Lilian

Lilian
Lilian VS Arion



Suasana didalam kantin masih saja riuh meski Geng Andromeda telah menduduki kursi masing-masing. Suara Sheril yang sejak tadi menawarkan banyak hak kepada Arion membuat anggota Geng Andromeda lainnya merasa risih.


"Ehh Sheril ... Lebih baik lo duduk di meja lo sendiri saja! Panas kuping gue dengarin suara cempreng lo." Usir Farrel.


Sheril menatap Farrel dengan tatapan sengit karena telah mengusirnya. "Bilang aja lo iri! Nggak ada cewek cantik kayak gue yang nempelin lo!" Ketusnya.


"Gue nggak salah denger? Yang ada gue malah bersyukur karena nggak ada cewek modelan kayak lo yang nempelin gue." Kata Farrel sambil mengipaskan wajah menggunakan tangannya.


"Alaah alasan aja ... Lebih baik lo diam aja deh nggak usah urusin urasan gue!" Kata Sheril sambil melemparkan tatapan kesalnya.


"Ehh kenabong asap! Gue juga ogah ngurusin urusan lo. Cuman masalahnya disini kehadiran lo ganggu banget, belum lagi suara lo yang mirip dengan kodok kejepit itu bikin gue risih tau nggak?!" Farrel mulai kehabisan cara untuk mengusir Sheril dari hadapan mereka.


"Lo ya ..." Ucapan Sheril terhenti saat suara lain ikut nimbrung.


"Sebaiknya lo pergi aja! Kita butuh istirahat dan ketenangan ... Kehadiran lo disini cuman buat kita keganggu aja." Ujar Mario yang membuat Sheril semakin menahan amarahnya.


"Eh lo nggak usah ikut-ikutan ya! Kehadiran gue disini bukan mau melihat tampang kalian." Tunjuk Sheril ke arah ketiga teman Arion. "Gue hanya mau nemenin Arion saja!" Lanjutnya sambil melempar senyumnya ke arah Arion.


Bukan membalas senyuman Sheril, Arion malah menatap gadis itu dengan tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Sheril meremang.


"Pergi!" Satu kata yang Arion ucapkan cukup membuat Sheril menahan napas kesal.


"Lo nggak tulikan? Arion bilang pergi ... Kehadiran lo disini hanya sebagai pengganggu." Kata-kata Rein menambah kekesal dari Sheril.


Sheril hanya mengepalkan tangannya dengan erat namun sebisa mungkin ia menahan amarahnya agat tidak meledak dihadapan Arion. "Ini bekal yang gue buatkan khusus buat lo, jangan lupa dimakan ya ..." Sheril memaksa senyumnya kearah Arion yang bahkan tidak mau menatapnya.


Setelah mengucapkan hali itu, Sheril akhirnya pergi ke meja teman-temannya berada.


"Akhirnya pergi juga ... Pusing gue dengerin suara cemprengnya dia." Ujar Farrel sambil memijat pelan keningnya.


"Alaaahh dikedipin Sheril dikit lo juga bakalan klepek-klepek." Celetuk Marion yang langsung ditatap tajam oleh Farrel.


"Idiiihhhh ogah banget gue ... Meski di dunia ini sudah kehabisan stok perempuan ... Gue nggak bakalan sudi mau sama modelan kenabong asap kek gitu!" Ucap Ferrel sambil memeluk tubuhnya merinding.


"Alaaahh ... Gayaan lo! Terus kalau stok perempuan habis, lo mau nyari yang panjang gitu buat lo ajakin enak-enakan?" Tanya Rein yang spontan membuat bola mata Farrel membola.


"Mulut lo kayaknya perlu diruqiah! Ngebacot banget sumpah! Udah gitu nggak ada sensornya sama sekali ... Malu ntar didengar orang!" Kesal Ferrel sambil melempar tisu bekas keringatnya ke arah Rein.


"Lo ternyata masih punya urat malu ... Udah gitu jorok banget lagi, kayaknya cewek-cewek itu udah pada buta karena suka sama lo." Kata Rein dengan wajah acuhnya.


Arion menghela napas pelan melihat kelakuan teman-temannya. Setiap hari ia akan selalu menjadi penonton diantara keributan ketiga temannya yang membahas masalah-masalah yang tidak penting menurutnya.


Namun Ario tidak ingin berkomentar maupun ikut nimbrung dengan pembahasan ketiga temannya. Lebih baik Arion menghabiskan waktunya bermain games diponsel miliknya atau nggak menghabiskan makanannya.


Pembahasan ketiga temannya beralih setelah Mario mengucapkan salah satu gadis yang berjalan berniat meninggalkan kantin.


"Rel ... Gladis lewat tuh." Ujar Mario sambil menatap ke arah Keempat gadis yang berjalan bersama.


