
Tinggal beberapa langkah lagi Lilian akan mencapai meja dimana Arion dan kedua temannya berada. Namun langkah Lilian terhenti ketika ia melihat Anin dari arah lain juga ikut mendekati meja Arion dan langsung memeluk lengan kanan Arion dengan manja.
Terlihat Arion tampak risih karena di peluk oleh Anin dan berusaha melepaskan diri dari jeratan gadis itu. Namun Anin tidak ingin melepas pelukannya dari Arion dan malah melempar senyum mengejek ke arah Lilian.
"Tidakkah lo memiliki sedikit aja rasa malu memeluk pacar orang lain? Terlebih orang yang di peluk terlihat risih." Lilian melempar kata-kata tajamnya dan berdiri tepat di samping kiri kursi Arion.
Tentu saja Arion terlihat kaget melihat Lilian yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan tajam yang ia arahkan kepada Anin. Sontak Arion langsung berdiri dari duduknya dan menghempaskan tangan Anin dengan sangat keras.
"Awwww!!" Anin memekik kesakitan.
Marah, tentu saja Anin merasakan hal itu. Niat awalnya ia ingin memanas-manasi dan mempermalukan Lilian. Namun siapa sangka malah dirinya sendiri yang terlihat di permalukan.
Tatapan seluruh tamu yang hadir tertuju ke arah tempat meja Arion berada. Sedikit keributan disana memancing banyak orang untuk tidak melewatkan kesempatan untuk menyaksikan keributan yang sedang berlangsung.
"Bisa tidak lo sedikit aja lembut ke gue?" Tanya Anin yang berusaha menahan kekesalannya.
Bukannya menjawab Arion malah mengabaikan pertanyaan dari Anin dan lebih memilih berdiri berhadapan dengan Lilian.
"Kamu kapan sampai?" Tanya Arion. Kedua tangannya ia letakkan ke atas kedua bahu Lilian.
"Sejak orang yang tak tau malu menempel di lengan pacar orang lain." Nada bicara Lilian masih terdengar tajam. Tatapan matanya juga lebih mengarah ke tempat Anin berdiri.
"Aku bisa jelasin." Kata Arion.
"Nggak perlu! Aku dah tau gimana situasi-nya." Jawab Lilian datar.
Melihat Arion yang mengabaikannya membuat Anin semakin merasa kesal.
"Seharusnya lo bertanya tentang keadaan gue! Lihat ini! Tangan gue ampe memerah!" Ringis Anin dan memperlihatkan tangannya yang memerah.
"Bukan urusan gue." Jawab Arion datar.
"Tentu saja ini adalah urusan, lo! Tangan gue memerah karena, lo!" Pekik Anin yang merasa tidak terima.
"Jika lo nggak kega**lan maka tangan lo nggak akan memerah." Lilian masih menatap Anin dengan tatapan tajamnya.
"Jaga ucapan, lo!!" Nada suara Anin mulai meninggi.
Terlihat para tamu undangan saling berbisik satu sama lain dan mengarahkan pandangan mereka ke arah tempat Lilian dan Anin berada.
"Meski gue menjaga ucapan ... Semua orang pasti bisa menilai." Jawab Lilian dengan raut datarnya.
"Gue peringatin ke, lo! Jaga ucapan lo atau gue ..." Ucapan Anin terhenti.
"Atau apa?! Ucapan mana yang harus gue jaga? Bukan kah kelakuan lo yang perlu lo jaga?!" Nada suara Lilian tidak kalah tinggi dari Anin.
"Kelakuan apa?" Tanya Anin yang pura-pura tidak tahu.
Lilian tersenyum sinis dan berjalan maju mendekati Anin. "Selain tidak tau malau ... Lo juga ternyata bodoh!" Ucapnya sambil memeluk dada.
"Gue peringatkan! Untuk pertama kali-nya dan bahkan jika lo masih punya malu, lo akan berpikir peringatan ini adalah yang terakhir kali-nya keluar dari mulut gue!! Jauhin pacar gue dan jangan berpikir untuk mendekatinya sedikit pun!" Nada suara Lilian meninggi. Hampir semua tamu yang hadir dapat mendengar ucapan yang keluar dari mulut gadis itu.
Anin terdiam di tempatnya, ingin sekali ia menyela ucapan Lilian namun ia tidak memiliki status apapun kepada Arion. Jangankan status kekasih yang selama ini Anin inginkan, mendekati Arion saja tidak pernah bisa ia lakukan karena lelaki itu selalu saja menolak kehadiran-nya.
