Lilian

Lilian
Pertemuan



Setelah menutup telepon dari Rahadian, Lilian kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Kepala Sekolah. Dari jauh, Lilian melihat seorang laki-laki yang mengenakan stelan jas rapi sedang berdiri tepat di depan ruang Kepala Sekolah sambil berbicara dengan seseorang lewat telepon.


Setelah jarak Lilian sudah semakin dekat, Laki-laki tadi yang Lilian lihat kini memutuskan sambungan telepon dari ponselnya kemudian berjalan mendekatinya.


"Lilian, ya?" Tanya laki-laki itu memastikan.


Lilian memperhatikan laki-laki itu dari atas ke bawah. Lilian memeperkirakan jika orang tersebut masih berada di umur tiga puluhan ke atas.


"Om Bara?" Tebak Lilian.


Orang itu langsung tersenyum hangat mendengar nama yang Lilian sebutkan. "Betul ... Nama saya, Bara. Saya kesini atas perintah dari Pak Rahadian." Jelasnya.


"Oh iya, Om. Tadi juga Papa udah ngabarin kalau Om Bara akan kesini." Kata Lilian.


"Ya sudah kalau begitu ... Mari langsung saja kita masuk." Ajak Bara sambil berjalan mendahului Lilian.


Bara terlebih dahulu mengetuk pintu yang bertuliskan Ruang Kepala Sekolah lalu kemudian masuk setelah seseorang mempersilahkannya dan Lilian memasuki ruangan.


Terlihat ada banyak sekali orang yang sudah berkumpul di ruangan itu. Selain ketiga teman Lillian, Audry dan yang lain juga ikut hadir memenuhi panggilan dari Kepala Sekolah. Masing-masing dari mereka membawa satu wali untuk menyelesaikan masalah yang sempat membuat gempar satu kota Jakarta. Selain Murid, Wali Murid dan Kepala sekolah, di ruangan itu juga ikut hadir Wali kelas dan guru BP.


Setelah menduduki salah satu kursi yang masih kosong. Pak Bram langsung membuka pertemuan terkait dengan masalah yang murid-muridnya lakukan.


"Ok. Karena Lilian sudah datang, maka langsung saja saya buka inti dari pertemuan kali ini adalah membahas terkait kejadian yang kemarin sempat heboh di dunia maya." Jelas Pak Bram sambil mentap wajah murid-muridnya satu persatu.


"Kejadian itu melibatkan delapan murid dari Florenzo School dan menjadi perbincangan hangat. Maka dari itu, saya memanggil kedelapan murid itu untuk hadir di sini untuk memberikan penjelasan atau klarifikasi terkait masalah yang kemarin terjadi. Meski kejadian itu berlangsung di luar sekolah, namun ke delapan murid itu masih mengenakan seragam lengkap dari Florenzo School sehingga membuat orang-orang di luar sana beranggapan buruk terhadap sekolah kita." Jelas Pak Bram panjang lebar.


"Untuk itu, saya memberikan ijin kepada kalian berdelapan untuk memilih salah seorang perwakilan untuk menjelaskan kejadian kemarin secara langsung tanpa ada sedikitpun yang di kurangi atau di tambah. Karena memang video-video yang beredar kamarin telah dihapus dan tidak bisa di akses, maka untuk menentukan siapa yang benar dan salah itu tergantung dari penjelasan yang akan kalian berikan. Di sini kami tidak akan memihak kepada siapapun, jika kalian bersalah maka kalian akan di berikan hukuman namun jika kalian benar maka kalian akan kami bebaskan." Jelas Pak Bram.


Lilian dan yang lain akhirnya berunding satu sama lain. Dari pihak Audry, mereka memilih Sheril sebagai perwakilan untuk menjelaskan. Sedangkan di pihak Lilian, ia di pilih sebagai perwakilan dari teman-temannya karena melihat karekter Lilian yang tenang.


Pak Bram langsung mempersilahkan Sheril yang pertama kali untuk menjelaskan kronologi kejadian.


Dengan senyum angkuh, Sheril menceritakan kronologi kejadian dengan sangat lancar kepada Pak Bram. Ia menjelaskan jikalau Lilian telah membuatnya dan ketiga tamannya yang lain menderita luka-luka. Sheril juga mengatakan jikalau selama Lilian datang ke sekolah, semuanya jadi berubah.


