tadi. Untuk tema-nya kita dah sepakat dengan tema jaman kuno gitu. Sebenarnya mau buat cafe dengan nuansa modern hanya saja model cafe begituan dah banyak. Akhirnya kita sepakat menggunakan nuansa clasik untuk cafe kita. Semua anak-anak kelas kita dah sepakat jika kita bakal mengenakan baju ala jaman kuno gitu. Makanan dan minumannya juga bakal kita kondisi kan ke jaman kuno ... Namun masih kita rencanakan aja sih untuk makanannya, kita cari penjual makanan jaman kuno yang murah-murah aja dulu." Jelas Denis panjang kali lebar.
Lilian hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Denis. "Napa harus beli? Buat aja. Lagian lebih hemat."
"Nah ... Masalahnya anak-anak kagak bisa buat makanan jaman dulu. Untuk baju yang di kenakan juga lagi kita usahain." Jawab Denis.
Lilian tersenyum girang. "Masalah makanan dan minuman serahkan ke gue aja ... Ntar anak-anak perempuan bisa bantuin gue buat nyiapin semua keperluannya. Dan untuk masalah baju ... Ntar gue bisa tanyain ke Kak Mario ... Perusahaannya kan tentang kain-kain gitu ... Lalu jahitnya ntar kita minta si Laura dan anak lain yang bisa jahit di kelas." Sarannya.
"Eitttsss ... Udah gue duga lebih baik ada lo di pertemuan. Secara lo kan anak horang kaya ... Pasti bisa bantuin kita." Ujar Denis sambil senyam senyum.
"Alaaah ... Tadi aja lo mau makan gue! Dah dulu ahh ... Gue mau istirahat. Selanjutnya kita bahas besok aja." Ketus Lilian.
"Iya dah kalau gitu ... Tapi jangan lupa kabarin Bang Mario ntar." Kata Denis.
"Iya, bawe! Dah ... Gue tutup ya!" Tanpa menunggu respon dari Denis, Lilian langsung membuang ponselnya ke sembarang arah dan kembali menutup kedua matanya karena terlalu lelah.
_____________________
Lilian menggeliat dari tidur nyeyaknya. Hampir dua jam Lilian ketiduran dan ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Ia menengok ke arah jendela dan hari ternyata sudah gelap.
Setelah mengumpulkan nyawa, Lilian akhirnya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama Lilian kembali keluar dengan wajah yang jauh lebih segar saat ia terbangun tadi. Kakinya melangkah ke arah jendela dan menutup jendela kamarnya rapat-rapat.
Setelahnya baru ia berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Dari arah dapur terdengar suara alat masak dan Lilian bisa menebak bahwa itu adalah Mama-nya. Karena biasanya Bi Marni akan pulang kalau hari sudah gelap atau ia akan memasak duluan sebelum hari benar-benar gelap.
"Eh anak Mama dah bangun ... Tadi Mama ke kamar kamu, tapi kamunya masih tidur dengan seragam lengkap. Mau Mama bangunin tapi keliatannya wajah kamu sangat lelah ... Ya udah Mama biaran aja." Kata Efina sambil berjalan mondar-mandir untuk mengambil beberapa bahan masakannya.
Lilian tidak menjawab, ia hanya berjalan menuju meja makan dan menarik salah satu kursi di sana.
"Papa dah pulang, Mah?" Tanya Lilian saat Efina mulai menghidangkan masakannya di atas meja.
"Udah ... Tuh dia." Tunjuk Efina ke arah Rahadian yang baru saja keluar kamar dan mendekati meja makan.
"Kenapa? Kangen, Papa?" Tanya Rahadian dan menduduki kursinya.
"Nggak ... Cuman tanya aja." Jawab Lilian polos.
"Hahahahahhaa .... Kasian kamu, Pah. Nggak di kangenin." Ledek Efina.
"Gimana mau kangen ... Udah ada orang yang di kangenin, Mah." Canda Rahadian.
"Ihh ... Papah." Rengek Lilian.
"Tuh kan, Mah ... Lihat wajah malu-malunya." Goda Rahadian.
Efina hanya tertawa melihat tingkah Rahadian yang menggoda Putri-nya yang terlihat malu-malu saat di goda.
"Dah deh, Pah ... Lilian lagi nggak mau di goda." Ujar Lilian pura-pura terlihat kesal.
"Iya ... Iya ... Nggak lagi." Ujar Rahadian dengan kekehan kecil.
Lilian hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Rahadian.
"Oh iya, Mah ... Lilian boleh minta tolong nggak?" Tanya Lilian ke arah Efina.
Efina yang baru saja selesai menata makanan di atas meja langsung mengambil salah satu kursi yang berhadapan dengan Lilian.
"Minta tolong apa?" Tanya Efina sambil menyendokkan nasi ke piring Rahadian.
"Itu ... Sekolah Lilian mengadakan acara festival. Kelas kami berencana membuka stand ala cafe jaman kuno atau clasik gitu. Nah ... Kita butuh beberapa donatur untuk membantu agar kelas kami bisa menyukseskan kegiatan festival itu. Karena kami memilih tema jaman kuno ... Tentu aja makanan yang akan di jual bakal ala jaman kuno gitu. Mama kan punya toko kue yang yang besar, jadi bisa nggak Mama jadi donatur buat kelas Lilian? " Tanya Lilian dengan raut wajah harap-nya.
