Lilian

Lilian
Bertemu lagi



Senyum manis di wajah cantik milik Lilian sejak tadi seakan tidak pernah mau pudar. Setelah Arion mengatakan isi perasaannya kepada Lilian, lelaki itu langsung menarik tangan Lilian pergi meninggalkan banyak orang yang sangat penasaran dengan jawaban dari Lilian.


Meski mereka dapat menebak jawaban apa yang akan Lilian berikan kepada Arion, namun tetap saja murid-murid dati Florenzo School ingin mendengarkannya secara langsung. Harapan mereka harus di pendam lantaran Arion tidak memberikan kesempatan kepada murid-murid itu untuk mendengarkan secara langsung jawaban dari Lilian.


Arion menarik tangan Lilian berjalan menuju rooftop sekolah. Tempat dimana Arion dan ketiga temannya berkumpul untuk menghindari para murid.


Sesampainya mereka di rooftop, Lilian malah merengek meminta semua bunga yang tadi Arion berikan di bawa kesana. Meski sedikit kesal, Arion tetap mewujudkan keinginan dari Lilian. Hingga akhirnya rooftop pun di penuhi oleh banyak bunga.


"Suka?" Tanya Arion yang sejak tadi duduk di dekat Lilian yang sibuk dengan bunganya.


Lilian mengangguk cepat namun matanya masih sibuk dengan bunga yang berada di sekitarnya. "Suka." Jawabnya dengan senyuman.


"Gue suka aneh sama cewek ... Kenapa bisa suka hanya di berikan bunga kek gitu." Ujar Farrel yang sejak tadi duduk tidak jauh dari Lilian dari Arion.


Yap, ketiga teman Arion juga berada di tempat yang sama dengan Lilian dan Arion. Mereka jugalah yang membantu membawakan bunga-bunga itu naik ke atas rooftop.


"Namanya juga cewek. Suka sama sesuatu yang manis-manis." Kata Rein.


"Lilian masih di kategorikan cewek polos. Cewek di luar sana lebih menyukai barang mahal di bandingkan bunga." Ujar Mario sambil menyilangkan tangan di depan dada.


"Siapa bilang?" Tanya Lilian heran sambil menatap ke arah Mario. "Gue juga suka ama barang mahal karena kualitasnya juga pasti bagus. Hanya saja jika ada barang bagus namun dengan harga murah ... Gue lebih suka yang lebih murahlah." Ujar Lilian sambil cengengesan.


"Gue kira lo beda ... Ternyata sama aja." Sinis Mario.


"Biarin ... Bohong banget lo kalau nggak suka dengan barang mahal. Lihat sepatu lo, berapa harganya?" Tunjuk Lilian ke arah sepatu Mario.


Mario hanya tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Rasain lo! Skatmat kan." Ejek Farrel.


Lilian kembali mengalihkan pandangannya dari Mario ke arah bunga yang Arion berikan. Dengan hati-hati, Lilian memeriksa bunga yang ia sukai di setiap buket yang Arion berikan.


"Lo nyari apaan?" Tanya Rein heran.


"Bunga." Jawab Lilian polos dengan senyum manisnya.


"Lo aneh ya? Nggak lihat ada banyak bunga di depan lo?" Tanya Farrel tak habis pilor dengan jawaban yang Lilian berikan.


"Maksud gue ... Lagi nyari bunga yang paling gue suka dari bunga-bunga ini." Tunjuk Lilian ke arah beberapa jenis bunga di depannya.


"Bukannya lo suka bunga-bunga ini?" Tanya Arion.


"Suka, tapi ada bunga yang paling gue suka." Kata Lilian sambil memeriksa buket bunga di depannya.


"Daisy?" Tebak Arion.


Lilian langsung menatap Arion dengan senyum termanisnya. "Kok tau?" Tanyanya lagi.


"Karena aroma tubuh lo mengeluarkan aroma bunga daisy. Depan rumah lo juga ada banyak sekali tanaman bunga itu." Kata Rein menjawab pertanyaan Lilian.


"Benarkah?" Tanya Lilian sambil mengendus tibuhnya. "Gue emang makek parfum yang aromanya bunga daisy." Lanjutnya.


"Selain bunga daisy. Apalagi yang paling lo suka?" Tanya Arion dengan wajah seriusnya.


Lilian tersenyum manis sambil menunjuk ke arah Arion. "Lo kepo ya ...?"


