
Pagi ini raut wajah Lilian begitu cerah, terlihat jelas dari senyum yang tidak pernah luntur dari wajah cantiknya. Dengan perasaan bahagia, gadis itu menuruni tangga sambil bersenandung kecil.
Hari ini, kali pertama Lilian akan berangkat ke sekolah bersama dengan Arion. Memikirkan hal itu membuat Lilian tidak dapat tidur nyenyak semalaman. Sepanjang malam Lilian berharap agar sinar bulan cepat berganti dengan sinar matahari.
"Selamat pagi Mama ..." Sapa Lilian dengan semangat.
"Pagi ..." Sapa Efina balik.
"Papa kemana? Tumben belum keluar." Kata Lilian sambil celingak celingok ke kiri dan ke kanan.
"Papa udah berangkat duluan ... Katanya ada hal penting yang segera harus di urus." Jawab Efina sambil memberikan roti yang sudah ia olesi dengan selai coklat kepada Lilian.
"Ohh ..." Angguk Lilian sambil memakan rotinya.
"Jadi temen kamu itu jemput? Kalau nggak, biar Mama aja yang nganter." Kata Efina sambil memakan roti yang sama dengan Lilian.
Dengan cepat Lilian meneguk susu yang ada di hadapanya kemudian tatapannya beralih kearah Efina. "Jadi kok Mah ... Tadi dia kabarain katanya lagi di jalan. Lagian arah Mama dan sekolah ku kan beda ..." Sungut Lilian.
"Ini cuman perasaan Mama atau gimana ya?! Kok kelihatannya kamu beda banget hari ini ... Biasanya memang ceria cuman ada aja gitu yang beda dari kamu." Sungut Efina memperhatikan perubahan dari Putrinya itu.
"Ahhh Mama ..." Rajutnya, "Lilian udah kek gini dari dulu ... Mana ada yang beda." Sanggahnya.
"Ya beda aja ... Terlihat lebih bersemangat aja gitu ... Apa jangan-jangan kamu pacaran ya sama anak itu?" Tanya Efina sambil menatap Lilian dengan penuh selidik.
Lilian mengerjapkan mata berkali-kali mendengar pertanyaan dari Efina. "Memangnya nggak boleh ya Mah?" Tanyanya takut.
"Memangnya kamu pacaran dengan anak itu?" Tanya Efina lagi.
"Ya ... Mama jawab dulu! Boleh atau tidak?" Tanya Lilian tidak mau mengalah.
Efina sejenak terdiam lalu sesaat kemudian ia menghela napas pelan. "Ya ... Boleh saja. Asal jangan aneh-aneh aja." Jawabnya.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Aneh-aneh kek gimana Mah?"
"Ya aneh ... Jaman sekarang banyak remaja di bawah umur yang nikah muda! Masa depannya hancur hanya karena ***** sesaat. Mama nggak mau kamu juga seperti itu. Meski kamu di perbolehkan pacaran namun kamu tetap menjaga kepercayaan Mama dan Papa!" Jelas Efina panjang.
"Kalau gitu Lilian juga tau Mah! Lilian ngerti kok dan janji ama Mama kalau Lilian bakal jaga diri! Lilian nggak akan lakuin hal-hal aneh seperti yang Mama takutkan." Kata Lilian dengan nada serius.
"Baiklah ... Kalau gitu, jawab pertanyaan Mama tadi! Kamu pacaran dengan anak itu?" Tanya Efina sambil memperhatikan wajah Putrinya yang mulai bersemu merah.
Lilian menundukkan kepala malu melihat ke arah Mamanya namun sesaat kemudian Lilian menganggukkan kepalanya pelan.
Terdengar helanaan napas dari mulut Efina, sontak saja Lilian menatap ke arah Efina dengan wajah bingung. "Ada apa Mah? Nggak boleh ya?" Tanyanya dengan raut wajah cemas.
Efina menggeleng pelan namun raut wajahnya terlihat sendu. "Sayang ..." Panggil Efina dengan nada lembut.
Perasaan Lilian saat ini was-was mendengar panggilan sayang Efina di sertai dengan nada lembutnya. Lilian tahu betul jika Mamanya sedang seperti itu artinya ada hal lain yang ingin Mamanya utarakan.
