Lilian

Lilian
Kedudukan Sheril



Bel istirahat akhirnya berbunyi, semua murid kelas X Ipa 1 menghembuskan napas lega setelah beberapa jam lamanya memaksa otak mereka untuk berkerja sangat keras.


"Gilaaa .... Jam pertama belajar matematika dan jam kedua harus belajar fisika, lagi-lagi kita harus memaksa otak untuk kembali menghitung. Lama-lama gue beneran stres, lagian aneh banget nih para guru ... Buat jadwal kok begini banget ... Memangnya nggak ada hari lain gitu sampai hari ini jam menghitung semua." Gerutu Gladis sendiri sambil memasukan semua alat tulisnya ke dalam tas.


"Bener tuh ... Otak gue kek nyut-nyutan gitu dari tadi. Mana gurunya horor banget." Ujar Laura yang merespon ucapan Gladis.


Gladis memutur tubuhnya ke belakang dan menatap ke arah Laura. "Udah gitu tugasnya banyak banget lagi ... Bu Marissa bukannya mau ngajarin kita buat pintar namun yang gue rasain dia mau kita belajar mati dengan perlahan." Kesalnya.


"Husshhh ... Ucapan lo yang horor banget. Jangan sampai Bu Marissa dengar, ntar yang ada lo lagi yang di hukum." Ucap Meira yang baru saja selesai menyalin catatannya.


"Gimana kalau kita bagi aja tugasnya." Saran Lilian setelah memperhatikan interaksi ketiga temannya.


"Maksud lo?" Tanya Gladis yang belum paham dengan ucapan Lilian.


"Maksud gue kita belajar kelompok, tugas fisika itu banyak banget ... Udah gitu dikumpulinnya pas hari senin yang berarti dua hari dari sekarang. Ntar kita bagi sama banyak tugasnya, misalnya Laura ngerjain tugan nomor satu sampai lima, terus Gladis enam sampai sepuluh dan seterusnya." Jelas Lilian.


Braaaakk ....


Gladis tanpa sadar memukul meja dengan sangat keras kemudian berdiri dari tempatnya. "Gue setuju." Ucapnya kemudian.


"Anjiiir lo bikin gue kaget aja ... Kebiasaan banget ngegebrak meja." Kesal Meira kaget.


"Lagian lo aneh banget ... Setuju ya setuju aja, ngapain mesti ngegebrak meja segala." Tunjuk Laura ke arah Gladis.


"Apa kabar dengan gue yang posisinya di depan nih anak? Kayaknya dekat sama Gladis harus nguatin jantung deh ... Jangan sampai ke depannya bisa copot." Lilian ikut mengomentari kelakuan aneh Gladis.


"Sorry ... Sorry ... Tangan gue tadi refleks aja mukul tuh meja." Ucap Gladis tersenyum kikuk.


"Ya udah terus bagaimana dengan jawaban kalian?" Tanya Lilian menatap Laura dan Meira bergantian.


"Gue sih setuju-setuju aja ... Selama tuh tugas kelar dan kita nggak akan kena hukuman." Jawab Meira.


"Terus bagaimana dengan lo Laura?" Tanya Gladis ke arah Laura.


"Gue sih setuju-setuju aja ... Cuman bisa nggak tempat belajar kelompoknya di rumah gue aja? Nyokap sama Bokap gue lagi keluar kota dan rumah gue juga sepi." Kata Laura dengan menatap ketiga temannya bergantian.


"Gue sih mana-mana aja ... Selama tugas kita kelar." Jawab Lilian yang juga disetujui oleh kedua temannya.


"Ok berarti fiks ya besok kita belajar kelompok dirumahnya Laura. Lalu bagaimana dengan waktunya?" Tanya Gladis kembali.


"Gue sih terserah kalian aja." Jawab Lilian.


"Bagaimana kalau pagi aja? Jika tugasnya cepat kelar ... Sisa waktunya kita gunain untuk jalan-jalan." Ucap Meira memberi saran kepada teman-temannya.


"Setuju tuh ... Kita habiskan hari minggu dengan belajar dan jalan-jalan melepas penat." Kata Gladia antusias.


"Ok berarti fiks besok pagi kita belajar kelompok di rumah Laura dan siangnya kita gunakan buat jalan-jalan." Lilian menyimpulkan rencana liburan mereka.


"Setuju!" Ucap ketiga teman Lilian dengan kompak sambil menunjukkan jempol mereka masing-masing.