"Lilian selalu bertingkah sok berkuasa dan tidak pernah menghormati kami sebagi seniornnya, Pak. Bayangkan saja, rambut saya di tarik mulai dari dalam cafe sampai ia mendorong saya keluar. Kulit kepala saya hampir terlepas dari kepala dan seluruh tubuh saya sakit semua gara-gara ulah ketiga temannya yang juga ikut membantu kejahatannya." Jelasnya dengan wajah sombong.


"Bukan hanya itu, Lilian bahkan memprofokasi orang-orang disekitarnya untuk membenci kami. Sehingga citra kami terlihat buruk dimata semua orang." Tuduh Sheril.


"Eh lo jangan sembarangan bicara ya! Kalau cerita ya cerita aja ... Nggak usah lo nambahin!!" Ucap Gladis sudah tidak dapat lagi menahan kekesalannya setelah mendengar cerita dari Sheril.


"Tuh kan Pak ... Lihat sendiri kelakuan para junior itu. Mereka selalu bertingkah seperti itu dan tidak pernah menghormati orang-orang yang lebih tua dari mereka." Tunjuk Sheril dengan nada meremehkan.


"Ohhh kasiaannnn ... Lo ngaku kalau lo udah tua ya!" Gladis kembali meledek.


"Tuh kan Pak ... Lihat kelakuan-nya." Tunjuk Sheril tidak terima.


Suara riuh memenuhi seisi ruang Kepala Sekolah. Sheril dan teman-temannya sangat gencar menuduh Lilian dan temannya yang bersalah akan kejadian yang kemarin mereka alami.


"SEMUANNYA DIAM!" Marah Pak Bram.


"Disini saya sudah memberikan kalian waktu untuk berbicara, jadi tolong jangan ribut! Kalian bisa menceritakan pembelaan masing-masing. Namun sebelum waktu kalian berbicara tiba, saya harap kalian diam!" Marah Pak Bram.


"Tapi Pak Bram, sebagai orang tua dari Sheril saya tidak terima jikalau anak saya di perlakukan seperti itu. Saya mau berikan anak-anak itu hukuman yang sesuai dengan yang mereka lakukan." Tuntut Linda, ibu dari Sheril.


"Betul itu, saya juga tidak terima anak saya diperlakukan secara tidak adil. Kemarin anak saya mendapatkan luka cakaran yang cukup banyak, kondisinya bahkan sampai sekarang tidak cukup stabil." Kata Santi, ibu dari Naomi.


"Langsung saja berikan hukuman kepada anak-anak yang kurang ngajar ini." Timpal Arlin, ibu dari Karin.


"Bagaimana bisa kalian semua langsung menyimpulkan anak-anak kalian yang benar tanpa mendengarkan penjelasan dari pihak kedua." Kata Bram yang lama-lama jengah melihat tingkah dari wali murid lain.


"Tentu saja untuk masalah ini anak saya yang benar. Selama ini anak saya tidak pernah melakukan kesalahan apapun, orang-orang tidak akan berani melawan anak saya. Hanya anak-anak yang tidak tahu diri ini saja yang berani mencari masalah." Ketus Ibu Linda.


Pak Bram tersenyum sinis mendengar ucapan dari Ibu Linda. "Sepertinya karakter anak Ibu menurun dari orang tuannya. Tidak salah jika ada pepatah yang mengatakan jikalau buah itu tidak jauh dari pohonnya." Katanya tajam.


"Bapak ini siapa? Bapak tahu kalau saya ini siapa?" Tanya Ibu Linda dengan nada tinggi.


"Mohon, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak agar tetap tenang. Disini kita mau menyelesaikan masalah bukan mau mencari ribut, jadi tolong Bapak dan Ibu tetap tenang." Kata Ibu Clara menenangkan suasana yang semakin memanas.


Pak Bram menghela napas pelan. "Saya mohon Bapak dan Ibu agar tetap tenang. Kami akan mengambil keputusan berdasarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Jadi sebelum pihak kedua belum menjelaskan apapun, saya mohon kepada Bapak dan Ibu agar tetap tenang dan jangan langsung menarik kesimpulan masing-masing." Jelasnya panjang.


Lilian mengangguk pelan kemudian menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan-palan. "Saya membenarkan setengah cerita dari Kak Sheril." Kata Lilian sopan.


"Tuh kan Pak, anaknya aja udah ngaku." Kata Ibu Linda yang memotong ucapan dari Lilian.