Setelah berhasil membukam mulut Anin, Lilian kemudian berbalik arah dan berjalan ke tempat Arion tadi. Lilian menarik tangan Arion dan pergi meninggalkan ruangan pesta.
"Arion!!" Panggil Anin.
"Arion!!" Panggil Anin lagi.
Seakan tidak peduli dengan panggilan Anin, Arion hanya berjalan kemana Lilian menarik tangannya pergi.
Lilian menghempaskan tangan Arion dengan kasar setelah keduanya sudah keluar dari dalam ruangan pesta. Lilian memilih tempat secara acak untuk melampiaskan kekesalannya terhadap Arion. Hingga akhirnya kedua remaja itu berakhir di sebuah tempat yang berada di samping gedung.
Tak banyak bunga yang tumbuh disana, hanya ada beberapa pohon pinus dan rumput hijau yang terawat.
"Senang di peluk kek gitu?" Lilian akhirnya melempar pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
"Nggak! Tadi aku berusaha melepas pelukan-nya hanya saja ..." Ucapan Arion langsung di sela oleh Lilian.
"Hanya saja apa?! Kamu mau bilang jika tenaga si macan tutul lebih kuat dari kamu?" Tanya Lilian dengan raut kesal.
"Pfftt ... Hahahahahaha ..." Arion tidak bisa menahan tawa karena ucapan Lilian.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?!" Tanya Lilian dengan berkacak pinggang.
"Kenapa harus macan tutul?" Tanya Arion.
"Karena belang ... Sama kek dia!" Kesal Lilian.
Arion berjalan mendekati Lilian dan mengusap pelan kepala-nya. "Kamu cemburu?" Tanyanya dengan nada lembut.
Dengan kesal Lilian menepis tangan Arion yang masih mengusap kepalanya. "Cemburu?!!" Tanya-nya dengan nada tidak terima.
"Sorry ... Dia nggak ada pantesnya buat di cemburuin." Ketus Lilian.
"Lalu kenapa nih wajah terlihat masam? Nih hidung juga terlihat kembang kempis." Arion mencolek hidung Lilian dengan gemas.
"Akhh ... Lepas! Lepas! Lepas!" Lilian memukul pelan tangan Arion di hidungnya.
"Mana ada masam?! Cantik ini cantik!" Lilian memamerkan wajah-nya lebih dekat ke arah Arion.
"Iya cantik ... Berapa jam dandan?" Tanya Arion lebih ke berbisik.
Lilian terdiam sebentar untuk mengingat kembali waktu yang ia habiskan untuk dandan tadi. "Lama." Jawabnya.
"Ohhh ... Pantes cantik." Jawab Arion.
Blush ....
Pipi Lilian langsung memerah hanya karena Arion memujinnya. Sudut bibirnya bahkan sedikit tertarik ke atas karena ucapan Arion.
"Ciee ... Pipi-nya memerah." Arion menoel-noel Pipi Lilian.
"Ih apaan sih. Nggak jelas banget! Kadang jadi es ... Kadang jadi kek tukang gombal." Lilian mencoba menjauhkan diri dari Arion agar lelaki itu tidak dapat menggodanya terus.
"Tukang gombal apaan? Serius ini." Jawab Arion.
"Terserah." Lilian membuang wajah ke samping agar Arion tidak terus-terusan menggoda piponya yang memerah.
"Jadi pengen ..." Kata Arion gantung.
"Pengen apa?" Tanya Lilian dengan alis mengerut.
Cup ... Cup ...
Arion mengecup kedua pipi Lilian yang memerah. Sedangkan Lilian sendiri masih terdiam karena Arion tiba-tiba menciumnya.
"Hei." Arion mencoba menyadarkan Lilian.
"Dasar mesum! Mengambil kesempatan dalam kesempitan! Rasakan ini ..." Lilian memukul lengan serta tubuh Arion dengan asal.
Blush ...
Pipi Lilian kembali memerah, meski panggilan itu bukan yang pertama kali Lilian dengar namun tetap saja pipinya selalu memerah saat Arion memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Cie ... Pipi kembali memerah." Tunjuk Arion ke arah Pipi-nya Lilian.
"Ah ... Dasar es batu!" Kesal Lilian dan kembali memukul Arion.
