
Lilian masih saja mengikuti kemana Arion menarik tangannya pergi. Setelah berjalan cukup lama, Arion ternyata membawa Lilian ke taman belakang sekolah. Setelah keduanya sampai, barulah Arion melepaskan tangan Lilian.
"Lo kagak perlu menjawab pertanyaan dari mereka lagi!" Ujar Arion, Matanya menatap tepat kearah mata keemasan milik Lilian.
"Kenapa?" Tanya Lilian.
"Buat apa ngejawab pertanyaan orang yang nggak penting?" Tanya Arion balik.
Lilian menghela napas pelan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah bunga daisy yang tumbuh di sekitar baruga tempat Lilian dan Arion duduki saat ini.
"Bener. Mereka hanya peduli dengan Bokap dan Arisena! Lilian Caroline Rahadian ... Cucu perempuan satu-satunya milik Arisena! Setelah itu muncul para penjilat." Ucap Lilian dengan kekehan kecil.
Arion menatap Lilian dalam-dalam. Setelah identitas Lilian terbongkar tentu saja kehidupan gadis itu akan berubah. Meski tidak akan ada lagi orang yang berani untuk mencari masalah dengannya namun para penjilat yang Lilian katakan akan bertambah banyak.
Lilian adalah gadis yang cerdas, cantik, baik dan ceria, sungguh bodoh jika ada lelaki yang akan menolaknya. Terlebih lagi Lilian berasal dari keluarga ternama, tentu saja setelah hari ini akan banyak sekali proposal yang akan datang untuk melamarnya.
"Setelah hari ini ... Lo akan ninggalin gue?" Tanya Arion.
Lilian langsung mengalihkan pandangannya kearah Arion. "Maksud, lo?" Tanyanya balik.
"Identitas lo udah kebongkar ... Tentu aja akan banyak lamaran yang akan datang ke rumah lo." Jawab Arion dengan nada dingin.
Lilian menautkan kedua alisnya tanda tidak suka dengan ucapan Arion barusan. "Terus kenapa kalau banyak?!! Emang lo pikir gue bakal mau sama mereka gitu?! " Tanyanya dengan nada tinggi.
"Siapa tau ..." Ucap Arion dengan nada acuh.
Lilian membuang napas kasar. "Dengar baek-baek ucapan gue ya, Arion Alpenseint Ganendra!! Gue hanya milik lo!! Dan lo milik gue!! Siapa pun nggak akan bisa mengubah hal itu ... Kecuali Tuhan yang memang tidak mengijinkan kita berdua bersatu! Tapi karena ini adalah kehidupan kedua, gue harap kita berdua berjodoh!!" Tegasnya.
Arion mengerutkan kening. "Kehidupan kedua?" Tanyanya.
Lilian langsung membulatkan mata karena sudah kelepasan berbicara. Karena tidak suka dengan ucapan Arion, Lilian malah membahas tentang masa lalu yang tidak akan mungkin Arion percaya.
Sontak saja Lilian langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan. "Bodoh amat gue ... Kelepasan jadinya ..." Batin Lilian.
"Jawab gue!" Tatapan mata Arion terlihat serius kearah Lilian.
"Mampus ... Mati ... Mati deh gue!! Mau jawab apa sekarang!!" Runtuk Lilian dalam hati.
"Jawab gue!" Nada suara Arion terdengar meninggi dari sebelumnya.
"Lo percaya reinkarnasi nggak?" Tanya Lilian ragu.
"Lo bercanda?" Tanya Arion. Ia pikir Lilian sedang mengerjainya.
"Gue serius!" Ucap Lilian.
Ingin sekali Arion menjawab tidak, namun sorot mata Lilian saat ini menyiratkan jika gadis itu mengingankan jawaban ia kepadanya.
"Kenapa?" Tanya Arion mulai penasaran.
Lilian terlebih dahulu menengok kearah kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang kecuali mereka berdua yang berada disana. "Gue selalu mimpiin lo tiap malem ... Cuman lo sekarang dengan yang di mimpi gue sedikit berbeda." Ujarnya.
Lilian tidak sepenuhnya berbohong, ia kembali ke masa lalunya setelah ia mengalami kecelakaan. Raganya yang sekarang waktu itu sedang terbaring lemas karena koma. Untuk itulah Lilian menjadikan mimpi sebagai alasannya kepada Arion.