Farrel yang sejak tadi berdebat dengan Rein mengalihkan pandangannya ke arah Gladis dan teman-temannya berada.


"Nahhh yang modelannya kayak gitu yang gue suka ... Polos tapi berani." Ujar Farrel menatap ke arah Gladis.


"Kalau dianya mau sama lo." Celetuk Mario yang langsung mendapat toyoran dari Farrel.


"Jangan panggil gue Farrel kalau gue nggak bisa dapatin tuh cewek!" Ucap Farrel dengan tatapan angkuhnya.


"Alaahh jatuh cinta beneran mewek lo ntar." Kata Mario sambil meminum minumannya yang tinggal setengah dari gelas.


"Eehhh ntar dulu kayak ada yang beda ..." Ujar Rein tiba-tiba yang membuat Mario dan Farrel ikut menatap kearah pandangan Rein.


Selain Gladis dan kedua temannya, disana ada Lilian yang berjalan bersama untuk membayar makanannya masing-masing.


"Siapa cewek yang jalan bareng mereka? Wihhhh mulus bener!" Ucap Farrel berbinar saat melihat ke arah Lilian.


"Mata lo Rel murahan banget. Lihat yang bening dikit langsung kayak Om Om jelalatan." Ujar Rein memanasi Farrel.


Farrel meletakkan telunjuk ke mulutnya dan menatap sengit ke arah Rein. "Diam deh lo! Tuh mulut kayaknya sekali-sekali minta gue cabein!" Ketusnya.


Mario menghela napas kasar. "Lo berdua bisa diam dulu nggak sih? Ribut mulu dari tadi ..." Mario mulai kesal kepada kedua temannya.


"Dia yang mulai." Tunjuk Farrel ke arah Rein.


Rein hanya mengacuhkannya dan kembali beralih menatap ke arah Lilian. "Gue baru lihat tuh cewek. Kayaknya murid baru."


Farrel membenarkan ucapan dari Rein. Selama ini sudah banyak gadis yang ia goda di sekolah. Namun baru kali ini ia melihat wajah Lilian. Apalagi paras Lilian yang cantik tidak akan mungkin terlewatkan oleh pandangan mata Farrel.


Arion yang sejak tadi memainkan ponselnya menghela napas pelan saat sebuah pemberitahuan muncul "Game Over". Malas bermain lagi, Arion mengangkat wajahnya dan heran melihat raut wajah yang sama dari ketiga temannya.


Penasaran dengan apa yang dilihat ketiga temannya, Arion kemudian menolehkan wajahnya dan ikut menatap ke arah pandangan ketiga temannya. Arion melihat keempat gadis yang sepertinya sedang membayar pesanan mereka.


Hingga sebuah suara bariton memanggil nama seorang gadis dari salah satu ke empat gadis tersebut. Gadis yang merasa namanya dipanggil membalikkan badan dan mencari sumber suara. Namun mata gadis itu terhenti ke arah Arion yang juga tidak sengaja menatap langsungnke arah matanya.


"Gadis itu menatap lo Arion ... Lo kenal dia ya?" Tanya Mario yang langsung dihadiahi tatapan dingin oleh Arion.


"Nggak." Jawab Arion singkat.


"Tatapan gadis itu seakan mengatakan kerinduannya kepada lo." Gumam Mario pelan melihat raut wajah dari Lilian.


Rein dan Farrel manatap Arion dengan tatapan meminta jawaban namun sayangnya Arion malah mengacuhkannya dan berniat berjalan pergi meninggalkan ketiga temannya.


"Gadis itu berlari kearah sini!" Ucapan Mario berhasil menghentikan langkah Arion kemudian ia kembali menatap kearah gadis yang berlari cepat kearahnya.


Tanpa Arion duga, gadis itu langsung memeluknya dengan sangat erat dan tidak berniat untuk melepaskannya. Suara riuh mengisi seisi kantin melihat adegan antara keduanya. Banyak bisik-bisik terdengar dari semua orang yang berada didalam kantin.


"Siapatuh cewek berani banget meluk Arion."


"Anjirrr berani banget tuh cewek, nggak tau apa Arion tidak akan melepaskan orang yang sembarangan menyentuhnya."


"Gilaaa berani banget tuh cewek. Penasaran gue akan diapakan gadis itu sama Arion."


"Jalang mana lagi yang berani nyosor ke Arion."


"Tuh cewek nggak tau diri banget, seeanknya meluk Arion."


"Dasar jalang tidak tahu malu, dia pikir dia siapa beraninya sembarangan meluk Arion."


Banyak lagi kata-kata yang Lilian dengar namun ia hiraukan. Lilian benar-benar sangat merindukan sosok orang yang tengah ia peluk saat ini. Namun kerinduannya harus dihentikan dikarenakan orang yang tengah ia peluk mendorong paksa tubuh kecilnya hingga ia terdorong beberapa langkah ke belakang.


