
Suasana kantin saat ini tampak penuh dengan para murid Florenzo School yang memenuhi seisi ruangan. Memang biasanya kantin kelas X selalu menjadi kantin favorit bagi semua para murid, baik itu dari kelas X sendiri sampai kelas XII akan memilih kantin tersebut di saat bel istirahat telah berbunyi.
Namun ada yang berbeda dengan suasana dalam kantin saat ini. Biasanya para murid selain ingin mengisi perut mereka, Geng Andromeda adalah salah satu alasan mereka memilih untuk mengunjungi kantin kelas X. Karena ke empat anggota Geng Andromeda hanya akan mengunjungi kantin kelas X disaat jam istirahat, baik itu untuk mengisi perut mereka yang kosong atau hanya sekedar duduk-duduk saja. Kali ini Geng Andromeda belum menampakkan diri di kantin namun kantin sudah sangat sesak.
Lilian dan ketiga temannya bahkan tidak mendapatkan tempat duduk saking banyaknya murid yang berkunjung.
"Ini cuman perasaan gue atau gimana sih? Kantin hari ini kok sesak banget ya?" Heran Gladis, kepalanya celingak celinguk ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa keadaan kantin.
"Hooh ... Berasa panas nggak sih?" Tanya Meira sambil mengipasi wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Ke tempat lain aja yuk ... Sesak banget disini! Lagian tumbenan amat nih kantin penuh kek gini." Ujar Laura dengan raut wajah heran.
Lilian ikut memperhatikan sekitar tempatnya berdiri. Memang suasana kantin sedang penuh, namun anehnya semua tatapan murid-murid itu tertuju kearah tempat ia berdiri.
"Mereka melirik kesini nggak sih?" Tanya Gladis yang juga mulai menyadari hal yang sama dengan Lilian.
Laura dan Meira kembali memperhatikan sekitar tempat mereka berdiri. Benar saja, tatapan mata semua murid-murid itu tertuju kearah tempat mereka berdiri.
"Benar ... Labih tepatnya ke arah Lilian." Ujar Laura.
"Apa mungkin gara-gara kejadian kemarin? Pantesan aja kantin penuh ... Keknya kali ini bukan mau melihat Geng Andromeda ... Tapi Lilian." Tebak Laura.
"Pindah tempat aja yuk!" Ajak Lilian yang mulai tidak betah dengan tatapan para murid.
Baru saja Lilian ingin melangkah, suara berat dari balik punggung menghentikannya.
"Mau kemana?" Tanya Arion dengan sebelah alis yang sedikit keangkat.
Lilian berbalik dan menemukan Arion, Rein, Mario dan Farrel yang entah sejak kapan sudah berdiri disana.
"Loh, sejak kapan kalian disini?" Tanya Lilian.
"Sejak tadi ... Cuman lo-nya aja yang kagak dengar saat di panggil." Kata Mario.
Lilian menghela napas pelan. "Sorry ... Suasana kantin sesak banget. Dah gitu bising lagi ..." Ujarnya.
Benar, sejak tadi Rein dan yang lainnya berusaha memanggil Lilian. Namun karena suasana kantin yang bising membuat Lilian tidak dapat mendengar panggilan dari ke empat lelaki itu.
"Mau kemana?" Lagi-lagi Arion mengulang pertanyaan yang belum Lilian jawab.
"Mau pindah ke kantin kelas XI! Disini nggak ada meja kosong." Jawab Lilian.
Tanpa kata Arion langsung menarik tangan Lilian menuju meja yang selalu ia tempati bersama ketiga temannya. Meja itu akan selalu terlihat kosong tanpa ada yang mau menempatinya meski suasana kantin terlihat penuh.
Menduduki meja itu tanpa ijin sama halnya dengan mencari masalah dengan anggota Geng Andromeda. Hal itulah yang menyebabkan meja itu selalu kosong.
"Ehh ... Teman gue gimana?" Tanya Lilian khawatir saat tubuhnya mulai menjauh dari ketiga temannya yang sejak tadi hanya berdiri diam.
"Ajak sekalian." Kata Arion datar.
Lilian kemudian mengangguk dan melambaikan tangannya ke arah Gladis, Meira dan Laura agar mengikutinya.