"Apakah Ibu belum mempelajari tata krama dalam pertemuan penting? Setahu saya jika seseorang yang memiliki kedudukan penting tahu tata krama disaat pertemuan seperti ini, nyonya besar tidak akan langsung menyanggah ucapan orang lain sebelum orang itu menyelesaikan ucapannya." Kata Bram dengan kata-kata menusuk.


"Kamu!!" Marah Ibu Linda.


"Mohon Ibu tetap tenang! Jika tidak bisa, maka sebaiknya Ibu meninggalkan pertemuan ini!!" Marah Pak Bram.


Sejak tadi Pak Bram harus menahan kesabaran dalam menghadapi orang tua murid. Itu sebabnya Pak Bram tidak ingin ada dari muridnya yang bermasalah. Menghadapi orang-orang penting seperti ini membuat kepalanya semakin pusing.


Terlebih lagi orang-orang yang hadir dipertemuan hari ini adalah orang-orang penting. Salah satu orang yang paling penting adalah Elisa, Istri dari pemilik perusahaan Ganendra Grup yang sekarang ikut hadir sebagai wali dari Audry. Namun sejak tadi Ibu Elisa hanya berdiam diri saja dan tidak mengeluarakan sepatah katapun.


Bukan hanya itu saja, Ibu dari Sheril juga memiliki kedudukan tinggi yang tidak dapat diremehkan dan belum lagi pihak dari Lilian yang sampai sekarang belum Pak Bram ketahui siapa yang tidak boleh ia singgung. Kepalanya hampir pecah menghadapi masalah yang sedang ia hadapi.


Kondisi ruangan kembali tenang setelah Pak Bram mengancam Ibu Sheril agar tetap tenang, Pak Bram langsung memberikn aba-aba agar Lilian kembali melanjutkan penjelasannya.


"Kemarin, Saya dan ketiga teman saya berkunjung di salah satu cafe yang letaknya tidak jauh dari sini. Kami berniat melepas penat karena belajar seharian, awalnya kondisi cafe tenang-tenang saja namun tidak lama setelahnya Kak Audry bersama dengan Kak Sheril dan kedua temannya datang mencari ribut. Saya tidak tahu hal apa yang saya lakukan sehingga membuat senior-senior saya datang menghampiri meja kami. Bukannya menjelaskan kesalahan apa yang telah saya lakukan, Kak Audry malah menarik kerah baju saya dengan sangat kencang." Jelas Lilian panjang.


Suasana di dalam ruangan itu masih terlihat tenang dan tidak ada satu orangpun yang bersuara. Setelah menjeda beberapa waktu, Lilian kemudian kembali melanjutkan ceritanya.


"Hampir saja baju saya robek karena ditarik paksa. Untuk melindungi diri, otomatis saya melakukan hal-hal pembelaan semacam mendorong Kak Audry, namun Kak Sheril malah tidak terima dan berniat menyerang saya bersama kedua temannya. Melihat Kak Sheril yang berniat menyakiti saya, ketiga teman saya akhirnya membantu. Perkelahian pun terjadi begitu saja." Lilian menjeda ceritanya sebentar untuk mengambil napas.


"Tidak terima karena saya dorong, Kak Audry melempar saya dengan vas bunga yang berada disalah satu meja namun saya berhasil menghindar. Bukannya menyerah Kak Audry malah semakin menjadi, akhirnya saya yang sejak tadi menghindar memilih melawan untuk melindungi diri. Tidak terima karena mendapat beberapa tamparan dari saya, Kak Audry mengeluarkan pisau lipat dari saku bajunya. Khawatir akan terjadi sesuatu yang lebih serius, saya membuat Kak Audry melepas pisau lipatnya dan menariknya keluar dari cafe untuk menghindari masalah yang besar terjadi." Jelas Lilian masih dengan ketenangannya.


"Setelah mengatasi Kak Audry, saya melihat ke arah teman-teman saya yang juga sedang kesulitan menghadapi Kak Sheril, Kak, Naomi dan Kak Karin. Sebagai teman, saya juga menolong teman-teman saya dan menarik Kak Sheril agar keluar dari dalam Cafe. Merasa kalah dari kami, Kak Audry dan Kak Sheril memberikan ancaman dikeluarkan dari sekolah kepada kami. Namun kami tidak menanggapi dan langsung pergi. Bukan hanya Kak Sheril dan teman-temannya yang mendapatkan luka, kami pun mendapat luka yang sama. Meski kami tidak tahu apa alasan kami diserang." Kata Lilian mengakhiri ceritanya yang panjang.