Efina dan Rahadian saling menatap satu sama lain mendengar pertanyaan yang di lemparkan oleh Lilian.
"Lilian sayang ... Mama bisa aja bantu. Hanya saja toko kue Mama menyediakan kue yang di sukai oleh orang-orang pada jaman modern. Mama nggak tau kue apa yang di sukai oleh orang-orang jaman dulu." Jawab Efina.
Lilian tersenyum cerah mendengar jawaban dari Efina. "Soal itu Mama nggak perlu khawatir ... Untuk resep kue-nya serahkan aja pada Lilian. Mama cukup jadi donatur dalam menyediakan alat dan bahannya. Toko kue Mama kan besar ... Bisa dong menampung semua teman cewek Lilian."
"Kamu yakin punya resep?" Tanya Efina ragu sambil melirik kecil ke arah Rahadian.
"Yakin." Jawab Lilian tegas. "Lilian minta Mama jadi donatur nggak cuma-cuma kok. Karena bahan dan tempat pembuatan kue-nya di toko Mama. Maka kita bakal promoin kalau kue yang kami sediakan di buat dari toko Mama. Kalau Mama butuh ... Ntar Lilian buat proposal rincian biaya dan hal lain yang mungkin di perlukan." Lanjut Lilian.
Prok ... Prok ... Prok ...
Rahadian langsung bertepuk tangan melihat keahlian Lilian menjalin kerja sama dengan orang lain, sewalau pun orang itu adalah Mama-nya sendiri.
"Papa nggak nyangka kalau Putri Papa ini ternyata fasih dalam berbisnis. Kamu bukan saja memikirkan tentang keuntungan kamu aja ... Namun kamu juga memikirkan keuntungan untuk pihak lain." Kata Rahadian yang masih tidak menyangka dengan bakat berbisnis Lilian.
"Tentu aja dong, Pah. Jika kita mau di percaya dalam berbisnis, maka kita harus sama-sama menguntungkan. Jika hanya menguntungkan satu pihak aja, maka kita tidak akan mendapat rekan bisnis dan tidak dapat menjalin kerja sama dengan pihak manapun." Jelas Lilian.
"Kamu kayaknya lancar banget dalam berbisnis? Belajar dari mana?" Tanya Efina khawatir.
"Di sekolah lah, Mah!" Jawab Lilian gugup. "Mata pelajaran prakarya ... Di sana kita di ajari berwirausaha dan menghitung laba dari pendapatan. Bagaimana cara merancang, memproduksi, mengemas dan memasarkan produk kita. Lalu bagaimana kita menjalin hubungan kerja sama dengan penjual dan konsumen ... Semuanya di ajarkan." Jelas Lilian panjang.
Rahadian langsung tersenyum senang mendengar penjelasan dari Lilian. "Bagus ... Bagus ... Itu artinya kamu belajar dengan giat di sekolah. Tingkatkan terus belajarnya, ya." Ucapnya bangga.
"Siap, Pah." Ucap Lilian dengan gaya memberi hormat ke arah Rahadian. Kemudian tatapannya kembali mengarah ke arah Efina. "Terus gimana, Mah?" Tanya Lilian lagi.
"Mama mau jawab apalagi setelah mendengar pemaparan kamu?" Tanya Efina lagi dengan senyuman.
"Jadi, Mama setuju?" Tanya Lilian gilang.
"Iya." Jawab Efina.
"Papa?" Tanya Rahadian.
"Sayaaaang Papa juga." Ujar Lilian senang.
"Udah ... Ayok segera makan. Ntar makanannya dingin." Ucap Efina memperingati.
Lilian, Rahadian dan Efina akhirnya menyantap makan malam mereka dengan tenang. Setelah selesai, ketiganya kembali masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
_____________________________
Kali ini Lilian terbangun lebih awal dari kemarin. Seragam sudah melekat sempurna di badannya dan Lilian hanya perlu memakai sepatunya saja.
Setelah kedua tali sepatunya telah Lilian ikat, ia kemudian meraih ransel dan menyampirkan-nya ke belakang punggung. Kemudian Lilian pun melangkah kan kakinya untuk berjalan keluar kamar.
Ting ...
Satu notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel milik Lilian.
~Kak Mario
Mama setuju dengan tawaran lo semalem. Untuk lebih jelasnya, lo bisa ke gudang ntar sore.
Lilian menghela napas tenang. "Syukurlah ... Kue dan kain beres. Tinggal beberapa sisanya aja." Ujarnya sambil menuruni tangga.
Lilian berjalan menuju meja makan tapi tidak melihat kedua sosok yang semalam sempat menggodanya.
"Nyonya sama Tuan dah berangkat pagi-pagi, Non. Katanya ada kerjaan penting yang perlu di selesaikan. Nyonya sebelum pergi dah buatin Non sarapan. Mau Bibi siapin?" Tanya Bi Marni.