"Mama pernah bilang kalau semakin tinggi status sosial seseorang maka semakin tinggi pula hubungan politik di dalamnya?" Tanya Efina dengan nada lembutnya.
Lilian hanya menggangguk dan menunggu kata-kata apa yang akan Efina ucapkan berikutnya.
"Mama tidak mau kamu di jadikan sebagai alat perebutan kedudukan. Itu alasannya mengapa Kamu dan Kakak mu Keira selalu saja Mama sembunyikan selama ini. Mama ingin Kamu dan Kakak mu memilih Pria yang benar-benar mencintaimu." Sorot mata Efina terlihat sendu saat menatap Lilian.
"Lalu jika Arion benar-benar mencintai Lilian ... Apakah Mama dan Papa bakalan setuju?" Tanya Lilian ragu.
Efina memandangi wajah Putrinya itu dengan sangat lama. Ada sedikit perasaan sesak dihatinya saat ini. Lilian masih terlalu muda untuk menghadapi masalah sosial yang sebentar lagi akan ia hadapi. Selama ini Putrinya itu sangan ia jaga dengan sangat baik, menghindarkannya dari perjodohan dini untuk mengukuhkan kedua perusahaan besar.
Efina berjalan pelan menuju kursi Lilian, dengan lembut ia menggengam tangan Putrinya yang hangat kemudian membelai lembut rambut Putrinya dengan sayang.
"Tidakkah kamu tau jika Arion sudah memiliki pasangan yang sudah di tentukan sejak kecil?" Meski berat untuk menayakan hal ini namun Efina harus tetap manayakannya. Karena cepat atau lambat Lilian tetap harus tahu tentang hal itu.
Dada Lilian seakan bergemuruh mendengar pertanyaan dari Mamanya. Baru saja Lilian merasakan kebahagian namun kebahagian itu seakan harus di ambil paksa dari tangan Lilian. Hubungan resminya dengan Arion baru berjalan beberapa hari namun Lilian harus di hadapkan dengan masalah ini.
"Di ... Dia su ... dah punya pa ... sangan?" Tanya Lilian dengan terbata.
Efina semakin menggenggam erat tangan Putrinya yang sebelumnya menghangat kini berubah menjadi dingin. "Maafkan Mama jika mungkin jawaban Mama akan menyakiti mu." Katanya dengan nada berat.
Sakit, satu kata yang menggambarkan perasaan Lilian saat ini. Baru saja ia mendapatkan cinta Arion kembali, mengapa Lilian harus merasakan sakit secepa ini.
"Mengapa ... Mengapa ... Kak Arion tidak mengatakan hal ini sebelumnya. Mengapa dia tidak pernah sekalipun menyinggungnya ... Apakah di kehidupan ini Arion tidak di takdirkan untuk ku?" Batin Lilian.
"Sayang ..." Panggilan Efina menyadarkan Lilian dari pikirannya.
"Siapa? Siapa pasangan yang di jodohkan dengannya?" Tanya Lilian sambil menahan cairan bening di matanya yang kapan saja akan jatih membasahi kedua pipinya.
Efina menggeleng kuat, tidak ingin Putrinya semakin merasakan sakit hati. "Tidak sayang ... Mama tidak ingin kamu semakin merasakan sakit." Ucapnya dengan nada lirih.
"Mah ..." Panggil Lilian dengan suara sedikit meninggi.
"Dia salah satu Putri dari keluarga ternama. Saat ini dia sedang berada di luar Negri. Sejak umur lima tahun, keluarganya ingin memepererat hubungan dengan keluarga Ganendra." Jelas Efina hati-hati agar tidak menyakiti hati Putrinya.
Lilian sejenak memikirkan kata-kata dari Mamanya. "Ingin mempererat hubungan ... Artinya keluarga Ganendra belum menentukan pilihan?" Batin Lilian.
"Sayang ..." Efina mengguncang pelan tubuh Lilian.
"Keluarga Ganendra sudah menyetujuinya?" Tanya Lilian dengan raut wajah serius.
Efina menatap lama Putrinya namun setelahnya ia menggelengkan kepalanya pelan. "Mama tidak tau ... Namun keluarga mana yang akan menolak jika dengan perjodohan itu akan memperkokoh kedua perusahan besar?" Katanya tidak ingin agar Putrinya terlalu berharap.