Lilian menduduki kursi yang bersebelahan dengan Arion. Di samping kursinya ada Rein dan juga Mario, sedangkan di depan meja ada Farrel yang duduk paling ujung berhadapan dengan Arion dan ketiga teman Lilian yang mengisi kursi kosong lainnya.
Tidak lama mereka duduk, hidangan yang mereka pesan sebelumnya telah sampai.
"Udah dengar ada festival sekolah belum?" Tanya Rein sambil menyeruput es teh yang ia pesan.
Keadaan sekitar menjadi hening. Lilian dan yang lainnya melirik satu sama lain lantaran bingung Rein bertanya pada siapa.
"Lo tanya siape, Bambang?" Tanya Farrel gemes.
"Lilian." Jawab Rein enteng.
"Sebut namanya! Biar kita-kita semua kagak bingung lo sedang ngomong ama siape!" Kesel Farrel sambil menjulurkan garpu di tangannya ke arah Rein.
"Biasa aja dong ... Lagian ngapain juga gue nanya ke lo! Kuping lo dah budek, ya? Sampai nggak denger yang di umumin pihak Osis tadi." Ucap Rein ngegas.
"Eh lo yang sans aja b**i! Kagak lihat lo muka-muka bingung nih cewek semua? Lo ngomong ama siape dulu?" Kesal Farrel.
Rein menatap kearah ketiga teman Liloan yang terlihat sedang tersenyum kikuk.
"Eh ... Sorry! Nggak nyadar gue kalau ada kalian." Kata Mari sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Orang segede gaban ... Masa iya lo kagak nyadar." Sindir Mario.
"Udah ah ... Kenapa malah ribut sih!" Ujar Lilian sambil menatap ke arah Rein dan Farrel bergantian.
"Biasa ... Orang-orang baperan." Ucap Rein santai dan mengabaikan tatapan kesal dari Farrel.
"Ok ... Kembali ke pertanyaan yang tadi. Dah dengar kalau bakal ada festival di sekolah?" Tanya Rein. Kali ini Rein langsung menatap ke arah Lilian agar Gladis, Meira dan Laura tidak bingung lagi.
Lilian mengangguk pelan. "Udah ... Tadi anak-anak Osis dateng ngumumin."
"Oh ... Terus kelas kalian mau nunjukin apa buat narik pengunjung?" Tanya Mario.
Lilian mengedikkan bahu. "Belum tau ... Denis ngasih waktu sampai besok buat kita nyari ide." Jawabnya.
Mario mangguk-mangguk kecil. "Udah dapet ide-nya?" Tanyanya lagi.
Lilian menggelengkan kepala pelan. "Belum ... Rencananya mau ngebahas itu tadi sambil makan."
"Oh ..." Kembali Mario menganggukkan kepala.
"Kalian udah ada ide? Kenapa diem aja?" Tanya Rein sambil menatap heran ke arah ketiga teman Lilian yang sejak tadi hanya duduk diam.
"Eh ... Nggak apa-apa kok, Kak! Hanya ... Sedikit canggung aja gitu." Jawab Gladis ragu.
"Canggung kenapa?" Kali ini Farrel yang bertanya.
"Ya ... Canggung aja! Kita duduk sedekat ini dengan most wanted sekolah. Tatapan semua murid juga sejak tadi ke arah sini. Jadinya kita ngerasa agak gimanaaaa gitu." Jawab Laura sambil menggaruk lehernya.
Spontan Arion, Lilian, Rein, Mario, dan Farrel menengok ke arah kanan dan kiri. Namun hal itu terlihat biasa saja bagi ke limanya. Tatapan orang selalu saja tertuju kemanapun kelima orang itu pergi. Hal itulah yang membuat kelimanya merasa biasa saja saat ditatap banyak orang.
"Mulailah terbiasa dengan tatapan itu. Kalian berteman dengan Lilian ... Kemanapun ia pergi akan menjadi sorotan buat banyak orang." Tatapan mata Rein terlihat serius.
"Bertahan jika sanggup ... Pergi jika nggak mampu." Ucap Arion dingin. Sejak tadi ia hanya diam dan memakan makanannya dengan dengan.