"Jadiin bekal aja, Bik. Lilian sarapan di sekolah aja." Jawab Lilian.
"Ohh ya, udah. Tungguin bentar ya, Non." Ucap Bi Marni.
Lilian hanya manggut-manggut saja sebagai jawaban.
Ting ...
Satu notifikasi pesan masuk kembali terdengar.
~Kak Arion ❤️
"Dah siap belum? Aku dah di depan nih.
^^^"Ini mau keluar"^^^
"Bik ... Dah belum?" Tanya Lilian.
"Udah kok, Non. Nih ..." Bi Marni berjalan dengan tergesa untuk memberikan bekal Lilian.
"Makasih ya, Bik. Lilian jalan dulu." Pamit Lilian.
"Ya Non. Hati-hati." Ucap Bik Marni.
Lilian berlari kecil agar cepat sampai ke tempat Arion. Di luar gerbang terlihat Arion yang sedang menunggu Lilian dengan motor sport-nya.
"Maaf ya lama." Ucap Lilian nggak enak.
"Nggak juga." Jawab Arion dengan sedikit lengkungan di sudut bibir-nya. "Dah sarapan?" Tanyanya.
"Belum ... Tapi bawa bekal. Nanti di sekolah baru sarapan. Kamu sendiri dah sarapan?" Tanya Lilian.
"Udah." Jawab Arion.
"Ohh syukurlah ... Oh iya. Gimana luka-nya? Coba aku periksa." Lilian menempelkan kedua tangannya di kedua pipi Arion dan memeriksa lukanya.
"Dah lumayan ... Biru-nya juga dah mau menyamar. Cuman sedikit bengkak dan luka di sini dah kering." Lilian mengusap pelan sudut bibir Arion dengan jempolnya.
Jarak antara Lilian dan Arion sangatlah dekat. Orang lain mungkin akan salah paham jika melihat posisi mereka saat ini.
"Sayang ... Ini masih pagi loh." Kata Arion dengan senyum smirk-nya.
"Emang pagi, lah terus?" Tanya Lilian polos namun ia tidak memperhatikan jarak antara dirinya dan Arion.
"Orang lain mungkin bakal salah paham dengan posisi kita ... Tapi kalau kamu suka, ya terus aja begini." Kata Arion dengan senyuman cerah.
Lilian membulatkan mata dan spontan mendorong wajah Arion ke belakang. "Ihh apaansih ... Siapa yang suka."
"Ohh ... Nggak suka deket aku." Ucap Arion dengan kedua tangan terlipat ke depan dada.
"Bu ... Bukan gitu." Gugup Lilian.
"Lah terus tadi." Goda Arion.
"Ishh ... Tauh ah." Kesal Lilian.
"Lagi kesel ... Tapi tetep aja cantik." Arion menoel pipi kanan Lilian.
"Ihhh apaansih." Lilian mencoba sebisa mungkin menahan senyum-nya.
"Makin kesini ... Makin sayang deh." Arion terus saja menggoda Lilian karena melihat ekspresi luci dari gadis itu.
"Ahh tau ahhh! Ini jadi berangkat-nya, nggak?" Kata Lilian sambil membuang muka ke arah lain agar tidak di goda terus oleh Arion.
"Iya ... Iya ..Sini!" Arion menarik tangan Lilian agar lebih mendekat denganya.
"Ma ... Mau ngapain?" Tanya Lilian gugup.
Arion mendekatkan wajahnya ke arah Lilian.
"Ma ... Mau nga ... Ngapain?" Lilian semakin bingung.
"Mau ..." Arion semakin mendekatkan wajahnya. "Masangin helm. Emang kamu mikir apa?" Arion langsung memasang helm di kepala Lilian.
"Nggak ada! Nggak mikir apa-apa!" Jawab Lilian cepat.
"Ohh gitu ..." Ujar Arion dengan tawa renyah-nya.
"Ih ... apaansih! Dah lah kita berangkat!" Ketus Lilian dan langsung menaiki motor Arion.
"Nggak pegangan?" Tanya Arion.
Lilian tampak kesal dan tidak mau mendengar ucapan Arion. Melihat Lilian membuang muka, Arion malah menarik gas dengan kencang sehingga Lilian harus memeluknya dengan sangat erat.
"KAK ARIOOOON!!" Teriak Lilian.
____________________
Di sini Author mau menjawab pertanyaan yang sering di tanyakan dari kemarin. "Thor kenapa bahasanya sopan banget? Kalau mau pakek bahasa gaul biar sekalian aja jangan setengah-setengah."
Author jawab ya. "Novel yang kedua ini terinspirasi dari komik ... Dimana bahasa yang di gunakan nggak terlalu gaul gitu. Karena novel ini menceritakan kehidupan orang-orang yang berpengaruh ... Untuk itu bahasanya nggak terlalu lebih ke anak muda jaman sekarang. Adanya kata lo dan gue itu hanya pemanis saja ... yang sebenarnya Author rencanakan dari awal pakai aku-kamu. Jadi jangan heran kalau bahasanya itu sopan."
Udah itu aja ....