Efina tidak dapat berkata apa-apa lagi, ada keteguhan dari sorot mata Putrinya itu. Jika memang seandainya Lilian memilih berjuang maka sebagai seorang Ibu tentu saja Efina menginginkan hal baik untuk Putrinya.
"Maaf mengganggu Nyonya ... Non. Di luar ada aden tampan, katanya mau jemput Non Lilian." Kata Bi Marni yang memecah suasana serius anatara Lilian dan Efina.
Lilian mengangguk pelan kemudian berpamitan pergi kepada Efina. "Lilian berangkat." Kemudian mencium punggung tangan Efina.
Efina menatap sendu kearah punggung Lilian pergi. Ia mengingat kembali hubungannya dengan Rahadian saat Tama tidak memberikan persetujuannya kepada hubungan keduannya. Efina tidak ingin jika hubungan Lilian bukan hanya di tentang namun akan ada unsur politik yang akan di mainkan dalam hubungan Putrinya. Hal itulah yang paling di hindari oleh Efina dan Rahadian.
Sedangkan Lilian sendiri meyakini dalam hati jikalau hubungannya dengan Arion akan baik-baik saja. Gadis itu terus saja melangkah keluar rumah dan menemukan Arion yang sedang duduk di atas motor sport miliknya sambil mengetikkan sesuatu di atas layar ponselnya.
Lilian berhenti tepat di samping motor Arion berada. Matanya menatap lekat ke arah wajah Arion yang terlihat serius dengan layar ponselnya.
"Gue tau gue tampan ... Jadi lihatnya biasa aja dong." Ucap Arion sambil tersenyum cerah kearah Lilian yang tampak hanya diam saja dengan muka datarnya.
"Ada apa?" Tanya Arion bingung melihat Lilian yang hanya menatapnya dengan datar.
"Lo nggak apa-apakan?" Tanya Arion sambil menempelkan punggung tanganya ke arah kening Lilian. "Nggak panas." Ujarnya heran.
Lilian masih saja menatap Arion dengan diam. Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalanya yang sangat ingin ia tanyakan kepada Pria yang sekarang bersatus sebagai pacarnya saat ini.
"Hei ... Lo kenapa sih?" Tanya Arion mengusap pelan pipi Lilian. "Kalau sakit sebaiknya lo balik masuk aja." Ucap Arion khawatir.
Lilian menggeleng pelan kemudian melepaskan tangan Arion yang membelai pipinya. "Nggak apa-apa ... Ayok berangkat!" Ajak Lilian namun masih tanpa ekspresi.
Arion semakin merasa bingung dengam sikap Lilian. Semalam gadis itu masih terlihat baik-baik saja dan tidak terlihat sedingin ini. Namun entah apa yang telah terjadi pada gadis itu sehingga sikapnya berubah dingin seperti sekarang.
Arion memasangkan helm di kapala Lilian yang masih saja terlihat dingin kemudian membantu gadis itu menaiki motornya.
Sepanjang jalan Arion terus saja memperhatikan raut wajah Lilian lewat kaca spion motor miliknya. Sejak Lilian keluar dari dalam rumahnya ekspresi gadis itu belum saja berubah sampai motor Arion sudah melaju jauh dari rumah Lilian. Arion selalu melihat raut wajah ceria yang gadis itu tampilkan setiap kali bertemu dengannya namun melihat gadis itu yang terlihat dingin seperti saat ini membuatnya tidak tahan untuk tidak bertanya.
Arion menepikan motornya di pinggir jalan kemudian melepaskan helmnya dan menatap ke arah Lilian yang masih saja menatapnya dengan datar.
"Gue ada salah ya ama lo?" Tanya Arion lansung menatap ke arah mata Lilian.
Tidak menjawab, Lilian hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Arion.
"Serius lo aneh ... Kalau gue punya salah ama lo bilang aja!" Kata Arion masih dengan keheranannya.
Lilian kembali menggeleng dan membuat Arion semakin frustasi. Arion tidak terbiasa berbicara banyak dan tidak tahu cara untuk membujuk seorang gadis yang sedang marah. Selama ini hanya ada banyak gadis yang selalu datang memberikan perhatian kepadanya tanpa sedikitpun ia balas.
Melihat perbedaan sikap yang Lilian tunjukkan kepadanya membuat Arion berpikir jikalau saat ini gadis itu sedang marah kepadanya.