"Apa? Bedanya?" Tanya Arion mulai tidak sabaran.
Arion juga memimpikan hal yang sama setiap harinya. Mungkin saja mimpinya dengan Lilian itu sama.
"Bedanya lo di mimpi gue make baju kerajaan! Pintar bermain pedang, pinter nunggangin kuda, pinter membuat strategi perang dan pinter semuanya deh!!" Kata Lilian dengan senyum mengambangan.
"Itu sebabnya gue bilang ada reinkarnasi ... Mungkin aja lo yang ada di mimpi gue adalah lo yang di masa lalu." Lanjut Lilian.
Arion mulai membenarkan ucapan Lilian, selama ini ia juga memiliki mimpi yang hampir sama dengan Lilian. Menggunakan pedang, menunggangi kuda, berperang, dan banyak hal lain yang ia lakukan. Di setiap mimpinya juga ia melihat seorang gadis yang mirip sekali dengan Lilian, bedanya gadis itu mengenakan gaun panjang seperti gaun yang biasa dipakai oleh Putri dari kerajaan Eropa sana.
"Lo juga ..." Ucapan Arion terpontong lantaran seseorang datang tiba-tiba.
"Lilian! Gue cari-cari ternya lo disini!" Dumel Rein dengan napas ngos-ngosan.
Arion terpaksa harus menanyakan hal yang sangat ingin ia ketahui lain kali saja.
"Ada apa emangnya?" Tanya Lilian.
"Kakek nyariin lo! Om dan Tante juga." Jawab Rein.
"Pertemuannya udah selesai?" Tanya Lilian lagi.
"Udah ... Ini juga mau balik! Makanya gue kesini nyariin lo! Di suruh ama Tante Efina" Jawab Rein.
"Udah bisa pulang?" Tanya Arion.
"Udah ... Mama lo juga nyariin lo tuh ... Cepet selesain masalah lo dengan si Anin. Makin melebar keknya." Kata Rein.
Arion membuang napas kesal kemudian berdiri dari duduknya. "Ayok pergi!!" Ajaknya pada Lilian.
"Lo nggak akan ninggalin ..." Ucap Lilian ragu.
"Ucapan lo tadi seharusnya jadi jawaban untuk pertanyaan yang ingin lo sampaikan." Jawab Arion yang langsung paham.
Arion dan Lilian akhirnya berjalan beriringan. Sedangakan Rein terlihat kebingungan dengan maksud kedua orang itu barusan. Tidak ingin ambil pusing, Rein akhirnya ikut berjalan mengikuti langkah Arion dan Lilian yang mulai menjauh.
________________________
Setelah acara pertemuan para Wali murid selesai. Semua murid Florenzo School di ijinkan pulang bersama Wali masing-masing.
Jika murid lain langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Beda halnya dengan Lilian saat ini. Setelah selesai makan di salah satu restaurant sushi, Efina langsung mengajak Lilian untuk merawat diri ke salon langganannya. Sedangkan sang Ayah sudah kembali ke kantor untuk mengurus beberapa dokumen penting.
Dan disinilah Lilian sekarang, menautkan diri di depan cermin yang memiliki ukuran yang cukup besar. Seluruh tubuh Lilian bahkan dapat terlihat di depan cermin besar itu.
"Kita mau kemana sih, Mah? Kok tumben amat Mama ngajak Lilian ke salon. Dandan pula." Kata Lilian heran.
"Mama mau ngajak kamu ke suatu tempat." Jawan Efina yang duduk tepat di samping Lilian.
"Kemana? Dan mau ngapain?" Tanya Lilian beruntun.
"Nggak sabaran ... Tanyanya satu-satu!" Jawab Efina.
Lilian menghela napas pelan. "Kita mau kemana Mah? Dandan kok sampai rapi gini?" Tanya Lilian.
"Kita mau makan malam! Tadi saat pertemuan Wali murid kita sekeluarga di undang." Jawab Efina.
"Siapa?" Tanya Lilian penasaran.
"Ntar juga kamu tau ..." Jawab Efina lagi.
"Papa nggak ikut?" Tanya Lilian yang tidak ada habisnya.