"Jawab aja." Ucap Arion dengan raut wajah datar.


Lilian mendengus pelan melihat raut wajah datar dari Arion. "Tetap aja datar!" Kesalnya, namun Lilian masih ingin menjawab pertanyaan dari Arion. "Permen kapas." Ujarnya.


Farrel orang pertama yang merespon ucapan dari Lilian. "Nggak salah lo suka ama permen kapas? Umur berapa lo emangnya?" Tanyanya.


"Namanya suka ya suka aja!" Sewot Lilian.


"Gue kira anak kecil aja gitu yang suka." Celetuk Mario.


"Gue juga suka ... Saking sukanya gue pernah koma dengan waktu yang cukup lama." Kata Lilian dengan raur wajah santai.


"Serius?" Tanya Rein, Mario, dan Farrel samaan.


Lilian menatap Arion yang juga sama terkejutnya dengan ketiga temannya. "Serius. Gue pindah kesini setelah sadar dari koma." Jawab Lilian.


"Gimana ceritanya?" Tanya Rein dengan raur wajah khawatirnya.


"Waktu itu gue mau ke toko roti milik Mama mengendarai sepeda karena letak tokonya yang tidak jauh dari rumah gue. Di jalan nggak sengaja lihat bapak-bapak penjual permen kapas, karena suka ya gue mampir buat beli. Niatnya mau melanjutkan perjalanan setelah membeli permen kapas, namun entah bagaimana ceritanya sebuah mobil melaju kencang dan menghantam tubuh gue. Hingga akhirnya gue harus di rawat di rumah sakit karena koma." Jelas Lilian panjang.


Suasana masih hening, tidak ada yang mau mengeluarkan suara setelah Lilian selesai bercerita. Keempat lelaki yang berada dekat dengan Lilian hanya menatap Lilian dengan diam seakan larut dalam pikirannya masing-masing.


"Lilian ... Entah lo percaya atau tidak. Namun gue selalu bermimpi tentang lo. Yang anehnya, mimpi gue mirip dengan yang lo ceritain." Kata Rein yang mulai menceritakan tentang mimpinya.


Lilian membulatkan mata sempurna. "Serius?" Tanyanya tidak percaya.


Rein mengangguk antusias. "Serius ... Tapi gue nganggepnya hanya mimpi aja."


"Kebetulan aja kali." Ucap Mario.


"Namanya juga mimpi." Timpal Farrel.


Arion sendiri hanya diam dan menatap Lilian dengan tatapan aneh. Berbeda dengan ketiga temannya yang mengatakan mimpinya Rein hanyalah kebetulan saja, Arion malah memikirkan hal lain. Sama dengan Rein, Arion juga selalu memimpikan Lilian hampir setiap ia memejamkan mata. Namun Lilian yang Arion lihat dalam mimpinya memakai baju ala kerajaan dan memiliki perbedaan mencolok pada warna rambutnya. Meski begitu, Arion masih tetap dapat mengenali wajah Lilian.


"Udah ah balik ayok ... Bel masuk bentar lagi pasti bunyi. Biarin aja bunga-bunga lo ada di sini." Usul Mario memberi Lilian usulan.


"Sepertinya memang bunga-bunga ini cocok di simpan di sini aja." Putus Lilian akhirnya.


"Baiklah ... Ayok balik." Ajak Arion kemudian memegang tangan Lilian dengan erat.


________________


Sepulang sekolah, Lilian bersama ketiga temannya berjanji akan menghabiskan waktu dengan berbelanja beberapa kebutuhan yang mereka butuhkan di salah satu mall besar yang berada di salah satu Jakarta pusat.


Selesai belanja, Lilian dan ketiga temannya memutuskan untuk memasuki sebuah rumah makan cepat saji untuk mengisi perut mereka yang kosong. Pada momen itu juga, ketiga teman Lilian memberanikan diri untuk bertanya tentang hubungan Lilian dengan Arion yang baru-baru ini sangat hot di bicarakan di sekolah.


"Hmm Lilian ... Gue boleh nanya sesuatu nggak?" Tanya Gladis ragu.


"Jangan marah ya ...? Gue nanya karena penasaran aja ... Kalau nggak mau di jawab nggak apa-apa kok. Gue ngerti hal yang akan gue tanyakan adalah hal privasi buat lo." Kata Gladis hati-hati, takut menyinggung Lilian.