Arion sendiri tidak tinggal diam, ia menarik tangan Lilian yang memukulnya kemudian menarik tubuh Lilian kedalam pelukannya.
Lilian berhenti memukuli Arion dan lebih menstabilkan detak jantungnya yang tidak karuan. Sedangkan Arion memeluk Lilian dengan sangat erat seperti seseorang yang baru saja bertemu dengan kekasihnya setelah sekian lama.
"Percayalah ... Jantung aku nggak akan berdetak secepat ini ketika bersama dengan orang lain." Ujar Arion yang masih memeluk Lilian erat.
Betul, bukan hanya Lilian yang merasakan jantungnya berdegup kencang. Arion pun sama, Lilian bahkan dapat mendengar dan merasakan detak jantung Arion saat ini.
"Aku pernah berjanji jika hanya kamu yang akan aku pilih. Baik sekarang maupun kapan pun itu. Kehadiran gadis lain tidak berpengaruh apapun terhadap ku ... Karena tujuan ku adalah kamu. Hanya kamu dan posisi mu tidak akan pernah terganti." Ario mengucapkan hal itu dengan sangat tulus.
Lilian sedikit tertegun mendengar ucapan Arion. Ia merasa jika orang yang sedang memeluknya saat ini adalah Seint, meski mereka adalah orang yang sama namun Lilian merasa Arion yang sekarang ini lebih mirip dengan Seint.
Kelembutan di setiap katanya seperti cara Seint berbicara kepadanya dulu. Meski Arion adalah Seint masa depan, namun baru kali ini Lilian merasakan jika Arion adalah Seint miliknya.
"Bukan kah ... Mereka adalah orang yang sama? Pikir apa sih gue." Batin Lilian sambil memejamkan matanya.
"Berjanjilah kepadaku jika kau akan tetap memilih ku di setiap kehidupan." Kata Arion.
Lilian sedikit bingung namun tetap saja ia mengganggukkan kepala-nya. "Iya ... Aku berjanji." Jawabnya.
Prok ... Prok ... Prok ...
Suara tepukkan tangan dari arah belakang punggung Arion membuat Lilian secepatnya melepas pelukan dari Arion. Terlihat Rein, Mario dan Farrel berdiri dengan bersedekap dada dan menatap kesal ke arah Lilian dan Arion.
Sedangkan Arion menghela napas kesal melihat ketiga sahabat-nya telah mengganggu momennya dengan Lilian.
"Enak bener lo berdua ... Seakan dunia milik lo berdua aja dan kita semua ngontrak." Sinis Mario.
"Kita cariin dari tadi malah romantis-romatisan disini! Kagak ngerti banget perasaan kita yang jomblo! Mata gue udah ternitaskan melihat kalian berdua pelukan!" Kesal Farrel.
"Orang kasamaran aura-nya emang beda! Lihat aja tuh si Arion ... Ibarat pengen makan kita idup-idup aja." Sindir Rein.
Lilian hanya tersenyum canggung sedangkan Arion lagi-lagi menghembuskan napas kesal.
"Ngapain lo bertiga ke sini?" Tanya Arion dengan raut datar.
"Napa lo? Nggak suka?" Tanya Rein dengan berdekap dada.
"Terserah kita dong mau kemana ... Emang lo pikir tanah ini milik, lo?" Kerus Farrel.
"Emang." Jawab Arion.
Farrel mengerjapkan mata berkali-kali kemudian memandang Rein dan Mario yang menggelengkan kepala kepadanya.
"Terus kenapa kalau tanah ini milik, lo? Mau apa, lo? Ngusir kita?" Tanya Farrel bertubi-tubi.
Arion hanya menatap Farrel dengan malas. Menurut Arion, Farrel memang tampan namun lelaki itu kadang ngeselin di saat-saat tertentu seperti sekarang ini.
"Kita kesini tentu saja nyariin lo berdua." Akhirnya Mario memberikan jawaban yang Arion inginkan.
"Kenapa? Kenapa kalian nyariin kita?" Tanya Lilian.
"Takut kalian ilang ... Tempa ini kan besar! Siapa tau kalian nyasar dan nggak bisa kembali ke dalam." Jawab Farrel ngasal.
"Bisa diem lo nggak sih? Panas kuping gue denger lo celoteh kagak jelas." Peringat Rein yang juga tidak tahan dengan kelakuan tannya itu.
"Iya ... Iya." Jawab Farrel pasrah.
