
Mobil Arion berhenti pada sebuah bangunan mewah berwana putih gading. Bangunan itu terdiri dari dua lantai dan memiliki halaman yang sangat luas.
Seorang lelaki pararuhbaya berlari dengan tergesa dan berhenti tepat disamping mobil Arion.
"Selamat datang Den." Sapa Pak Maman, penjaga Vila milik keluarga Ganendra saat Arion keluar dari dalam mobilnya bersama Lilian.
Arion hanya menggangguk singkat kemudian mengalihkan pandangannya ke semua arah. "Anak-anak itu lagi di mana?" Tanyanya.
"Ada di belakang Den, lagi buat acara di pinggir danau. Kata Den Rein, saya suruh tunggu di sini buat nyambut kedatangan Aden." Jawab Pak Maman.
"Oh ..." Arion menggangguk kepalanya.
"Mau bersihin diri dulu atau langsung kesana?" Tanya Arion ke arah Lilian.
"Langsung ke tempat Kak Rein dan yang lain aja. Bulu Citto nggak terlalu kotor, jadi bersihinnya ntar dirumah aja." Jawab Lilian ragu dan mengusap bulu halus Citto.
"Ya udah, Ayo." Ajak Arion kemudian berjalan memasuki Vila.
Bangunan yang Lilian masuki itu benar-benar bangunan yang sangat megah. Dari awal Lilian memasuki bangunan itu saja terlihat banyak sekali pajangan barang-barang antik yang terawat. Seluruh bangunan itu di cat dengan warna putih gading sehingga menambah kemegahan bangunan tersebut.
Lilian terus saja berjalan mengikuti langkah kaki Arion yang berjalan beberapa langkah di depannya. Keduanya berhenti di depan sebuah pintu tinggi dan besar dengan ukiran rumit.
Arion kemudian membuka pintu tersebut dan memasukinya. Lilian sempat ragu memasuki ruangan tersebut namun tatapan dari Arion membuat Lilian akhirnya kitu memasuki ruangan itu.
"Ini kamar gue, silahkan kalau lo ma bersihin diri dulu kalau mau." Kata Arion sambil berjalan ke salah satu sofa yang berada dalam ruangan tersebut.
"Gue kan dah bilang tadi nggak usah ..." Kata Lilian yang masih memeperhatikan isi dari ruangan tersebut.
Ruangan itu sangat besar dan memiliki fasitas lengkap seperti yang yang ada di hotel-hotel.
"Lo nggak perlu khawatir. Di dalam sana sudah tersedia banyak peralatan mandi. Lo tinggal milih aja mau yang mana." Kata Arion dengan menutup kedua matanya.
"Tapi ..." Ucap Lilian ragu.
"Nggak usah ragu, di sini aman. Lo juga nggak perlu khawatir. Gue yang bakal jagain lo dari sini." Kata Arin tanpa menatap ke arah Lilian.
Lilian tersenyum manis ke arah Arion, Lilian memang sejak tadi butuh ke kamar mandi untuh membasuh wajahnya namun ia ragu setelah melihat sikap dingin dari Arion. Terlebih lagi Lilian sangat ingin buang air namun ia malu mengatakannya kepada Arion.
"Pintu kamar mandi ada di sebelah kiri pojok." Kata Arion.
Lilian hanya mengangguk pelan kemudian memasuki kamar mandi setelah meletakkan Citto pada sebuah sofa kecil di dekatnya.
Tidak lama kemudian Lilian kembali keluar dengan wajah yang segar. Di tangannya juga ia bawa sebuah handuk kecil untuk melap air yang menetes di wajahnya.
"Nggak mandi?" Tanya Arion.
"Nggak perlu ... Gue cuman butuh basuh wajah aja kok." Jawab Lilian.
"Ya udah kita temuin yang lain." Ajak Arion.
"Lo nggak mau basuh muka juga?" Tanya Lilian.
"Sudah tadi di kamar sebelah." Jawab Arion sambil memeriksa jam dipergelangannya.
"Kalau begitu ayaok." Jawab Lilian kemudian kembali menggendong Citto.