"Tanyakan aja." Ucap Lilian.


Gladis menatap ragu ke arah Meira dan Laura yang memberikan semangat kepadanya. "Sebenarnya apa hubungan lo dengan Kak Arion? Apa bener lo berdua dah pacaran?" Tanya Gladis hati-hati.


Lilian tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Gladis. "Lo keknya takut banget gue marah ... Ini pasti gara-gara terakhir kali kalian bertanya namun gue agak sedikit sensitif. Sorry ya, waktu itu gue lagi nggak mood banget, bukan makaud buat kalian jadi ngerasa canggung gini saat bertanya ke gue." Katanya dengan perasaan bersalah.


"Nggak kok Lilian ... Waktu itu kami aja yang nanya di waktu yang nggak tepat." Jelas Laura.


Lilian kembali tersenyum kecil mendengar jawaban Laura. "Makasih ya semua. Tadi kalian tanya, apa hubungan gue dengan Kak Arion, jawabannya seperti yang mungkin sedang kalian pikirkan saat ini." Ucapnya sambil menatap ketiga temannya satu persatu.


"Seriusan lo pacaran dengan Kak Arion? Nembak yang waktu di lapangan tadi juga nggak bohong?" Tanya Laura heboh.


Lilian mengangguk pelan sambil tersenyum malu. "Gue emang pacaran ama Kak Arion." Ucapnya dengan wajah memerah.


Ketiga teman Lilian kompak memekik mendengar jawaban darinya. Sungguh mereka tidak menyangka bahwa sahabat mereka Lilian dapat mencairkan hati salah satu most wanted Florenzo School. Terlebih lagi karakter Arion yang cenderung dingin dan kaku terhadap orang-orang di sekitarnnya membuat ketiga teman Lilian sedikit tidak percaya.


"Hebarmt banget lo Lilian bisa mencairkan gunung es!" Pekik Laura sedikit berteriak.


"Hussshh ... Pelanin suara lo napa? Perhatiin sekitar lo, orang-orang pada lihat kesini." Kata Lilian sambil melirik orang-orang yang sedang menatap ke arah meja yang mereka duduki.


"Sorry ... Sorry ... Gue nggak sengaja. Lagian gue bener-bener hampir nggak percaya. Namun kenyataan Kak Arion nembak lo di lapangan secara langsung adalah bukti paling nyata."Ujar Laura sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Gue juga nggak nyangka ... Orang yang sedingin dia bisa ngelakuin hal romantis kek gitu." Ucap Lilian dengan malu-malu.


"Mulai hari ini, lo bakal ngerasain bagaimana rasanya pacaran dengan most wanted di sekolah. Saran gue, mulai sekarang lo harus nyiapin mental." Kata Meira memberi saran.


"Nyiapin mental?" Tanya Lilian bingung.


"Iya ... Nyiapin mental. Penggemar lo dan Kak Arion kan nggak sedikit. Siap-siap aja Kak Audry ke dua atau ketiga bakalan muncul setelah hubungan lo dengan Kak Arion tersebar luas." Kata Gladis dengan raut wajah serius.


"Apalagi fans-nya Kak Arion itu sedikit bar-bar. Siap-siap aja lo ya." Ucap Meira kembali memperingati.


Lilian tau jikalau hal itu cepat atau lambat pasti akan ia hadapi. Lilian hanya perlu memperkuat mental dan lebih mengabaikan ucapan orang-orang yang mungkin akan menjatuhkan atau mencoba menghancurkan hubungan antara dirinya dan Arion.


"Makasih ya kalian udah mengingat gue." Ucap Lilian tulus.


Gladis, Meira dan Laura membalas ucapan Lilian dengan anggukkan kecil dan sedikit senyum di bibirnya masing-masing. Tidak lama setelahnya terdengar sebuah pesan masuk pada ponsel milik Lilian.


Mama~


Sayang, kapan pulang?


Setelah membaca pesan singkat dari Efina, Jari lentik Lilian langsung mengetikkan sesuatu diatas layar ponselnya.


Lilian~


Bentar lagi kok mah


Mama~


Kalau bisa segera pulang ya nak. Jalanan sedang macet dan hujan sebentar lagi akan turun. Mama Khawatir kamu akan kenapa-napa di jalan. Baiknya kamu pulang sekarang sebelum hujan turun.