"Lancang!!" Kata pertama yang Arion ucapkan setelah melepas pelukan Lilian.


Lilian mengabaikan tatapan tajam nan dingin dari Arion, Lilian bahkan kembali berjalan mendekat ke arah Arion dengan cairan bening yang mulai membasahi kedua pipinya.


"Seint." Panggil Lilian dengan nada sendu.


Semua orang yang mendengar panggilan Lilian menarik napas pelan. Suasana kantin seakan sepi tidak berpenghuni, hanya terdengar isak tangis dari Lilian saat menatap mata Arion.


"Lancang sekali lo memanggilnya dengan nama tengah! Jalang kayak lo tidak pantas mengucapkan nama itu dengan mulut kotor mu itu!!" Teriakan Sheril menggema didalam kantin, terlebih tidak ada satu orangpun yang berani mengeluarkan suara.


Telinga Lilian seakan tuli, ia tidak mendengar suara apapun disekitarnya. Matanya hanya fokus menatap seorang cowok yang berdiri didepannya dengan tatapan tajam yang menusuk.


Bagi Lilian tatapan itu tidak berarti apapun, ia sudah terbiasa saat Seint menatapnya dengan tatapan yang sama. Arion memberikan tatapan peringatan saat Lilian kembali maju untuk mendekatinya.


"Seint kau ada disini?" Tanya Lilian dengan nada lembut. Tangan Lilian meraih tangan kiri Arion namun belum sempat Lilian genggam, Arion malah menghentakkan tangan Lilian kembali.


"Pergi!" Usir Arion dengan nada sangat dingin, orang-orang disekitarnyapun harus menahan napas takut melihat kemarahan Arion.


Lilian sedikit tertegun mendengar nada dingin dari Arion. Ada banyak sekali hal yang Lilian pikirkan dikepalanya, namun kesimpulan yang dapat ia simpulkan adalah Arion adalah Seint dimasa depan.


Tidak melihat raut wajah takut dari Lilian membuat ketiga teman Arion mengacungkan jempol kepada Lilian. Biasanya para gadis akan takut hanya melihat tatapan tajam serta raut wajah dingin dari Arion, namun Lilian tidak sedikitpun menunjukkan rasa takutnya. Gadis itu bahkan berkali-kali berusaha mendekati Arion meski selalu ditepis kasar olehnya.


Kesal karena Lilian tidak beranjak pergi, Arion memutuskan untuk meninggalkannya dengan menahan kesal. Melihat Arion yang berjalan menjauhinya membuat Lilian mengikuti langkahnya dan menarik tangan Arion kuat sehingga keduanya saling berhadapan.


Tidak membuang kesempatan, Lilian menarik kerah baju Seint sehingga kedua mata mereka saling berpandangan.


"King Alpenseint Balaz." Kata Lilian dengan suara lantang.


Arion tertegun mendengar nama yang Lilian sebutkan, nama tengahnya memang sama dengannya namun nama depan dan marga yang berbeda.


"Ingat baik-baik ucapan ku ini ... Jika aku tidak bisa membuat mu kembali kepadaku maka akan ku pecahkan kepala mu karena tidak mengingat ku." Ucapan Lilian sangat tegas dengan raut wajah serius.


Lilian melepas kasar kerah baju Arion yang membuat cowok itu sedikit terhuyung kebelakang. Kemudian Lilian menatap ketiga temannya yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Kita balik!" Ujarnya dan pergi meninggalkan kantin yang diikuti oleh ketiga temannya dari belakang.


Arion masih diam membisu dengan ucapan yang Lilian ucapkan, sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan gadis itu namun entah mengapa tatapan gadis itu mengisaratkan pertemuannya kembali padanya.


"Uiiiihhh gila tuh cewek ... Apa yang dia ucapkan sehingga membuat Arion Alpenseint Ganendra terdiam kek gini?" Tanya Farrel yang muncul tiba-tiba dan menepuk pundak Arion.


"Hebat tuh cewek ... Cewek pertama yang berhasil membungkam seorang Arion." Ujar Rein dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalian lihat tidak tatapan cewek tadi? Tidak kalah tajam dengan tatapan Arion?" Tanya Mario yang langsung diangguki oleh kedua temannya.


Arion berdecak kesal kemudian menghempaskan tangan Farrel dipunggungnya dan berjalan meninggalkan ketiga temannya.


"Anjiiirrr kita ditinggal ... Tungguin kita bego!!" Ujar Farrel dan langsung berlari menyusul Arion.


Rein dan Mario juga mengikuti langkah kedua temannya pergi. Setelah kepergian Geng Andromeda, semua orang baru bisa bernapas lega. Sepertinya kejadian hari ini akan menjadi trending topik yang paling menggemparkan di Florenza School.


__________________