"Ikut kalau urusan kantor dah selesai." Jawab Efina.
Lilian hanya manggut-manggut saja sebagai jawaban. Pikiran Lilian langsung kembali melayang ke kejadian tadi pas di sekolah. Saat Lilian dan Arion kembali ke ruangan pertemuan Wali murid di adakan, terlihat Tama sang Kakek sedang berbincang serius dengan Aditia, Ayah dari Arion.
Keduanya terlibat obrolan serius namun Lilian tidak berani mendekat untuk menguping pembicaraan keduanya. Bisa saja mereka sedang mebahas soal bisnis dan memerlukan waktu berdua saja untuk di bahas.
Tidak jauh dari tempat Tama dan Aditia berdiri, Elisa dan Efina juga terlihat sedang mengobrol layaknya ibu-ibu pada umumnya jika bertemu. Sedangkan Rahadian sudah lama pergi untuk ijin ke kantor.
Tidak lama kemudian Tama dan Aditia selesai berbincang dan berjalan mendekat ke tempat Elisa dan Efina berada. Setelahnya Tama harus pergi terlebih dahulu karena ada yang harus cepat ia urus bersama Hans dan Zoya.
Kemudian Efina juga ikut pamit dan mengajak Lilian ikut bersamanya, Namun sebelum Lilian pergi bersama dengan Efina, Elisa melempar senyum aneh kepadanya. Hal itulah yang membuat Lilian berpikir beberapa kali setelah melihat senyumnya itu.
"Mah ... Tadi bahas apaan ama Tante Elisa?" Tanya Lilian ragu.
"Biasa ... Ibu-ibu kalau ketemu. Ada aja pembahasannya, entah penting atau tidak! Kenapa emang?" Tanya Efina.
Lilian segera menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa! Lilian cuman tanya aja!" Jawabnya cepat.
"Oh ... Tadi kami kemana bareng Arion? Mama nyariin nggak ada, Jadinya minta tolong sama Rein aja buat nyari." Kata Efina.
Jika ada yang bertanya apa yang dilakukan Efina saat ini jawaban adalah ia sedang di make up. Sementara Lilian sudah selesai di make up karena ia minta di dandani tipis aja.
"Taman belakang. Arion ngajak kesana buat ngehindari pertanyaan dari teman-teman." Jawab Lilian.
"Masalah identitas?" Tebak Efina tepat.
Tentu saja masalah itu, identitas Lilian yang tidak biasa tentu saja menimbulkan tanda tanya besar untuk semua orang.
"Iya." Jawab Lilian pelan.
"Napa harus menghindar?" Tanya Efina lagi.
"Karena nggak penting! Mereka hanya ingin tau ... Bukan peduli." Jawab Lilian.
Efina menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Lilian. "Kamu serius pacaran ama Arion?" Tanyanya tiba-tiba.
Lilian langsung membulatkan mata tetkejut. Siapa yang tidak akan terkejut jika Mamanya tiba-tiba menayakan lelaki yang saat ini dekat dengannya.
"Kalau Lilian jawab iya gimana, Mah?" Tanya Lilian penasaran.
"Itu artinya Papa harus berkerja keras." Jawab Efina.
Lilian semakin bingung dengan jawaban Efina. Ia merasa jika Efina makin kesini makin memberikannya teka-teki yang harus ia cari tau sendiri jawabannya.
"Udah ah ... Nggak usah ngobrol terus! Sana pilih baju yang akan kamu kenakan!" Perintah Efina.
"Sekarang banget Mah?" Tanya Lilian.
"Iyalah ... Mama juga gitu. Milih cepat ... Papa nanti juga nyusul. Ntar berangkatnya barengan." Ujar Efina.
"Iya." Jawab Lilian lesu.
Lilian dibantu oleh salah satu Pegawai yang berkerja disalon untuk memilihkan Likian sebuah gaun yang akan ia kenakan saat makan malam nanti. Entah siapa yang telah mengundang keluarganya untuk makan malam namun karena undangan itu membuat Lilian harus menghabiskan waktunya di salon.
Lilian semakin merasa kesal lantaran Arion juga tidak mebalas pesannya selama ia menunggu Efina di make up. Dengan lesu Lilian akhirnya memilih gaun secara acak untuk ia kenakan nanti malam.
________________________