"Kita kesini mau lihat keadaan lo berdua ... Tiba-tiba aja lo berdua langsung meninggalkan pesta gitu aja." Jawab Mario.
"Kita berdua baik-baik aja kok. Kalian nggak perlu khawatir." Jawab Lilian. "Iyakan?" Lanjutnya sambil memandangi wajah Arion.
"Hmmm." Jawab Arion singkat.
"Kalian berdua pasti nyesel telah melewatkan drama yang sangat bagus." Ujar Farrel dengan tersenyum cengengesan.
"Drama apaan?" Tanya Lilian penasaran.
"Makanya jangan asal pergi-pergi aja! Drama-nya tadi heboh banget ... Mungkin sudah jadi trending di sosmed." Jawab Farrel.
Lilian semakin penasaran. "Drama apaan sih? Cerita makanya." Pinta Lilian.
Mario baru saja ingin menceritakan kejadian setelah kepergian Lilian dan Arion tadi. Namun ia keduluan oleh Farrel yang langsung nyerocos tanpa henti.
"Tadi setelah lo berdua keluar, drama yang sebenarnya telah di mulai. Tuh ... Papa-nya si Anin kagak terima anaknya di permalukan di depan umum kek tadi. Ia langsung meminta orang tuanya Arion untuk meresmikan hubungan mereka berdua." Tunjuk Farrel ke arah Arion.
"Terus Papa-nya si Anin minta agar acara pertunangan antara Arion dan Anin segera di laksanakan! Agar Anin tidak di permalukan oleh orang lain dan meminta agar lo untuk menjauhi Arion." Lanjut Farrel.
Lilian mengepalkan tangannya kesal. "Sebelumnya kamu punya hubungan apa dengan Anin?" Tanyanya serius ke arah Arion.
"Nggak ada! Mereka hanya berkhayal ... Papa dan Mama juga belum menyetujui permintaan mereka. Kalaupun di setujui tentu saja aku akan menolak." Jawab Arion dengan nada serius.
"Kalau Papa dan Mama mu menolak?" Tanya Lilian lagi.
"Maka aku akan melawan ... Yang menjalani adalah aku! Aku yang berhak menentukan seperti apa kehidupan ku untuk ke depannya." Jawan Arion dengan tegas.
Lilian dapat bernapas dengan lega setelah mendengat ucapan Arion.
"Tampaknya memang Om Aditia dan Tante Elisa nggak akan setuju. Terlihat jelas jawaban yang mereka berikan tadi adalah penolakan secara halus." Kata Rein.
"Benarkah?" Tanya Lilian memastikan.
"Ya ... Semua orang juga pasti akan langsung memahami ucapan Om Aditia tadi. Mana mau mereka bergabung dengan perusahaan nggak jelas itu. Meski yang dekat dengan Arion bukan lo, tetap aja mereka nggak akan setuju." Jawab Rein.
"Kagak jelas gimana? Bukannya mereka salah satu perusahaan besar? Kedudukannya gue denger hampir setara dengan Arisena." Kata Lilian.
"Itu hanya isu. Lebih jelasnya kagak ada yang tau ..." Jawab Mario cepat.
"Perusahaan itu sebenarnya nggak jelas. Rekan kerjanya juga nggak ada yang terlihat jelas. Namun gue akui kalau perusahaan itu dapat dengan mudah menghancurkan perusahaan menengah." Kata Farrel.
"Perusahaan Si Mak Lampir juga di selamatin ama perusahaan si Anin. Padahal perusahaan Si Mak Lampir masuk kategori besar." Kata Mario.
Lilian hanya mengangguk pelan. "Aneh banget rasanya jika sebuah perusahaan besar tidak satu pun orang yang tahu latar belakangnya. Lalu sumber keuangan dari perusahaan itu dari mana dan di kemanakan. Jika dengar cerita dari mereka ini rasanya ada yang aneh dengan perusahaan itu." Batin Lilian.
_________________
Akhirnya dapat UP lagi setelah sekian purnama ... Tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah menyita semua waktu Author. Orang-orang lagi pada liburan nah Author harus sibuk dengan semua kegiatan yang akan di laksanakan di semester dua ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
BTW Author belum nikah ya ... Kalau udah nikah nggak mungkin haluin suami (Suga) sampai di tulis ke dalam novel.
Curhat dikit nggak apa-apa kali ya ... Suami Author lagi positif covid. Semalaman nggak tidur karena mewek ðŸ˜