Arion dan Lilian berjalan menuju pintu belakang Vila. Di belakang bangunan tersebut terdapat sebuah danau kecil dan sebuah jembatan kecil yang sengaja di buatkan khusus untuk mempercantik pemandangan.
Mata Lilian kembali berbinar melihat pemandangan yang di suguhkan di depannya saat ini. Jika tadi mata Lilian di manjakan dengan pemandangan air terjun, sekarang mata Lilian di manjakan oleh pemandangan danau yang tidak kalah bagus dengan pemandangan air terjun.
Bedanya air terjun yang pertama kali Lilian datangi tadi memiliki kesan natural tanpa ada campur tangan manusia untuk memperindahnya. Sedangkan danau yang saat ini Lilian kunjungi terlihat terawat dan banyak sekali di tumbuhi oleh berbagai tanaman hias.
Apalagi danau tersebut berada tepat dibelakang bangunan vila milik keluarga Ganendra, tentu saja akan ada orang yang akan merawatnya. Udara di sekitar danau begitu sejuk dan menenangkan, tempat itu sangat cocok di jadikan sebagai tempat menenagkan diri atau dijadikan tempat menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Woee kita di sini." Teriak Farrel sambil melambaikan kedua tangannya kearah Lilian dan Arion.
Arion dan Lilian langsung melangkahkan kakinya menuju tempat teman-teman Arion berada. Tempat yang di pilih oleh teman-teman Arion adalah dibawah pohon apel tumbuh. Meski belum berbuah, namun daun dari pohon apel tersebut memberikan kesejukan dan dapat melindungi Lilian dan yang lainnya dari tetiknya sinar matahari.
"Dari mana aj lo berdua? Kita sampai jamuran nungguin kalian." Kata Mario sambil mengipasi daging bakar yang hampir matang.
"Bener banget ... Gue kira kalian berdua dah di culik oleh dedemit. Kan berabe urusannya kalau dah berhubungan dengan makhluk astral. Iiiii gue ampe merinding sendiri, anjiiir ...." Ujar Farrel sambil memeluk tubuhnya.
"Alay amat lo ... Sok takut segala. Lagian dedemit juga nggak bakal demen ama muka lo itu." Celetuk Rein Mario.
"Ehhh Mario, gue malah bersyukur dia nggak suka ama gue. Biar lo aja yang di suka ... Tau rasa lo ntar di jadiin lakinya." Sindir Farrel.
"Mulut lo Rel lama-lama gue sambelin juga, bisanya bikin kesel aja." Ujar Mario
"Etdaaah sensian amat lo ... Sejak kapan lo baperan?" Tanya Farrel.
"Diem deh lo ..." Ucap Mario sambil mengarahkan penjepit daging ke arah Mario.
"Ampunnnn Tuan ... Gue nyerah." Kata Farrel sambil bertingkah seperti seseorang yang meminta maaf.
"Diem deh lo berdua! Lama-lama gue kasih dedemit beneran juga tahu rasa lo." Ketus Rein yang baru saja datang dengan membawa bebepa buah ditangannya.
"Kalian berdua kemana sih? Dari tadi di tungguin baru muncul." Kata Rein dan menyimpan buah yang dia bawa.
Lilian menatap kearah Arion yang hanya berdiri diam tanpa ada sedikitpun niatan mau menjawab pertanya dari Rein. Hingga akhirnya Lilian memutuskan untuk menjawab pertanyaan Rein sendiri saja.
"Tadi kita pergi ngambil gambar dulu di tempat air terjun." Jawab Lilian.
Rein mengerutkan kening heran mendengar jawaban dari Lilian. "Lahhh ... Lo berdua dah kesana duluan?" Tanyanya.
Lilian menggangguk pelan tanda memngiyakan pertanyaan dari Rein.
"Gila aja lo berdua. Kesana nggak pake bilang-bilang ... Tau gitu nggak mau gue nungguin kalian sampe lumutun kek gini." Kesal Farrel tidak terima.
"Memangnya kalian semua juga pengen kesana?" Tanya Lilian kemudian menatap ragu kearah Arion.