Namun pembahasan tentang Lilian membuatnya harus ikut bersuara. Bagi Arion, bukan hanya Lilian yang harus tetap kuat melawan semua orang yang berniat jahat kepadanya. Namun orang-orang terdekat dari Lilian juga harus kuat. Jika mereka tulus berteman dengan Lilian maka mereka juga harus siap menghadapi masalah bersama dengan Lilian untuk kedepannya. Begitupun sebaliknya dengan Lilian, ia juga harus pasang badan untuk melindungi teman-temannya.
"I ... Iya, Kak." Jawab Meira takut.
Siapa yang tidak akan takut jika di tatap tajam oleh Arion. Di tatap datar saja banyak orang harus menelan ludah susah, apalagi di tatap tajam seperti yang Arion lakukan saat ini.
"Oh iya ... Kalian semua ma nunjukin apa nanti buat narik pengunjung?" Tanya Lilian yang mencairkan suasana yang mulai tegang.
"barang bekas?" Tanya Lilian bingung.
Farrel kembali mengangguk. "Intinya yang nggak burik."
Gladis, Meira dan Laura spontan berteriak heboh setelah mendengar ucapan Farrel.
"Itu artinya ... Barang yang Kakak semua pakai langsung?" Tanya Laura memastikan.
"Iya ... Misalnnya kek kaos gitu." Kali ini Mario yang jawab.
Kembali Meira, Gladis dan Laura berteriak heboh. Gimana nggak teriak, Geng Andromeda akan menjual barang yang telah mereka pakai langsung saat di festival. Tidak mendapatkan orangnya, barang sisa mereka sekalipun tentu saja bakalan menjadi incaran semua murid.
"Lo juga?" Tanya Lilian ke arah Arion yang menatap Farrel dengan malas.
"Hmm." Gumam Arion.
Braaak ...
Lilian menggebrak meja dengan sangat keras. "Nggak bisa! Enak aja ... Mana ada jual-jual begitu." Protesnya.
Arion menarik sedikit bibirnya keatas. "Kenapa emangnya?"
"Ya ... Nggak bisa! Mana ada jual barang sembarang kek gitu!" Kata Lilian tidak terima.
"Udahlah, Lilian! Toh juga barangnya udah nggak ke pakek ... Dari pada lumutan mending di juak pas acara festival aja." Kata Gladis semangat.
"Nggak bisa gitu." Lilian sampai kehabisan kata-kata agar membuat Arion tidak menjual barang-barangnya.
"Udahlah Lilian ... Kalau lo mau, lo juga bisa ikutan kok pas nanti di acara festival." Saran Laura yang membuat Lilian semakin tidak terima.
"Tapi ... Tapi ..." Ucap Lilian ragu.
"Tapi apa?" Tanya Arion.
"****** juga?" Tanya Lilian polos.
Tawa Rein, Mario, dan Farrel pun pecah. Bagaimana bisa Lilian bisa kepikiran sampai sana. Gladis, Laura dan Meira juga ikut tertawa mendengar pertanyaan Lilian yang tiba-tiba.
Arion menarik tangan Lilian untuk kembali duduk ke kursinya. Dengan lembut ia membelai pelan kepala Lilian kemudian merapikan kembali anak rambut Lilian yang berantakan.
"Sayang ... Mana orang yang mau beli yang kek gitu?" Tanya Arion dengan nada lembut.
Rein, Mario dan Farrel melotot tidak percaya mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Arion. Sedangkan Gladis, Laura dan Meira berusaha menahan diri untuk tidak lagi berteriak kegirangan melihat tingkah romantis yang Arion perlihatkan.
Lilian sendiri sampai menelan ludah karena kelakuan Arion yang tiba-tiba seperti itu. "Bi ... Bisa aja banyak yang mau." Ucapnya gugup.
"Siapa?" Tanya Arion yang masih dengan nada lembutnya.
"Cewek di sekolahan kita pasti banyak yang mau ... Asal itu bekas kalian." Jawab Lilian asal.
"Kamu juga mau?" Tanya Arion.
Lilian tertegun mendengar ucapan Arion. Bukan karena pertanyaan Arion yang mengarah ke barang bekas. Melainkan kata kamu yang ia gunakan saat berbicara dengan Lilian.