"Tumben nih cewek-cewek nggak ke kantin? Pada kenyang semua ya lo pada?" Tanya Denis yang muncul tiba-tiba di samping ke empat cewek itu.


"Iya kenyang sama soal fisika kita." Jawab Gladis asal.


"Wahhhh hebat juga lo pada ... Salut gue sama kalian. Lain kali makan yang banyak ya soal fisikanya." Kata Denis yang mulai mengikuti alur pembicaraan dari Gladis.


"Apaan sih lo gaje banget ..." Ucap Meira.


"Bener ... Lagian kenapa lo nggak ke kantin juga? Kenyang sama soal fisika juga?" Tanya Laura beruntun yang membuat Denis tertawa dengan lantang.


"Iya kali gue kenyang ... Yang ada pusing tujuh turunan gue. Tadinya gue emang udah ke kantin bareng Bima, Kamal dan Bayu cuman gue balik lagi ngambil ponsel gue yang ketinggalan." Jelas Denis panjang lebar.


"Ohh gitu ... Terus ngapain lo masih disini?" Tanya Gladis.


"Ettdaaahhh nih bocah sensian amat ... Udah ahh gue tinggal ke kantin duluan kalau gitu." Ujar Denis yang langsung pergi meninggalkan ke empat cewek tersebut.


"Tuhh anak main pergi-pergi aja. Oh ya kita bakalan duduk kek gini aja sampai jam istirahat selesai?" Tanya Gladis yang heran melihat ketiga temannya belum beranjak dari tempat duduknya.


Ke empat cewek itu akhirnya berjalan menuju kantin dengan sesekali melempar candaan untuk satu sama lain. Selama perjalanan menuju kantin ada banyak sekali murid laki-laki maupun perempuan menatap keempat gadis itu sambil berbisik.


Lebih tepatnya mereka menatap sambil berbisik ke arah Lilian namun karena gadis itu sedang berjalan bersama ketiga temannya, akhirnya ketiga temannya juga ikut menjadi sorotan.


Lilian sama sekali tidak merasa terganggu dengan tatapan murid-murid itu, sejak awal Lilian terlalu masa bodoh dengan orang-orang yang selalu membicarakannya dari belakang. Selama orang-orang itu tidak terlalu penting bagi Lilian maka gadis itu hanya akan bersiakap acuh dan tidak peduli pada mereka.


Ketiga teman Lilian sendiri merasa deg-degan sekaligus was-was. Bukan karena mereka tidak pede namun mereka khawatir dengan Lilian. Ketiga teman Lilian menyadari pandangan semua orang bukan tertuju pada mereka melainkan tatapan itu tertuju kepada Lilian.


"Lilian." Panggi Laura pelan sambil menggenggam pelan tangan Lilian yang berjalan disampingnya.


"Jangan hiraukan mereka. Mereka hanyalah kumpulan orang-orang yang hadir sebagai peran pendukung, entah hal itu baik atau buruk yang sedang mereka pikirkan namun yang pasti mereka hanya ingin menikmati pertunjukkan. Tanpa adanya mereka cerita ini juga tidak akan seru." Kata-kata Lilian tidak kecil ataupun besar namun kata-katanya masih bisa di dengar oleh orang-orang yang berada disekitarnya.


Ketiga teman Lilian mengikuti apa yang di ingkan oleh Lilian yaitu mengabaikan bisikan-bisikan orang yang tidak penting. Hingga mereka berempat sampai di pintu masuk kantin.


Sama halnya saat mereka berjalan menuju kantin, tatapan orang-orang di dalam kantin pun jauh lebih banyak dari tatapan yang mereka terima saat diperjalanan. Kantin adalah tempat berkumpulnya para murid yang ingin mengisi energi mereka sebelum melanjutkan pelajaran yang pastinya akan banyak menghabiskan tenaga.


Kantin juga tempat tongkrongan bagi sebagian orang yang hanya ingin melihat orang yang mereka idolakan atau dijadikan tempat untuk duduk berleha-leha saja. Jadi tidak heran jika kantin memiliki suasana rame seperti sekarang ini.


Ada yang aneh dengan suasana kantin hari ini, kantin memang selalu rame di kunjungi oleh banyak murid namun kantin hari ini jauh pebih rame dari hari-hari sebelumnya.


"Apa ini cuman perasaan gue aja ya? Kantin memang rame cuman hari ini kok rame banget ya?" Tatapan mata Gladis menyelusuri se isi kantin yang terlihat sangat penuh.