Arion sendiri mengabaikan ucapan dari teman-temannya dan memilih duduk pada salah satu kursi yang sudah di siapkan oleh teman-temannya.
"Tentu aja kita mau kesana ... Cuman si kutub utara nyuruh kita berangkat duluan. Nggak tau aja kalian dah kesana." Kata Mario kesal.
Lilian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung mau menjawab apa ucapan dari teman-teman dari Arion. Yang ia ketahui jikalau Arion mengatakan teman-temannya sedang berkumpul di vila.
"Tentu aja lo nggak tahu ... Skenario hari ini udah di atur dengan sangat baik sama seseorang. Dianya pergi senang-senang, sedangkan kitanya dijadikan babu." Sindir Rein ke arah Arion ya g masih tampak acuh tak acuh.
"Bener banget." Setuju Farrel dan Mario.
"Udah pidatonya?" Tanya Rein tanpa rasa bersalah. "Kalau udah, berarti kita dah boleh makan dong." Katanya santai.
Spontan Mario melempar penjepit daging ke arah Arion karena kesal. "Bener ... Bener lo ya jadi temen. Bukannya merasa bersalah, lo malah dengan santainya minta makan. Sana makan bunga aja lo." Usirnya.
"Gue ngerasa kita lagi di manfaatin ama si dia." Tunjuk Farrel kesal ke arah Arion. "Bagaimana kita makan aja semua makanannya sendiri dan jangan bagi ke orang itu." Sindirnya.
"Gue juga nggak di bagi?" Tanya Lilian dengan nada lembut.
"Karena lo kecil, maka jatah gue akan gue berikan sebagian ke lo." Kata Rein dengan wajaj songong yang di buat-buat.
"Ya sudah ... Fiks ya. Kita hanya makan berempat, anggap satu orang yang tak terlihat itu adalah bayangan doang." Kata Farrel dengan raut wajah sombong.
"Ini masih kawasan milik gue, ya. Termasuk makanan ini semua." Tunjuk Arion ke arah makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Enak aja lo ... Nggak bisa. Kita capek masak ... Kalau mau masak sendiri aja." Ketus Rein tidak terima.
"Kalau gitu bisalah gue aja Audry kesini. Tadi gue ngecek lokasinya mereka sedang berada di sekitar sini." Kata Arion sambil memeriksa ponselnya.
"Ehhh lo jangan aneh-aneh ya ..." Rein mulai siaga.
"Sepertinya Audry memang berada di sekitar sini." Kata Arion santai sambil menujukan bercakapan antara dirinya dan Audry kepada Rein.
"Suruh aja ke sini. Gue sih santai-santai aj." Ujar Farrel tidak peduli.
"Diem deh lo! Audry disini bagaikan mimpi buruk bagi gue." Kesal Rein.
"Biarin aja. Itukan derita lo." Ejek Mario sambil tersenyum lebar.
"Audry juga bilang sedang bersama Bella dan Melani lo." Ucap Arion santai.
Raut wajah Farrel dan Mario tiba-tiba berubah kesal mendengar nama Bella dan Melani yang disebutkan oleh Arion.
"Nah kan mampus lo berdua." Kesal Rein.
"Gue heran, napa tuh tiga cewek selalu aja muncul di saat momen yang tidak tepat." Ketus Farrel.
"Terpaksa deh harus relain makanannya buat tuh orang." Ujar Mario sambil melirik tidak suka kearah Arion.
Arion tersenyum bangga dengan keahlian yang selalu ia miliki itu. "Makan enak kita." Ucapnya dengan nada bangga.
Rein, Mario, dan Farrel menatap kesal kearah Arion yang menatap ketiganya dengan tatapan mengejek khasnya. Arion terkenal dingin meski bersama dengan ketiga teman dekatnya itu namun ada kalanya Arion bersikap layaknya orang normal lainnya hanya saja tidsk terlalu sering.
Misalnya seperti sekarang ini, Arion sedang dalam mood yang baik sehingga ia dapat mengejek ketiga temannya dengan sifat songongnya. Bagi ketiga teman Arion sendiri hal itu adalah hal yang wajar melihat karakter Arion sejak kecil.