Untuk sesaat suasana didalam ruangan masih saja hening. Hingga suara Ibu Linda memecah keheningan.


"Bisa saja anak itu berbohong dan mengarang cerita!!" Tuduh Ibu Linda.


"Kenapa saat anak Ibu yang bercerita, anda tidak meragukan ceritanya? Jika Anda beranggapan bahwa Lilian berbohong maka anak Anda juga memiliki peluang untuk berbohong." Ucap Pak Bara.


"Jaga bicara anda!! Kami berasal dari keluarga terhormat, sungguh tidak mungkin jika anak saya berbohong." Ketus Ibu Linda tidak terima.


"Menjadi keluarga terhormat tidak ada yang menjamin bahwa keluarga mereka selalu berkata jujur." Tegas Pak Bara.


Muka Ibu Linda memerah mendengar ucapan dari Pak Bara. "Anda mau mengatakan jika keluarga kami suka berbohong? Begitu?" Marah Ibu Linda.


"Tolong jangan mengambil kesimpulan sendiri! Saya tidak pernah mengatakan hal itu. Anda sendiri yang menyimpulkan." Kata Pak Bara.


Ibu Linda langsung berdiri dari duduknya dan langsung menunjuk ke arah Lilian. "Pokoknya saya tidak mau tahu. Anak-anak kurangajar ini haris diberi hukuman." Tuntutnya.


"Maaf Ibu, Kami tidak dapat mengambil keputusan sepihak. Jika Ibu mau menghukum mereka maka berikan dulu bukti yang membenarkan penjelasan dari Putri, Ibu. Disini kami tidak hanya mendengar penjelasan dari keduanya. Namun kami perlu bukti untuk menguatkan penjelasan dari keduanya." Jelas Pak Bram dengan tegas.


Ibu Linda langsung terdiam membisu, ia menatap ke arah Putrinya berada dan memberikan kode agar Putrinya itu memberikan bukti untuk membuktikan ceritanya yang sebelumnya. Namun sayang, Sheril menggelengkan kepala dan menunduk takut lantaran ia tidak memiliki bukti dari penjelasannya sebelumnya.


Ibu Linda semakin marah melihat keterdiaman dari Putrinya. Dalam hati ia sudah dapat menebak jika penjelasan yang Putrinya jabarkan tadi adalah sebagian kebohongan. Namun Ibu Linda tentu saja tidak mau kalah dan masih memepertahankan wibawanya. Sesekali Ibu Linda melirik ke arah Ibu Elisa namun tetap saja wanita itu memilih diam dan tidak berkomentar sedikitpun.


"Mana bisa Putri saya memberikan bukti di saat kejadian seperti itu." Sanggah Ibu Linda yang masih tidak mau mengalah.


"Tentu saja bisa ... Seharusnya Putri anda memiliki alasan mengapa ia mendatangi Lilian dan teman-temannya di cafe dan langsung menyerangnya. Kelakuan Putri anda bisa di sebut sebagai kriminal. Ia adalah seorang pelajar sekaligus senior dari juniornya namun pantas baginya untuk menyerang juniornya tanpa alasan?" Kata Pak Bara dengan tajam.


Mulut Ibu linda seakan kaku dan tidak dapat lagi berkata apa-apa lagi. Ucapan dari Pak Bara begitu tajam dan terarah. Sedikit saja Ibu Linda salah berbicara maka Pak Bara akan langsung menyudutkannya.


"Lalu apakah anak-anak itu memiliki bukti dari cerita panjangnya?" Tantang Ibu Linda dengan senyum sinis.


"Itulah mengapa saya berada disini." Ucap Pak Bara sambil menguarkan beberapa berkas dari dalam tas yang ia bawa sejak tadi.


_________________


Udah Ahhh capek ngetik ....


Oh iya ada yang minta kalau Audry dibuatkan novel khusus dirinya sendiri. Ceritanya lumayan sedih dan mungkin akan sedikit menguras air mata dan bikin emosian. Untuk itu Author minta saran dari kalian para pembaca, jika setuju maka ntar Author buatkan novel khusus buat Audry namun setelah novel Lilian tamat yah.