"Lo benar ... Mata gue menangkap ada Kakak kelas sebelas dan dua belas disini. Meski kantin memang untuk umum namun setiap lantai memiliki kantin tersendiri. Hari ini sepertinya kantin bukan hanya di isi oleh murid kelas sepuluh namun Kakak kelas dua tingkat diatas kita juga berkumpul di sini." Ujar Meira yang juga sedang memperhatikan suasana kantin.


"Apa kantin sedang diskon ya? Tapi dalam rangka apaan kantin diskon? Kek baju aja." Kata Laura.


"Udahlah ... Mungkin hari ini mereka sedang rindu dengan menu makanan dikantin ini. Jadinya mereka berkumpul di sini." Ucap Lilian yang juga memeprhatikan sekitarnya.


"Udah ahh perut gue lapar minta di isi ... Merhatiin orang nggak bakal buat kita kenyang." Ucap Gladis dan berjalan mendahului ketiga temannya untuk memesan makanan.


Selagi pesanan mereka lagi di siapakan, keempat gadis itu mencari tempat untuk mereka duduki namun masih belum ada meja yang kosong. Ada beberapa meja yang masih kosong namun meja itu milik Geng Andromeda dan todak jauh darinya milik gadis Famous disekolah.


Lilian bisa saja mengajak temannya untuk menduduki salah satu kursi yang berada di meja itu, namun ia tidak ingin mencari masalah dan menarik teman-temannya untuk masuk dalam masalah. Akhirnya Lilian mengalah dan ikut mencati meja kosong seperti yang ketiga temannya lakukan.


Saat asik mencari meja kosong, tangan Lilian tiba-tiba ditarik dengan sangat kuat ke belakang dan Lilian berakhir harus berhadapan dengan orang yang selalu saja menjadi perbincangan ketiga temannya.


"Sebelumnya gue udah peringatin lo untuk jauhin Arion namun sepertinya kuping lo itu perlu di periksa ke Dokter THT atau memang lo wanita yang memiliki muka tebal sehingga lo nggak merasa rasa malu sedikit pun." Kata-kata Sheril menggema di seluruh isi kantin.


Inilah alasan mengapa kantin kelas sepuluh hari ini penuh, orang-orang itu datang hanya untuk menyaksikan adegan dimana Sheril menunjukkan kekuasaanya di sekolah ini.


Lilian sejak tadi sudah memprediksi hal ini bakalan terjadi mengingat cerita teman-temannya yeng mengatakan Sheril beberapa kali datang mencarinya didalam kelas.


"Kenapa diam saja? Apa benar sekarang lo udah tuli?" Pertanyaan Sheril membuat semua orang saling berbisik satu sama lain.


Lilian hanya tersenyum sinis kemudian membalikan badannya untuk meninggalkan Sheril yang wajahnya sudah memerah karena menahan marah.


"Lo kayaknya perlu gue kasih pelajaran ya!" Sheril kembali menarik tangan Lilian dan mengangkat tangan kananya untuk menampar Lilian.


Dengan sangat mudah Lilian menahan tangan Sheril dan menghempaskan tangannya dengan sangat keras sehingga gadis itu mundur beberapa langkah.


"Hari ini suasana hati gue lagi tidak baik! Jika mau mencari masalah sebaiknya cari lain waktu saja." Tatapan mata Lilian menajam ke arah Sheril yang sekarang mengepalkan kedua tangannua dengan sangat kuat.


Sheril memberi aba-aba kepada orang yang di belakangnya kemudian muncul dua temannya yang membawa dua ember air yang sangat bau. Lilian bahkan dapat mencium bau tersebut meski jaraknya dengan kedua ember itu tidak terlalu dekat.


Kemudian muncul beberapa lelaki dari belakang tubuh Sheril yang menggunakan seragam yang sama seperti murid Florenzo School.


"Pegangin dia! Hari ini gue bakal berikan kejutan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya!!" Tunjuk Sheril ke arah Lilian.


Ketiga teman Lilian sontak berdiri di depan Lilian untuk melindunginya, namun pergerakan ketiga temannya terkunci karena kalah jumlah serta tenaga yang dimiliki oleh orang suruhan Sheril.


Sekitar empat lelaki berjalan mendekat ke arah Lilian berniat untuk mengunci pergerakan dari gadis itu. Sheril akan memberikan pelajaran untuk Lilian agar untuk ke depannya gadis itu tidak akan lagi berani menatap kearahnya.


______________