"Memangnya Bella dan Melani itu siapa?" Tanya Lilian yang sejak tadi berdiri diam memperhatikan ketiga lelaki di depannya.
"Manusia jadi-jadian." Ucap Mario dengan nada kesal.
"Lo salah. Mereka adalah dedemit yang sesungguhnya." Kata Farrel memperbaiki ucapan Mario.
"Jadi penasaran." Gumam Lilian pelan.
"Jangan sampai lo bertemu dengan mereka. Ketiganya adalah orang-orang saiko. Kok bisa mereka berada disini." Heran Rein.
"Mereka memengnya kenapa sih?" Tanya Lilian semakin penasaran. "Nggak apa-apa sebut Kak Audry dengan sebutan saiko didepan ..." Ucapan Lilian terhenti melihat Arion mulai menatapnya.
"Memang kenyataannya begitu ... Arion mau membela apalagi?" Tanya Farrel.
"Benar." Kata Arion mantap sambil menunjukkan jari jemponya ke arah Farrel.
"Memangnya mereka kenapa sih?" Tanya Lilian masih penasaran.
"Nggak penting lo tau tentang mereka, sebaiknya lo ambil kursi, duduk manis dan siap buat makan." Kata Rein sambil mendorong pelan tubuh Lilian menuju salah satu kursi.
"Oh iya ... Gue baru nyadar. Tuh kucing punya lo?" Tanya Rein sambil mengelus bulu halus Citto.
"Tadi nemu di tempat air terjun." Jawab Arion jujur.
"Laahh beneran? Kucing sebagus ini?" Tanya Rein nggak percaya. "Tapi kok kelihatannya kayak peliharaan orang." Ucapnya heran.
"Memang. Peliharaannya dia." Ucap Arion cuek.
Rein, Mario dan Farrel menatap ke arah Lilian dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana bisa tuh kucing bisa ada disini kalau dia memang peliharaan lo?" Tanya Farrel masih tidak percaya.
"Entahlah ... Gue juga nggak tahu." Jawab Lilian seadanya.
"Lo nggak tau kucing lo ilang ... Tapi kenal pas ketemu?" Tanya Mario.
Lilian mengangguk pelan. "Iya." Jawab Lilian.
"Lo berdua keknya pas jadi pasangan. Sama-sama aneh soalnya." Celetuk Rein.
"Benar banget tuh ... Mana ada kucing nemu di tempat air terjun tapi terlihat jinak." Kata Farrel heran.
"Udahlah lebih baik kita makan aja ..." Ajak Mari akhirnya.
Kelima orang itu akhirnya dapat memakan makanan yang tersedia setelah lama berdebat. Acara makan mereka di suguhi dengan berbagai candaan dari ketiga teman Arion yang selalu receh. Ada saja candaan dari mereka yang membuat suasana menjadi sangat ramai. Terlebih lagi Mario dan Farrel yang selalu mendebatkan hal-hal yang tidak penting. Di tambah lagi dengan Arion yang terlihat aktif dan mau meladanin obrolan receh dari tannya.
Lilian memandang keempat lelaki itu secara bergantian. Lilian merasa seperti de javu dengan pemandangan yang tengah ia lihat saat ini. Lilian merasa ia pernah melihat momen yang seperti itu sebelumnya.
Meski Lilian berkali-kali menepis pikiran yang selalu membawanya ke masa lalu namun tetap saja Lilian merasa bahwa momen itu mirip dengan momennya waktu berkumpul bersama dengan Seint, Zheyan, Asgar dan Artem. Apalagi sekarang Citto sedang berada dalam pelukannya dan dengan suasana yang mirip dengan alam liar.
"Gue baru nyadar kalau empat orang ini mirip dengan orang yang sangat dekat dengan gue di masa lalu. Arion memang reinkarnasi dari Seint, Apa mungkin Rein adalah reinkarnasi dari Kak Zheyan karena mata kami berdua mirip dan sekarang jadi saudara. Lalu Mario lebih mirip ke sifat kak Asgar karena selalu perhatian dan Farrrel lebih mirip ke Artem." Batin Lilian sambil memperhatikan orang-orang yang sedang melempar candaan.
__________________