"Ka ... Kamu?" Lilian memperjelas ucapan Arion.
Arion hanya mengangguk dengan sedikit senyuman di kedua sudut bibirnya. "Iya, Kamu. Suka nggak?" Tanyanya lagi.
"Suka." Kata itu spontan terucap dari mulut Lilian.
"Ohhhh ... Kamu suka ****** bekas aku, ya ..." Tuduh Arion dengan raut wajah senangnya.
Lilian masih belum sadar dengan ucapan Arion. Dalam kepalanya hanya ada kata aku-kamu yang Arion gunakan saat ia berkomunikasi dengannya.
"Suka ..." Namun beberapa detik kemudian Lilian langsung membulatkan mata sempurna setelah sadar dengan ucapannya barusan.
"Nggak!!" Jawab Lilian tegas.
"Kamu udah jawab suka tadi." Ucap Arion.
"Tapi gue bilang ..." Ucapan Lilian terhenti saat telunjuk Arion menempel di bibir Lilian.
"Mulai sekarang pakai aku-kamu aja." Kata Arion dengan senyum manis.
"Aku-kamu?" Tanya Lilian.
"Iya." Jawab Arion singkat.
Lilian mengerjapkan mata berkali-kali. "Tadi ak ... Aku nggak maksud bilang suka itu." Ucapnya ragu.
"Suka apa?" Tanya Arion lagi.
"Se ... ****** bekas kamu." Jawab Lilian ragu.
"Ohhh kamu suka ..." Goda Arion.
"Nggak ... Tadi lo ... Eh ka ... Kamu salah paham. Nggak gitu tadi ..." Sanggah Lilian.
Arion tertawa kecil melihat tingkah lucu Lilian yang berusaha menjelaskan sesuatu. Meski Arion sudah mengerti maksud Lilian, namun tetap saja ia berpura-pura tidak tahu untuk mengerjai gadis itu.
"Bisa nggak jangan romantis depan gue?!! Panas gue panas!! Kagak tau kita jomblo apa?!!" Kesal Farrel yang tidak terima.
Lilian memejamkan mata malu karena tidak sadar jika di sampingnya masih ada teman-temannya yang lain. Kata aku-kamu mampu membuat pikiran Lilian buyar gitu saja. Sedangkan Arion terlihat begitu sangat santai meski di tatap oleh teman-temannya.
"Bisa ya lo berdua mesraan depan kita? Kagak ada hati banget deh lo berdua ke kita ... Kalian kira kita apaaan?" Tanya Mario dramatis.
"Kita bukan pajangan, ya!!" Tegas Rein.
"Kalian berdua so sweet banget ... Jiwa jomblo ku meronta-ronta." Kata Gladis histeris.
"Ya Tuhan ... Masih adakah yang kek gini? Satu aja lagi." Pinta Laura.
"Baru pertama kali seneng jadi obat nyamuk." Kata Meira.
Ada banyak lagi kata-kata yang di ucapkan oleh teman-teman dari Arion maupun dari Lilian. Jika Arion yang terlihat biasa-biasa saja di ledek, namun beda halnya dengan Lilian yang sudah menundukkan kepala dengan wajah memerah. Meski begitu, dalam hati Lilian seakan ingin berteriak kegirangan karena merasa sangat bahagia.
Mungkin bagi orang terdengar biasa saja saat Arion mengatakan aku-kamu kepada Lilian. Namun bagi gadis itu adalah hal yang membahagiakan. Sebuatan aku-kamu berarti hubungan Arion dan Lilian jelas lebih dekat lagi dari sebelumnya.
Meski terasa asing dan canggung, namun Lilian tetap merasa senang. Sedangkan Arion juga merasakan hal yang sama dengan Lilian. Rau muka dari luar mungkin terlihat biasa saja, namun jauh di dalam hati Arion juga merasakan kebahagian yang sama seperti yang di rasakan oleh Lilian.
Sudah sejak lama ia ingin mengunakan kata aku-kamu kepada Lilian, namun Arion masih merasa canggung dan beberapa kali selalu gagal hingga akhirnya hari ini pun Arion berhasil mengunkapnya terlebih lagi di hadapan teman-temannya.
_______________