Lilian sedikit menghela napas pelan membaca pesan dari Efina. Kembali jari lentiknya mengetikkan sesuatu.


Lilian~


Iya mah ... Ini Lilian pulang


Setelah menjawab pesan terakhir dari Efina, Lilian mengalihkan pandangannya dari ponsel ke ketiga temannya.


"Maaf ya guys ... Kayaknya gue harus pulang. Mama gue orangnya panikan dan nggak bisa lihat gue pulangnya kemalaman. Nggak apa-apa kalau gue tinggal?" Tanya Lilian di akhir kalimatnya.


"Nggak apa-apa kok Lilian ... Kita juga udah mau pulang ... Bentar lagi keknya mau hujan dan kita semua bawa motor. Jangan sampai sebelum nyampe rumah kita udah basah kuyup." Ucap Laura sambil memeriksa perkiraan cuaca di ponselnya.


"Ya udah ayok kita pulang kalo kalian udah selesai semua. Makanannya gue bayar semua ya." Kata Lilian sambil tersenyum kecil.


"Cieeeeee ceritanya PJ nih ..." Goda Gladis sambil menoel-noel pipi Lilian.


"Gini nih nikmatnya gratisan ... Serasa beda aja gitu." Ucap Meira tambah menggoda Lilian.


Pipi Lilian semakin memerah malu. "Udah ahh ... Bentar lagi mau ujan." Ujar Lilian sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menunu kasir untuk membayar makanan mereka.


Setelah pembayaran selesai, keempat gadis tersebut akhirnya langsung pulang dengan membawa motor mereka masing-masing. Saat di perempatan jalan, Laura dan Gladis mengambil arah yang sama sedangkan Meira dan Lilian mengambil arah yang berbeda.


Lilian memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang setelah berhasil melewati kemacetan yang lumayan panjang. Sebelum nyampai rumah, titik-titik hujan mulai turun membasahi tanah sehingga tercium aroma petricor dari percampuran air hujan yang membasahi tanah.


Selain aroma daisy, Lilian juga sangat menyukai aroma petricor. Dengan menghirup aromanya saja dapat membuat Lilian merasakan ketenangan. Beberapa kali Lilian sengaja memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam aroma yang di hasilkan oleh rintik hujan yang membasahi tanah.


"Sungguh menenangkan." Gumam Lilian pelan.


Ketenangan Lilian tidak berlangsung lama, karena terpana dengan aroma petricor, Lilian tidak menyadari jikalau ia memacu motornya menuju segerombolan orang yang tengah duduk di atas motor sport yang berdominan warna hitam.


Saat Lilian memutuskan berhenti dan berbalik mencari jalan lain, hal itu sudahlah sangat terlambat. Tangan kekar seseorang tiba-tiba menarik motor Lilian secara paksa kemudian lelaki itu berjalan dan berdiri tepat di depan motor Lilian yang sudah ia blok bersama teman-temannya.


"Kita bertemu lagi." Ujar Melvin dengan seringainya.


"Lo mau apa?" Tanya Lilian tidak mau berbasa-basi lebih lama dengan Melvin.


Sejak pertemuan terakhirnya dengan Melvin, Lilian benar-benar tidak menyukainya dan berharap agar ia tidak bertemu dengan lelaki itu. Namun sungguh sayang, takdir malah mempertemukan mereka meski Lilian tidak ingin bertemu dengannya.


Melvil tersenyum sinis mendengar ucapan dari Lilian. "Terakhir kali kita bertemu, lo tidak segalak ini. Apa mungkin status lo sebagai pacarnya Arion membuat lo juga harus bertingkah sepertinya? Tanyanya diiringi dengan seringai sinis. "Jika lo nggak suka, lebih baik lo datang ke gue dan gue akan memberikan lo kebebasan." Sambil merentangkan tangan agar Lilian berjalan ke arahnya.


"Sayangnya lo bukan tipenya gue." Ujar Lilian dengan tatapan tak kalah tajam dengan tatapan Melvin ke arahnya saat ini.


________________


Sekali lagi Author ingatkan jika Author lagi sibuk dalam dua minggu kedepan. Author akan usahakan UP namun tolong jangan minta Author UP secepatnya. Author juga ingi UP nya lancar kayak dulu namun kesibukan dunia nyata Author juga sangat penting.


Mohon untuk di maklumi 🙏🙏🙏