"Lo marah karena kemarin gue peluk?" Tanya Arion lagi mencoba mencari tahu tentang perubahan sikap dari Lilian.
Lilian kembali menggeleng tanpa mengeluarkan suara. Arion semakin di buat frustasi, ingin sekali ia berteriak namunArion sadar jika saat ini dirinya dan Lilian sedang berada di pinggir jalan. Dengan perasaan gusar Arion kembali memakai helmnya dan melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi.
Lilian refleks memeluk erat pinggang Arion karen takut terjatuh dari atas motor. Meski Lilian sedang memiliki banyak pikiran namun jatuh dari motor Arion bukanlah hal yang ingin ia rasakan.
"Lo kalau mau mati ya mati aja sendiri!!" Pekik Lilian sedikit berteriak dari belakang punggung Arion.
Arion akhirnya dapat tersenyum lega setelah mendengar suara Lilian. Jika seandainya dia tahu cara itu akan membuat Lilian kembali berbicara kepadanya maka sudah sejak tadi Arion melakukannya.
Arion bersama dengan Lilian di belakangnya sampai dan melewati pagar Florenzo School. Ada banyak sekali pasang mata yang menatap ke arah keduanya. Sudah sejak lama jok belakang motor Arion tidak pernah terisi dan sekarang hadirnya Lilian sebagai pengisi kekosongan itu. Bukan hanya jok belakang motor Arion yang terisi namun hatinya yang dulu juga kosong kini telah terisi oleh sesosok gadis cantii bernama Lilian.
Setelah Arion memarkirkan motornya di tempat biasa, Lilian langsung menghujani Pria itu dengan banyak sekali pukulan di punggung tegap milik Arion.
"Lo kalau mau mati ya mati aja sendiri!!" Pekik Lilian.
Arion melepas helm yang di pakainya kemudian berbalik dan menahan tangan Lilian yang terus saja memukulinya. "Lo aman kalau bareng ama gue." Katanya dengan senyum tipis.
Lilian membuang muka ke sembarang arah tidak mau menatap ke arah Arion. "Idung lo lucu kalau lagi ngambek." Tunjaknya ke arah hidung Lilian yang kembang kempis.
Lilian mengerucutkan mulut tidak terima. "Jangan pegang-pengang! Idung gue ntar penyot." Ujarnya sambil menjauhkan tangan Arion dari hidungnya.
"Apanya yang penyot? Memangnya nih hidung kagak asli?" Tanya Arion masih mengisengin hidung Lilian.
"Lepas! Lepas! Lepas! Lepasin hidung gue!!" Teriak Lilian sambil memukul tangan Arion beberapa kali.
Arion sendiri semakin gencar mengusili Lilian. Hingga keduanya tidak menyadari ada banyak sekali tatapan dari anak Florenzo Schoo**l yang memperhatikan keduannya. Sungguh pemandangan yang langka melihat Arion yang terlihat sebahagia itu saat bersama dengan seorang gadis.
Keduanya tampak serasi saat bersama membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri. Sebutan cowok paling dingin di seluruh Florenzo School telah di cairkan oleh sesosok gadis yang memiliki senyum cerah secerah sinar matahari pagi.
"Ekhmmm ... Enaknya yang punya pasangan pagi-pagi udah tebar kemesraan aja dan membuat kaum jomblo kek kita-kita jadi ngiri." Celetuk Mario tiba-tiba yang membuat Arion dan Lilian langsung menatap ke arah sumber suara.
"Apalah daya gue yang hanya bisa gigit jari kek gini melihat pemandangan indah di depan gue ..." Tambah Farrel sambil menggigit telunjuknya mirip dengan anak kecil.
"Sabar ... Sabar ..." Ujar Rein sambil mengelus dadanya.
Lilian melepas paksa tangan Arion dari hidungnya dan menuruni motor Arion. Tanpa kata gadis itu langsung berjalan lurus meninggalkan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Arion menghela napas pelan dan menatap ketiga temannya dengan tajam. "Kalian bisa nggak munculnya ntaran aja?!" Tanya dengan raut wajah kesal.
Dengan kasar Arion menuruni motornya dan berjalan menjauh meninggalkan ketiga temannya yang masih terlihat bingung.
________________
.